
"Kring..... " (suara alarm)
Artara terbangun, jam masih Setengah 6 pagi, ia sengaja terbangun lebih pagi, karena ingin menjemput Erna di rumah.
"Tumben bangun pagi? " sapa ibu, melihat putranya datang dengan pakaian seragam yang sangat rapi.
Artara terdiam, langsung duduk mengambil selembar roti di atas meja makan.
"Maaf yah, makanannya belum mateng, kukira kamu belum bangun! " jelas Ibu sambil memotong bawang.
"Dak papa mah! " bakas Artara tak peduli, ia hanya fokus mengoles rotinya dengan selai.
Roti sudah siap, Artara langsung memakannya, sambil menyalakan hpnya. Ternyata Erna sudah mengirim pesan.
" Artara sudah bangun? " tanya Erna dalam pesan itu.
"Yah, gimana? " balas Artara dalam chat.
"Jemput aku jadi kan? " balas balik Erna dalam pesan
"Emang kamu sudah siap? " tanya balik Artara
"Tentu, aku sedang menunggu! '' jelas Erna dalam. pesan
Artara bergegas memakan lahap rotinya sampai habis, langsung bergegas cepat keluar untuk menjemput Erna.
"Mah, aku pamit ya! " jelas Artara berlari masuk. ke garasi motor.
__ADS_1
"Iyah Hati hati, jangan ngebut! "
*****
Erna berdiri di pinggir jalan, berdiri sambil melirik jalan, berharap Artara sudah sampai. Namun di beberapa saat, Hp nya bergetar, ada seseorang mengirim pesan, dan yang benar saja, saat ia melihat notifikasi, adalah Esa. Hal itu membuatnya malas, ia tak langsung membalas, hanya melihat notifnya saja, tampa tau isinya.
Artara yang ia tunggu akhirnya terlihat dari kejauhan, sampai akhirnya berhenti di hadapannya.
"Kok lama sih? " tanya Erna.
"Ah masa sih! perasaan mu aja kali! " jelas artara
Mungkin Artara ada benarnya, Erna saja yang tak sabaran, saking inginnya di bonceng.
Erna langsung duduk, di belakang Artara
Serasa pertunjukan di atas panggung, semasuk nya ke dalam sekolah, semua siswa dan siswi melirik. Mereka jadi omongan habis habisan, bahkan tak segan segan ada yang memotret mereka, untuk bahan gosip di group mereka.
Erna yang sudah tak asing dengan kejadian ini, tak membuatnya terganggu, karena selama dengan Esa dlu, ia juga merasakan hal yang sama.
Berbeda dengan Artara, ia tak hentinya berfikir an negatif, ia tak suka menjadi sorotan semua orang, yah walaupun dulunya juga sudah jadi sorotan karena terpandang jelek, sebagai julukan pembawa sial.
"Jadi mereka sekarang udah pacaran ya? " ucap siswi yang ingin mengincar Artara.
"Wah, kayanya lu harus nyerah dari sekarang deh! " ujar siswi yang lain.
"Loh kenapa emang? "
__ADS_1
"Lo udah pasti kalah saing sama dia, jadi gak usah ngarepin dia, gua yakin kok, Artara juga gak mau sama lu! "
"Ough, lu pikir, gua takut? Erna tuh cuman cantik luar nya aja, dalamnya busuk! " jelas nya tak terima.
Saran temannya itu malah bikin siswi itu panas, ia langsung berjalan dengan hebatnya mendekati Erna dan Artara.
Erna dan Artara yang baru saja berdiri melepaskan helem, tiba-tiba di datangi seorang siswi dengan tatapan marah ke Erna.
"Hey Erna! lu itu, udah sama Esa, jadi gak usah deketin Artara! " jelas siswi itu.
"Idih, lu siapa nyuruh nyuruh gua, lu pikir gue emak lo? ogah! " Bantah Erna tak mau kalah.
"Lo itu, hanya modal tampang doang! dalamnya busuk! " jelas Siswi itu makin membludak.
"Maksudnya apa nih? berani lu ama gua! " Erna semakin memanas, ia perlahan mendekat, dengan tatapan yang hendak saling pukul.
Artara tak mau diam, ia langsung menghalang mereka agar tidak bertengkar.
"Udah udah, jangan berantem, plisee. Ini masih pagi, jangan bikin masalah! " jelas Artara.
Mereka berdua terdiam dan nurut, sampai akhirnya Siswi itu mendekati Artara, dengan tatapan yang sangat lembut beda dengan tatapannya ke Erna.
"Hey Artara, gua nagita, kelas 12 c, salam kenal! " jelas Nagita, sambil kebaikan tangan nya untuk salaman.
"Gua Artara, kelas 12 A! " jelas nya sambil bersalaman.
Erna tak suka dengan pandangan itu, ia langsung melepas salam itu.
__ADS_1
"Udah udah udah, yuk Ar Kita masuk ke kelas! "