
"GYAAAAA......!!!! " Teriak Esa
Ia tak bisa hanya diam dan tenaga saja menahannya, tangan yang ia gunakan untuk menutup telinga, tak ada gunanya. Suara itu semakin bergetar hebat.
Darah segar mengalir keluar dari telinganya, Esa yang tak tahu kenapa bisa terjadi, hanya bisa berteriak kocar kacir kesakitan.
Semua panik, sampai beberapa berlarian mencari bantuan guru atau orang dewasa yang terlihat di sekeliling mereka.
Artara mulai kasihan melihat nya, Ia tau. pasti rasanya sangat sangit, Sampai akhirnya Artara memejamkan kedua matanya, berusaha untuk berkomunikasi dengan Kirana yang sedang marah, mencabik cabik lubang telinga.
"Kirana! Hentikan yang kamu lakukan itu ! Aku tau, kamu membela ku, tapi bukan ini yang aku inginkan Kirana, kumohon stop Kirana! "
Kirana mendengar ucapan Artara itu dengan jelas, Ucapan Itu membuat Kirana sadar, jika apa yang ia lakukan itu, sama sekali tidak membuat Artara senang.
Esa bisa bernapas lega, rasa sakitnya itu seketika menghilang, hanya saja masih terasa sedikit denyutan dan perih di sekujur lubang telinga. Ia pun tersadar, jika bajunya sudah teroles darah dimana mana.
"BRUK" Esa terjatuh dan pingsan.
Nampaknya ia kekurangan darah, sampai akhirnya terkapar tak berdaya.
*****
Ambulans datang ke sekolah, untuk kedua kalinya dalam sejarah. Kedatangan nya cukup memakan waktu yang cukup lama, karena terkendala jalanan yang macet.
Artara yang sedikit khawatir dengan keadaan nya, ia tak ingin sampai Esa mati.
"Lu kenapa si? " tanya Erna, setelah melihat Artara yang sedikit gelisah.
__ADS_1
"Esa! lu gak khawatir sama keadaan dia? " jelas Artara.
"Kamu baik banget si? dia udah jahat sama lo, dan sekarang lu malah khawatir? "
"Maaf Erna! sejahat jahatnya dia, gua yakin, Esa gak mungkin mau bunuh gua! "
Erna terdiam, ia sudah tak peduli lagi. Sedikit puas, melihat Esa terkapar tak berdaya.
Esa langsung dimasukan ke dalam mobil ambulans, namun firasat buruk mulai Artara rasakan, ia merasa. Jika Esa benar-benar membutuhkan nya, saat sudah ada di rumah sakit.
"Gua harus ikut Esa ke rumah sakit! " jelas Artara, langsung berjalan mendekati mobil.
Erna yang terkejut dengan pernyataan Artara, langsung bergegas lari mengejarnya.
"Gua ikut Artara! "
"Lu ngapain? " tanya Erna, setelah berhasil mendekati mobil ambulans bersama Artara.
"Kita harus ikut ke mobil sekarang! "
********
Sesampainya di rumah sakit, semua dokter dan perawat berdatangan, membawa Esa ke dalam ruang IGD.
Artara yang dilarang masuk bersama Erna, hanya bisa berdiri. Disusul beberapa guru dan dan orang tua Esa yang datang berlarian.
"Dimana Esa sekarang? " tanya ibu Esa yang terlihat panik.
__ADS_1
"Sekarang udah ada di ruang IGD tante! " jelas Erna.
*****
Waktu yang cukup lama menunggu hasil pemeriksaan dokter di ruang IGD. Pintu tiba-tiba terbuka, ada dokter yang keluar dari dalam, menghapiri ibu Esa yang sedang berdiri di dekatnya.
"Gimana dokter! anak saya gimana? " tanya Ibu Esa khawatir.
"Tenaga saja, kami sudah periksa, hanya akan kami operasi saja, dan satu hal lagi. Anak ibu butuh sekali donor darah, karena anak ibu kehabisan darah! " jelas dokter.
"Ougj tentu dok, apa. perlu saya donorkan darah saya sekat? " tanya lagi ibu Esa.
"Itu yang jadi masalah, darah yang kami cari adalah, golongan O, itu yang sangat susah, dan stik di rumah sakit kebetulan habis. Dan mohon maaf, apa golongan darah ibu? "
"O, dokter! " jawab ibu dengan cepat.
"Apakah ibu memiliki riwayat darah tinggi atau rendah? " tanya kembali dokter.
"Saya punya riwayat darah Rendah dok! "
"Mohon maaf ibu, itu terlalu beresiko, kami tidak mengizinkan ibu! " jelas dokter tak tega.
"Saya tidak peduli dokter, matipun saya rela untuk anak saya! " jelas ibu Esa, sampai meneteskan air matanya.
Dokter hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.
"Dokter, saya golongan darah O! "
__ADS_1