
Mobil Anin masih terparkir di pinggir jalan. Di pandangi layar ponselnya. Foto Anin dan kekasihnya terpampang jelas di sana.
Tak terasa ada buliran air yang mengalir dari kedua sudut matanya.
"Sayang, apa yang harus ku lakukan saat ini. Bagaimana kalau aku jujur, apakah kau akan meninggalkan aku?? Aku udah mulai jatuh cinta padamu!!" ucap Anin dengan isak tangis.
"Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berniat membohonginya dan aku juga tidak berniat membohongi Rafa" ucap Anin lagi tapi kali ini dengan suara tangis sedikit lebih keras.
Tiba tiba ponsel miliknya berdering. Ada panggilan dari seseorang yang bernama "Sayang".
"Hii sayang?? Kamu darimana saja??" tanya Anin dengan suara sedikit kesal kepada kekasihnya itu. Pria adalah Reiki Alterio Savian. Kekasih Anin yang sekarang menetap di paris melanjutkan studi MBA nya.
"Maafkan aku, sayang. Baru bisa menghubungi kamu setelah beberapa hari ini. Kamu tahulah, beberapa hari ini jadwal kuliahku super super padat!!" jawab Rei.
"Tidak apa-apa, sayang!"
"Aku sangat merindukanmu. Kapan kamu balik kesini?" tanya Rei kemudian.
Rei memang fasih berbahasa Indonesia, karena memang orangtuanya mengajarkan dia Bahasa Indonesia sejak dia masih kecil. Mungkin orangtuanya tidak mau Adat Budaya Indonesia hilang begitu saja, walau kini mereka tinggal di Thailand.
"Aku mengerti!! Kemarin kamu juga udah mengirim pesan sama aku. Kalau masalah balik apa tidak, aku juga belum tahu. Kamu tau sendiri niat aku balik ke Indonesia adalah untuk melanjutkan kuliah kedokteran aku yang dulu sempat aku tinggalkan" jawab Anin dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau membuat kekasihnya itu sedih setelah mendengar jawabannya.
"Disini juga bisa sayang, kenapa harus balik kesana. Aku bisa bantu kamu buat mengurus semuanya disini. Ayolah!! Kamu balik, ya??" bujuk Rei dengan suara memelas.
"Sayang, kita bahas itu nanti saja ya?? Aku masih di jalan ini. Aku balik dulu mau jemput Ibu sama anak aku ya? Nanti kita sambung lagi kalau aku sudah dirumah" ucap Anin.
"Apa?? Anak kamuu?" tanya Rei terkejut setelah mendengar Anin mengatakan kalau dia akan menjemput anaknya.
"Ahh, itu ... itu maksud aku anaknya Mia. Kamu masih ingat Mia kan?? Dia kan punya anak, dan aku juga menganggap dia sebagai anak aku." jawab Anin dengan panik. Dia sempat keceplosan menyebut anaknya.
"Aku pikir kamu punya anak. Kapan kita buat anaknya coba?? Baru cuma cium kamu di pipi, masa langsung jadi anak??" canda Rei membuat Anin tersipu malu mendengar ucapan Rei.
"Sayang!! Sudah ahhh!! Aku balik dulu ya?" jawab Anin malu malu berharap panggilan telepon itu segera berakhir.
__ADS_1
Rei yang mengetahui kekasihnya itu sedang malu, hanya mengucapkan salam perpisahan lalu mengakhiri obrolan mereka.
Anin tersenyum, dia merasa memang sudah jatuh cinta dengan Rei. Sejak bersama pria itu, kehidupan Anin sekarang jauh lebih ceria.
"Ahh sebaiknya aku segera balik ke toko Ibu. Rafin bisa marah karena aku terlalu lama pergi nya" ucap Anin lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan mobilnya. Dia juga tidak lupa membelikan es krim yang banyak untuk putranya itu.
****
Di Hotel MX ...
Rafa berjalan menuju keruangannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok pria yang membuat emosinya sedikit memuncak.
"Halooo Tuan Teague.." sapa Hendra tidak tahu malu begitu melihat Rafa memasuki ruangannya.
"Tidak perlu basa-basi. Jelaskan apa maksud dan tujuan anda kemari?" tanya Rafa dengan nada suara tidak suka.
"Hohooo ... santai dulu Tuan!! Ada yang harus anda lihat" ucap Hendra lalu menyerahkan sebuah dokumen kepada Rafa.
Rafa mengambil dokumen itu, membukanya, lalu membacanya. Seketika raut wajah Rafa berubah, ada kemarahan yang tergambar di wajahnya.
"Sabar Tuan, jangan marah dulu. Anda sudah membacanya kan?? Pasti anda sudah mengerti, kedudukan saya disini lebih penting dari anda!!" ucap Hendra dengan sombongnya.
Mark yang melihat Hendra mendekati Rafa, lalu maju berdiri disamping Rafa.
"Upss, tenang broo!! Tenang!!" ujar Hendra begitu melihat Mark maju mendekat.
Hendra menghentikan langkahnya.
"Hotel ini milik saya, dan anda hanya Investor di Hotel ini. Dan biar anda tau?? Saya tidak takut anda menarik semua invest anda dari hotel ini. Tujuan saya memiliki Hotel ini hanya untuk membuat keluarga kakak saya menderita. Sampai sampai dia tidak tenang di alam kuburnya. Saya pastikan tidak akan ada yang tersisa untuk putrinya" ucap Hendra dengan tatapan tajam.
"Saya tau, anda tidak akan tega melihat hotel ini bangkrut. Jadi bekerja samalah dengan saya, atau biarkan hotel ini menghilang begitu saja. Tarik semua invest anda dari hotel ini dan pergilah!!" ucap Hendra lagi memberi ancaman kepada Rafa.
Rafa mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Lalu berjalan mendekati Hendra.
"Saya pastikan, anda tidak akan mendapatkan Hotel ini!! Sekarang keluar dari ruangan saya!!!" bentak Rafa dengan keras lalu menatap Hendra dengan sinis.
__ADS_1
Hendra tertawa lalu pergi meninggalkan Rafa. Rafa terdiam sejenak, dia beepikir apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Sebaiknya Tuan meminta pendapat Pengacara Wong Tuan. Pasti dia tau apa yang harus dia lakukan." ucap Mark menyadarkan Rafa dari lamunannya.
"Ah, iya sebaiknya saya bertanya kepada dia. Pasti dia tau apa yang harus kita lakukan sekarang" jawab Rafa lalu mengambil ponsel nya dan langsung menelepon Pengacara Wong.
***
Di Toko Bi Inah ...
"Mamii ..." panggil Rafin begitu melihat Anin masuk ke dalam Toko.
"Hei sayang, maafkan mami ya?? Tadi langsung pergi. Mami tadi ada urusan bentar, ini mami bawa es krim yang banyak" ucap Anin lalu memberikan bungkusan kecil berisi es krim pada Rafin.
"Asiikkkk.!! makacihh, Mami. Yey ... Nenek ... Nenek!!! Lihat Apin punya banyak es klim" ucap Rafin pamer menunjukkan es krimnya pada Bi Inah.
"Ya udah, Rafin ke dalam dulu ya sayang. Makan es krimnya di dalam aja. Nanti nenek nyusul Rafin ke dalam ya" ucap Bi Inah mengelus kepala Rafin.
Rafin pun pergi ke dalam, lalu duduk mendekati Anin.
"Kenapa, Nak? Apa yang kamu pikirkan??" tanya Bi Inah melihat Anin yang melamun daritadi.
" Bu, Anin harus bagaimana? Anin bingung harus bagaimana. Tadi Rei bertanya kepada Anin kapan balik kesana. Anin takut Bu, makin kesini Anin makin sayang sama dia. Anin takut kalau Rei juga merasakan hal yang sama. Apa jadinya kalau dia tau masa lalu Anin Bu?" jawab Anin dengan suara serak. Tersirat kesedihan yang mendalam dari raut wajahnya.
Bi Inah menggenggam tangan Anin..
"Sayang kamu jangan khawatir. Biarlah waktu yang menjawabnya. Kalau memang dia serius denganmu dan benar benar mencintaimu, dia pasti bisa menerima semua kekurangan dan masa lalumu. Kalau suatu hari nanti dia benar benar menunjukkan keseriusannya, mungkin itulah saatnya kamu menceritakan dengan sejujur jujurnya. Ingat sayang, kamu anak yang baik. Kamu juga pantas mendapatkan yang terbaik. Andai dia tidak bisa menerima masa lalumu, dia bukan yang terbaik buatmu sayang" ucap Bi Inah berusaha menenangkan Anin.
"Buuuu!!" ucap Anin lalu memeluk erat tubuh Bi Inah.
"Sudahh jangan menangis!! Nanti Rafin liat lagi. Ibu siap-siap dulu ya, terus kita pulang" ujar Bi Inah melepaskan pelukan Anin, lalu membelai pipi Anin dan tersenyum.
*****
( Bersambung).
__ADS_1
Hi, Happy reading buat para Readers. Dan terimakasih sudah baca Novel aku. Jangan lupa baca Novel chat stort aku juga ya. "Aku Merindukanmu".
Terimakasih.