
Artara berdiri melotot ketakutan,sampai seluruh tubuh nya bergetar, berdiri di hadapan nya, ternyata ada preman
"kamu kenapa duam saja, apa perlu gua remuk bibir kamu! " ujar yang lain.
Artara tak menjawab, ia memilih membalikan badan nya, berlari menghindar.
"Eh mau kemana? " ujar gangster yang lain
Ternyata jalan nya dihadang teman nya yang lain, sehingga ia tak bisa pergi kemana mana.
"Aku gak punya uang, jangan ganggu aku! " jawab Artara gugup.
"Kalo lo, gak punya uang, seenggaknya kamu punya barang yang bisa jadi duit kan? " tawa para gangster.
"Maaf bang, cuman ini satu satu nya, ini pemberian kakek saya! " artara memohon ampun, sambil memegang kalung dileher nya.
"Wah, kayanya emas tuh, dijual mahal! " jawab
Namun permintaan maaf artara tak ada gunanya, justru mereka semakin mendekat, seperti mengincar kalung itu.
"Pertama pilih babak belur atau mati sekalian??? "
"Saya ingat kan, jangan macam macam dengan kalung ini, saya gak. mau ada korban lagi. ampun bang! " jawab artara
"Wah... udah berani melawan nih, kamu gak tau kami ini siapa hah?!! sekarang kamu mau pilih yang yanga mana kasih kalung itu, dan kamu bebas, atau milih yang pertama mati gua cincang? "
Artara tak bisa memilih keduanya, karna kalung itu sangat penting baginya, warisan dari leluhurnya.
"Ah, kelamaan, mending mati aja! "
Ketiga gangster itu tiba tiba memukul habis habisan antara, sampai akhirnya babak belur, dan langsung menarik paksa kalung artara.
Namun setelah salah satu gangster berhasil mengambil kalung itu, tiba tiba terdengar seperti ada suara wanita tertawa sangat keras, mirip seperti Kuntilanak.
Artara tergeletak kocar-kacir di tanah, wajah nya sudah babak belur penuh darah. hingga tak sadarkan diri.
"Itu suara apaan boy? " tanya mereka ketakutan
"Mana gua tau! " jawab salah satu
"Udah, mending kita cepet cepet pergi dari sini! "
Satu langkah saja mereka berjalan pergi, tiba tiba wanita menyeram kan, mencekik kedua temen mereka, hanya tersisa satu, boy. yang sedang menggenggam erat kalung artara.
"GYAAAAAAAA!!!!!!! " teriak keras mereka berdua, boy hanya bisa melotot tak bisa berbuat apa apa, ia memilih kabur menyelamatkan diri.
Cekikan itu begitu keras, sampai mereka benar benar kesakitan, tubuh mereka terangkat, tak bisa bernafas.
__ADS_1
"Jika kalian ganggu, artara. kalian akan mati! "
"GYAAAAAAAAA! "
"cetar... "
leher mereka tiba-tiba terputus dan kepala nya terjatuh tergeletak, darah pun berceceran dimana mana.
Boy masih berlari kencang, menjauh, dan mencari orang di sekitar, namun nasib sial terjadi. tak ada satu pun orang yang terlihat.
"srt."
Tiba-tiba ada rambut yang mengikat kencang, di kaki kanan nya. sontak boy langsung berusaha melepaskan rambut tersebut, namun bukan malah semakin longgar, tapi ikatan itu semakin ketat dan rambut semakin meningkat, sampai akhirnya menutupi seluruh tubuhnya.
Mulutnya tertutup rambut, seharga ngga tak bisa berteriak minta Tolong. ia hanya bisa pasrah. rambut itu semakin menutup rapat tubuh nya, hingga ia tak bisa bergerak sedikit pun.
Boy tersadar. ia tergeletak tepat di tengah jalan, dengan posisi tubuhnya yang terbungkus rambut. cahaya silau tiba tiba terlihat, ada truk yang hendak lewat, ia berusaha bergeser untuk menyelamatkan diri, namun ia tak bisa berbuat apa apa. herannya ia seperti orang yang lumpuh
"Tolonggggg.. " teriak nya dalam hati.
Ia hanya bisa menangis sampai akhirnya truk itu menindas nya, sampai pecah.
1 jam kemudian.
Artara tersadar, dan bangun, ia melihat di sekelilingnya sudah kosong tak ada siapa pun di dekat nya. namun saat ia melihat dan berfikir, kenapa ada di dalam kamar, padahal sebelum nya ia sudah pernah pingsan di depan sekolah. dan saat ia bangun dan bercermin, wajah nya sudah kembali normal, seperti tak pernah terjadi sesuatu.
"Ini aneh! " ujar nya sambil memegang kalung itu.
"Ngitttttt.... " (suara pintu terbuka)
"Mama? " panggil artara
"Sayang, kamu kebangun ya? " jawab ibunya
"Mama, kok aku udah ada di kamar? " tanya artara.
"Loh, kok nanya mama, kan kamu yang jalan masuk kesini? " tanya mama
"ough ya, mama lihat? "
"Yah lihatlah, malahan kamu makan bareng mama tadi kan? " jawab mama
Artara mengiyakan, karna memang perut nya sudah merasakan kenyang, persis seperti baru makan, Ia pun berfikir apakah ini ulah kuntilanak itu.
"Ya udah aku mau tidur ya mah, jangan di ganggu! " ujar artara
"Iyah, mama tau. mama niatnya cuman ngecek kamu aja! "
__ADS_1
Artara menutup pintunya rapat rapat, dan langsung mengunci pintu.
Artara menarik nafas lega, dan melirik ke jendela. ada sesosok kuntilanak sedang mengintip nya. artara mendekat dan membuka jendela nya.
"Pasti kamu yang merencanakan semua ini kan? " tanya antara
"Memang saya, mana mungkin saya membiarkan kamu celaka! " jawab kuntilanak itu.
"Saya tanya sama kamu, kamu apakan para gangster itu? " tanya artara
"Gak macem macem kok, cuman saya cekik sampai putus, yang terakhir gak sengaja tertindas truk! " jawab kuntilanak sambil tertawa.
Artara melotot kaget mendengar nya.
"Kamu sekarang sudah berani ya, merasuki tubuh saya!" Artara tak bisa berbicara banyak
"Semakin kamu dewasa, semakin kamu mendapatkan bahaya. tenang lah. aku akan melindungi mu, kapan pun kamu akan pergi!"
Meskipun ia merasa tenang, entahlah ia masih merasa bersalah
"Tok tok tok... " (suara ketukan pintu)
"Sayang, katanya tidur, lagi ngobrol sama siapa sayang?? " ujar ibunya dari luar pintu
"Ini cuman temen ma, ini lagi telepon! " jawab Artara berteriak.
"Cepat tidur besok sekolah! " ujar ibunya
"Iya mah! " jawab artara.
Artara melotot menatap kuntilanak itu, namun malah di balas senyuman yang sedikit membuat siapa pun akan ketakutan, meskipun biasa baginya.
"Sekarang kamu masuk lagi ke dalam kalung, dan jangan kemana mana! " perintah Artara
Kuntilanak itu langsung menghilang, sudah kembali masuk ke dalam kalung.
"hush hush hush.... "
Artara bernafas lega, meskipun masih tersimpan ribuan rasa. khawatir, takut dan sangat gelisah. ia tak habis pikir harus berbuat apa. mau berapa banyak lagi orang yang akan jadi korban.
2 bulan yang lalu, ia pernah membuang jauh-jauh kalung itu lebih dasar pantai, namun kalung itu tak pernah hilang, saat ia terbangun dari tidurnya. kaling itu sudah kembali terpasang di lehernya. Sering terfikir, itu adalah pemberian kakek yang paling berharga. namun karna banyak memakan korban. Ia ingin membuangnya.
Artara berjalan tidur di atas ranjang, mengambil selimut dan menutup kedua matanya.
"Semoga besok tak akan banyak masalah!"
Harapan Artara sebelum tidur
__ADS_1