
••••••••
"Rafa???"
Anin kaget melihat Rafa yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.
"Ikut aku!!!"
"Apasih?? Gak mau!!"
"Jangan berisik!!"
Rafa tidak memperdulikan omelan Anin. Dia terus saja menarik tangan Anin dan membawanya kedalam mobilnya.
"Raf, sakit!! Lepaskan tangan aku!!"
"Masuk!!"
"Gak mau!!"
Lagi-lagi Rafa tidak memperdulikan teriakan Anin. Rafa mendorong Anin masuk kedalam mobilnya.
"Awww!" teriak Anin saat tubuhnya jatuh lumayan keras di kursi mobil milik Rafa.
Rafa masuk ke dalam mobilnya dan membawa Anin meninggalkan mall itu.
"Hei?? Kita mau kemana??" teriak Anin lagi tapi tidak di gubris oleh Rafa.
Anin menatap Rafa dengan sangat kesal. Sepanjang jalan yang terdengar hanya omelannya, tapi Rafa tidak memperdulikannya.
Rafa membawa Anin ke sebuah kawasan apartemen elite dan memberhentikan mobilnya disana.
"Turun!!"
"Gak mau!!"
Rafa keluar dari mobilnya dan langsung menarik Anin keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam apartemen.
"Rafa!!!"
Rafa berhenti dan menatap Anin dengan emosi. Dia mendekatkan wajahnya dan menatap Anin dengan sangat marah.
"Kamu sudah gila??"
"Gilaaa??" tanya Anin gemetaran dan melangkah mundur menjauhkan wajahnya dari Rafa. Anin belum pernah melihat Rafa semarah itu. Dan Anin sadar pasti ini semua karena dia.
Rafa menarik tangan Anin dengan kasar, dan kali ini Anin hanya bisa mengikutinya. Karena Anin tidak mau membuat Rafa semakin marah.
"Ah, matilah aku kali ini!!" gumamnya dalam hati, dan hanya bisa pasrah saat Rafa menariknya dengan paksa.
Setelah tiba di lantai 15, Rafa menariknya memasuki sebuah kamar di apartemen itu. Anin hanya bisa menurut dan mengikuti Rafa ke masuk dalam.
Rafa menatap Anin lagi, lalu meninggalkan Anin yang masih berdiri gemetaran di pojok ruangan itu.
"Dia akan membunuhku?? Ah, tidak mungkin!! Tapi tadi dia sangat menakutkan?? Ah, tidak!! Tidak!! Dia tidak mungkin membunuhku disini," ucap Anin tak karuan dan tangannya gemetaran.
"Duduk!!!"
Suara Rafa yang baru saja keluar dari kamarnya, mengagetkan Anin dan seketika kakinya lemas. Anin menurutinya lalu duduk menundukkan kepalanya, karena tidak berani menatap Rafa.
Rafa sibuk dengan ponselnya, dan tidak memperdulikan keberadaan Anin disana. 1 jam berlalu, sampai akhirnya Rafa menghentikan aktifitasnya lalu menatap Anin.
"Ada yang mau kamu jelaskan sekarang??"
__ADS_1
Anin menatap Rafa takut. "Ehm, penjelasan apa?? Hmm, itu sepertinya tidak ada yang perlu aku jelaskan," ucapnya terbata-bata karena ketakutan. Anin berharap Arum belum menceritakan apapun kepada Rafa. Itu sebabnya, Anin merasa tidak perlu menjelaskan apapun kepada Rafa.
"Apa perlu aku yang menceritakan kebohonganmu kepada ibumu??"
(Dyaaarr!!)
Anin kaget mendengar ucapan Rafa. Dan dia sadar kalau Arum pasti sudah menceritakan semuanya kepada Rafa.
**
Di mall Andara.
"Udah, yuk. Kita cari makan dulu, baru lanjut lagi," ujar Shasa kepada Erin. Dan mereka pun keluar meninggalkan toko tersebut.
"Tadi Anin bilang dia di toko buku itu," ucap Erin sambil menunjuk toko buku yang di maksud oleh Anin.
Mereka pun pergi menyusul Anin ke toko buku tersebut, tapi mereka tidak menemukannya.
"Kamu gak salah dengar kan, Rin??" tanya Shasa bingung.
"Gak kok, tadi dia bilang mau kesini. Aku telepon dia aja dulu, mungkin dia pindah ke toko buku yang lain." ujar Erin lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Anin.
5 kali panggilan keluar dan tidak ada respon dari Anin.
"Aduh, kemana ya itu anak?? Gak dijawab lagi!!!" ujar Erin panik.
"Dia gak di culik kan??" jawab Shasa gak kalah paniknya.
"Hushh!! Jangan ngawur! Kita cari keliling aja dulu, yuk!" ajak Erin, lalu mereka mulai berkeliling mall itu.
**
Suasana ruangan itu masih hening, dan Anin belum menjawab pertanyaan Rafa.
Anin hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan Rafa. Dia juga bingung harus menjawab mulai darimana. Atau lebih tepatnya, sebenarnya Anin merasa malu kepada Rafa.
"Anindya!!" bentak Rafa kemudian, karena Anin sama sekali tidak menggubris pertanyaannya.
Kali ini Anin menatap balik Rafa. "Apa??? Kalau benar aku membohongi mereka, terus kenapa??? Kalau benar aku membohongi mereka, Kenapa kamu harus membentakku!!"
"Anin!!!"
"Apa??? Iya kamu benar!! Aku memang membohongi mereka!! Tapi aku punya alasan kenapa aku melakukan itu."
"Alasan apa?? Alasan kalau kamu berpikirbbahwa mereka akan terbebani dengan semua permasalahan yang kamu tanggung sendiri??"
Anin hanya diam mendengar jawaban Rafa. Airmatanya mulai mengalir membasahi pipinya. Awalnya dia juga tidak bermaksud membohongi mereka, karena Anin pikir kalau semua akan berjalan seperti yang dia harapkan dan dia akan hidup bahagia. Tapi kenyataannya tidak.
Rafa bisa melihat kesedihan di mata Anin. Rafa tidak bermaksud membentaknya. Itu hanya luapan rasa emosi dan sebagian bentuk kerinduannya terhadap sosok Anin.
"Maafkan, aku."
"Tidak perlu meminta maaf kepadaku. Aku tahu aku salah. Tapi, aku melakukan semua karena aku tidak ingin membuat ibuku, yang dengan ikhlas mengurusku, bahkan sudah menganggapku sebagai putri kandungnya, bersedih. Kehadiranku hanya membuatnya terus merasa khawatir. Aku hahkan belum bisa membahagiakan mereka. Kamu pikir aky sejahat itu meninggalkan mereka dan pergi kesini??"
"Terus kenapa kamu tidak mencoba membahagiakan mereka dengan melakukan yang terbaik dan bukannya lari dari kenyataan??"
"Apa yang bisa aku lakukan?? Aku bahkan tidak punya apa-apa untuk membahagiakan mereka. Bahkan almarhum orangtuaku pasti akan sangat kecewa denganku, karena tidak bisa menyelamatkan semua milik mereka."
"Kenapa kamu berpikir kalau kamu tidak bisa melakulan apapun?? Aku pernah bilang kepadamu kalau aku akan membantumu. Tapi apa yang kamu lakukan?? Apa kamu ikhlas, harta terakhir peninggalan orangtuamu jatuh ke tangan Hendra??"
Anin menggelengkan kepalanya dan yang terdengar hanya suara isakan tangisnya.
"Kalau kamu hanya bisa melarikan diri dari kenyataan, sebaiknya pergi sejauh mungkin sampai siapapun tidak akan pernah menemukanmu!!"
__ADS_1
"Apa kamu pikir, ibumu tidak khawatir?? Ibumu bukan anak kecil, yang bisa kamu bohongi, Nin. Setiap kabar yang kamu berikan setiap hari, hanya membuatnya semakin berpikir apa benar kamu bahagia??"
"Kamu tahu darimana mengenai itu??"
"Mengenai apa?? yang mana?? Oh, ya! Mungkin maksud kamu, mengenai pesan singkat yang kamu berikan setiap hari, tapi mereka bahkan tidak bisa menghubungimu dan mendengar suaramu??"
"Ibu menanyakan apa kepadamu??"
"Tidak ada!! Dan bukan kepadaku. Tapi kepada Mark, ibumu menanyakan banyak hal. Dia hanya berusaha berpikir positif, dan berharap kamu benar-benar bahagia."
"Ibuku baik-baik saja, kan??"
"Aku tidak tahu. Dan kenapa kamu tidak menghubunginya dan menanyakan sendiri bagaimana kabarnya??"
"Aku tidak berani!"
"Kenapa?? Malu??"
Anin menatap Rafa, yang bisa menebak dengan sangat jelas isi hati Anin.
"Anin?? Mereka itu keluargamu!! Kenapa kamu harus malu dengan kenyataan yang ada?? Baik buruknya kabar yang kamu bawa, mereka adalah tempat terbaik untuk pulang, dan bukannya disini!!"
"Aku hanya takut mereka akan bersedih."
"Dan kalaupun bersedih, apa mereka akan memarahimu??"
"Tentu tidak!!"
"Terus kenapa kamu sekarang disini?? Pulanglah denganku, besok!!"
"A a apa??"
"Pulang denganku!!"
"Terus bagaimana dengan Arum??"
Rafa menatap kesal kepada Anin. "Aku yang akan menyelesaikannya atau kamu sendiri yang akan mengatakannya kepada Arum??"
"Aa a aku saja!!" ujar Anin terbata-bata, takut kalau Rafa akan emosi kembali.
"Baiklah, istirahatlah disini malam ini."
"Tapi???"
"Tenanglah. Tidak usah takut. Aku tidak akan melakukannya sampai kamu yang memintanya!!"
"Dih, apaan!"
"Itu kamarmu, istirahatlah. Nanti aku akan menyuruh orang membawakan pakaian untukmu. Aku keluar sebentar, dan awas kalau kamu melarikan diri lagi!!" ujar Rafa sedikit mengancam, lalu pergi meninggalkan Anin sendirian di apartemen itu.
Anin memasuki kamar yang dimaksud oleh Rafa, dia merebahkan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan seharian ini.
Dia masih berpikir, alasan apa yang harus dia katakan kepada Arum mengenai kepulangannya yang mendadak ini. Jujurkah?? Atau harus berbohong lagi demi kebaikan bersama.
"Tidak mungkin aku jujur kalau aku pulang dengan Rafa dan aku mengenalnya. Padahal tadi siang aku sudah membantahnya. Ah!!! Apa yang harus kukatakan kepada Arum dan juga Bima??"
"Dan apa yang harus kukatakan kepada mereka juga, kalau aku akan kembali besok??" ujar Anin, sambil melihat ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Erin dan Shasa.
••••••••
Bagaimana kelanjutannya?? Tetap sabar menunggu update an aku selanjutnya, ya??
Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat dan happy reading teman-teman.
__ADS_1
Bersambung.