
***
"Sayang, sudah 2 minggu aku disini. Bagaimana sekarang?? Kapan orangtua kamu akan datang kemari??"
Anin yang melihat kedatangan Rei yang baru saja pulang, langsung memburunya dengan sebuah pertanyaan.
Rei masuk ke kamarnya dan di ikuti oleh Anin.
"Sayang??"
Rei mendekatkan wajahnya ke wajah Anin dan mencium pipinya.
"Sabar, sayang. Mami Papi aku lagi banyak urusan di negara lain. Mereka berjanji setelah semuanya beres, mereka akan menemui kita."
Orangtua Rei ternyata adalah salah satu dari sekian banyak dokter yang cukup populer di beberapa negara karena keahlian mereka dalam bidangnya. Dan mereka sangat di hormati dan menjadi bagian kaum elit penting yang sangat di segani. Dan Anin baru mengetahuinya setelah Anin tinggal bersama dengan Rei di sini.
Rei tidak pernah bercerita secara detail tentang pekerjaan orangtuanya. Dan Anin juga baru tahu, kalau keluarga Rei sangat kaya.
"Kamu berjanji akan mengenalkan aku dengan beliau. Kamu ingatkan itu??"
Rei mengangguk mengiyakan dan memeluk Anin dengan sangat kuat.
"Huk .. huk!! Ahh, aku susah bernapas!!"
Rei melepaskan pelukannya, tertawa melihat Anin yang mukanya merah karena kesulitan bernapas.
"Mandi sana!! kamu bau!!"
"Jahatnya ... Wangi begini di bilang bau. Awas kamu!!"
Rei berlari mendekati Anin dan merekapun berlari-larian seperti anak kecil mengelilingi rumah.
"Ahhh, udah ah!! Aku lelah sekali!!
Rei terduduk lemas dengan napasnya yang turun naik tidak beraturan.
"Dasarr orangtua!! Makanya ingat umur!!"
Anin tertawa melihat Rei yang kelihatan lelah sekali. Lalu dia mengambilkan minum dan memberikannya kepada Rei.
"Terimakasih, sayangku"
"Heem, mandi dulu. Nanti kemalaman, kamu masuk angin"
"Siap, bos!!"
Rei lalu mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Rei menatap dirinya sendiri di dalam cermin. Terlihat raut kebingungan dari wajahnya.
"Maafkan aku, sayang. Aku akan berusaha membuat orangtuaku menerima kamu."
Ternyata alasan Rei belum juga mempertemukan Anin dengan orangtuanya, bukan karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, tapi karena orangtua Rei tidak setuju.
••
FLASH BACK ON ...
Sore itu, Rei menghubungi orangtuanya setelah kuliahnya selesai. Dia berpikir, mungkin lebih baik menceritakan terlebih dahulu maksud dan tujuannya kepada orangtuanya sebelum mengenalkan Anin kepada mereka.
"Halo, Mami?? Where are you??"
"(...............)"
"Ah, okay. im on the way right now!"
Setelah menanyakan keberadaan maminya, Rei segera meluncur menemui maminya dengan mobilnya.
Butuh waktu hampir setengah jam menuju tempat maminya Rei. Dan Maminya Rei sekarang, ternyata sedang berada di rumah, dan papi Rei sedang bekerja.
Rei memang lebih memilih tinggal sendiri di apartemen daripada di rumah mereka. Itu di karenakan, orangtua Rei juga jarang sekali berada di rumah. Mami Rei lebih senang berpetualang kesana kemari dan papi Rei lebih suka bekerja. Rumah mereka besar, dan Rei benci kesepian di rumah yang besar, kalau orangtuanya sedang tidak berada di rumah. Itu sebabnya dia lebih memilih tinggal sendiri di apartemen yang kecil.
"Halo, Mami??"
Rei memeluk maminya dan mengecup pipinya.
"Hai, Son?? How are you??"
"Seperti yang Mami lihat. Aku baik-baik saja!"
Nyonya Savian tersenyum kepada putra kesayangannya itu.
"Eh, Mami minggu lalu bawa minuman kesukaan kamu. Mau di coba sekarang??"
"Apaa?? Are you serious, Mom??"
"Of course, Honey!"
Nyonya Savian lalu pergi mengambilkan minuman kesukaan Rei. Sebuah minuman botol yang cukup langka, tapi apalah yang tidak bisa keluarga Savian lakukan, untuk mendapatkan minuman itu.
"Ah, you are the best, Mom!!"
Rei tersenyum puas saat meneguk minuman kesukaannya itu sampai habis. Dan Nyonya Savian pun ikut tersenyum bangga,.bisa membuat putra kesayangannya itu tersenyum.
"Ah, kabar apa yang bisa membawa putra kesayangan mami ini datang kemari??"
Nyonya Savian tau, pasti Rei datang menemuinya karena sebuah alasan. Bukan tipe Rei, yang datang kerumah dan kumpul-kumpul dengan orangtuanya. Dia pasti lebih memilih bertemu dengan mereka di luar rumah daripada duduk manis di rumah mereka sendiri.
__ADS_1
"Papi dimana???"
"Papimu hari ini sibuk di rumah sakit. Dan sudah dua hari ini dia selalu pulang pagi," ujar Nyonya Savian menjelaskan.
Rei menarik napas panjang. Menunggu papinya adalah sesuatu yang mustahil. Dia berpikir untuk menceritakan permasalahannya kepada maminya saja.
"Mom??"
"Ya??"
"Aku ingin menikah!!"
"Apaaa??"
Nyonya Savian kaget tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Selama ini Rei selalu di desak untuk menikah, tapi dia menolak dengan alasan, dia belum menemukan gadis yang tepat.
"Siapa gadis itu, yang bisa menaklukkan hati putra kesayangan mami??"
Rei hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan maminya. Dia tau, maminya yang paling mengerti dirinya.
"Dia, Anindya putri Atmaja, Mam. Dia sedang bersamaku disini, dan dia berasal dari indonesia!"
"Waaah!! Kamu kenal darimana, sayang?? Kamu jahat, bukannya langsung membawanya kemari, malah membawanya ke apartemen kamu. Awas loh, jangan di apa-apain!! Sex before marriage, mami tidak menyukainya. Kamu tahu itu!!"
"Tenang saja, Mam. Dia gadis baik-baik. Kami juga belum pernah melakukannya"
"Baguslah kalau begitu. Terus kenapa tadi tidak di ajak sekalian kemari??"
"Itulah, sebenarnya ada yang ingin Rei sampaikan kepada mami tentang dia."
Nyonya Savian mengernyitkan alisnya, bingung dengan apa yang Rei katakan.
"Maksud kamu??"
Lalu Rei menceritakan semuanya. Niatnya ingin menikahi Anin dan mengenai status Anin yang sudah memiliki anak.
"Astaga, Nak!! Apa yang harus mami lakukan sekarang??"
Nyonya Savian terduduk lesu setelah mendengar pengakuan dari putranya itu. Dia tidak menyangka, gadis yang dia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak adalah seorang gadis yang memiliki seorang anak dengan status yang tidak jelas.
"Sayang?? Apa tidak ada gadis yang lain yang lebih layak bersanding denganmu di pelaminan nanti???"
"Rei sangat mencintai dia, Mom. Cuma dia yang Rei mau untuk menjadi pendamping hidup Rei selamanya."
"Tapi status dia juga tidak jelas, sayang."
"Rei sudah tahu tentang keluarganya, dia berasal dari keluarga baik-baik."
"Kamu tahu darimana??"
"Rei sudah pernah ke Indonesia, menyusul dia kemarin."
"Apaaa??"
Rei menceritakan, alasan apa yang membuatnya nekad pergi sendiri ke Indonesia untuk pertama kalinya. Dia juga menceritakan kisah tentang keluarga Anin dan nasibnya sekarang.
"Kamu yakin mereka tidak sengaja mengarang ini semua demi mendapatkan kamu?"
Rei mengangguk, mengiyakan pertanyaan maminya.
"Kalau itu yang membuat putra mami bahagia, mami hanya bisa mendukung. Walaupun mami sebenarnya menginginkan lebih untuk syarat menjadi pendamping hidupmu. Tapi kamu sudah dewasa, mami yakin kamu mengerti akan keputusanmu ini."
Rei tersenyum lalu memeluk maminya. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya, setidaknya lampu kuning sudah menyala. Tinggal mendapat persetujuan dari papinya.
"Bagaimana dengan papi, Mom??"
"Uhm, kalau soal itu ... kamu lebih memahami papimu. Dan kamu pasti sudah tau apa yang akan menjadi jawaban papimu."
Rei menarik napas panjang. Dia tahu, akan sulit sekali meminta persetujuan papinya.
"Bantu Rei menyampaikan ini sama papi ya, Mom??"
"Akan mami usahakan, sayang."
Nyonya Savian mengusap lembut rambut putranya, dan tersenyum. Dia sadar putranya kini sudah dewasa. Walaupun dia menginginkan lebih untuk setiap apa yang terjadi pada hidup putranya, tapi dia sadar, bukan lagi saatnya untuk memaksakan kehendaknya kepada putranya itu.
"Kamu makan dulu ya sebelum pulang?? Mami mau masakin makanan kesukaan kamu."
"Baik, Mom."
Malam itu Rei menghabiskan waktu dengan maminya sambil bercerita banyak tentang pengalamannya saat pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia. Rei juga bercerita banyak tentang kehidupan Anin dan alasan mengapa dia tertarik sekali dengan gadis itu.
"Kasihan sekali dia. Mami yakin, feeling kamu tentang gadis itu tidak salah. Dan mami percaya, kamu pasti sudah berpikir panjang untuk memilih dia."
Rei menatap maminya, lalu tersenyum dan menggengam erat tangan wanita yang paling dia sayangi itu. Hampir 4 jam Rei menghabiskan waktu bersama Nyonya Savian, kemudian dia pun pamit pulang dan kembali ke apartemen miliknya.
*
Beberapa hari berlalu ...
Ponsel Rei pun berdering, lalu dia melihat kalau maminya lah yang sedang meneleponnya.
"Halo, Mom??"
"Halo, sayang?? Kamu dimana??"
__ADS_1
"Rei lagi di kampus, ini baru mau balik ke apatemen. Ada apa, Mom?"
"Sore nanti, kamu datang kerumah, ya??
"Ada apa?"
Nyonya Savian terdiam sejenak, suaranya terdengar berat dari sana.
"Papimu sudah mengetahui semuanya. Dia menyuruh kamu untuk datang ke rumah nanti sore"
"Hem, baiklah, Mom. Love you?"
"Love you too, Nak."
Rei tahu, ada yang tidak beres di rumahnya. Dia tahu watak dari papinya. Dan Rei tahu, masalah apa yang akan dia hadapi nanti sore.
*
Hampir malam, Rei baru tiba di rumahnya dan melihat kalau mobil papinya sudah terparkir rapi di depan rumahnya.
Rei menarik napas dengan berat. Dia hanya bisa mengusap wajahnya dan memberanikan diri untuk masuk dan menemui papinya.
(Praaaaangg!!!!!)
Tiba-tiba saja sebuah gelas terlempar di dinding persis di sebelah Rei. Dan dia sempat kaget karena dia tidak berpikir kalau papinya akan melakukan hal itu.
"Papi!! Sadar!!"
Nyonya Savian berusaha mengingatkan suaminya untuk sadar atas apa yang baru saja dia lakukan.
"Mami diam saja, tidak usah ikut campur!! Inilah akibatnya kalau anak terlalu di kasih kebebasan!! Dia sampai berpikir kalau semua keputusan ada di tangan dia!!"
Tuan Savian membentak istrinya dan Rei tidak suka melihat maminya di bentak seperti itu.
"Cukup!! Kalau papi mau marah, marah sama Rei!! Tapi jangan bentak mami!!"
Mata mereka saling beradu, menunjukkan isyarat kalau perang baru saja di mulai.
"Apa kamu ingin membuat orangtua mu malu dengan membawa pelac*r itu ke dalam keluarga kita???"
"Dia bukan pelac*r!! Dia gadis baik-baik dan berasal dari keluarga baik-baik!!"
"Gadis baik-baik katamu?? Mana ada gadis baik-baik belum menikah tapi sudah memiliki anak?? Apa itu namanya kalau bukan pelac*r??"
"Cukup!!! Jangan menghina dia lagi!! Jika papi tidak mau menerima dia, okay!!! Fine!!! Tapi jangan menghinanya!!"
Nyonya Savian yang bisa melihat luapan emosi dari keduanya, hanya bisa menangis ketakutan.
"Sudahhh!! Sudah!! Cukup, jangan bertengkar lagi!!"
Rei yang melihat Nyonya Savian menangis, kemudian berlari memeluknya.
"Maafkan Rei, Mom. Rei tidak bermaksud menyakiti mami," ucap Rei berusaha menenangkan orangtuanya.
"Keluar!! Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi dirumah ini!!"
Tuan Savian emosi dan mengusir Rei dari rumahnya.
"Kalau kamu lebih memilih wanita jalang itu?? Jangan harap kamu bisa bertemu kami lagi!! Sampai matipun aku tidak akan pernah menganggapmu lagi sebagai anakku!!!"
Nyonya Savian yang mendengar ancaman suaminya itu pun semakin membuatnya menangis.
"Papii ... mami mohon jangan begitu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tidak perlu sampai mengucapkan hal yang tidak baik seperti itu," ucap Nyonya Savian sambil terisak.
"Oh, atau kamu juga mau keluar bersama anakmu itu dari rumah ini??"
Rei melihat maminya yang semakin terisak karena ancaman papinya itu, tidak tega melihatnya.
"Mami, maafkan Rei, ya?? Jaga diri mami baik-baik. Rei pamit."
"Tidak, sayang. Tidak ada yang boleh pergi lagi. Kamu anak mami!! Mami hanya punya kamu ..."
"Maafkan Rei ..."
Lalu Rei pun keluar dari rumah itu, dan pergi dengan membawa kesedihan dan kekesalan akan sikap papinya. Dari awal dia tahu, pasti akan sesulit ini. Karena dia tahu watak papinya. Derajat, harkat dan martabat adalah segalanya untuk Tuan Savian dan harga diri di atas segalanya!!
FLASH BACK OFF.
**
Lantas, bagaimana nasib Anin selanjutnya?? Tetap pantau terus ya??
Jangan lupa:
Follow ...
Like ...
Comment ...
Dan juga vote ...
Stay healthy and be happy.
Terimakasih.
__ADS_1
****
(Bersambung.)