My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 29


__ADS_3

Malam harinya, Mia dan Teguh tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruangan tempat Anin di rawat.


"Ibuuuu ... " teriak Rafin begitu melihat Mia memasuki ruangan itu.


"Sayangnya Ibu apa kabar? Ibu bawakan makanan kesukaan Rafin ini," ujar Mia sambil menyodorkan kue kesukaan Rafin.


Rafin memeluk tubuh Mia, lalu duduk dan makan kue kesukaannya. Anin berjalan mendekati Anin, dipandanginya wajah sahabatnya itu yang masih terlihat pucat. "Bu, bagaimana keadaan Anin?? Apakah ada perkembangan?".


"Dokter bilang masih sama saja, Nak. Yang Ibu dan Dokter khawatirkan adalah Anin sama sekali tidak berniat untuk bangun lagi. Semua sudah kembali normal, tinggal pikiran alam bawah sadarnya yang tidak punya niat dan berjuang untuk sembuh,"


Mia memandangi wajah ibunya itu yang sudah terlihat sangat lelah.


"Sudah, Ibu jangan berpikiran aneh-aneh. Wajah Ibu sudah kelihatan sangat lelah. Biarkan malam ini Mas Teguh saja yang menggantikan Ibu disini, ya? Kita pulang saja"


"Tidak, tidak!! Ibu disini saja menjaga Anin. Kamu sama Teguh pulang saja bawa Rafin. Ibu tidak mungkin meninggalkan Anin disini"


"Ibu, biarkan Mas Teguh menggantikan Ibu satu malam saja. Disini juga banyak dokter dan perawat yang bantu menjaga Anin. Mas Teguh juga tidak sendiri, Bu."


Mia merasa kasihan dengan ibunya. Kelihatan sekali raut wajah kelelahan dan kekhawatiran dari pandangan matanya.


"Bu ... Ibu pulang saja, ya? Biar Teguh yang menjaga Anin disini. Ibu juga perlu istirahat. Kalau Ibu sakit, Anin juga nanti pasti sedih. Percaya sama Teguh ya, Bu?"


Tiba-tiba Rafa masuk dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


"Hmm ... maaf kalau saya sedikit ikut campur masalah keluarga kalian. Tapi memang sebaiknya Bibi pulang saja. Percayakan saja sama dokter dan saya juga akan membantu menantu Ibu berjaga-jaga disini."


Mereka bertiga bergantian memandangi Rafa yang tiba-tiba saja masuk.


"Nah, Tuan Rafa juga sependapat dengan kita. Kalau Ibu ikut kerumah sekarang, Ibu bisa istirahat dan mengurus Rafin juga, Bu. Mas Teguh kan tidak bisa mengurus Rafin. Bagaimana nanti dengan makanan Rafin. Rafin juga baru sembuh, Bu. Sedangkan Mia besok. juga harus kerja," ucap Mia memohon kepada Bi Inah.


"Kamu tidak usah kerja dulu untuk sementara waktu. Kamu dan Bi Inah istirahat saja dulu dirumah beberapa hari ini," ucap Rafa membuat Mia, Teguh dan Bi Inah terkejut dengan ucapan Rafa.


"Ti ti tidak perlu, Tuan. Saya sudah merasa baikan, dan saya juga harus bekerja besok. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di hotel"


"Ini perintah! Hanya untuk beberapa hari, jadi manfaatkan lah sebaik mungkin waktu libur yang saya berikan. Masalah di hotel saya akan suruh Mark untuk menyelesaikannya" jawab Rafa sambil berjalan menghampiri Anin.


"Ta ta tapi, Tuan ..."


Teguh menggelengkan kepalanya, memberikan isyarat kepada Mia.


"Baiklah kalau begitu, Tuan. Terimakasih atas kemurahan hati anda," ujar Mia.


Bi Inah menatap Mia, memberikan isyarat kepadanya, lalu mereka pun keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Ada apa, Bu?"


"Begini, Nak. Apa Anin pernah bercerita kepada kamu, kalau dia sudah mempunyai kekasih?"


Mia menatap Ibunya kebingungan. "Kenapa Ibu bertanya seperti itu?"


"Tadi ada seorang pria yang menelepon Anin dan Ibu mengangkatnya. Dia memperkenalkan dirinya kepada Ibu sebagai kekasih Anin dan bertanya Anin kemana. Ibu tidak tahu harus menjawab apa, dan akhirnya Ibu berbohong."


"Apa yang Ibu katakan kepadanya?"


"Ibu bilang, Anin lagi keluar sebentar dan nanti Anin sendiri yang akan menghubunginya. Padahal seperti yang kita lihat, Anin sampai sekarang belum sadar. Apa yang harus Ibu lakukan, sayang?"


Mia menatap Ibunya. "Anin memang sysah mempunyai pacar, Bu. Tapi dia sendiri belum pasti dengan perasaannya. Itulah kenapa dia belum menceritakannya kepada Ibu. Dia juga jarang membahas ini dengan Mia. Pasti kalau udah saatnya, Anin akan menceritakannya kepada Ibu."


"Terus bagaimana dengan kekasih Anin. Apa yang harus Ibu katakan kalau dia menghubungi Anin lagi?"


"Tenang saja, Bu. Mia yang akan menjelaskan nanti kepadanya. Ibu tidak usah berpikir terlalu jauh. Kita pulang sekarang, yuk. Rafin dan Ibu butuh istirahat."


Mia dan Bi Inah kembali ke ruangan tempat Anin di rawat dan mereka pulang kerumah bersama Rafin.


**


Di ruangan tempat Anin di rawat kini hanya tersisa Teguh dan Rafa.


"Tidak apa-apa. Saya akan disini bersamamu. Saya hanya ingin memastikan seseorang tidak akan kembali lagi kesini," jawab Rafa membuat Teguh kebingungan.


"Maksud anda siapa, Tuan?"


"Hendra!!"


"Apaaa? Mau apalagi dia setelah semua yang dia lakukan kepada Anin!!! Dasar bede*ah!!" ucap Teguh berusaha menahan emosinya.


Rafa memandang Teguh penasaran dengan apa yang barusan dia ucapkan.


"Apa maksud kamu, Hendra melakukan apa??"


Teguh terdiam, tanpa sadar dia keceplosan mengatakan apa yang seharusnya tidak boleh di katakan kepada siapapun. Karena Anin memang melarangnya.


"Ma maaf, Tuan. Saya tidak bisa menceritakan apapun kepada anda. Anin meminta saya untuk merahasiakannya, dan melupakan semuanya."


Rafa menatap tajam Teguh, penasaran dengan perlakuan Hendra terhadap gadis yang diam-diam dia cintai itu. Memikirkannya saja sudah membuat Rafa geram.


"Aku mencintainya ..." ucap Rafa lirih membuat Teguh terperanjat dari duduknya.

__ADS_1


"Tapi sayang, dia sudah mempunyai kekasih." sambungnya lagi, menatap lekat wajah gadis yang ada di hadapannya itu.


Sebenarnya ada rasa bahagia yang Teguh rasakan, dia berpikir kalau Tuan Rafa sudah jatuh hati kepada Anin. Akan lebih mudah untuk menceritakan masalah Rafin kepadanya.


"Tuhan, terimakasih. Setidaknya, ada sedikit titik terang dari permasalahan yang Anin simpan selama ini," ucap Teguh dalam hati.


"Sebenarnya, Tuan ..."


Teguh menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia berusaha menenangkan hatinya, dia ingin menceritakan semuanya kepada pria yang berdiri di hadapannya itu.


Teguh ingin, Tuan Rafa tahu kondisi Anin yang sebenarnya. Kalau dia mencintai Anin, pasti dia akan melindungi Anin dan mau melakukan apa saja untuk kebaikan Anin.


"Saya sangat bahagia jika Tuan mencintai Anin. Setidaknya bertambah satu orang yang mau peduli dengan hidupnya, Tuan"


Kemudian Teguh menceritakan semua yang terjadi kepada Anin setelah kematian orangtua Anin.


Rafa mengepalkan tinjunya, berusaha menahan emosinya setelah semua yang Teguh ceritakan dan apa yang terjadi dengan Anin.


"Jadi, Hendra menolaknya dan mengusirnya. Dan Bi Inah yang mengurusnya selama ini?"


"Iya, Tuan. Dan setelah Anin tahu kalau dia bukan anak kandung dari Tuan dan Nyonya Atmaja, Anin memilih menyerahkan semua miliknya yang tersisa kepada saya dan Bi Inah untuk mengurusnya. Anin merasa itu bukan haknya, karena dia bukanlah anak kandung dari keluarga Atmaja"


"Tapi walaupun begitu, kamu tau kan kalau Tuan Atmaja mewariskan Hotel yang saya kelola sekarang atas nama Anin langsung dan bukan Hendra?? Hendra hanya pewaris setelah Anin."


"Saya tau, Tuan"


"Terus kenapa Anin harus pergi, dan tidak berusaha mengambil hak miliknya. Dan membalaskan kematian orangtuanya? Walaupun dia bukan anak kandung Tuan Atmaja, tidak adakah sedikit saja rasa tanggung jawabnya sebagai anak. Bukankah Tuan Atmaja menyayangi Anin sebagai anak kandung. Apalah arti sebuah status kalau orangtuanya sendiri tidak pernah mempermasalahkannya??"


Teguh terdiam dengan penjelasan Rafa. Teguh sadar siapa Rafa sebenarnya. Di balik sikap arogannya kepada semua pegawainya dan lawan bisnisnya, ternyata dia adalah pria yang baik dan dewasa.


"Saat itu, Anin adalah seorang gadis yang manja dan masih sangat muda untuk berpikir seperti itu, Tuan. Setelah bertahun-tahun kami berusaha membujuk dia untuk kembali ke Indonesia. Barulah tahun ini dia mau kembali, dan itupun hanya untuk melanjutkan kuliahnya"


Rafa tercengang mendengar penjelasan Teguh dan membuatnya sangat geram.


"Dasar gadis bodoh!!! Awas saja kalau kau bangun, akan kusuruh dokter menyuntikkan vitamin yang banyak kedalam tubuhmu, supaya otakmu bisa pintar sedikit!!"


Teguh yang mendengar ocehan Rafa pun hanya bisa tersenyum. Dibalik ketegasan yang Rafa miliki, Teguh baru tau kalau Rafa bisa sekonyol itu.


••••••••


(Bersambung.)


Jangan lupa like dan comment nya, ya. Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2