
••••••••
Beberapa hari berlalu, Cathy semakin di atas angin karena posisinya sebagai tunangan Rafa akhirnya kembali. Semua keperluan Rafa diurus olehnya. Dan tingkah lakunya pun semakin melunjak, karena dia sudah merasa sebagai nyonya besar di rumah itu.
"Hei, aku muak sekali dengan kelakuan Nona Cathy. masih juga tunangan, belum jadi istrinya tapi gayanya belagu sekali," ucap salah satu pekerja rumah tangga di rumah itu saat mereka semua sedang berada di dapur.
"Iya, kan?? Gayanya udah selangit, atur sana atur sini. Kita di anggap sampah disini. Sombong sekali!!" ujar yang lainnya menimpali.
"Bagusan juga Nona Anin kemana-mana. Tapi sayang, Tuan Rafa pakai hilang ingatan segala lagi!! Perasaan dulu Tuan Rafa perhatian sekali dengan Nona Anin. Tapi sekarang Nona Anin malah tidak pernah ada di rumah jam segini. Dia selalu pulang larut malam, sampai semuanya tidur dulu baru Nona Anin pulang." timpal yang lainnya.
"iya iya benar!! Aku pernah lihat Nona Anin pulang jam 2 pagi, itu juga lewat pintu belakang, dan perginya selalu jam 6 pagi. Kenapa ya Nona Anin seperti itu??" tanya yang lain juga penasaran.
Tiba-tiba, Cathy datang ke dapur dan menatap mereka semua dengan tatapan tajam.
"Dasar pembantu!!! Kerja sana!! Jangan menggosip saja. Masak yang enak cepat!! saya dan Tuan Rafa mau makan siang!!" perintah Cathy kasar, lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Lihatkan?? Kasar sekali!! Beda sama Nona Anin," ucap yang satunya dengan bersungut-sungut.
"Sudah-sudah!! Sebaiknya kita kerjakan saja apa yang Nona Cathy suruh. Kalau tidak, kita bisa dipecat nanti." ujar yang lain, dan mereka pun mulai menyiapkan menu untuk makan siang.
**
Cathy masuk kekamar Rafa dengan bersungut-sungut.
"Kenapa, sayang? Kok cemberut begitu??"
"Itu, pembantu kamu semuanya!! Suka sekali berbicara buruk tentangku!! Padahal aku juga sudah berusaha baik kepada mereka."
"Sabar yah, sayang. Nanti aku akan tegur mereka. Kamu disini saja denganku, tidak usah kemana-mana."
"Hem, baiklah sayang. Aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu, sayang."
**
Di Hotel MX.
"Permisi, Nona. Sebentar lagi kita akan mengadakan rapat dengan perusahaan Cv." ujar Mark kepada Anin.
"Baiklah, Mark. Tapi kamu dampingi aku, ya??"
"Baiklah, Nona. Yang terpenting dari semuanya, sudah saya tulis disini. Nona tinggal mempelajarinya. Ingat, Non. Ini adalah kerjasama yang paling penting, yang sudah di tunggu Tuan Rafa dari dulu. Semoga dengan ini, hotel ini bisa menjadi lebih sukses kedepannya."
"Tapi saya takut, saya tidak bisa mengatasinya," ucap Anin ragu-ragu.
"Saya yakin Nona pasti bisa."
Anin menganggukkan kepalanya, dan berusaha mengumpulkan rasa percaya dirinya.
__ADS_1
2 jam berlalu ...
"Terimakasih, Bu Anin. Saya sangat puas dengan kinerja anda hari ini. Semoga kerjasama kita ini bisa berlangsung selamanya." ujar Martin, utusan dari perusahaan CV yang bertanggung-jawab atas proyek kerjasamanya dengan Hotel MX.
"sama-sama, Pak. Oh, ya salam anda akan saya sampaikan kepada Tuan Rafa. Dia pasti senang mendengar kabar baik ini," ucap Anin tersenyum bangga, lalu menjabat tangan Martin dengan penuh percaya diri.
Setelah mereka kembali, Anin juga bergegas kembalu keruangannya.
"Ah, lapar sekali!! Bisa-bisanya kegugupanku ini malah datang di saat yang tidak tepat," ucapnya geli lalu mengambil ponsel dan kunci mobilnya, pergi keluar dari hotelnya dan menuju restoran kesukaannya.
Anin mempunyai kebiasaan yang aneh, setiap kali dia gugup, pasti dia akan merasa lapar. Dan itu yang dia rasakan selama di ruangan rapat tadi.
*
"Ah, aku pokoknya harus makan banyak hari ini."
Anin memesan begitu banyak makanan, padahal dia hanya makan sendiri. Mungkin kalau ada yang melihat, mereka akan berpikir makanan itu untuk 4-5 orang.
Tiba-tiba ponsel Anin berdering. Ada panggilan masuk dari ibunya.
"Halo, Bu??"
("Halo, sayang?")
"Ada apa, Bu?? Apa ada masalah?" tanya Anin panik, karena tidak biasanya ibunya menghubunginya pada jam makan siang.
"Ehm, baiklah, Bu. Anin pulang sebentar lagi, ya??"
"Baiklah, Nak. Ibu tunggu dirumah"
Obrolan mereka pun berakhir, tapi Anin masih penasaran kenapa ibunya menyuruhnya cepat pulang hari ini.
"Ah, aku makan dulu saja. Lapar sekali!!" ujarnya, lalu mulai melahap semua makanannya.
**
Anin tiba dirumah jam 3 sore. Lalu langsung menuju kamarnya lewat pintu belakang. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat Rafa sedang berdiri sambil menatap langit.
Rafa yang mendengar suara langkah kakipun, lalu menoleh ke arah sumber suara tersebut dan melihat Anin sedang berdiri menatapnya.
"Kamu??" tanya Rafa kaget melihat Anin bisa masuk kerumahnya.
"Eh, iya. Selamat sore, Tuan." sapanya tersenyum.
"Kamu kenapa bisa ada disini??"
Anin menatap Rafa dengan bingung. Dia lupa kalau Rafa tidak mengetahui keberadaanya disitu. Rafa juga tidak pernah melihat Anin, karena Rafa juga baru keluar dari kamar sore itu dan Anin juga selalu pulang larut malam.
__ADS_1
"Saya tinggal disini, Tuan."
"Benarkah?"
"Iya, dan kamu mengijinkannya. Setelah orangtua saya meninggal, saya tinggal disini." ujar Anin menjelaskan, tapi sedikit berbohong. Karena Anin pikir, percuma juga menjelaskan panjang lebar, karena Rafa juga tidak mengingatnya.
"Soal orangtuamu, maafkan aku karena aku tidak tahu, kalau ternyata Tuan Atmaja sudah meninggal. Maaf aku tidak mengingat apapun untuk sekarang."
Anin mengangguk dan tersenyum kepada Rafa. Rafa merasakan hal yang aneh setelah melihat gadis yang berdiri di hadapannya itu.
"Apakah dulu kita sangat dekat??" tanya Rafa penasaran.
Anin terdiam membisu setelah mendengar pertanyaan Rafa. Dia berjalan mendekatinya, lalu berdiri dihadapannya. Kini jarak mereka sekarang dekat sekali.
"Sangat dekat ... Seperti sekarang ini. Apakah kamu tidak penasaran, bagaimana perasaanmu terhadapku??" ujar Anin setengah berbisik, membuat jantung Rafa malah semakin tidak karuan.
Lalu tiba-tiba ...
"Sayang??? Sayangg??" panggil Cathy yang mencari Rafa kesana kemari.
Refleks Anin berjalan mundur menjauhi Rafa. "Cobalah untuk mengingatku. Sebisamu!!" pintanya lalu tersenyum, dan meninggalkan Rafa yang sedang berdiri mematung disana.
"Hi, sayang??? Kamu ternyata disini. Aku sudah mencarimu kesana kemari." rengek Cathy, sambil memeluk tubuh Rafa.
Rafa tidak menjawab pertanyaan Cathy. Pikirannya masih melayang pada ucapan Anin yang membuatnya penasaran.
"Ada apa, sayang?? Kamu bahkan tidak menjawab pertanyaanku," ucapnya kesal dengan wajah cemberut.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." jawab Rafa berusaha membuat tunangannya itu tenang.
"Iya sudah. Tapi jangan terlalu dipaksa. Tidak apa-apa kalau sembuhnya lama. Aku pasti akan selalu ada buat kamu." ujar Cathy dengan senyuman liciknya.
"Terimakasih, sayangku!"
Rafa memeluk kekasihnya itu dengan erat. Perasaan aneh yang selalu muncul tiap kali bersama dengan Cathy. Dia begitu sangat mencintai tunangannya itu, tapi entah kenapa hatinya tidak pernah lagi bergetar, seperti yang dia rasakan tadi saat melihat Anin.
"Apa yang salah dengan hati ini?? Apakah benar yang dia katakan tadi?? Apakah kami memang sedekat itu??"
Tubuhnya memang sedang berada bersama Cathy, tapi pikirannya kini dipenuhi dengan wajah Anin.
••••••••
Akankah Rafa bisa mengingat kembali tentang perasaannya terhadap Anin?? Atau dia akan lupa dengan perasaannya sendiri dan lebih memilih tinggal dengan ingatan lamanya??
Bagaimana kisah selanjutnya?? Tetap stay dengan cerita aku, ya??
Stay healthy, be happy and happy reading.
Terimakasih dan bersambung ...
__ADS_1