
••••••
Anin akhirnya memutuskan mengejar kembali kebahagiaan hidupnya dan kejelasan dari status Rafin. Semuanya demi Rafin, dan juga demi Anin yang kini di hatinya mulai tumbuh benih-benih cinta.
"Mamiiii, sini duduk sama Apin." ajak Rafin begitu melihat Anin yang sedang berjalan menuju kamarnya.
"Ehm, mami ke atas dulu aja ya, Nak?? Mami ada kerjaan sebentar." tolak Anin dengan lembut takut melukai hati putranya itu.
Rafin langsung cemberut setelah mendapatkan penolakan dari Anin.
"Disinilah, dulu. Pekerjaan kan bisa nanti dikerjakan?" ujar Rafa tiba-tiba tapi tidak melihat Anin. Pandangannya hanya tertuju pada layar televisi yang ada di depannya.
Anin menyetujuinya dan langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Mami, look! look!! Film kesukaan Apin!" teriak Rafin dengan gembira sambil menunjukkan film kesukaannya.
"Iya, sayang. Duduk sini dekat Mami, jangan lompat kesana kemari. Nanti Rafin jatuh, lho!"
"Baik, mami!!" jawab Rafin dan langsung duduk disebelah Anin.
Dan mereka bertiga pun menonton bersama film kesukaan Rafin, sampai Rafin pun tertidur tidak lama setelah filmnya berlangsung.
Bi Inah yang melihat dari kejauhan pun langsung datang menghampiri mereka dan menggendong Rafin ke kamar.
"Tunggu!!" ujar Rafa begitu melihat Anin bangkit berdiri dan hendak pergi meninggalkannya disana.
"Eh, saya??"
"Iya, kamu"
Anin lalu kembali duduk dan menunduk menatap layar ponselnya.
"Apa semua baik-baik saja dengan pekerjaanmu?? Saya sudah mendengar semuanya dari Mark. Maafkan saya, karena saya tidak bisa membantumu setelah kecelakaan itu."
Anin menatap Rafa dengan lembut. Dia pikir, mungkin inilah saatnya dia harus mengembalikan posisinya sebagai orang yang Rafa cintai.
"Tidak apa ... Walau tidak sesempurna seperti apa yang kamu lakukan, setidaknya tidak terlalu buruklah." jelas Anin sedikit tertawa tanpa sadar, dan Rafapun memperhatikannya.
Anin merasa canggung dengan tatapan Rafa, langsung mengalihkan perhatiannya pada ponsel miliknya. Keheningan pun berlangsung cukup lama.
"Bagaimana dengan kamarmu?? Apakah kamu menyukainya??" tanya Anin tiba-tiba memecah kesunyian diantara mereka.
"A a apa?? Kamarku?? Apakah kamu yang mengganti semuanya??"
Anin mengangguk mengiyakan. Rafa berpikir kalau tunangannya yang menggantinya karena Cathy juga mengiyakan ketika Rafa bertanya waktu itu.
"Ternyata bukan Cathy tapi gadis ini," ucapnya dalam hati sambil memperhatikan raut wajah Anin.
"Kamu menyukai warnanya?? Maaf, aku hanya mengganti seadanya. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa menggantinya lagi dengan yang baru."
"Aku menyukainya ..."
Anin terdiam setelah mendengar jawaban Rafa. Rafa merasa ada sesuatu yang terjadi antara mereka. Tapi Rafa tidak mengingatnya sama sekali.
"Ibumu ... Selama bekerjasama dengan beliau, saya banyak belajar darinya. Saya memang belum pernah bertemu secara langsung dengan Nyonya Atmaja, tapi saya yakin dengan melihat Tuan Atmaja, Ibumu adalah seorang wanita yang sangat baik. Karena dibalik seorang pria yang sukses, pasti ada seorang wanita yang mendukung dibelakangnya."
Anin memperhatikan raut wajah Rafa yang kelihatan sangat pucat. "Ibuku bilang kamu orang yang baik. Dan terimakasih karena kamu sudah mengatakan hal-hal yang baik mengenai kedua orangtuaku."
"Ibumu mengenalku??" tanya Rafa heran dengan ucapan Anin.
Anin lalu berdiri, dan lagi menatap lembut ke arah Rafa. "Kenapa tidak mencoba mencari tahu sendiri?? Datanglah besok, aku akan menunggumu. Dan, selamat ulangtahun, Raf." ujar Anin tersenyum, lalu meninggalkan Rafa sendiri yang masih mematung sambil menatap kepergian Anin sampai menghilang, masuk kedalam kamarnya.
**
__ADS_1
Seperti biasa, Anin sudah berangkat pagi sekali karena dia tidak ingin melihat Cathy dirumah itu. Anin tahu kalau Cathy akan tiba pagi ini, karena pesawatnya delay tadi malam. Itulah sebabnya, Cathy tidak bisa menemani Rafa di hari ulang tahunnya.
Dan benar saja, jam 7 Cathy tiba di kediaman Rafa dan langsung masuk ke kamar Rafa.
Langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia melihat Rafa yang sudah berpakaian rapi seperti hendak pergi kesuatu tempat.
"Sayang?? Kamu mau kemana??" rengeknya sambil memeluk Rafa dari belakang.
"Kamu sudah datang, sayang??" tanya Rafa lalu mencium kekasihnya itu dengan lembut.
"Jawab dulu!! Kamu mau kemana??" rengeknya lagi sambil menatap manja ke arah Rafa.
"Aku mau ke kantor dulu, sayang. Mungkin dengan pergi kesana, ingatanku perlahan-lahan bisa membaik." jawab Rafa lalu melepas pelukannya dan memakai setelan jas miliknya.
"Ah, kenapa harus ke kantor? Istirahat saja dirumah, minum obat dan itu sudah cukup." ujar Cathy mencoba menahan Rafa supaya tidak pergi kesana.
"Iya, tapi dokter juga menyarankan agar aku juga pergi keluar untuk menenangkan pikiranku. aku tidak akan bekerja. Aku hanya akan berjalan-jalan disana." jawab Rafa tersenyum.
Cathy yang sedang mencoba menahan kekesalannya, hanya bisa pasrah dengan keputusan Rafa. Dia juga tidak ingin terlalu menunjukkan ketidaksukaannya. Karena kalau dia bersikeras menahan Rafa, bisa saja Rafa akan curiga kepada dirinya.
"Ehm, baiklah. Tapi aku ikut, ya??"
"Oke, kamu segera bergegas. Aku akan menunggumu."
Cathy memeluk erat tubuh Rafa. Sepertinya dia merasa menang kali ini. Karena akhirnya Rafa mengiyakan kembali semua apa yang dia katakan.
**
Setibanya di hotel MX.
Cathy mematung berdiri. Dia tidak berpikir kalau Rafa akan membawanya kemari.
"Kenapa, sayang?" tanya Rafa begitu melihat perubahan raut wajah Cathy.
"Ya, udah masuk yuk??"
Cathy mengangguk dan mengikuti Rafa dari belakang. "Ah, semoga aku tidak bertemu dengan bajing*an itu!!" umpatnya dalam hati.
*
Di kota M.
"Tuan, maaf mengganggu anda. Mengenai informasi yang anda inginkan, saya sudah mengantongi namanya. Dan saya juga sudah menemukan alamatnya."
"Baiklah, segera kirimkan kepada saya!!"
Itulah percakapan Hendra dengan seseorang. Dan senyum menyeringai di pipinya, saat menerima sebuah pesan singkat. "Matilah kau kali ini!!" ujarnya, lalu tertawa penuh arti.
*
"Wah, ruanganmu sangat bagus, sayang." ujar Cathy kagum dengan dekorasi ruangan kekasihnya itu.
"Iya, bagus. Dekorasinya memang sudah seperti ini dari awal. Pemilik hotel ini memang mempunyai selera yang bagus terhadap interior," ucap Rafa menjelaskan
"Dimana pemilik hotel ini?? Bukankah mereka sudah meninggal dunia??"
"Kamu tau darimana?? Padahal aku belum menceritakan padamu." jawab Rafa heran.
Yah, jelaslah Cathy tau mengenai seluk beluk hotel itu dan siapa pemiliknya. Karena hotel itu juga, Cathy sampai meninggalkan Rafa, karena dia berpikir akan bisa memilikinya juga, jika dia menikah dengan Hendra. Karena ahli waris yang sah, hanyalah tinggal Hendra seorang.
Tapi ternyata semua tidak seperti yang dia harapkan. Hendra bahkan tidak pernah menganggapnya, dan apa yang Cathy kira akan menjadi miliknya, semuanya hanyalah isapan jempol semata.
*
__ADS_1
(Tiba-tiba ponsel Cathy berdering)
Dia melihat sebuah panggilan masuk dari Hendra.
"Ah, mau apalagi dia??" umpatnya kesal, dan tidak menghiraukan panggilan Hendra.
"Siapa, sayang?" tanya Rafa yang heran melihat Cathy yang mulai gelisah karena ponselnya terus berdering.
"Ini temanku. Dari kemarin menghubungi aku, mau ngajak nongkrong di kafe yang waktu itu lho, sayang!" jawab Cathy berbohong.
"Ya, sudah angkat saja dulu."
"Aku ke luar dulu kalau begitu, ya?? Kamu lanjutkan saja dulu pekerjaan kamu." ujar Cathy, lalu dia pergi meninggalkan Rafa dan pergi keluar.
*
"Halo?"
"Halo, Cathy??
"Hendra?"
Hendra tertawa setelah mengetahui kalau suara Cathy tedengar gugup dan takut saat berbicara dengan Hendra.
"Apa maumu??"
"Kamu gadis pintar. Kamu bisa mengerti apa yang aku mau." sindir Hendra.
"Tidak usah basa-basi. Katakan saja apa maumu!! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!!"
"Jangan terburu-buru. Aku hanya butuh sedikit waktumu saja. Sabar, sayang."
"Jangan bertele-tele!! Kalau kau tidak mengatakannya sekarang, Aku akan mematikannya!!"
"Tunggu!!!"
Ucapan Hendra membuat jantung Cathy berhenti seketika. Dan ternyata yang dia dengar sekarang adalah suara ibunya.
"Ma ma maami??" ujarnya terbata-bata begitu mendengar suara ibunya yang berbicara.
"Sayang, maafkan mami!!"
"Kenapa mami meminta maaf?? Dan kenapa mami bersama Hendra??"
"Itu karena mami ..."
Belum selesai ibunya melanjutkan ucapannya. Hendra sudah mengambil alih ponselnya.
"Itu karena mami kamu, yang sudah menyebabkan orang yang kamu sayangi itu mengalami kecelakaan!!"
"A aa apa???"
Seketika kaki Cathy lemas dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Tubuhnya terjatuh, terduduk kaku, membayangkan apa yang akan terjadi dengannya nanti. Baru saja dia lepas dari genggaman Hendra, kini dia harus terjerat lagi oleh perangkap yang dibuat ibunya sendiri.
••••••
Bersambung.
Bagaimana kisah selanjutnya???
Jangan lupa like, follow dan comment, ya??
Terimakasih.
__ADS_1