My story indigo

My story indigo
Asal usul Kirana


__ADS_3

Seluruh sekolah gempar karena kasus tegar yang tragis, semua guru sekolah panik, membuat keputusan untuk pulang lebih awal. nampak seperti keberuntungan dengan musibah. Banyak yang bergegas pergi kerumah sakit menjenguk Tegar, namun banyak juga yang tak peduli. karena tak mengenal siapa itu tegar.


Artara yang tak mau ambil pusing memikirkan Tegar, Bahkan harus repot repot jauh pergi kerumah sakit untuk menjenguk orang yang mungkin tak senang dengan keberadaan nya, membuat nya. Memilih untuk menepati janjinya terhadap sahabat hantunya itu Kirana.


Dengan membawa onde onde yang sudah ia bawa dari pasar waktu sekolah, ia berdiri mencari wanita itu di belakang sekolah.


"Kirana? " panggilnya.


"Hai!"


Kirana sudah berdiri di belakang nya, nampaknya ia benar-benar menunggu Artara datang lebih awal.


Dengan rambut nya yang berterbangan sangat cantik, serta baunya yang sangat wangi,bibirnya tersenyum manis menatap nya, entah lah, wajahnya terlihat sangat bahagia dari pada sebelum sebelum nya.


"Mana onde onde nya? bawa kan? " Belum sempat Antara berkata, Kirana tiba-tiba memotong pembicaraan nya, sembari menagih janjinya.


Antara hanya meng geleng-geleng, jadi karena ini Kirana terlihat sangat sebahagia itu.


"Bawa dong! " jelas Artara.


Entahlah, hal apa yang membuat Kirana begitu senang saat Artara membawakan onde onde itu, karena selepas Artara memberikan jajan itu, Kirana langsung memakannya.


Artara berjalan duduk di tepi pohon, melihat Kirana yanga masih asik memakan onde onde itu sambil berdiri. Sampai Kirana pun ikut duduk di samping Artara.


Artara tiba-tiba tertawa, karena saat ia melirik wajah Kirana yang cemat cemot bekas onde onde. Kirana tersadar dan langsung membersihkan nya.


"Enak onde onde nya? " tanya Artara sembari memulai percakapan.


"Yah, sudah puluhan tahun gak makan, Terimakasih ya! " balas Kirana.


"Lu sebenarnya siapa sih? kenapa kamu ada disini? "


Pertanyaan itu seperti membuat Kirana sedih, karena teringat dengan masa lalunya.


"Penggang tanganku sekarang! "


*******

__ADS_1


"Tolonggggg!!!! "


Kirana berlari mencari pertolongan, dengan pakaian nya yang masih menggunakan seragam di belakang sekolah, kakinya sudah berdarah karena tusukan pisau dari seseorang.


Sialnya ia hanya bisa berteriak, tanpa ada satu pun orang yang bisa menolongnya. Karena waktu yang sudah malam


"Mau kemana kamu? Menyerah lah! "


Kirana terdiam, melihat sumber suara itu di belakang tubuhnya.


"Aku mohon, biarkan aku pergi! " Kirana menangis, karena ia tak tau harus berbuat apa, kakinya semakin membengkak, nyaris kehabisan darah.


Siswa nakal itu mulai mendekat, sambil memegang pisau di tangannya. perlahan mendekat dan menjambak rambut Kirana keras keras.


"Dengar wanita berengsek, sudah aku saran kan, jadilah pacarku, tapi kamu menolak. jangan buat aku menjadi benci kepadamu! "


Kirana tak hanya diam, ia langsung melepas tangan dion dari rambutnya. berdiri tegak di hadapan nya.


"Kamu gak punya harga diri ya? kalo aku gak suka, jangan maksa!"


"Plak."


"Kamu gila ya? jangan bunuh aku! " jerit Kirana berusaha melepas cengkraman Dion yang sangat erat di lehernya.


"Aku gak main main Kirana, demi kamu aku akan lakukan apapun demi kamu! tpi jika kamu menolak semua pemberian aku. Aku tak segan segan untuk membunuh mu, aku tak rela kamu di miliki siapapun! "


"Ukhokk!!!! "


Cekikan itu semakin kuat, Kirana tak bisa bernafas sedikitpun, Dion nampaknya serius ingin membunuhnya, membuat Kirana semakin tak berdaya.


*******


Artara tersadar, ia benar-benar melihat kejadian masa lalu Kirana sebelum kematiannya.


"Kamu sudah lihat kan? " Tanya Kirana dengan senyum sedihnya.


"Yah, aku bisa melihat semuanya! " jelas Artara yang mulai kasihan terhadap Kirana di samping nya.

__ADS_1


"Aku mati disini Ar, di belakang sekolah, pas pulang sekolah gua di culik disini. Sampai akhirnya mati! "


"Tes"


Kirana benar-benar menangis air matanya, Artara yang bingung harus berkata apa, Ia hanya bisa memeluknya, dan langsung mengelus elus rambutnya dalam pelukan hangatnya.


"Apapun yang telah terjadi pada kamu, kamu yang sabar ya, aku bakalan ada disini buat kamu! " ujar Artara masih dalam pelukan Kirana.


*****


Rumah sakit rungan tegar sudah sepi, karena sudah larut malam, jam menunjukkan 24:59 WIB. Untuk pertama kalinya, Tegar tersadar. Menyadari wajahnya yang sudah di penuhi perban di semua wajahnya, terkecuali kedua matanya untuk melihat, kakinya juga beberapa di perban, habya tak selarah wajahnya. Ia teringat dengan kejadian sebelumnya di toilet sekolah.


"MA! " panggil Tegar saat melihat disekeliling nya kosong, terlihat di jendela ibu sedang di luar ruangan, berbincang dengan dokter.


Sayangnya ibu tak mendengar ucapannya itu, wajar saja agak tertutup perban sedikit, sehingga suaranha nyaring, bahkan tenaga nya juga lemah, karena belum makan dari siang.


Saat ia melirik di samping tempat tidur di atas meja, ia melihat ada roti sandwich, namun karena tak bisa bangun, ia hanya menjulurkan tangannya untuk mengambil, dan saat sudah di genggaman tangannya, lampu tiba-tiba mati.


Tegar tak mempedulikan lampu itu, dan saat roti itu sudah ada di hadapannya.


"Gyaaaaaa!!!! " teriak Tegar, karena roti itu berubah menjadi tangan manusia.


Dan saat ia melihat di hadapan nya, di atas atap, ada perempuan menghadap nya, dengan posisi kirim menghadap nya.


"Ku antar kau ke nerakaaaa..... "


Perban itu secepat kilat langsung membungkam mulut Tegar agar tak bisa berteriak, ibunya masih di luar ruangan, masih berbincang dengan dokter, sehingga tak bisa mendengar Tegar.


Tegar berusaha untuk berteriak sebisa mungkin, meski tak sedikitpun terdengar di telinga ibunya, sosok itu tiba tiba sudah berdiri di samping tempat tidurnya, dan saat ia amati kembali, wanita menyeramkan itu adalah sosok yang ada di toilet sekolah. Tegar tak bisa berbuat apapun kecuali menggerakan tangannya kesana kemari, sedangkan kakinya tak bisa jalan, sampai ia terjatuh dari ranjang, berusaha melarikan diri.


Ia pun mengesot di lantai berusaha untuk melarikan diri, meskipun masih merasakan nyeri di wajah dan kaki.


Namun bukannya semakin menjauh dari sosok itu, justru semakin dekat, karena ia justru semakin mendekat dengan sosok itu. Perban itu semakin melebar, menarik narik tubuh Tegar agar semakin dekat dengan sosok itu.


"Gyaaaaa............!!!! " Teriak Tegar.


Perban itu seketika langsung mencekik erat erat tubuh Tegar sampai tak bisa bernafas, hingga tali itu di lempar kan di sebuah kipas besar yang masih menyala berputar putar sangat kencang, seketika tubuhnya langsung terangkat dan berputar seperti kipas.

__ADS_1


"ukhokkkkk!!! "


__ADS_2