My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 40


__ADS_3

Anin bersorak bahagia setelah membaca pesan dari Rei. Bi Inah yang mendengarnya pun segera berlari ke kamar Anin. Begitu juga dengan Mia, dia pun ikut bergabung dengan Bi Inah dan juga Anin.


Tapi tidak dengan Rafa, dia tidak mengetahui sama sekali kalau Anin sudah pulang, karena saat Mark mencoba menghubunginya, tidak ada jawaban apapun dari Rafa. Tapi Mark memberitahu bos nya itu melalui pesan teks yang dia kirim.


"Ada apa, Nak??" tanya Bi Inah penasaran begitu sampai di kamar Anin dan melihat putrinya itu melompat kesana kemari seperti kelinci.


Anin seketika menghentikan lompatannya dan berlari memeluk Bi Inah. Mia yang baru masuk ke kamar Anin pun bingung melihat Anin yang menangis sambil memeluk ibunya.


"Hei, ada apa ini??"


Anin yang melihat Mia sudah berdiri menatap mereka berdua pun, lalu berlari lagi memeluk Mia.


Mia menatap Ibunya, berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya itu. Tapi Bi Inah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena Bi Inah juga belum mengetahui apa yang terjadi dengan putrinya itu.


"Ada apa, Nin??"


Anin melepaskan pelukannya, lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan isi pesan singkat dari Rei.


Bi Inah dan Mia yang melihatnya pun bingung.


"Apa ini?? Kenapa tiba-tiba Rei mengajakmu kembali ke Paris, Nak??"


"Ini bukan tiba-tiba, Bu."


"Lalu?? Atau jangan-jangan, kamu sudah menceritakan semuanya kepada Rei??"


Anin mengangguk tersenyum bahagia. "Rei bersedia menikahi Anin, Bu?? Dia bersedia menjadi ayah dari Rafin"


"Apaaa??" teriak Mia kaget bercampur bahagia.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Rafa?? Apakah kamu juga memberitahu kepada Rei siapa dia sebenarnya??"


Anin menggelengkan kepalanya. "Saat Anin juga penasaran, kenapa Rei tidak bertanya tentang keberadaan ayah dari Rafin. Rei tidak peduli dengan itu! Dia hanya berkata, mulai sekarang dialah yang akan menjadi ayah Rafin."


Bi Inah dan Mia bingung harus bereaksi apa dengan semua penjelasan Anin. Di satu sisi mereka bahagia, karena akhirnya Anin akan mendapatkan kebahagiaanya. Tapi di sisi lain, muncul kekhawatiran akan tanggapan dari orangtua Rei mengenai status Anin yang sebenarnya.


Bi Inah sebenarnya juga merasa sedih dan merasa tidak adil dengan Tuan Rafa. Bi Inah tahu, Rafa sangat mencintai putrinya itu. Dia bisa merasakannya, bagaimana perlakuan dan tatapan Rafa yang berbeda kepada Anin.


Bi Inah berpikir, setidaknya Rafa harus tahu, siapa Rafin sebenarnya. Tapi, saat melihat Anin bahagia dengan pilihannya sendiri, hanya dukunganlah yang bisa dia berikan.


"Lalu, apakah kamu sudah memberitahu kepada Tuan Rafa mengenai ini semua??"


"Belum, Bu. Anin berencana memberitahunya nanti setelah Anin mandi dulu. Tapi sekarang, Anin malah tidak sabar ingin memberitahunya segera!"


Mia menatap Anin, "Apa perlu aku temani kamu menemui Tuan Rafa?"


"Tidak usah ... Aku akan menjelaskannya sendiri. Ibu dan kamu, tunggu Anin disini, ya? Ini tidak akan lama."


Anin lalu pergi meninggalkan mereka berdua dan pergi menuju kamar Rafa.


(Tok, tok, tok!!)


3 kali ketukan di pintu kamar Rafa, tapi tidak ada tanggapan dari dalam. "Ehm, dia dimana, ya? Apa mungkin di ruang kerjanya??" batin Anin sambil melirik keruang kerja Rafa.


"Ah, aku pastikan dulu disini," ucap Anin lalu membuka sedikit pintu kamar Rafa.


(Ceklek ...)


"Ah, tidak di kunci!"


Saat pintunya terbuka, Anin melihat Rafa sedang tertidur lelap.


"Ah, tenyata dia sedang tidur."


Anin memandanginya dari luar. Menatap sosok pria, dengan perawakan tampan yang sedang tertidur lelap.


"Maafkan, aku. Kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku," ucap Anin, lalu menutup kembali pintu kamar Rafa dan pergi meninggalkannya.


Anin kembali ke kamarnya, dan mendapati Mia sudah tertidur di kamarnya. Dan Bi Inah sudah tidak ada lagi disana.


"Mungkin Ibu sudah kembali ke kamarnya. Sebaiknya aku juga tidur, karena besok aku harus bangun pagi-pagi sekali."

__ADS_1


Anin merebahkan tubuhnya di samping Mia yang sudah tertidur lelap. Dia menatap layar ponselnya. Ada kebahagiaan dalam hatinya. Membayangkan kalau sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasihnya itu.



"Aku mencintaimu, Rei ... Sangat mencintaimu ..."


Anin tersenyum bahagia, lalu mematikan lampu kamarnya. Dia pun tidur terlelap dengan semua mimpi indahnya.


**


Di sebuah klub malam di kota B.


"Dasar kamu jahat!!! Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu!!"


Seorang gadis yang sedang mabuk, terus saja meracau tidak jelas. Dia tidak lagi menghiraukan orang-orang yang terus saja memandanginya.


"Apa kalian?? Jangan melihatku seolah kalianlah paling suci. Aku wanita baik-baik!! Aku juga berhak mencintai dia!!!" maki gadis itu tidak jelas kepada semua orang yang melihatnya.


Gadis itu adalah Cathy. Dia selalu minum sampai mabuk belakangan ini. Rasa penyesalan yang selalu datang terlambat, membuatnya tidak bisa bernapas bahkan beraktifitas layaknya orang normal.


Dia menyesal sudah melepas Rafa hanya demi sebuah harta, harkat dan martabat. Cathy pikir dengan menikahi Hendra, kehidupannya bisa bahagia dan karirnya akan melesat dengan cepat dengan menyandang nama keluarga Atmaja.


Tapi apa yang dia dapat?? Hendra bahkan tidak memperdulikannya dan tidak menganggapnya sebagai seorang istri. Bahkan keberadaannya di rumah hanyalah sebuah pajangan bagi Hendra.


Mereka tidak pernah bertemu di rumah, entah itu seminggu sekali. Hendra jarang sekali pulang, dan lebih memilih tinggal di apartemen miliknya daripada di rumah mereka.


"Kenapa aku bodoh sekali!!" Cahty terus mengumpat dan menyalahkan dirinya.


"Tidak!! Tidak boleh ada yang memilikimu selain aku!! Aku harus mendapatkanmu kembali!!"


Cathy lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Rafa. 1 kali, 2 kali, 4 kali. Sampai panggilan ke 5 pun tidak ada tanggapan dari Rafa.


"Kamu kemana!!! Jangan abaikan aku!! Aku seorang Cathy Sharen!! Jangan macam-macam denganku!!"


Cathy terus saja meracau, tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Hingga dia pun tertidur di sofa bar itu sampai semua orang menghilang.


Seorang pegawai dari klub malam itu mendekatinya. Dan dia mengenali siapa Cathy.


"Kenapa kamu jadi suka minum-minum begini?" ucapnya dalam hati lalu mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang.


"Halo??"


"Iya, halo??"


"Rafa??"


"Kamu siapa??"


Iya, benar. Sang pegawai klub malam tersebut menghubungi Rafa. Karena dia berpikir kalau Cathy masih menjadi kekasih Rafa.


"Aku Bram, kamu masih ingat??"


"Bram??"


Rafa berusaha mengingat siapa Bram yang di maksud.


"Ehm, Bramana Yudhistira?"


"Ternyata kamu masih mengingatku!"


"Iya, pasti aku masih mengingatmu. Apa kabar??"


"Aku baik, tapi tidak dengan kekasihmu!"


Rafa bingung siapa orang yang di maksud oleh Bram.


"Siapa??"


"Cathy!! Siapa lagi kalau bukan dia."


Rafa akhirnya mengerti siapa orang yang di maksud oleh Bram.

__ADS_1


"Sorry, Bram. Sepertinya kamu salah orang. Kami sudah lama berpisah. Dan sekarang dia sudah menjadi istri orang!!"


"Apaaaa??"


Bram seakan tidak percaya dengan apa yang Rafa baru saja katakan. Karena selama ini, Cathy selalu menyebutkan kalau Rafa dan dia masih berhubungan. Dan dari Cathy lah, Bram bisa mendapatkan nomor ponsel Rafa.


"Lalu bagaimana dengan Cathy?? Aku bahkan tidak mengetahui kemana aku harus mengantarkannnya!"


"Aku juga tidak tahu dimana dia tinggal. Kamu bawa saja dia ke hotel terdekatdan biarkan dia menginap disana untuk malam ini sampai dia benar-benar sadar dan bisa pulang sendiri"


"Baiklah!! Kalau kamu ada waktu, mari kita bertemu"


"Baiklah ..."


Dan obrolan mereka pun berakhir. Rafa melirik jam di ponselnya, dan dia baru menyadari kalau dia sudah tertidur cukup lama. Rafa melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Mark dan juga Cathy. Dia juga membaca pesan teks yang dikirimkan oleh Mark.


"Ehm, gadis itu akhirnya pulang juga."


Rafa lalu keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Anin.


"Lampunya sudah mati. Pasti dia sudah tidur. Besok saja aku bertanya kepadanya, mengenai hari ini."


Rafa pun balik lagi ke kamarnya, dan melanjutkan tidurnya.


•••


Pagi harinya ...


Rafa bangun pagi-pagi sekali. Dia sudah tidak sabar untuk melihat Anin, yang biasanya juga bangun pagi untuk berolahraga di depan rumah.


Tapi dia tidak menemukan gadis itu disana. "Ehm, kemana dia?? Apakah dia bangun kesiangan??"


Rafa memutuskan melanjutkan olahraganya sambil menunggu Anin keluar. Tapi sampai jam menunjukkan angka 7, Anin tidak juga keluar dari kamarnya.


Rafa pun penasaran kemana perginya gadis itu. Lalu dia pergi ke dapur dan mencari Bi Inah yang biasanya memang berada disana.


Dan benar, Bi Inah sedang membantu yang lainnya untuk menyiapkan sarapan. Rafa lalu mendekatinya, dan ketika pekerja rumah tangga yang lain melihat Rafa berada disana, mereka semua pun menghentikan aktifitas mereka.


"Tu ... tuaaan!!" ucap mereka serentak begitu melihat Rafa memasuki dapur.


"Tuan Rafa??" sapa Bi Inah juga kaget melihat Rafa berada disana.


"Bi, bisakah kita berbicara sebentar di sana?" pinta Rafa lalu berjalan keluar meninggalkan dapur dan di ikuti oleh Bi Inah.


"Ada apa, Tuan??"


"Dimana Anin??"


"Sepertinya dia masih di kamarnya, Tuan. Dia sedikit kelelahan saat pulang tadi malam. Maafkan putri saya, Tuan. Saya akan segera membangunkannya."


Rafa mengangguk dan Bi Inah pamit lalu pergi ke kamar Anin. Tapi di saat Bi Inah masuk, kamar Anin sudah kosong. Tempat tidurnya juga sudah rapi.


"Kamu kemana, Nak??"


Bi Inah mencoba mencari ke taman belakang. Dia berpikir mungkin Anin berada disana. Tapi sebelum Bi Inah melangkah keluar dari kamar Anin, dia melihat sepucuk surat yang terselip rapi di di dekat sebuah buku di atas meja Anin.


Bi Inah mendekati meja itu, mengambil surat itu dan membacanya.


"Ibu, maafkan Anin harus pergi pagi-pagi sekali dan tidak pamit kepada Ibu. Anin pergi bersama Rei ke Paris pagi ini. Dia berencana mengenalkan Anin kepada orangtuanya. Semoga Ibu dan yang lainnya bisa mengerti akan keputusan Anin. Setelah semua urusan Anin selesai, Anin akan pulang ke Indonesia lagi. Doakan agar semua rencana Anin lancar dan Anin bisa menemukan kebahagiaan Anin disini. Sampaikan maaf Anin juga kepada Tuan Rafa. Dari putrimu - Anin"


Bi Inah terduduk lesu setelah membaca surat dari Anin. Di satu sisi dia bahagia, akhirnya Anin bisa menemukan kebahagiaannya bersama Rei. Tapi di sisi lain, Bi Inah bingung dan sedih, apa yang harus Bi Inah katakan kepada Tuan Rafa??


*


Penasaran??


Tetap ikuti cerita aku ini, ya??


Jangan lupa like, komen dan juga follow.


Terimakasih dan semoga kalian semua sehat selalu.

__ADS_1


••••••••


(Bersambung)


__ADS_2