
Sesampainya di Rumah Sakit...
"Selamat datang, Tuan Rafa. Kamar yang Tuan minta dan semua yang Tuan perintahkan sudah saya persiapkan." ucap salah satu Dokter begitu mereka sampai disana.
"Baik, segera lakukan pemindahan. Saya ingin semuanya yang terbaik. Mereka sudah ada di depan."
"Baik, Tuan,"
Kemudian merekapun melalukan pemindahan dan mengurus semua keperluan untuk perawatan Anin dan Rafin.
**
Bi Inah memandangi Anin. Ada rasa sedih yang sulit sekali buat dia ungkapkan. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Anin dengan baik.
"Maafkan saya Nyonya, Tuan. Saya gagal menjaga Nona Anin." ucapnya dalam hati lalu menangis.
Rafa yang sedari tadi berdiri di depan pintu, juga ikut memandangi Anin. Dia juga bisa merasakan kesedihan yang Bi Inah rasakan.
Bi Inah yang sadar akan kehadiran Rafa, kemudian mendekatinya.
"Terimakasih, Tuan. Atas semua bantuan yang Tuan berikan untuk Anin dan cucu saya. Kalau Tuan tidak ada, mungkin Anin dan cucu saya tidak akan mendapatkan perawatan terbaik sekarang"
"Tak usah sungkan, Bi ... saya melakukan ini karena saya menghormati Almarhum kedua orangtua Anin." ucap Rafa.
"Ada baiknya Bi Inah pulang sekarang. Bibi bisa balik lagi nanti. Saya lihat putri Ibu di luar juga sangat pucat. Mungkin lebih baik Ibu membawanya pulang dulu. Anin dan Rafin biar saya yang jaga sampai Bibi datang lagi kesini," tambahnya lagi.
"Tapi Tuan, tidak apa saya akan menyuruh putri saya pulang duluan. Saya akan disini sampai putri saya datang membawakan pakaian dan makanan untuk saya." ucap Bi Inah tak enak hati menolak pertolongan Rafa secara sopan.
"Tidak apa, Bi. Sepertinya putri Bibi lebih membutuhkan Bibi sekarang. Nanti Rafin akan saya pindahkan kemari, supaya Dokter lebih mudah memantaunya. Dan Bi Inah juga bisa menjaga mereka sekaligus."
Bi Inah kemudian keluar dan melihat Mia sedang terduduk lemas, wajahnya pucat. Bi Inah berpikir, mungkin sebaiknya dia pulang dulu baru kembali lagi. Mia juga sedang tidak enak badan karena dia juga sedang mengandung.
"Tuan, maafkan saya. Mungkin Tuan ada benarnya, putri saya sedang mengandung. Saya lebih baik membawanya pulang kerumah dulu, setelah itu saya akan kembali kesini lagi."
"Tidak apa, Bi. Saya akan menjaga mereka berdua sampai Bi Inah kembali. Bi Inah pulanglah bersama putri Bibi." ucap Rafa lalu duduk di samping Anin yang sedang terbaring.
............
Di kediaman Hendra...
"Sial!! Kenapa usahaku selalu saja sia-sia untuk menghabisi gadis itu. Kalau saja kau tidak ada, semuanya akan menjadi milikku".
__ADS_1
Tok ... tok ...
Seseorang mengetuk pintu dan membuyarkan lamunan Hendra.
"Tuan, Komisaris Polisi sedang menunggu anda diluar." ucapnya lalu meninggalkan Tuannya.
Kemudian Hendra pergi menemui Komisaris Polisi.
"Selamat siang, Pak." ucap sang Komisaris.
"Selamat siang juga. Silahkan duduk" ajak Hendra.
"Semua sudah saya atur sesuai yang Bapak mau. Dan saya pastikan tidak ada jejak sama seperti 5 tahun lalu."
Hendra menatap sang Komisaris dengan tersenyum. Dia tau, selama Komisaris ini berada di pihaknya, dia bisa memanfaatkannya dan semua akan aman.
"Baiklah, seperti biasa kami akan mendapat bayaran yang setimpal atas apa yang sudah kamu kerjakan untuk saya." ucap Hendra lalu berdiri membawa koper berisi uang.
"Tak perlu sungkan begitu, Pak. Anda terlalu baik."
Hendra tersenyum ...
"Tidak apa, kita hanya saling membutuhkan," ucapnya.
"Baiklah, Pak. Saya permisi dulu. Kalau Bapak butuh bantuan saya, Bapak bisa menghubungi saya langsung seperti biasa."
"Baiklah, kamu boleh pergi."
"Tapi ... satu hal yang perlu kamu ketahui, jika sampai saya berada dalam bahaya, kamu adalah orang pertama yang akan saya libatkan." ucap Hendra sedikit memberi ancaman lalu sang Komisaris pun pergi.
"Pantau pergerakannya. Jangan sampai dia menyalah gunakan kepercayaan kita. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, segera habisi dia. Saya tidak mau apa yang sudah saya raih selama ini, hancur seketika karena dia!!" perintah Hendra kepada orang kepercayaannya, lalu pergi meninggalkannya menuju ruangannya.
**
Di Rumah kediaman Bi Inah ...
"Istirahatlah, Nak. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu dan setelah itu Ibu akan kembali ke Rumah Sakit," ucap Bi Inah kepada Mia yang kelihatan lelah sekali.
Mia terdiam tidak menjawab Bi Inah. Pikirannya menerawang kepada Rafa.
"Bu, apakah Ibu tidak merasakan sikap Tuan Rafa yang sedikit berbeda dari biasanya? Terhadap Anin, dia selalu bersikap lembut dan baik. Mia merasa, Tuan Rafa pasti menyukai Anin, Bu!" jawab Mia lalu menatap Ibunya.
__ADS_1
Bi Inah duduk di samping putrinya itu. Matanya memandang ke atas langit-langit rumah mereka.
"Ibu juga merasakan hal yang sama, Nak. Walau Tuan Rafa selalu mengatakan dia melalukan ini karena Almarhum Tuan dan Nyonya, tapi feeling Ibu mengatakan lebih dari itu. Tapi biarlah waktu yang menjawab semuanya. Sekarang semua keputusan ada di tangan Anin. Kita hanya bisa mendukungnya." ucap Bi Inah lalu bangkit berdiri.
"Kamu istirahatlah ke kamarmu. Jangan pikirkan yang aneh-aneh dulu. Ingat kamu sedang Mengandung, Nak." suruh Bi Inah kepada putrinya itu. Dan Mia pun bangkit berdiri lalu pergi menuju ke kamarnya.
Langkahnya seketika terhenti saat mengingat apa yang Rafa ucapkan tentang pelaku yang menyebabkan Anin dan Rafin kecelakaan.
"Bu, apa yang sebenarnya terjadi? Bisakah Ibu menceritakannya kepada Mia?" tanyanya kepada Bi Inah.
"Sudah ... kamu istirahat aja dulu. Nanti saat waktu yang tepat, Ibu akan menceritakannya kepadamu. Sekarang pikirkan kesehatanmu dan anak dalam kandunganmu." ucapnya tersenyum kepada putrinya.
**
Di Rumah Sakit ...
Tok ... tok ...
"Tuan, permisi. Semuanya sudah selesai." ucap Mark.
"Baiklah, kamu sudah boleh pergi."
"Dan satu hal lagi, tolong kamu cancel semua pertemuan sampai 3 hari kedepan. Dan bawakan saya Bodyguard untuk berjaga-jaga di sini. Sepertinya pria itu akan datang kemari." perintah Rafa sambil memandang Rafin.
Lalu Mark pergi meninggalkan Rafa. Tak lama, Dokter datang menemui Rafa di kamar rawat Anin.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Rafa penasaran dengan keadaan Anin.
"Untuk saat ini semuanya baik-baik saja, Tuan. Tinggal kita tunggu dalam beberapa jam kedepan. Kalau Nona ini sadar, semuanya akan membaik. Kita doakan supaya Nona ini bisa sadar secepatnya." ucap Dokter menjelaskan berharap bisa menenangkan Rafa.
"Dan bagaimana dengan anak ini? Kenapa dia masih tidak sadarkan diri sampai sekarang?" tanya Rafa.
"Dia akan segera sadar, Tuan tidak usah khawatir. Anak ini hanya mengalami luka kecil pada tubuhnya. Tapi ... tapi kemungkinan dia akan mengalami trauma karena kecelakaan itu, Pak." jawab Dokter Yuda.
Rafa memandangi Rafin, Dia berpikir apa yang akan Rafin rasakan akan sama seperti yang dia rasakan saat Ibunya mengalami kecelakaan dulu. Rasa trauma yang berkepanjangan bahkan sampai sekarang, karena pada saat kecelakaan, Rafa juga ada di mobil yang sama dengan Ibunya.
Butuh waktu berpuluh-puluh tahun sampai rasa trauma itu sedikit berkurang.
"Tidak apa, Dok. Saya akan mencari psikolog terbaik untuk anak ini. Lakukan saja tugas kalian dengan baik." perintah Rafa.
Lalu Dokter Yuda pamit keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
(Bersambung).
Hi Readers, happy reading dan thankyou.