My story indigo

My story indigo
Membeli lato-lato


__ADS_3

"Papa ayo sini sarapan, makanannya udah siap!" panggil ibu setelah selesai menggoreng ikan


"loh, anak anak dimana?" tanya ayah, setelah masuk kedalam ruang makan selesai mandi


"Salsa, saya suruh kerumah nenek, untuk menjemput Adiknya!" jawab ibu sambil mengambil nasi untuk ayah


"Ough Tumben Artara menginap di rumah nenek, apa sedang ada masalah?"


"Yah, kan aku sering bilang,semenjak sekolah di SMA, Artara berubah drastis disekolah, prestasi nol, kasus beredar ada dimana mana?" jawab ibu menyerah kan sepiring makanan yang sudah di siapkan


Ayah menerima piring, sambil meminun air susu yang sudah disiapkan.


"Artara kena kasus lagi?" ujar ayah sambil mengambil sendok.


"Barusan, ada kasus pembunuhan di depan sekolahnya, dan yang paling bikin mama kesel, Artara di pukuli. Tapi gak cerita sama mama!"


"Dipukulin?" tanya ayah sedikit cemas


"Yah, tapi aneh yah, kok gak ada luka atau lecet sedikitpin di wajahnya!"


"Mah, ada saatnya Artara dewasa, aku yakin. Artara bisa menghadapi semuanya, liat dong papanya, gagah begini. mana mungkin anaknya gak bisa jaga diri!"


"Kalo papa si udah percaya, udah beberapa kali juara tinju, tapi kalo Artara, jalankan tinju, mama suruh angkat angkat galon aja kesusahan!"


******


Baru beberapa menit berdamai dengan kakanya karna berdebat, tiba-tiba muncul orang baru yang lebih membuat nya pusing


"Woy, denger gak sih?" Candra memanggil manggil untuk sebelas kalinya dengan keras di jendela.


Meskipun sudah mendengar dan tau ada Candra dan Guntur di luar. Ia diam dan cuek seperti manusia normal yang tidak bisa melihat hantu.


"Tumben, kuenya makan nya sedikit,udah bosen makan?" ujar salsa sambil menatap adiknya serius.


"lagi diet!" jelas Artara


Salsa terdiam,ia merasa adiknya menyinggung nya, memang benar,salsa terlihat sedikit gemuk, ditambah hari harinya yang penuh dengan makan dan minum.


Artara perlahan berdiri meninggal kan kakanya mendekati teman hantunya di luar, sedangkan salsa berhenti makan, bukan karna tak selera atau sudah kenyang, ia hanya ingin mengatur jadwal dietnya hari ini.


"Yah, ngapain panggil panggil segala?" bisik Artara.


"Main yukk!!!" ajak Guntur sambil tersenyum memohon


"Gila loh ya,gak tau jadi manusia yah?! gua baru bangun tidur, belum mandi, kalian ajak main!"


"kamu kok gitu,kaya gak biasanya aja!" jelas Candra.


"Itukan dulu, pas masih bocil!"


"Ya udah cepet mandi, yuk main!" mohon Guntur


"Emang kalian mau kemana?" tanya Artara


"Toko mainan!" bisik Guntur


Artara melotot kaget "Gua heran ma kalian, umur kalian lebih tua dari saya, sekarang nyuruh aku ke toko mainan?! kalian ini setan kesurupan bocil atau gimana??"


"Artara!" panggil Nenek di ruang makan


"Iya nek bentar!"


Artara memilih untuk pergi meninggalkan teman hantunya, dari pada meladeninya.

__ADS_1


Namun satu langkah setelah masuk kembali ke dalam rumah tiba-tiba Guntur menyegah nya dari depan. Karna tak ingin di anggap aneh terlihat bicara sendiri oleh kakaknya. ia memilih kembali keluar dari dalam rumah.


"Nenek sebentar ya nek!!" jelas Artara


Artara sedikit emosi, menatap 2 sahabat nya itu.


"Aku mohon saya kamu Artara, anter kita ke toko mainan!" minta Guntur


"Kalian kenapa sih, Tiba-tiba begini. aku kesini karna ada masalah sama mama aku. biar pikiran adem. bukan pusing begini!!" jelas Artara.


Guntur menunjuk nunjuk jarinya dibelakang tubuhnya, di belakang pohon.


Artara masih bingung dengan ucapannya nya.


"Itu, di belakang pohon!" jelas Candra, tanpa sedikit takut.


Dan saat ia lihat dengan teliti, sambil berjalan mendekat, ternyata ada


"paham sekarang?" tanya Candra


"glek!" Artara melotot menelan ludah sedalam dalamnya.


"Itu sebabnya aku nyuruh kamu untuk pergi ke toko mainan!" bising Guntur.


"Gue pikir semalam dia udah pergi, dia ngintil lagi?" tanya Artara.


"keknya dia tertarik sama lu! " jelas Candra.


Karna Artara masih sedikit penasaran, ia kembali sedikit mendekati pohon itu. dan ternyata tak hanya ada anak kecil itu. melainkan ada wewe gombel yang sedang bergelantungan du atas pohon. matanya merah melotot memperhatikan nya.


Artara sedikit gemeteran tak mampu berkata kata, heran. padahal ia sudah punya jimat yang berisi kuntilanak di kalung nya. justru jauh lebih menyeramkan dari pada wewe yang ia lihat pagi itu.


"hufff...." Artara menarik nafas panjang


"mainan apa?!!!"


"LATO LATO!" balas Guntur.


Anak wewe yang sebelumnya malu malu bersembunyi di balik pohon. setelah mendengar kata lato lato itu. Tiba-tiba saja mendekat.


"Kakak, beliin aku lato lato kak!"


Artara masih terdiam tak bergerak karna sedikit takut. Anak itu mendekat menggoyang goyang kan tangan nya.


"Anak ganteng, beliin anaku lato lato yah?" ujar wewe Gombel itu tiba-tiba.


Artara tak mampu menolak, ia masih merasa sangat takut terhadap nya, ia hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan nya.


"Baik tante!" balas Artara


Ia juga sedikit bingung, harus memanggilnya apa, rasanya tak sopan menyebutnya wewe.


Tanpa pikir panjang, Artara kembali masuk kedala rumah, sebelum ia pergi ke kota. Ia langsung untuk segera mandi.meskipun dengan pakaian seandainya di masa lalu.


"Nek!" panggil Artara sambil mengambil piring.


"Yah ada apa?"


"boleh aku pinjam motor kake sebentar?" jelas Artara, duduk dan mengambil nasi.


"Ough, tentu. mau kemana?" tanya lagi nenek.


"Aku mau ke kota sebentar!" jawab Artara

__ADS_1


"jawabnya sekalian ngapain dong, jangan setengah setengah!"


"aku mau beli lato lato di toko mainan!" jawab Artara malu


"Hah beli lato lato, ahahhaha!" nenek tertawa


"Boleh ya nek!" minta Artara


"hahahaha, iya tentu cucuku, ya udah ayo. makan. nenek ajak kakak mu dulu!"


Nenek berjalan pergi memanggil kaka, sedangkan Artara memilih mengabil lauknya. Ternyata masakan padang kesukaan nya, terlebih rendang satu satunya yang paling utama.


Tak lama, suara rusuh sedikit terasa, kaka nya sudah datang begitu cepat.


"Wah adiku, ganteng banget, habis mandi ya?" ledek kaka baru masuk


"Iyah, dia mau pergi beli lato lato katanya!" nenek ternyata ada di belakang.


"Ough ya, hahahahahaha..." Salsa akhirnya bisa tertawa dengan sangat puas


Artara seperti tak selera makan, Ia hanya berusaha santai seperti tak mendengarkan apa apa.


"Kamu mau pacaran sama ana SD ya?" ledek kaka lagi


"Udah, ayo sarapan. kasian tuh adik kamu, pipinya udah merah!" tak disangka neneknya ikut meledek, namun tak masalah bagi Artara, hanya kakanya saja yang sedikit keterlaluan.


Guntur tiba-tiba muncul di sampingnya, Kini ia merasa terbantu karna ada orang yang tepat.


"kita berangkat jam berapa?" tanya Guntur


"Iya gampang, tapi sebelum itu, tolong kau kerjain kaka aku!" perintah Artara bisik bisik, menghindari kaka dan nenek mendengar nya


"ngerjain gimana?" tanya Guntur


"Kamu tangkep aja cicak disekitar sini, jatuhin tepat di atas kepala, pastiin cicaknya masih hidup ya?" jelas Artara


"Okeh!"


Guntur perlahan mencari di sekitar dapur, Namun sayang tak ada seekor pun cicak disana. Hanya ada tokek yang sedang bersembunyi di belakang lemari


"Gak ada cicak, adanya tokek!" jelas Guntur


Artara tak menjawab, ia hanya mengacungkan jempolnya, seolah olah setuju dengan ucapan Guntur.


Guntur pun langsung menangkap tokek itu diam diam, supaya salsa dan nenek melihat.


Antara hanya tersenyum senyum, Ia tak sabar melihat kakak nya teriak heboh pagi itu.


Sampai akhirnya tokek itu tepat berdiri di atas kepala salsa, beruntung tokek itu tak di ketahui salsa. Sehingga semua berjalan dengan lancar.


"1 2 3!" hitung Guntur


"Plok."


Toke itu benar-benar jatuh di tas kepalanya, namun salsa masih tak sadar, karna terlalu menikmati masakan neneknya.


"kak, itu yang di kepala kaka apa?" tanya Antara seolah olah membuat kakaknya panik.


Salsa masih nampak biasanya mendengar nya.Karna ia juga merasakan ada yang aneh di kepalanya ia pun menyetuhnya. Dan ya g pertama ia rasakan ternyata sedikit kenyal, dan kasar. Terlebih sedikit rasa sakit seperti gigitan sesuatu. Salsa mulai panik, dan saat ia mengambil nya.


"GYAAAAAAA......!!!!!"


Salsa terbirit birit, tangan nya benar benar digigit tokek itu. Ia hanya bisa melemparkan nya, dan langsung memeluk neneknya.

__ADS_1


Artara bisa tertawa puas. bisa membalas kakaknya


__ADS_2