My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 47


__ADS_3

Pertemuan mereka kali ini membuat Anin tidak bisa berkutik lagi. Kebohongannya pasti akan diketahui oleh ibunya dan yang lain.


"Kalian kenapa, sih??" tanya Arum kebingungan.


Anin menatap Rafa dengan tatapan memohon. Karena Anin tidak ingin menyakiti hati Arum. Anin tau, Arum menyukai Rafa, dan Rafa sendiri sudah menyatakan perasaannya sendiri kepada Anin, tapi Anin hanya mencoba menghindar karena saat itu masih ada Rei.


"Maaf, saya salah orang. Saya pikir dia tadi anak dari seseorang yang saya kenal. Tapi ternyata saya salah!!"


Anin kaget dan lega setelah mendengar jawaban dari Rafa.


"Ah, terimakasih," ucap Anin dalam hati lalu tersenyum kepada Arum.


"Oh, begitu. Kalau begitu kalian saling berkenalan dulu" pinta Arum kepada Rafa.


"Tidak perlu. Tadi kan sudah di kenalkan juga!" jawab Rafa dengan ketus, membuat Anin malah takut.


"Ah, ya sudahlah Rum. Kalau begitu saya pamit dulu. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Saya pamit dulu ya, permisi Pak!!" ujarnya menunduk lalu keluar dari ruangan itu.


Arum mengangguk tersenyum. Anin pun berlari seperti orang ketakutan dan ingin segera menghilang dari hadapan Rafa.


"Ah!! Mampuslah aku kali ini!!" teriaknya begitu sampai di ruangan cleaning service.


Untungnya di ruangan itu tidak satupun orang yang mendengarnya berteriak. Karena semuanya sudah kembali ke pekerjaan masing-masing.


"Ah, iya!! Aku sampai lupa minuman yang mereka pesan!! Bisa ketahuan bohong nih aku!" umpat Anin lalu berlari lagi keluar untuk membelikan pesanan minuman dari teman-temannya.


*


Di ruangan Arum.


"Kamu kenapa sih, Raf? Tadi itu sahabat aku loh. Dia baik anaknya."


"Aku hanya tidak menyukai orang asing!!"


"Hem, ya sudahlah kalau begitu. Eh, iya kamu nanti malam ada acara apa?? Orangtua aku ngajak kamu makan malam di rumah. Kamu bisa kan??"


"Oke, jam berapa??"


"Jam 8. Jangan lupa, ya?? ujar Arum kegirangan. Rasanya jantungnya berdebar gak karuan. Tumben-tumbennya Rafa mau di ajak makan malam.


Rafa mengangguk setuju dan kembali sibuk dengan ponselnya.


"Ehm, itu pegawai kamu baru, ya?"


"Siapa?? Yang barusan??"


"Ehem ..."


"Oh, iya. Namanya Anin. Dia baik anaknya. Baru bekerja sebulan bekerja disini. Dia sahabat aku sewaktu sekolah. Sahabat Bima juga."


"Kerja di bagian apa??"


"Cleaning service!!"


"Apaa??"


Suara Rafa yang tiba-tiba meninggi membuat Arum kaget.


"Eh, maksud aku, jarang-jarang orang seperti dia. Bersahabat dengan kamu tapi minta pekerjaan di posisi paling rendah."


"Nah itu, Raf. Padahal aku udah bilang akan menempatkannya di posisi yang lebih enak. Tapi dia tidak mau. Dia hanya akan menerima posisi pekerjaan sesuai dengan pendidikan dia. Sayangnya dia hanya menyelesaikan studinya sampai di bangku SMA."


Rafa masih saja sibuk dengan ponselnya. Tapi sebenarnya dia mendengarkan semua cerita Arum.


"Kasihan dia ..."


"Kenapa??"


"Orangtuanya meninggal, semua bisnis keluarganya bangkrut. Ada beberapa bisnis yang sekarang di pegang oleh pamannya. Itupun aku tahu dari papaku. Karena papaku sempat ingin mengambil alih bisnis mereka yang di kota H. Tapi ya gitu deh. Sepertinya pamannya sudah berencana mengambil semua milik orangtua Anin."


"Teruss??"


"Ya gitu deh ... Setelah bisnis mereka hancur, aku baru tahu orangtuanya meninggal dan Anin menghilang entah kemana. Aku juga sudah mencarinya, tapi gak ketemu. Eh, sebulan yang lalu dia menghubungi aku dan untungnya nomor ponsel aku belum berganti. Jadinya ya gini, Anin bekerja disini sebagai cleaning service."


"Oh, begitu. Dia asalnya darimana??"

__ADS_1


"Waktu terakhir yang aku tahu itu, dia baru pulang dari paris sih!! Sepertinya baru putus dari pacarnya."


"Keluarganya??"


"Dia tidak menceritakan tentang keluarganya secara detail. Dan aku juga gak berani bertanya, karena itu privasi dia. Tapi dia pernah bilang, dia dulu tinggal bersama bibinya, yang sekarang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya."


"Itu saja??"


"Huum!! Dia cuma bilang tidak ingin merepotkan ibunya lagi. Karena kehadirannya selalu membuat ibunya itu susah dan sedih."


"Dasar gadis bodoh!!" umpat Rafa seperti sedang mengomel.


"Apa?? Kamu bilang apa??"


"Tidak ada!! Ehm, maksud aku mana ada keluarga sendiri yang merasa di repotkan. Dia saja yang bodoh. Kalau tidak ingin membuat ibunya bersedih, iya buatlah mereka bahagia!! Paling tidak jangan lari dari kenyataan!"


"Iya sih, kamu ada benarnya. Tapi ya namanya juga lagi galau. Mungkin nanti dia sudah bisa berpikir jernih setelah beberapa bulan," ucap Arum panjang lebar menjelaskan kronologis kedatangan Anin.


"Iya, sudah. Aku harus pergi dulu."


"Baiklah. Jangan lupa, ya nanti malam??"


"Oke, bye!!"


"Bye!!"


Rafa pun meninggalkan Arum sendirian di ruangannya yang masih menatap kepergian Rafa sampai menghilang.


"Ehm, tumben itu anak peduli sama orang?? Sepertinya salah makan dia!" ujar Arum tertawa geli.


*


Di Villa BX milik Hendra.


"Tuan, sepertinya Nona Anin sudah kembali ke Indonesia."


"Baiklah!! Cari tahu keberadaannya!! Hidup atau mati, dia harus berada di genggamanku!!"


"Siap, Tuan. Akan saya lakukan!!"


Orang suruhan Hendra itu pun pergi meninggalkannya, dan berusaha mencari dimana Anin berada.


*


"Sorenya, Anin pun pulang bersama Shasha dan teman-temannya yang lain.


"Sha, jadi ke mall gak??" tanya Erin teman mereka.


"Oh, iya!! Aku lupa!! Nin, kamu ikut kan??" tanya Shasa kepada Anin.


"Ah, ngapain?? Aku lagi malas, nih. Kalian saja, ya??"


"Ah, Anin gak asik. Ayolah!!" rengek Erin.


"Iya, nih! Bulan kemarin juga kamu gak ikut. Kali ini ikut, ya??" pinta Shasa.


"Ah, ya sudahlah. Dasar kalian ini, suka sekali berbelanja!!"


"Yeay!! Akhirnya!!" ujar Erin dan Shasa bersamaan.


Anin mencari ponselnya di dalam tasnya. Dia ingin meminta tolong kepada Leni untuk memberi kabar kepada ibunya, karena bulan ini, Anin belum mengabari mereka sama sekali.


"Aduh, sepertinya ponselku ketinggalan di dalam. Kalian duluan dulu, ya? Tunggu aku di pos satpam." pinta Anin, lalu dia berlari ke dalam mengambil ponselnya.


"Ah, syukurlah masih disini," ucapnya saat ponselnya sudah ditemukan.


Anin lalu kembali lagi keluar, dan bergabung dengan teman-temannya.


"Ketemu??" tanya Erin.


"Ketemu dong!!" jawab Anin.


"Yeaay, ayo berangkat!!" teriak Shasa, lalu mereka pun pergi menuju mall yang di maksud dengan angkutan umum.


**

__ADS_1


Mall Andara.


"Kalian mau beli apa, sih??"


"Ada deh!!" bisik Erin, dan Shasa pun ikut tertawa penuh arti.


"Dih!! Pakai rahasia segala. Awas, ya!!" ancam Anin, kemudian menyusul kedua temannya itu yang sudah berlari meninggalkannya.


Anin tertawa geli saat melihat Erin dan Shasa yang mencoba pakaian dalam yang sangat tipis di sebuah toko khusus pakaian dalam.


"Sini, Nin. Coba yang ini!!" ajak Erin lalu menarik tangan Anin.


"Ah, gak ah!! Pakai begini mau kemana?? Yang ada kalian nanti masuk angin. Pilih yang ini saja bagus!! ujarnya lalu menyodorkan pakaian dalam sama dengan model yang biasa dia pakai.


"Astaga, Nin!! Ini sih anak SMP yang baru datang bulan yang pakai. Kalau ini buat di pakai di malam pertama, bisa-bisa suamimu, belum juga main congklak udah pingsan duluan." jawab Erin, lalu di sambut Shasa dengan ketawanya yang sangat keras.


"Malam pertama?? Main congklak?? Maksudnya??" tanya Anin kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Anin!! Anin!! Dasar ini anak!!"


Shasa dan Erin tertawa puas melihat kekonyolan Anin. Anin memang sudah pernah melakukan hubungan suami istri dengan Rafa, tapi itu juga terjadi tanpa sengaja. Jadi Anin memang sama sekali tidak mengerti tentang pakaian dalam saat malam pertama. Apalagi tentang istilah main congklak yang Erin maksud tadi.


Anin hanya bisa tersenyum kesal setelah di ledek oleh teman-temannya itu.


"Oh, iya. Aku juga lupa bilang sama kamu, Nin. Minggu depan aku menikah kamu datang, ya?" pinta Erin tersemyum menatap Anin.


"Baiklah, Rin. Aku pasti datang," jawab Anin.


Erin dan Shasa melanjutkan belanjanya. Dan seperti tadi, pasti kehebohan selalu terjadi. Dan Anin hanya bisa menjadi penonton sambil duduk dan memainkan ponselnya.


"Sha, kamu lihat pria yang berdiri di pojok sana??"


"Iya, Rin. Terus kenapa??"


"Daritadi dia melihat ke kita lho sambil senyum-senyum"


"Kamu yakin??" tanya Shasa penasaran.


"Yakin deh, sumpah!!"


"Mana ganteng lagi!! Dia kagum kali ya dengan kecantikan aku!" ujar Shasa tertawa.


"Hust!! Dia lihat aku kali, Sha!! Jangan kepedean!"


Dan terjadilah perdebatan sengit antara bu RT dan bu RW. Anin yang geli melihat tingkah laku temannya itu pun penasaran dengan pria yang di maksud. Anin berdiri lalu mencari keberadaan pria yang Shasa dan Erin maksud.


"Mana, sih??" tanya Anin penasaran, karena tidak ada satupun pria yang berdiri di depan toko itu.


Erin dan Shasa pun menghentikan perdebatan sengit mereka, lalu mencari keberadaan pria yang mereka perebutkan tadi.


"Eh, iya!! Kemana dia pergi?? Kok menghilang, sih??" ujar Erin bingung.


"Tadi ada kok, berdiri di pojok sana. Ini gara-gara kamu sih, Rin!! Aku jadi lupa minta nomor ponselnya," ucap Shasa kesal. Dan mereka pun memulai kembali perdebatam mereka.


"Dasar tante-tante!!" umpat Anin tertawa geli.


Anin keluar dari toko itu dan berjalan-jalan sambil melihat-lihat sekelilingnya.


"Mau kemana, Nin??"


"Aku ke toko sebelah dulu ya, Sha?? Nanti kabarin aja kalau sudah selesai. Ada buku yang ingin aku beli."


"Siap, bu boss!!"


Anin berhenti di sebuah toko buku, dan langsung masuk ke dalamnya. Tapi sebelum dia berhasil memasuki toko buku tersebut. Seseorang tiba-tiba menarik tangannya. Anin menoleh ke belakang, dan ...


"Rafa????"


Seseorang yang menarik tangannya itu adalah Rafa.


••••••••


Apa yang Rafa lakukan disana?? Dan bagaimana kisah selanjutnya?? Tetap ikuti update an cerita aku, ya??


(Bersambung.)

__ADS_1


Happy reading teman-teman, stay healthy and be happy.


Terimakasih.


__ADS_2