
Anin melajukan mobilnya dengan sangat kencang meninggalkan Rafa yang masih berdiri terpaku memikirkan sikap Anin.
"Uhhhhh!! Dasar baji**an!!! Kenapa kamu selalu muncul di hadapanku di saat aku selalu berusaha menghindarimu??" umpat Anin dalam hati, emosinya masih saja menguasai pikirannya.
Anin masih saja bergelut dengan pikirannya, sampai-sampai dia tidak sadar dari tadi handphone miliknya berdering.
Anin memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Ahhh!! Pikiranku kacauuu!! Shhhhttt!!!" umpat Anin lalu mengacak acak rambutnya. Sejak ketemu Rafa tadi, dia masih belum bisa mengontrol emosinya.
Anin menyandarkan kepalanya, pikirannya melayang entah kemana. Tiba-tiba dia teringat Rafin yang dia tinggalkan tadi begitu saja disana.
"Ahh, aku harus menelepon Rafin, dia pasti mencariku sekarang!" ucap Anin lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Astagaaa!!" teriak Anin terkejut begitu melihat banyaknya panggilan telepon dari seseorang. Lalu Anin berinisiatif meneleponnya balik, tapi setelah 3 panggilan berlangsung, orang yang dituju pun tidak mengangkatnya.
lalu Anin mengirimkan pesan kepadanya.
"Hmm, kamu kemana?? Maafkan aku tidak mendengar panggilan telepon darimu. Hubungi aku balik setelah kamu membaca pesan ini!"
Setelah mengirimkan pesan singkat itu, Anin melakukan panggilan video dengan Bi Inah.
"Ibu ... maafkan Anin tadi pergi begitu saja, ya?? Anin belum siap bertemu dengannya" ucap Anin meminta maaf begitu melihat wajah Bi Inah.
"Tidak apa-apa sayang, untuk saat ini memang lebih baik kamu menghindarinya sampai kamu benar-benar memaafkannya dan bisa menerima semuanya." jawab Bi Inah dengan tenang dan senyum mengembang di pipinya.
"Terimakasih Ibu. Oh iya, Rafin mana Bu?? Rafin nanya tidak Anin kemana?" tanya Anin penasaran tentang putranya itu.
"Iya dia nyari kamu dari tadi, sayang. Begitu dia lihat kamu tidak ada di depan, dia langsung nanya kamu dimana. Tapi tadi Rafin sempat ketemu dengan Tuan Rafa setelah kamu pergi dan mereka sempat bercanda sebentar, Nak!" jawab Bi Inah kemudian.
Anin terdiam sejenak.
"Bu, nanti saja kita bahasnya ya?? Anin mau ngobrol sama Rafin dulu," ucap Anin.
Lalu Bi Inah memberikan panggilan video Anin kepada Rafin yang duduk disebelahnya yang lagi sibuk dengan video gamenya.
"Hai sayang?? Maafkan mami ya?? Mami ada urusan tiba-tiba tadi. Jadi tidak sempat pamit sama Rafin," ucap Anin begitu melihat wajah Rafin yang murung.
"Mami jaat, mami jaat! Apin di tinggal disini. telus Apin nanti pulang sama nenek naik apa?" tanya Rafin dengan lucunya membuat Anin pun tersenyum.
"Maafkan mami ya, sayang?? Nanti Rafin sama nenek mami jemput, kok. Mami sebentar aja keluarnya. Nanti mami mau beli es krim yang banyak buat Rafin. Rafin mau gak sayang?" tanya Anin berusaha membujuk putranya itu.
"Celius mami? Apin mau yang banyaaak ya mami" celoteh Rafin dengan sangat menggemaskan. Lalu Anin menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengakhiri obrolan mereka.
__ADS_1
**
Di Toko Sesaat setelah Anin pergi.
Rafa kembali ke Toko kue milik Bi Inah. Dia ingin sekali mempertanyakan sikap Anin kepada Bi Inah. Sesampainya disana Rafa melihat Bi Inah sedang bercanda dengan Rafin.
"Anak ini!! Kenapa aku merasa ada ketertarikan tiap kali melihatnya??" ucap Rafa dalam hati. Dia merasa ada hal yang aneh tiap kali menatap bocah itu. Ada ketertarikan yang sulit buat Rafa jelaskan.
Rafa melangkah mendekati anak itu, memperhatikannya dengan lekat. Tanpa sadarpun dia tersenyum.
"Hmm, aku ingin sekali memeluknya" ucap Rafa dalam hati.
Bi Inah yang melihat kedatangan Rafa pun langsung menyuruh Rafin masuk kedalam.
"Apin main di dalam dulu ya, Nak?? Nenek ada tamu. Nanti nenek nyusul ke dalam kalau tamunya udah pulang" ucap Bi Inah dengan lembut.
Rafin berdiri, lalu kemudian dia melihat Rafa yang sedang berdiri menatapnya. Rafin tersenyum kepada Rafa, lalu melambaikan tangannya kemudian pergi masuk kedalam.
Rafa tersenyum senang melihat kelakukan Rafin. Ada perasaan aneh yang mengisi ruang hatinya.
"Aneh!! Aku merasa senang tiap kali melihat anak ini!! Kenapa dia mirip sekali dengan Anin??" ucapnya aneh dengan rasa penasaran yang lebih besar.
Rafa tidak tau kalau itu adalah putranya, darah dagingnya sendiri. Wajar kalau dia merasa ada keterikatan batin dengan Rafin. Dan memang Rafin mirip sekali dengan Anin.
"Ehhmm ... hmmmm ... iya Bi!!! Saya hanya ingin bertanya sesuatu kepada Bi Inah tentang Anin," jawab Rafa.
"Oh, ehh iya Tuan, anda mau bertanya apa?" tanya Bi Inah kaget. Bi Inah takut apa mungkin Rafa menyadari kalau Rafin adalah anaknya.
"Hmmm, tidak mungkin Tuan Rafa menanyakan tentang Rafin. Tidak mungkin dia tau kalau Rafin adalah putranya!!" ucap Bi Inah dalam hati dengan rasa khawatir.
"Bi, apa Bibi tau kenapa Anin selalu menjauhi saya?? Sepertinya dia sangat membenci saya, tapi kenapa ya Bi ? padahal kami baru beberapa kali bertemu. Apa karena sekarang saya yang mengambil alih hotel milik keluarga nya??!Apakah dia pikir saya bersekongkol dengan pamannya untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya??" tanya Rafa dengan panjang lebar.
"Padahal kan saya sudah bilang ke bibi waktu itu, saya akan mengembalikan hak kepemilikan hotel itu kepada Anin begitu saya menemukan Anin" tambah Rafa.
"Terus kenapa Bibi tidak bilang kalau Anin sudah balik?? Dan kenapa Bibi tidak ceritakan yang sebenarnya sama Anin tentang niat saya ini?? Kenapa Bi??" tanya Rafa lagi yang membuat Bi Inah terdiam.
Bi Inah bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Rafa kenapa Anin sangat membenci dirinya. Dia juga tidak mungkin bilang ke Rafa kalau Anin sudah balik sedangkan Anin sendiri berusaha menghindari Rafa?? Bagaimana juga mau menjelaskan ke Anin tentang niat Rafa yang ingin mengembalikan hotel miliknya, sedangkan Anin sendiri tidak ingin tau tentang semua yang berhubungan dengan Rafa.
Bi Inah hanya terdiam membisu. Dia tidak tau harus menjelaskan apa sama Rafa.
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya belum sempat bercerita dengan Anin. Dia juga baru tiba di Indonesia dua hari lalu. Kami belum sempat bercerita banyak" ucap Bi Inah menjawab pertanyaan Rafa.
Bi Inah terdiam sejenak. Di pandanginya Rafa dengan serius. Bi Inah yakin, Rafa memiliki perasaan spesial terhadap Anin. Bi Inah merasa kalau pria yang ada di depannya ini adalah pria baik-baik. Sempat terlintas di pikirannya untuk memberitahukan siapa Rafin sebenarnya. Bi Inah bisa melihat bagaimana cara Rafa memandang Rafin tadi..
__ADS_1
"Ahh, tidak seharusnya aku berpikiran seperti itu. Ini adalah hak Anin untuk memberitahu Tuan Rafa. Karena apapun nanti hasilnya, ini adalah keputusan yang pasti sudah Anin pikirkan dengan baik baik." ucap Bi Inah dalam hati.
"Bi??? Biii??? Bi Inah kenapa??" tanya Rafa membuat Bi Inah tersadar dari lamunannya.
"Ehh ahh anu Tuan!! Tidak ada apa-apa. Nanti saya akan usahakan berbicara dengan Anin. Saya akan menyampaikan niat baik Tuan kepadanya" ucap Bi Inah tersenyum kepada Rafa.
Di tengah obrolan mereka, Rafin keluar dari dalam lalu menemui mereka.
"Nenek kok lama cihh?? Apin bosan main di dalam. Mami kemana cih nek, Apin mau pulang aja!!" ucapnya dengan wajah cemberut.
Rafa memandangi Rafin dengan senyuman di bibirnya.
"Anak ini?? Kenapa aku merasa dekat dengan nya?" batin Rafa dengan pandangan tak luput dari wajah Rafin.
"Cucu Bi Inah?" tanya Rafa membuat Bi Inah kaget.
"Ahh, ehh!! ii yaaa, Tuan. Dia adalah cucu saya," sahut Bi Inah dengan gelagapan.
"Ya udah main disini aja ya sayang. Kita tunggu mami nanti jemput Apin disini" kata Bi Inah lalu menggendong Rafin ke pelukannya.
Rafa memandangi Rafin terus menerus seakan tidak ingin kehilangan anak itu.
"Nama kamu Rafin? Mau tidak main sama paman? Nanti kita beli mainan," ucap Rafa memberanikan diri. Dan ajakannya itu makin membuat Bi Inah takut, Dan Bi Inah heran kenapa Tuan Rafa yang di kenal dingin, bisa seramah ini dengan Mereka terutama Anin dan Rafin.
"Tuhan, aku tau ini salah. Sepertinya ikatan darah antara mereka tidak bisa di bohongi. Walaupun Tuan Rafa tidak tau kalau Rafin anaknya, tapi ketertarikannya dengan Rafin tidak bisa di hilangkan begitu saja. Lihat saja pandangan mata itu!!" ucap Bi Inah dalam hati memandang lekat wajah Rafa.
"Iya Paman nama aku Apin. Kata mami, Apin gak boleh main sama olang asing paman. Nanti Apin di culik" ucapnya dengan gemasnya membuat Rafa tertawa, dan Bi Inah tersenyum malu mendengar celotehan Rafin.
"Kamu lucuu Rafin." ucap Rafa mengelus rambut Rafin.
Tiba tiba ponsel milik Rafa berdering.
"Ada Mark?? Oke baik!! Saya sekarang kesana!!" jawab Rafa dengan kesal. Entah apa yang membuat sikapnya tiba-tiba berubah ketus dan dingin.
Lalu dia memandang Rafin.
"Paman pergi dulu ya, nanti kapan-kapan kita main ya??" tanya Rafa lalu mengaitkan jari kelingking nya ke jari kelingking Rafin ala-ala pinky promise.^^
"Yes sir, plomise deh " jawab Rafin membuat Rafa kembali tertawa.
****
(Bersambung).
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan commentnya ya?? Terimakasih.