
Malam itu semua berkumpul di ruang tamu sambil menonton TV. Tapi Anin belum juga pulang dari pagi.
"Anin kemana, ya? Ibu hubungi daritadi juga tidak di angkat. Ibu khawatir sekali. Coba kamu hubungi, Nak" pinta Bi Inah kepada Mia karena khawatir dengan Anin.
"Baik, Bu. Akan Mia coba menghubunginya," jawab Mia lalu mengambil ponselnya.
1 kali ... 2 kali ... sampai 4 kali panggilan keluar, Anin tidak juga mengangkatnya.
"Sabar, sayang. Anin mungkin lagi di jalan jadi gak dengar. Atau dia sudah bersama Tuan Rafa," ucap Teguh berusaha menenangkan istrinya.
Dan tidak berapa lama, Rafa pun tiba dirumah. Bi Inah, Teguh, dan Mia seketika saling memandang, saat mereka melihat kalau Rafa hanya pulang sendirian tanpa Anin. Lalu dimana Anin???
**
Sesaat setelah Anin tiba di apartemen, pikirannya kacau dan dia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya kepada Rei.
Rei juga bisa merasakan kegelisahan pada raut wajah Anin. Tapi Rei tidak ingin memaksa Anin untuk bercerita. Dia hanya menunggu sampai kekasihnya itu mau berterus terang kepadanya.
Anin memandang wajah Rei dengan lembut. Di belainya rambut kekasihnya itu, dan di sandarkannya kepalanya pada pundak Rei.
"Sayang??"
"Uuhm, ada apa?"
"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?"
Rei yang bingung dengan pertanyaan Anin yang terkesan tiba-tiba itu, lalu mengangkat wajah Anin setara dengan wajahnya.
Di kecupnya bibir Anin dengan lembut. Di pandanginya wajah kekasihnya itu lalu tersenyum. "Aku sangat mencintaimu ... Apakah kamu tidak bisa merasakannya??"
Anin mulai menangis, dan justru membuat Rei bingung. Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa Anin tiba-tiba menanyakan pertanyaan itu. Dan sikapnya juga dari tadi sangat aneh.
"Aku juga sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku ..."
Anin memeluk Rei dengan erat, seakan takut setelah dia menceritakan semuanya, hubungan mereka akan berakhir begitu saja.
"Sayang, ada apa sebenarnya?? Kenapa kamu hari ini sangat aneh? Berbagilah denganku, apapun itu."
Anin berpikir sejenak. Mungkin inilah saatnya menceritakan semuanya kepada kekasihnya itu. Apapun nanti yang menjadi keputusan Rei, akan dia terima dengan kebesaran hati.
Lalu Anin menceritakan semuanya. Mulai dari awal meninggalnya orangtua Anin, kecelakaan itu, siapa Bi Inah sebenarnya yang di akui Anin sebagai orangtuanya, dan yang terakhir mengenai RAFIN.
Anin juga menceritakan siapa Rafa dan Mark. Tapi Rafa?? Bukan sebagai ayah biologis Rafin. Anin hanya menceritakan Rafa, adalah kolega dari almarhum mamanya, yang sudah banyak membantunya selama ini.
Anin memandang raut wajah Rei yang tanpa ekpresi. Anin tidak bisa menebak apa yang sekarang kekasihnya itu pikirkan.
"Sayang??"
"Uhm, eh iyaa??"
Rei lalu menatap Anin dan membelai rambutnya.
"Sesulit inikah menceritakan semuanya kepadaku?? Kenapa??"
"Aku ... uhmm aku takut!"
"Takut kenapa?? Apakah tampangku sejahat itu?? Apakah aku seburuk yang kamu bayangkan??"
"Tidak, sayang. Aku hanya takut setelah aku menceritakan semuanya, kamu akan meninggalkan aku. Aku tidak berniat menyembunyikan ini semua darimu. Aku hanya takut menghadapi kenyataan."
Rei lalu memeluk Anin dengan erat. "Menikahlah denganku. Aku akan menjadi ayah dari anakmu."
Anin tidak kuasa menahan airmatanya. Dia pun menangis di pelukan Rei. Dia tidak menyangka, Rei akan menerimanya dengan semua cerita masa lalunya.
Rei lalu melepaskan pelukannya dan menatap Anin.
__ADS_1
"Kenapa menangis?? Menikahlah denganku Anindya Putri Atmaja." Rei menanyakan kembali pertanyaan yang sama sambil menatap Anin.
"Jawablah, sayang??" tanya Rei lagi lalu mencubit pipi Anin.
Anin pun tersenyum dan mengangguk menyetujuinya. Rei lalu memeluk Anin dengan sangat erat. Dia tahu, Anin adalah seorang wanita yang baik, dan Rei sangat mencintainya. Dia tidak ingin kehilangan Anin.
"Sayang??"
"Uhm??"
"Kenapa kamu tidak mempertanyakan siapa ayah dari anakku?"
"Aku ayahnya ... untuk apa aku mempertanyakannya lagi??"
Anin tersenyum setelah mendengar jawaban dari Rei. Dia tau, Rei adalah pria yang baik dan dewasa. Ternyata dia memang tidak salah menilainya.
"Jangan menggodaku dengan senyuman itu. Aku tidak bisa menahannya nanti!"
"Ah, apasih kamu. Jangan aneh-aneh deh"
"Aku anehnya kalau berdekatan denganmu saja. Mungkin aku sudah tidak normal. Tapi asal bersamamu, aku tidak apa-apa."
Rei lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Anin. "Kamu cantik sekali. Itulah kesan pertamaku kepadamu."
"Gombal!!"
Anin lalu menjauhkan wajahnya dari Rei dan berdiri ingin meninggalkan Rei. Sebelum Anin melangkah pergi, Rei menarik tangan Anin dan tubuh Anin pun terjatuh tepat di atas tubuh Rei.
Rei lalu memeluk Anin dengan sangat erat. "Aww!! Lepaskan aku!! Aku mau beres-beres sebentar sebelum aku pulang."
Rei tidak menghiraukan ucapan Anin, dan malah makin memeluknya dengan sangat kuat. Rei kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Anin. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu!!"
Anin tersenyum mendengar ucapan Rei. Di kecupnya bibir kekasihnya itu dan tersenyum lagi.
"Oh, no!! Jangan menggodaku lagi!!"
"Aku juga ingin berterimakasih"
"Untuk apa??"
"Untuk Rafin"
Rei lalu mendekati wajah Anin dan mencium kekasihnya itu. Dan sepertinya Anin juga membalas ciuman itu. Dan makin lama, ciuman itu semakin panas. Ruangan itu pun akhirnya di penuhi dengan suara-suara aneh dari kedua insan manusia yang sedang di mabuk cinta.
Tiba-tiba ...
Ponsel Anin pun berdering. Anin dan Rei mencoba untuk mengabaikannya. Terdengar sampai beberapa kali dan sangat menganggu. Sampai akhirnya mereka harus menghentikan aktifitas panas itu.
"Angkatlah dulu," ucap Rei tersenyum sambil merapikan pakaian Anin.
Anin malu-malu bangkit berdiri dan baru sadar ternyata pakaiannya sudah sangat berantakan. Lalu diapun mengangkat panggilan di ponselnya.
"Halo, Mark??"
"Halo, Nona. Sebaiknya kita segera pulang. Tuan memerintahkan saya untuk membawa anda pulang sebelum malam!"
"Ah, baiklah. Saya akan menemuimu segera. Kasih saya waktu 15 menit lagi."
"Baik, Nona. Saya tunggu anda di depan."
Anin langsung menatap kekasihnya itu setelah panggilan teleponnya berakhir.
"Tidak apa-apa. Kamu pulanglah"
"Aku akan kesini lagi besok. Kamu baik-baik ya disini!"
__ADS_1
"Iya, sayang. Hati-hati di jalan."
Anin mengangguk, dan merapikan pakaiannya. Lalu berdiri, memeluk Rei dan pamit pulang.
**
Di kediaman Rafa ...
Rafa yang kembali sendirian, membuat Bi Inah dan yang lainnya bertanya-tanya dimana Anin.
Rafa melihat mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV, kemudian menyapa mereka. Dan dia tersadar, tidak ada Anin disitu.
"Ehm, kemana lagi dia??"
Rafa berlalu pergi menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.
Pikirannya melayang pada Anin dan seketika muncul kekhawatiran akan hidup gadis itu. Rafa lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Mark.
"Dimana kamu??"
"Saya lagi di jalan, Tuan. Sebentar lagi sampai ke rumah"
"Anin?"
"Ada bersama saya, Tuan."
"Baiklah!!"
Rafa lalu menutup panggilannya dengan perasaan lega. Mengetahui kalau keadaan Anin baik-baik saja, Rafa hanya bisa tersenyum puas.
"Ah, sebaiknya aku mandi dulu," ucap Rafa lalu pergi menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri.
••
Di ruang tamu, Bi Inah dan Mia masih khawatir menunggu kepulangan Anin. Mereka juga tidak berani bertanya kepada Rafa. Sedangkan ponsel Anin yang dihubungi dari tadi, tidak juga memberikan respon.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil yang baru saja datang tepat di depan rumah.
"Mungkin itu Anin, Bu!"
"Iya, Nak. Biar Ibu saja yang melihat."
Bi Inah lalu pergi ke depan untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata benar, Anin baru tiba di rumah bersama dengan Mark.
"Aduh, Nak. Kamu darimana saja? Ibu telepon dari tadi, tapi tidak kamu angkat."
Anin tersenyum kepada Bi Inah. "Maaf, Bu. Tadi Anin sedang menyelesaikan sesuatu, dan sekarang semuanya sudah selesai."
Anin memeluk ibunya. "Nanti Anin ceritakan semua. Anin mandi dulu, ya??" pinta Anin lalu pergi ke kamarnya.
Bi Inah yang bisa merasakan kelegaan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Anin pun ikut merasa bahagia.
"Ada apa, Bu?? Apakah semuanya baik-baik saja???" tanya Mia ketika melihat Ibunya pun ikut tersenyum.
"Iya, Nak. Anin akan menceritakan semuanya nanti setelah mandi. Sekarang kita istirahat, yuk? Kamu juga pasti sudah lelah," ajak Bi Inah, lalu mereka pun pergi ke kamar masing-masing.
Sesampainya di kamarnya, Anin langsung mandi, karena dia sudah tidak sabar menceritakan kabar gembira ini kepada Bi Inah dan Mia. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, saat mengetahui ada pesan masuk dari ponselnya. Dan ternyata Rei yang mengirimkannya.
"Sayang?? Pergilah denganku besok ke Paris, Aku sudah memesankan 2 tiket untuk kita berdua. Aku akan mengenalkanmu dengan orangtuaku. Aku tunggu di bandara besok pagi - Rei"
••••••••••••
(Bersambung)
Hai apa kabar semua??
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komen dan juga follow aku, ya??
Terimakasih.