
Airport P ...
Anin langsung berlari masuk ke dalam membeli tiket kepulangannya ke Indonesia.
"Ah, semoga ada penerbangan malam ini."
*
Rei bangkit berdiri dan pergi meninggalkan maminya.
"Sayang, kamu mau kemana??"
"Mencari Anin!!!"
Rei menjawab maminya sambil berlalu begitu saja.
"Reiiii!!!!
Teriakan Nyonya Savian tidak di gubris oleh Rei. Dia terus saja berjalan tanpa memperdulikan maminya, lalu menghentikan sebuah taxi.
"P Airport" perintah Rei kepada sang supir.
Rei memandang keluar, menatap hiruk-pikuk lalu lintas yang mulai sepi. Dia yakin sekali, Anin pasti sedang berada di tempat yang dia tuju.
"Sayang, jangan tinggalkan aku," ucap Rei, kemudian menutup matanya.
**
Nyonya Savian hanya bisa menangis, membayangkan kesedihan yang sekarang Rei rasakan. Nyonya Savian merasa bersalah atas apa yang terjadi pada putranya. Tapi jika dia tidak melakukan itu, suami dan putranya akan terus saling bermusuhan. Dan Nyonya Savian tidak ingin ini terjadi pada keluarganya.
Nyonya Savian lalu pergi meninggalkan kafe tersebut dengan perasaan bersalah, dan kembali ke kediamannya.
Kecepatan berpacu dengan waktu. Itulah yang Rei rasakan sekarang. Dia sudah tidak sabar ingin menemukan Anin, orang yang paling dia sayangi itu.
"A little faster, please. i'm in hurry"
"Okay, Sir!"
Sang supir menambah kecepatannya di tengah jalan kehidupan malam kota Paris. Dia tau kalau penumpangnya itu sedang terburu-buru. Karena dia bisa melihat kegelisahan dari wajah Rei.
*
Tak lama kemudian, Rei sampai dan dia langsung berlari mencari keberadaan Anin di dalam. Rei berlari kesana kemari, tapi tidak juga menemukan keberadaan Anin.
Rei melihat jadwal keberangkatan dari Paris malam ini menuju kota B, dan ternyata, Anin sudah berangkat!!.
"Sayaaaang!!"
Rei hanya bisa menangis tertahan, setelah mengetahui kalau ternyata Anin memutuskan untuk meninggalkannya. Dia terduduk lemas, dan semua mata memandang ke arahnya.
Cukup lama sekali, Rei berdiam disana, lalu dia pergi dengan langkah gontai, dan perasaan yang sangat hancur.
*
Di dalam pesawat, Anin hanya bisa menahan isak tangisnya, berusaha menghadapi kenyataan kalau impiannya hancur begitu saja. Tapi Anin sadar, dia juga tidak bisa mementingkan egoisnya sendiri. Dia juga tidak berniat menghancurkan keluarga Rei, apalagi sampai memecah hubungan antara ayah dan anak.
"Maafkan aku, sayang!!"
Anin menutup matanya, berusaha menetralkan kembali pikirannya yang mulai kacau.
__ADS_1
**
Rei kembali ke apartemennya dengan perasaan yang sulit sekali untuk di utarakan. Dia masuk ke kamarnya, berniat untuk merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Tapi pemandangan yang terlihat justru membuatnya semakin sedih. Pakaian Anin dan semua barang-barangnya, masih tertata rapi disana.
Rei hanya bisa memandanginya, dan tak terasa airmatanya pun mengalir. Dia langsung keluar dari kamarnya dan merebahkan tubuhnya di sofa, lalu dia pun tertidur dengan pulas.
*
Sesampainya di kota B, Anin langsung menghentikan sebuah taksi dan pergi ke sebuah hotel. Anin berpikir, menginap di hotel untuk sementara adalah pilihan yang terbaik untuknya saat ini.
"Ah, barang-barangku masih tinggal disana. Untungnya dompet dan pasporku semuanya di dalam tas ini."
Anin memeriksa kembali tasnya, melihat apa saja yang dia bawa pulang kembali ke Indonesia.
"Astaga, aku lupa kalau ponselku ternyata tidak ada disini. Mungkinkah tinggal di apartemen?? Atau di kafe itu??"
Anin kembali mengingat-ingat dimana dia meninggalkan ponselnya. "Ahh!! kepalaku sakit!! Besok aku beli yang baru saja. Sebaiknya, malam ini aku harus tidur cepat."
Anin berusaha menghibur hatinya. Walau berat, tapi inilah kenyataan yang harus dia hadapi sekarang.
••••
Pagi harinya, di kediaman Rafa.
Semua kehidupan berjalan dengan normal, dan sudah 3 minggu juga Anin meninggalkan mereka tanpa memberi kabar.
Rafin yang hari ini bangun pagi-pagi sekali, berlari-lari kecil menuju dapur untuk menemui Bi Inah.
"Nenek??"
"Iya??? Rafin lapar??" tanya Bi Inah begitu melihat cucunya itu menatapnya dengan lembut.
"No no no!! Apin gak lapar, Nek. Apin cuma mau cerita kalau Apin tadi mimpiin mami Anin."
"Cucu nenek mimpi apa?? Rafin rindu ya sama mami??"
Rafin mengangguk lalu memeluk neneknya. "Apin mimpi kalau mami pulang bawa mainan banyaaaaak sekali. Mami juga bawa baju buat Apin. Pokoknya semuanya bagusss!!"
Rafin menceritakan mimpinya dengan sangat bersemangat.
"Mami kalau pulang pasti bawa mainan banyak. Sabar ya, Nak?? Nenek juga merindukan mami kamu," ucap Bi Inah semakin mempererat pelukannya.
"Kamu apa kabarnya, Nak?? Kenapa belum juga mengabari ibu?? Apa terjadi sesuatu denganmu???"
Bi Inah sangat khawatir dengan keadaan Anin. Tidak biasanya putrinya itu seperti itu. Anin tidak pernah menyembunyikan masalahnya dengan keluarganya terutama dengan Bi Inah.
"Rafin tunggu nenek disini, ya?? Nenek mau mengambil sarapan untuk Rafin."
Rafin mengangguk patuh, lalu dia pun duduk manis sambil memandangi Bi Inah.
*
Di hotel LUX.
Anin berusaha membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Tapi pagi ini, dia harus segera pergi membeli ponsel yang baru dan kemudian menghubungi Bi Inah untuk memberikan kabar.
Dia sadar, dia pasti sudah sangat membuat khawatir Bi Inah dan yang lainnya.
Anin bangun dari tidurnya, mengumpulkan kembali sisa-sisa nyawanya, lalu pergi mandi untuk menyegarkan dirinya.
__ADS_1
*
"Setelah hampir 30 menit lamanya, Anin keluar dari kamarnya, memandangi dirinya di dalam cermin, lalu tertawa.
"Huuh!! Bagaimana aku keluar dengan pakaian seperti ini. Aku baru sadar, ternyata aku keluar dari apartemen Rei hanya menggunakan ini," ucap Anin sambil berputar-putar.
Dia keluar dan memandangi langit yang sedang mendung. Pikirannya sekarang melayang kepada Rei. Hati yang berusaha kuat dari kemarin sampai pagi ini, akhirnya remuk juga
"Kamu, apa kabar??" lirihnya berusaha menahan airmatanya.
Tapi apa daya, bendungan airmata yang berusaha dia tahan dari kemarin akhirnya tumpah juga. Hati yang dia pikir akan kuat seperti baja, ternyata lemah seperti debu.
Anin menangis cukup lama di kamarnya. Tadinya dia berpikir kalau keberuntungan akan berpihak kepadanya. Tapi ternyata tidak. Dia tidak yakin, apa dia masih di butuhkan di dunia ini. Anin sering beranggapan, kenapa hidupnya sangat tidak adil. Dia harus kehilangan kedua orangtuanya, hamil di luar nikah, dan sekarang harus menutup rapat-rapat lagi pintu hatinya, juga mengubur dalam-dalam semua mimpinya.
"Ah, aku bahkan tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan keluargaku. Sudah berapa kali aku membuat mereka kecewa akan diriku. Aku bahkan tidak tahu caranya berterimakasih, karena sudah menyelamatkan hidupku dan Rafin."
Anin hanya bisa meratapi setiap kebodohan yang sudah dia lakukan. Dan kini, dia juga pasti sudah mengecewakan Rafa yang sudah sangat membantunya, menyelamatkan hidupnya dan juga keluarganya.
"Ah, sebaiknya aku tidak pulang dulu. Aku tidak mau menyusahkan mereka lagi," ucap Anin, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo ..."
"Hai, Anin. Apa kabar??"
Dia adalah Arum, teman 1 sekolah Anin sewaktu di SMA dan mereka lumayan dekat. Setelah lulus SMA, Arum dan keluarganya pindah ke kota K. Dan memilih melanjutkan kuliahnya, sedangkan Anin tidak. Tapi komunikasi mereka tetap terjalin, walau tidak sesering dulu.
"Aku baik. Kamu bagaimana??"
"Aku juga baik ..."
Obrolan Mereka pun berlanjut hampir 1 jam lebih. Sampai akhirnya Anin menanyakan pekerjaan kepada Arum. Anin tahu kalau keluarga Arum mempunyai perusahaan yang sangat terkenal di kota mereka. Anin hanya ingin pergi sejauh mungkin dari semuanya, karena Anin merasa sangat malu kalau harus pulang dengan kenyataan kalau lagi dan lagi, Anin di campakkan.
"Baiklah, Nin. Besok kamu datang kemari. Aku akan bantu kamu untuk bicara dengan ayahku. Kamu tenang saja."
"Tidak perlu, Rum. Ehm, maksud aku, aku tidak berniat menolak bantuan kamu. Aku akan bekerja sesuai lowongan yang ada saja. Lulusan SMA seperti aku, cuma bisa menempati posisi sebagai cleaning service saja, itu sudah cukup bagus. Dan aku sangat berterimakasih."
"Apakah kamu yakin, Nin??"
"Aku sangat yakin"
"Baiklah, kalau begitu. Besok kamu datang kemari. Nanti aku kirim alamatnya, ya??'
"Terimakasih, ya??"
"Sama-sama, Nin. Kamu dulu juga pernah menolong aku sewaktu kita masih sekolah. Sekarang giliran aku yang bantu kamu. Okay, kamu jangan lupa besok, ya?? Aku harus pergi sekarang. Bye, Anin!!"
"Bye, Arum!!"
Anin tersenyum lega, setidaknya sampai dia bisa menghadapi rasa malunya, Anin akan terus bersembunyi di perusahaan Arum.
"Sekarang, bagaimana aku akan menghubungi Ibu?? Aku harus memberinya kabar, mengatakan kalau semuanya dalam keadaan baik. Tapi?? Bagaimana caranya?? Aku sudah berada di Indonesia?"
••••••••••••
Bagaimana kisah selanjutnya??
Tetap dukung aku, ya lewat vote, comment dan juga like kalian.
Semoga kita semua tetap dalam keadaan sehat. Terimakasih.
__ADS_1
**
(Bersambung.)