My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 18


__ADS_3

Maaf, ada perbaikan untuk sebagian Episode karena tidak sengaja terhapus, sehingga saya mengatur ulang kembali semua episode. Maaf untuk ketidaknyamanan ini.


Terimakasih ...


...........................


Rafa sudah sampai di tempat yang di maksud oleh Pengacara Wong.


"Rumah siapa ini? Kenapa sangat jauh sekali dari kota??" ucap Rafa begitu memasuki rumah kayu sederhana yang terletak di sebuah taman yang cantik.


Rafa memperhatikan sekelilingnya, dia terkejut begitu melihat ada foto Anin dan orangtuanya, terpajang di dinding rumah itu.


"Selamat datang Tuan Rafa," ucap Pengacara Wong begitu melihat Rafa memasuki rumah itu.


"Pengacara Wong?" tanya Rafa berusaha memastikan siapa pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Iya Tuan, saya Wiliam Wong," ucapnya, lalu mengulurkan tangan mengenalkan diri.


Rafa tidak menggubris uluran tangan Pengacara itu. Rafa hanya memperhatikan semua isi rumah itu. Banyak foto Anin terpajang disana.


"Ini rumah siapa? Mengapa begitu banyak foto Anin disini, begitu juga dengan foto Tuan dan Nyonya Atmaja?" tanya Rafa penasaran, siapa sebenarnya pemilik rumah itu.


"Ini rumah Tuan dan Nyonya Atmaja Tuan," jawabnya tersenyum menatap Rafa.


"Dulu setiap weekend mereka selalu kesini bersama Nona Anin. Mereka sangat menyukai rumah ini, terutama Non Anin" tambahnya lagi lalu mengajak Rafa duduk.


"Apa sebenarnya maksud dan tujuan kamu memanggil saya kemari??" tanya Rafa penasaran.


"Saya akan menceritakan semuanya dari awal Tuan. Saya percaya Tuan pasti bisa merahasiakannya. Kalau tidak, nyawa saya yang akan menjadi taruhannya.


(2 Jam berlalu).


"Baiklah, terimakasih, Tuan. Saya percayakan semuanya kepada Tuan. Saya mohon kembalikan semua nya seperti semula. Supaya Hak Anin bisa kembali lagi," ucap Pengacara Wong lalu menundukkan kepala, sebagai ungkapan respect nya kepada pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Jangan khawatir, saya akan melakukan ini semua untuk Anin dan sebagai rasa terimakasih saya kepada Nyonya Atmaja", jawab Rafa lalu pergi meninggalkan Pengacara itu.

__ADS_1


*


"Nenek, nenek!! Apin datang," ucap Rafin lalu berlari menemui neneknya.


"Hai cucu nenek? Apin sudah lapar?" tanya Bi Inah, lalu di jawab Rafin dengan anggukan.


"Sini, Nak, kita makan dulu. Ibu tadi bawa makanan dari rumah," ucap Bi Inah mengajak Anin duduk bersama lalu mereka pun makan sambil sesekali terdengar celoteh Rafin yang menggemaskan.


"Nak, apa tidak lebih baik kamu sekarang membantu nak Teguh mengurus restoran kalian yang ada di Bali?" tanya Bi Inah mencoba memulai obrolan siang itu.


Anin terdiam mendengar pertanyaan Bi Inah. Dia juga berpikir, memang sudah saatnya dia membantu Teguh mengurus sisa bisnis yang orangtuanya tinggalkan.


"Mungkin kalau kalian bersama, kalian bisa mengurusnya menjadi lebih besar lagi," ucap Bi Inah lagi tersenyum.


"Lagian kamu kan juga sudah banyak belajar selama 5 tahun ini di Paris tentang bisnis. Sepertinya pengetahuan mu lebih bisa di andalkan untuk membantu nak Teguh" tambah Bi Inah lagi.


" Iya Buk, tapi Anin merasa belum siap dengan semuanya. Entah itu lebih ke ilmu yang Anin dapatkan atau lebih ke ... " Anin menghentikan ucapannya lalu melihat Rafin.


Bi Inah yang melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Anin, mengerti betul bahwa peristiwa kematian kedua orangtuanya belum bisa dia hadapi. Itulah kenapa 5 tahun lalu setelah melahirkan Rafin, Anin pergi ke Paris.


"Sudah jangan di pikirkan, kalau kamu memang belum siap lupakan saja ya, Nak. Lebih baik kamu melakukan apa yang kamu suka saja," ucap Bi Inah lalu menggenggam tangan Anin.


"Kalian istirahat saja disini dulu temani Rafin, Ibu kembali kedepan dulu ya," ucapnya Bi Inah lagi lalu pergi meninggalkan mereka.


**


"Iya ada apa, Mark?" tanya Rafa begitu menerima panggilan telepon dari Mark.


"Oh ya Tuan, mengenai apa yang Tuan minta kemarin untuk saya selidiki, anak itu adalah anak dari wanita bernama Mia, salah satu karyawan di Hotel MX. Dia adalah cucu dari Bi Inah dan putri dari keluarga Atmaja yang Tuan maksud sama sekali belum pernah menikah tapi sekarang dia sudah memiliki pacar dan tinggal di Paris. Ada kemungkinan Nona Anin sebelumnya juga tinggal disana ", jelas Mark sedetail detailnya kepada Rafa.


"Syukurlah kamu belum menikah," ucapan itu lah yang keluar dari mulut Rafa tanpa sadar, kemudian dia tersenyum.


"Baiklah, 30 menit lagi kita bertemu di kantor. Tolong bawakan kepada saya mengenai data PT. SN dan semua data pemegang saham terbesar disana!!" perintah Rafa lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Rafa melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat, dia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke sebuah Toko Kue.

__ADS_1


" Selamat sore Tuan, silahkan mau pilih yang mana," ucap Anin mematung menatap pria yang ada di hadapannya.


Detak jantungnya semakin tidak beraturan. Dia kaget kenapa Rafa bisa ada di Toko kue itu.


"Ehh ... Mau pilih yang mana?" ucap Anin terbata-bata mencoba mengatur kembali ritme detak jantungnya, yang rasanya berontak mau keluar.


Rafa tersenyum, menatap lekat wanita yang ada di hadapannya itu.


"Saya ingin menemui Bi Inah," jawab Rafa tersenyum semakin membuat detak jantung Anin tak karuan.


"Baiklah, tunggu disni saya akan memanggilkan Ibu," ucap Anin hendak meninggalkan Rafa.


"Tunggu dulu, itu sudah tidak penting lagi. Saya mencari Bi Inah hanya untuk menanyakan keadaanmu," jawab Rafa menatap Anin penuh arti.


Bi Inah pun muncul dari belakang, begitu dia mendengar ada orang yang mencarinya. Bi Inah pun terkejut, sama seperti Anin tadi.


"Maaf Tuan, ada apa anda mencari saya?" ucap Bi Inah, kemudian menatap Anin, memberi pertanda kepadanya supaya Anin segera pergi dari sana.


"Tunggu dulu mau kemana??" tanya Rafa kepada Anin, begitu melihat Anin hendak pergi.


Anin tidak menghiraukan pertanyaan Rafa lalu pergi meninggalkan Toko. Sebelum Jauh kakinya melangkah, Rafa menarik tangan Anin, dan langkah Aninpun terhenti.



"Kenapa kamu selalu menghindariku?? Apa aku pernah berbuat salah kepadamu Anindya Putri Atmaja??" tanya Rafa dengan raut wajah serius.


Anin hanya bisa menatapnya, dia juga bingung harus menjawab apa tiap kali Rafa bertanya demikian. Tapi entah kenapa tiap kali melihat pria yang ada di hadapannya ini, Anin hanya bisa membencinya semakin dalam, sedalam rasa sakit yang Anin alami karena peristiwa memalukan 5 tahun lalu.


"Anin!!!" bentak Rafa karena melihat Anin malah hanyut dalam lamunannya.


"Iya salah, salah!!! Ini semua salahmu kenapa harus selalu muncul di hadapanku!!" ucap Anin sambil menangis, lalu pergi meninggalkan Rafa.


Rafa hanya bisa terdiam, dia bingung kenapa setiap kali dia berusaha mendekatkan dirinya dengan gadis ini, yang didapatnya hanyalah sebuah rasa penasaran.


^^

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2