
"Kring........ " (suara bel istirahat)
Tegar masih terdiam, duduk di kantin. Dengan pikiran yang kosong, melamun
Wajahnya nampak pucat, persis seperti orang sakit, sampai teman mereka menyadarkan Tegar yang mengkhawatirkan.
"Lu kenapa Gar, cerita dong ke kita? " tanya ijal.
"Iya, kenapa bro? wajah lu pucat tuh! " tanya Safril.
Tegar masih melamun, sampai tegar mendengar seperti bisikan menyeramkan ia dengar di telinganya.
"Ku an.. tar kau ke neraka! " bisik itu membuat Tegar ketakutan sampai berteriak tak jelas
"GYAAAAA pergiii kauuuu!!!! "
"Lu kenapa gar!!" Tanya safril ikut panik.
"Aku kayak nya lebih lihat setan deh! " Jelas Tegar kebingungan
"Jangan ngaco deh lo! " Jelas ijal
Tegar mulai berfikir jernih, mungkin saja itu hanya halusinasinya saja yang berlebihan. ia pun memilih untuk berjalan pergi menuju toilet. Berdiri di hadapan cermin, menatap wajahnya yang memang nampak pucat.
Air Tegar nyalakan, mencuci kedua tangan nya sampai bersih, sampai perlahan ia membasuh wajahnya dengan air, harapan nya agar lebih terasa segar lagi. Namun perasaan aneh kian terjadi, karena saat menatap cermin, ia melihat tulisan di cermin. Tulisan itu tertulis dari embun embun di kaca
"Ku antar kau ke neraka! "
Tegar masih bersikap tenang, mungkin saja ia salah memandang saja, karena matanya masih basah karena air. Tpi saat ia mengelap wajahnya dengan tisu.
"MATIIIIIIII!!!!!!!! "
Sesosok wanita menyeramkan berseragam sekolah, tiba tiba muncul persis di hadapan nya. Matanya merah, rambutnya pendek, namun penuh dengan darah ber tetesan di mana mana.
"Gyaaaa..! "
Suara teriakan itu mengundang teman tegar yang masih menunggu di luar toilet, sampai mereka buru buru masuk.
__ADS_1
"Lu kenapa sih? Hah? " Tanya Safril.
Tegar bisa bernafas lega, hantu itu sudah tak ada lagi, terlebih ada temannya yang mendekat.
"Woy, ditanya kenapa malah diam aja? " Tanya Safril
Tegar masih terdiam, karena lagi lagi, ia merasakan ada yang aneh kembali di hadapan cermin, sampai perlahan ia kembali melirik menghadap cermin.
Sosok itu kembali muncul persis di belakang tubuhnya, kini sosok itu nampak tersenyum menatap nya di hadapan cermin, sambil menjambak rambut nya.
"Safrilll tolong guaaa!!!!!! " teriak Tegar sekuat kuatnya di hadapan mereka.
Tubuhnya tiba tiba bergerak sendiri, persis di hadapan cermin hantu itu menggerakkan nya, heran nya teman Tegar tak satupun bisa melihat nya. Mereka malah kebingungan sendiri, karena tegar meminta tolong tak jelas.
Entah apa yang akan hantu itu perbuat, tegar sudah berhadapan persis di hadapan cermin, dengan wajahnya yang sudah bersentuhan dengan kaca.
"Ceter........ "
"Gyaaaaa...........!!!!! " Jeritan Tegar.
Jambakan itu semakin keras, yang ternyata menghantam wajah tegar sampai membenrur kaca dengan keras sampai pecah.
"Tolong woyyy tolong! " Jerit satu teman yah lain keluar mencari bantuan.
"Ceter... Ceter... Ceter.... "
"Gyaaaa......!!! " Teriak untuk yang kesekian kalinya menahan rasa sakit.
Tegar tak mampu berbuat apapun, kecuali membenturkan wajahnya sendiri di hadapan cermin, mulutnya seperti di perban tak bisa berkata apapun.
Wajahnya remuk bertancap kaca dimana mana, darah segar menetes dimana mana, membuat seluruh ruangan basah dengan darah kental.
Sampai Ia tak mampu lagi menahan rasa yang teramat sakit itu. , perlahan pemandangan nya buram, rasanya ia akan mati.
******
"lu tadi keren Ar, bisa cekik Tegar kaya nyekik ayam lu! " canda Anto sambil mengunyah kentang goreng di kantin.
__ADS_1
"Emang awal kejadian nya gimana si?" tanya Gilang.
"Jadi awalnya itu, Tegar dateng marah marah gak jelas, gara gara Bagas di keluarin dari sekolah, terus..! "
"Uwiw uwiw... "
Belum selesai Anto menceritakan kejadian sebelumnya, tiba tiba terdengar ada suara ambuland datang ke sekolah, membuat seisi seolah heran dan bingung.
"Loh kok ada ambuland? "
Mereka memilih berlari mendekat, karena penasaran, brankar pun di keluarkan dari dalam mobil, berjalan cepat menuju kamar mandi sekolah, ternyata memang sudah banyak siswa berkumpul disana.
"Tegar! " ucap Artara.
Setelah sekian laman menunggu, ternyata ada Tegar yang ternyata pingsan di dalam toilet, dengan wajahnya yang tercecer darah.
Perlahan perawat mengangkat tubuh Tegar ke atas brankar, untuk langsung mengantar nya ke rumah sakit.
Artara mulai berfikir aneh, apakah ini ada hubungannya dengan nya, karena selama ada yang mengganggu nya pasti akan mengalami hal tragis seperti ini.
Perlahan Artara pergi meninggalkan gerombolan siswa yang ada di sekitar toilet,termasuk Gilang Anto dan sandi. Artara berjalan masuk ke dalam kelas, yang ternyata kosong.
Dengan pintu yang sudah terkunci, ia langsung menyentuh kaling yang ia pakai, dengan lembut ia pun memanggik kuntilanak itu.
"Ada apa Artara? " pertanyaan itu tiba tiba terdengar persis di depan tubuhnya, sampai akhirnya sosok itu terlihat jelas di matanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap temenku tegar! " tanya Artara dengan nada yang sedikit emosi.
"Tunggu, apa yang kamu katakan, saya tidak mengerti! " tanya kuntilanak itu masih bingung.
"Kamu yang sudah bikin teman aku celaka kan? " tanya Artara kembali
"Artara, saya benar benar tidak tau! selama ini saya hanya berdiam diri di dalam kaling mu itu, tak kemana-mana! " jelas kuntilanak itu.
Artara kembali di buat bingung, kuntilanak itu tidak mungkin berbohong, karena dia sangat setia dengan nya, mau bagaimana pun. kuntilanak itu sebenarnya hantu yang baik.
"Baik, kamu boleh pergi lagi! " suruh Artara.
__ADS_1
Artara bisa sedikit lega, jika bukan kuntilanak lah pelakunya, setidaknya mungkin Tegar sendiri lah yang ceroboh, karena lukanya itu. Namun sempat ja berfikir, apakah ini ulah Kirana.
"Astaga, mana mungkin Kirana berbuat hal sekejam ini! "