
Hi hi!! Maaf untuk keterlambatan update an nya untuk beberapa hari ini.
Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat, dan terus patuhi protokol kesehatan, ya??
Kesehatan itu mahal!!
Happy reading!!!
••••••••
Rafa sedang sibuk dengan layar ponselnya. Sejak kepergian Anin, Rafa tidak pernah lagi menampakkan dirinya di depan Bi Inah dan yang lainnya.
Dia memilih untuk tinggal di apartemen, dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Rafa sekarang lebih sering bepergian keluar kota atau pun sengaja berlibur ke negara-negara tetangga untuk melepaskan kepenatan di kepalanya.
"Tuan, penerbangan anda 1 jam lagi"
"Baiklah, persiapkan semuanya. Kita akan berangkat 20 menit lagi"
"Siap, Tuan"
"Oh, ya? Sebelum berangkat, tolong bawakan ini ke rumah dan berikan pada anak kecil itu. Dan sampaikan maaf saya kepada mereka karena tidak pernah menemui mereka disana."
"Baik, Tuan!"
Perasaan bersalah selalu muncul dalam. hatinya. Bukan sengaja untuk mengabaikan keluarga Anin, Rafa hanya tidak ingin mengingat Anin lagi, dan benar-benar ingin melupakannnya.
*
Mark yang baru saja tiba di rumah, langsung masuk dan menemui Bi Inah yang sedang membantu yang lainnya mempersiapkan makanan di dapur.
Sekarang Bi Inah sudah menjadi kepala pelayan di kediaman Rafa. Dia bertanggung jawab penuh atas rumah itu dan mereka semua juga di izinkan untuk tinggal disana.
"Tuan, Mark??"
"Eh, Iya Tuan??"
Bi Inah datang dan mendekati Mark.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Tidak usah memanggil saya tuan, Bi. Cukup panggil saya Mark saja. Saya bukan tuan besar seperti Tuan Rafa," canda Mark membuat Bi Inah tersenyum.
"Baiklah, Nak mark!"
"Oh, ya Bi? Ini ada hadiah dari Tuan Rafa untuk cucu bibi. Dan Tuan juga meminta maaf karena tidak pernah datang menemui bibi dan yang lainnya disini"
"Tidak, Nak. Sampaikan kepada Tuan Rafa, tidak perlu meminta maaf karena beliau tidak salah apa-apa. Dan tolong sampaikan juga rasa terimakasih saya dan keluarga saya. Tuan Rafa sudah sangat baik terhadap kami. Kalau beliau tidak ada, saya sendiri tidak tahu, bagaimana sekarang nasib anak dan cucu saya."
Mark memegang pundak Bi Inah. "Baiklah, Bi. Akan saya sampaikan nanti."
Tiba-tiba Rafin keluar dari kamarnya dan berlari menuju Bi Inah. Bi Inah lalu menggendong Rafin ke dalam pelukannya.
"Sudah bangun, sayang??"
Rafin mengangguk kecil dan belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Di pandanginya Mark dengan seribu rasa penasaran.
"Ada apa, sayang?? tanya Bi Inah bingung.
"Om gantengnya, mana??" tanya Rafin kepada Mark sambil mengusap-usap matanya.
"Om ganteng yang mana, Nak??" tanya Bi Inah lagi.
"Itu loh, Nek. Yang itu!!"
Rafin turun dari gendongan Bi Inah dan berlari menuju ruang tamu, kemudian di ikuti oleh Mark dan Bi Inah. Rafin lalu menunjukkan sebuah foto, dan yang Rafin maksud adalah Rafa.
Mark tersenyum memandang Rafin yang menatapnya, seakan memohon jawaban atas pertanyaan dia tadi.
"Itu om nya lagi sibuk kerja. Nanti kalau om nya sudah tidak sibuk, pasti kesini lagi main sama kamu."
Mark mencoba memberi penjelasan kepada bocah usia 4 tahun. Dan akhirnya Rafin bisa mengerti juga. Tidak susah untuk menjelaskan sesuatu kepada Rafin, karena Rafin termasuk anak yang cerdas dan cepat sekali memahami sesuatu.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Bi?? Hem, om juga pamit dulu ya, Rafin??"
"Baiklah, Nak," jawab Bi Inah dan di balas anggukan oleh Rafin.
Mark lalu pergi meninggal mereka, kemudian menjemput Rafa ke kantornya. Karena hari ini Rafa ada penerbangan ke Singapura lagi, dan akhir-akhir ini Rafa memang lebih sering menghabiskan waktunya disana.
"Mari, Tuan. Kita akan segera berangkat," ucap Mark, dan membuat Rafa tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana kabar bocah kecil itu??" tanya Rafa penasaran.
"Dia sangat baik, Tuan. Tadi dia menanyakan keberadaan anda. Mungkin dia rindu." jelas Mark, membuat Rafa tersenyum.
"Baiklah, terimakasih. Ehm, dan tolong kamu cari kembali informasi mengenai keberadaan Anin."
Mark memandang Rafa dengan segudang pertanyaan. Karena beberapa minggu yang lalu, Rafa memutuskan secara emosi untuk tidak ingin tahu lagi bagaimana kabar Anin. Tapi hari ini secara tiba-tiba, Rafa menyuruhnya untuk mencari tahu kembali bagaimana kabar Anin.
"Saya hanya penasaran, tidak lebih!!" jelas Rafa kepada Mark, yang menunjukkan ekspresi kebingungannya.
"Siap, Tuan. Akan saya lakukan!"
Mark tertawa di dalam hatinya. Dia bisa merasakan ada hal lain yang membuat tuannya bisa seperti ini. Dan Mark tahu, itu lebih dari sekedar rasa penasaran.
**
Sebulan berlalu, Anin mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Anjn juga terus mengabari ibunya dengan bantuan temannya, Leni. Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir dengan keadaannya.
Dia bekerja tanpa pernah memandang siapa dirinya sebenarnya. Anin hanya ingin menghindari rasa malunya, dari kenyataan hidupnya yang sebenarnya.
"Anin!!"
Panggilan rekan kerjanya, membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Eh, iya Sha?? Maaf ada apa??"
"Kamu ini, di ajak ngobrol dari tadi malah gak nyambung. Kamu lagi sakit, ya?? tanya Shasa, rekan kerja Anin di perusahaan tempatnya bekerja.
Mereka juga tinggal di kos-kos an yang sama. Anin memilih untuk keluar dari apartemen milik Arum, karena Anin tidak ingin hidup menyusahkan sahabatnya itu. Anin ingin belajar hidup mandiri, tanpa rasa belas kasihan dari orang
"Gak, kok Sha! Maaf tadi aku hanya sedang memikirkan sesuatu," ucap Anin malu-malu.
"Yaelah, Nin!! Lagi memikirkan Pak Bima, ya??"
"Gak, lah!! Aku mana berani memikirkan Pak Bima. Jarak kita ibarat langit dan bumi, terus di tengah-tengahnya ada kamu, yang udah seperti netizen ala negeri ini, keponya parah tapi menyakitkan!!" jawab Anin lalu tertawa.
"Ish, apasih, Nin!!"
Shasa yang mendengar candaan temannya itu pun, akhirnya ikut tertawa. Shasa tau persis, hubungan Anin dan Pak Bima seperti apa. Anin pernah menceritakannya kepada Shasa.
Shasa juga kagum dengan kepribadian Anin yang tidak pernah menyombongkan dirinya, walaupun kenal dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Padahal kebanyakan orang, kalau di posisi Anin, pasti sudah sombong dan minta posisi yang lebih enak. Bukan seperti Anin, yang hanya minta ditempatkan dibagian cleaning service.
"Eh, dengar-dengar besok kita kedatangan tamu dari perusahaan apa gitu!! Aku lupa namanya, Nin. Kalau kamu besok melihatnya, pasti langsung jatuh cinta!!" cerita Shasa bersemangat.
"Masa, sih??"
"Sumpah!! Ini kedatangan beliau untuk yang kedua kali. Dan dari gosip burung yang aku dengar, sepertinya Nona Arum dan si tampan itu berpacaran!! Ah, sungguh sempurna hidup mereka. Sudah kaya, cantik dan tampan, karir sukses. Tidak sebanding dengan hidupku, yang hanya seperti remah-remah roti!"
"Pletaak!!"
Anin memukul keras kening Shasa, karena merasa geli dengan ucapannya.
"Awwww!! Sakit, Nin!!"
"Rasain!! Remah-remah roti dari Hongkong!! Jangan kebanyakan nonton sinetron, deh!! Tanya dulu itu burung yang nyebarin gosip masih hidup apa gak??" tanya Anin lalu tertawa terbahak-bahak.
"Dasar emak tiri!!"
Anin pun makin tertawa kuat melihat ekspresi kesal di wajah temannya itu.
*
Keesokan harinya di perusahaan Arum, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka melakukan yang terbaik untuk menyambut kedatangan seorang pengusaha hebat seperti yang Shasa ceritakan kepada Anin kemarin.
"Nin!! Di panggil Bu Arum di ruangannya!!" teriak Anes, teman kerja Anin.
"Oke, Nes. Terimakasih, ya??"
Anes mengangguk tersenyum, lalu Anin bergegas menuju ruangannya Arum.
"Tok tok tok!!!"
"Masuk!" perintah Arum dari dalam.
Anin masuk dan menundukkan kepalanya di hadapan bos nya itu.
"Astaga, Nin!! Apa-apaan sih pakai nunduk segala!! Jangan begitu, ah!!" ujar Arum tidak enak hati tiap kali Anin bersikap seperti itu.
Anin hanya bisa tersenyum melihat sikap sahabatnya itu. Tapi Anin juga tidak ingin menimbulkan gosip yang tidak enak tentang hubungan persahabatan mereka di kantor. Anin tidak ingin orang berkata aneh-aneh tentang dirinya, karena Anin hanya ingin hidup dengan tenang.
"Maafkan saya, Arum. Kamu tahu kan, disini kita mempunyai status sosial yang sangat jauh, Saya hanya tidak ingin merusak reputasimu sebagai bos keren baik hati, yang seperti mereka katakan selama ini. Dan saya juga tidak ingin mereka berpikir aneh-aneh kalau saya hanya memanfaatkan kamu!"
Arum memandang dengan kagum sosok Anin yang sekarang jauh lebih dewasa.
"Oke oke!! Baiklah!! Maafkan aku, ya??"
Anin mengangguk tersenyum, dia sangat berterimakasih karena Arum bisa mengerti tentang alasan yang baru saja dia jelaskan.
"Maaf, ada apa kamu memanggil saya kemari, Rum??"
"Oh, iya Nin. Sebentar lagi anak temannya ibuku akan datang. Dia adalah rekan bisnisku, tapi kami sudah lama saling mengenal!" ujar Arum tersenyum malu-malu.
"Dan kamu menyukainya??"
Anin bisa menebak isi hati Arum hanya dengan melihat perubahan raut wajahnya.
"Apakah sangat kelihatan??"
"Huuum!!" jawab Anin tersenyum.
"Ah, masa sih?? Padahal aku sudah berusaha keras untuk menutupinya!!"
"Berusaha keras bagaimana?? Jelas-jelas pipi kamu merah gitu seperti tomat. Lihat saja kalau tidak percaya!!"
Anin tertawa kecil lalu mengajak Arum melihat dirinya di dalam cermin.
"Astaga!! Merah sekali dan panas!!" teriak Arum sambil memegangi kedua pipinya.
Anin hanya bisa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu. Arum yang tidak banyak berubah kalau sedang menyukai seseorang, pasti akan seperti itu. Polos dan apa adanya.
"Nin, nanti aku mau kenalkan kamu dengan dia. Kamu mau, ya??"
"Gak, ah!! Masa iya cleaning service kenalan sama bos besar seperti dia??"
"Hust!! Aku memperkenalkan kamu sebagai sahabatku, bukan sebagai pegawaiku!!" jawab Arum kesal.
"Tapi, Rum??"
"Ayolah ... kalau ada kamu, paling tidak aku punya sedikit nyali untuk berbicara santai dengannya. Mau, Ya Nin??"
Anin akhirnya pasrah setuju dengan ajakan Arum. Dia juga tidak tega menolak ajakan Arum, yang juga sudah banyak sekali membantunya.
"Yes!! Nanti aku kabari kamu lagi ya, Nin??"
"Baiklah, Rum. Saya permisi balik dulu ke ruangan saya, kalau sudah tidak ada lagi ingin kamu bicarakan."
Arum mengangguk tersenyum, dan Anin pun pergi meninggalkan Arum di ruangannya.
__ADS_1
*
Tepat jam makan siang.
"Nin, bisakah kamu keruanganku sekarang??"
"Ahh!!"
Anin refleks mengucapkan kata itu, setelah membaca pesan singkat dari Arum di sela-sela makan siangnya.
"Ada apa, Nin?" tanya Shasa kaget melihat sikap Anin.
"Ah itu! Tidak apa-apa, Sha. Hanya pesan singkat dari seseorang dan ini udah yang ke 5 kali, kalau aku dapat uang tunai ratusan juta. Kalau begini terus, aku bisa kaya mendadak tidak perlu kerja lagi!!"
Arum tertawa mendengar celotehan Anin. "Sabar, Nin!! Kita aminkan saja, semoga suatu saat kita juga bisa kaya mendadak!!"
"Aminnnnnn!!!" jawab Anin bersemangat, lalu di ikuti yang lain. Dan akhirnya mereka semuapun tertawa.
"Aku ke luar sebentar, ya?? Mau beli minum. Ada yang mau nitip, gak??"
"Boleh deh, Nin!! Seperti biasa, ya??" teriak yang lain.
"Aku juga, ya?? Es teh aja!" sambung yang lain.
"Aku apa aja deh, belinya di depan tapi ya Nin?? Disana enak soalnya!!" pinta Shasa.
"Baiklah!!"
Anin lalu pergi meninggalkan teman-temannya dan bergegas menuju ruangan Arum. Anin terpaksa berbohong, karena tidak ingin mengundang gosip yang tidak baik di kantor.
"Tok tok tok!!"
"Masuk!!"
Anin memasuki ruangan Arum dan berdiri di depan Arum dan seorang pria yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.
"Duduklah!!"
Anin menggelengkan kepalanya. Dia merasa tidak enak duduk dengan Arum dan pria itu. Karena Anin merasa dirinya tidak pantas.
"Aninnn!! Duduklah!!"
Seketika pria itu pun menghentikan aktifitasnya setelah mendengar perintah kecil dari Arum.
"Astaga matilah aku!!" ucap Anin dalam hati, begitu melihat pria itu hanya terdiam sambil memperhatikan layar ponselnya.
Anin lalu duduk di depan mereka berdua, dan menundukkan kepalanya.
"Raf, Kenalkan ini Anin!! Nin, kenalkan ini Rafa!!"
(Duaaaaaar!!)
Seperti tersambar petir, saat Anin mengetahui pria yang sedang duduk di hadapannya itu adalah Rafa, orang yang dia kenal. Dan begitu juga Rafa, yang kaget melihat keberadaan Anin yang dia cari, ternyata sekarang sedang duduk di hadapannya.
Rafa menatap kesal melihat Anin yang sedang duduk di hadapannya. Menggunakan pakaian cleaning service, dan sekarang bekerja di perusahaan milik Arum. Dan Anin hanya bisa menundukkan kepalanya, berusaha menelan ketakutannya, karena persembunyiannya akhirnya diketahui oleh Rafa.
"Apakah kalian saling mengenal??" tanya Arum yang sedari tadi bisa melihat Anin dan Rafa saling melempar pandangan.
"Tidak!!" jawab Anin.
"Sangat kenal!!" jawab Rafa.
Rafa terus menatap Anin, dan Anin menatap Arum berusaha memberi penjelasan dengan matanya. Tapi Arum malah semakin bingung dan menatap mereka berdua. Anin dan Rafa menjawab secara bersamaan, tapi dengan jawaban yang berbeda.
••••••••
Bersambung!!
Bagaimana kisah selanjutnya??
Jangan lupa vote, comment dan juga like, ya??
Terimakasih.
__ADS_1