My story indigo

My story indigo
mencari wanita itu


__ADS_3

"Kringgggggg.. kringgggggg" (bel berbunyi)


semua siswa berlarian masuk ke dalam kelas, buru buru duduk di bangkunya masing masing, karna takut di marahi guru.


Suara langkah sepatu terdengar jelas, ibu guru masuk ke dalam kelas melihat dengan teliti semua muridnya sudah duduk rapi.


"Selamat pagi anak anak! " ujar ibu guru


"Pagi bu guru! " jawab semua murid


"Baik, tanpa lama lama, sekarang keluarin buku PR kalian! "


"Baik bu! " jawab semua murid selain artara.


Mampus gua batin artara, ia lupa jika ada PR di hari kemarin, saling teringat dengan kejadian semalam dengan para gangster, ia sampai lupa mengerjakan PR.


Tiba tiba ibu guru mendekatinya, dengan tatapan yang tegas dan membuat nya gugup. selain itu, semua murid juga melihat artara yang terlihat gugup


"Artara! " panggil ibu guru


"Iyah bu? " jawab artara


"Bisa tunjukan PR nya? "


"glek." artara menelan ludah.


Ia pasrah, dan langsung mengambil bukunya di dalam tas, selembar demi selembar ia buka. menunjukan tulisan PR nya.


"Mana sini saya lihat? " ujar ibu gurunya


tanpa melihat catatan, artara menyerahkan bukunya, ia tau. pasti ibu gurunya akan marah besar.


"Wah, bagus sekali! " ujar ibu guru


Artara sedikit kaget mendengar nya, dan saat menatap wajah gurunya, terlihat tersenyum dan tak marah sedikit pun.


"Wah, ternyata kamu cukup pintar ya, bisa mengerjakan PR ini dengan baik dan sempurna, padahal banyak loh, yang tidak begitu mengerti tentang rumus ini! "


Artara melongo, dan saat ibu guru membalikan bukunya, ternyata sudah di isi, hanya saja memang bukan tulisan nya.


"Bagus Artara, kamu sudah memiliki perubahan yang baik! " puji ibu guru


Semua seisi kelas juga sedikit bingung, tak seperti biasanya, selalu di marahi. namun kali ini di beri pujian.


Artara melirik melihat jendela, ada sesosok wanita cantik berseragam sekolah, sedang tersenyum melihat nya, mungkin dia yang telah membantu nya, baju seragam nya juga terlihat kuno. mungkin memang arwah sekolah ini yang sudah ber puluhan taun.


"Baik Artara, karna kamu sudah mengerjakan PR dengan benar, sekarang kamu maju ke depan, dan jelaskan semua yang kamu tau di papan tulis! "


Artara kembali di buat kaget dengan perkataan gurunya itu, namun ia hanya bsa parah dan menjelaskan rumus yang ia tau, meskipun masih banyak yak yang lebih Pintar dari nya.


Setelah menjelaskan PR-nya di depan, Artara kembali duduk. Tiba-tiba Gilang membisikkan.


"Nyontek ke siapa lo?" bising Gilang.


"Enak aja nyontek! kerjain sendiri lah!" jawab Artara berbohong. Karena percuma ia jujur, pasti akan di tertawakan.


"Halah bohong!" sandi tiba-tiba ikut berbicara.


"Terserah kalian berdua deh!" jawab Artara, anti ribet buang-buang waktu

__ADS_1


Artara kembali melirik  ke jendela, mencari wanita misterius itu. Namun sudah tidak ada.


"Kamu sedang mencari siapa, Artara?" tanya ibu guru, yang ternyata ada di sampingnya.


"Oh, gak bu?! saya mau izin ke toilet, boleh??" tanya Artara gugup.


"Ohhh, silakan kan. hanya 10 menit ya?"


"Baik!" jawab Artara


Artara langsung berdiri, berjalan keluar kelas menuju WC. sebenarnya bukan WC tujuannya, ia hanya ingin mencari arwah wanita itu.


"Perasaan tadi ada di depan jendela, kenapa udah gak ada ya?" pikirnya.


karna takut di curigai guru-guru yang lain. Artara memilih masuk ke dalam toilet, terduduk menunggu waktu sekitar 5 menit, bermain handphone. 


****


"kringgggggg....."


Artara berdiri, dan berjalan mengikuti barisan Anto, Andi dan Gilang. Mereka berjalan masuk ke dalam kantin, memesan bakso dan minuman, kemudian duduk bersama di bangku yang kosong.


"Woy,kalian ngapain duduk di sini?! pergi kalian, gua mau duduk!" ujar Bagas.


Baru saja mereka terduduk dan hendak makan, Bagas dan beberapa temannya datang mengusir mereka.


"Udah sana pergi, kok malah bengong?!" ujar Tegar, teman Bagas yang lain.


"Apa perlu pakai kekerasan biar nurut!" ancam Bagas.


Artara hanya bisa bernafas berat, tak mampu melawan. Mereka hanya bisa pasrah seperti temannya yang lain, membawa makanannya untuk segera pindah ke tempat lain


"Pengin banget gua hajar tuh Bagas!" ujar Sandi di tempat duduknya yang baru.


"Ini bukan masalah geng. Makin lama, seenaknya sendiri tahu!" balas Sandi.


"Sudah-sudah, yang penting kita gak di apa-apain!" ujar Artara.


"Lu kenapa sih, dari tadi kaya melamun terus, mikirin apa?" tanya Gilang penasaran setelah beberapa menit suasana menjadi sunyi.


"Enggak, cuman lagi gak fit aja hari ini! " jawab Artara.


"Gua salut sih sama lo, gua aja yang benar cuma 7 soal, kamu bisa benar semua!" ujar Anto.


"Iya benar tuh, anak yang rangking satu aja di kelas, gak benar semua. Belajar ke siapa sih?" tanya Sandi sambil memakan bakso.


"Emang lagi beruntung aja, jangan lebay gitu ah, biasa aja!"


Artara seketika terdiam. Ia melihat sesosok perempuan itu lagi, sedang berdiri sendiri dari kejauhan. Bibirnya tersenyum sangat manis menatapnya dari jauh, rambutnya pendek dan berkulit putih.


"Lagi liatin apa sih, Tar?" tanya Sandi.


"Hah, gak liat apa-apa kok!" jawab Artara.


Saat Artara kembali melihat tempat yang ada wanita itu, ternyata sudah menghilang entah di mana.


"Gua udah kenal sama kamu?! setahun lebih, kamu kenapa sih ?! selalu bertingkah aneh?" tanya Anto.


"Bukannya aneh, kamu aja yang gak bisa ngerasain kaya aku! " jawab Artara.

__ADS_1


"Emang kamu ngerasain apa sih?" tanya Bagas.


Artara tak menjawab, ia memilih mengaduk kuah bakso dengan saus. 


****


Artara berjalan mengelilingi sekolah, mencari wanita misterius itu. Namun sama sekali tak bisa di temukan. Kebanyakan hanya sosok orang dewasa dan anak-anak kecil yang berlarian di sekeliling sekolah.


Namun saat ia berjalan ke belakang sekolah, ia melihat seorang wanita yang mirip sekali dengan yang ia cari, dengan gaya rambut dan seragam yang berbeda sendiri. Perlahan ia mendekatinya.


"Kringgggggg...... "


Sial, bel masuk tiba-tiba berbunyi, ia tak jadi mendekati wanita itu. Ia memilih kembali masuk ke dalam kelas.


Namun baru saja ia masuk ke dalam kelas, mendadak ibu guru memanggilnya.


"Artara!"


"Iya bu, ada apa?" tanya Artara.


"Setelah pulang sekolah, kamu masuk ke kantor saya!" jawab ibu guru.


"Baik!"


Artara sudah paham betul, apa yang ibu guru katakan, terlalu sering di panggil, karna kasus yang sama di sekolah. 


******


Jantung Artara sedikit bergetar, keringat bercucuran. Ia berjalan masuk ke dalam Kantor, ibu guru sudah duduk di depan meja, menunggunya.


Namun kali ini, ada hal yang lebih mengejutkan. Ibunya sendiri sudah duduk di samping ibu gurunya.


"Mama kenapa ada di sini?" tanya Artara.


"Duduk sayang!" perintah ibunya.


"Begini, Artara. Selama kamu sekolah di sini, banyak sekali kasus yang terjadi, terutama hal-hal yang aneh, bahkan pembunuhan. Saya bukan menuduh kamu Artara. Hanya saja, kasus baru-baru ini, ada saksi yang mengatakan jika sebelumnya mereka dekat dengan kamu sebelum kejadian, benarkah begitu?" tanya ibu guru.


Artara bergetar, berpikir untuk menjawab.


"Yah memang saya sebelumnya dekat dengan saya, bahkan saya di pukuli. Namun saya tidak tahu, mengenai pembunuhan itu!" jawab Artara.


"Kamu dipukuli sama mereka, kenapa gak cerita ke mama, kamu gak papa?" Ibu Artara langsung terkejut dan khawatir.


"Percuma aku cerita semua ke mama, gak akan percaya!" jawab Artara


"Kenapa mereka memukuli kamu, Artara?" selidik ibu guru.


"Mereka hanya ingin merebut kalung pemberian almarhum kakek saya. Tapi beruntung. kalungnya masih aman!"


Ibu guru tersenyum, Ia sudah tak tahu bertanya apa lagi, karna selama kasus yang berhubungan dengan Artara semua tidak berujung dengan tuntas. Bahkan kepolisian pun tak tahu pasti pelakunya.


"Mohon maaf ibu guru, untuk kasus ini. apakah sudah di temukan pelakunya?" tanya ibu Artara penasaran.


"Untuk saat ini, belum ibu. polisi belum bisa menemukan bukti apa pun, memang ada banyak sekali kejanggalan di sini. Saat di selidiki, ada sebagian sidik jari anak ibu, Artara. Namun polisi sudah menjamin, bukan anak ibu pelakunya!"


Ibu Artara sedikit bernafas lega mendengarnya.


"Oke, terima kasih, untuk informasinya!" ujar ibu Artara.

__ADS_1


"Baik, untuk Artara kamu sudah boleh pulang dengan ibu kamu!"


"Terima kasih bu guru! "


__ADS_2