
Kring......
Bel istirahat berbunyi, perut terasa sangat lapar, mengingat uang yang ia bawa tak seberapa, jika tak hemat hemat, akan habis hanya beberapa hari saja.
"Yuk ke kantin! " ajak Sandi
Artara hanya bisa bernafas berat, meratapi nasip. hanya bisa makanan yang murah.
Entah kenapa, dulunya Erna makan bareng di kantin dengan teman teman nya, justru sekarang lebih suka bersama Artara.
"Kok tumben? belinya cuman cemilan! gak pesen soto atau bakso? " tanya Erna.
"Gak dulu deh, udah kenyang! " jelas Artara.
"Kru yukk... "
Ternyata perutnya tak bisa bohong, Ia tak bisa mengelak lagi, karena sudah terbongkar.
"Itu perutnya bunyi! kenapa gak pesen aja! " tanya Erna
"Lagi hemat uang! " jelas Artara.
"Hadeh, sejak kapan Artara hemat uang? " jelas Hilang ikut ikutan
"Berisik lu, gak ada juga yang naya lu! " bantah Erna tak mau diam saja.
__ADS_1
"Hilih, siapa juga yang ngomong sama lu, gua ama Artara noh! " balas Gilang.
Tanpa Erna balas, ia langsung berdiri, berjalan menuju penjual di kantin.
Entah apa yang hendak Erna lakukan, Artara memilih untuk tetap diam yak peduli, ia hanya fokus ngemil sambil bermain hp.
"Nih, gua beliin soto sama es teh ! " ujar Erna.
Selepas pergi, dan datang kembali, ia sudah membawakan semangkuk soto dan segelas es teh. Nampaknya Erna tak tega, melihat Artara yang pura pura lapar, padahal amat sangat lapar.
"Buat gua? " tanya Artara masih bingung
"Iya buat lu, buat siapa lagi? " jelas Erna
"Makasih ya! " ucap Artara.
"Emang kalo pacaran kenapa? mata kalian gatal ya lihat orang pacaran? Iri hah? " bantah Erna
"Idih, gua mah, lebih baik jomblo, bebas! " jelas Gilang.
"Udah, udah jangan berantem, bentar lagi masuk! " jelas Artara.
Erna menurut, langsung melanjutkan makanya, namun di sela sela waktu makan, Erna teringat dengan Esa. Walau ia tau jika dia bukan siapa siapa, tapi ia juga teringat dengan ibunya, karena hubungan mereka sangat baik.
"Ngomong ngomong, keadaan Esa gimana sekarang? " tanya Erna sambil memakan soto.
__ADS_1
"Esa udah sehat kok! semalam aku mampir ke rumah sakit! " jelas Artara, sama sama sambil memakan soto.
"Ough ya? apakah besok sudah boleh pulang? "
"Entah, kok nanya saya! kok kami nanya nanya Esa si? "
"Emang kenapa? kan naya doang , gak boleh gitu? hem, jangan jangan kamu cemburu yah? " tanya Erna tersenyum, sangat manis di hadapan Artara.
Bahkan Artara sampai tak mampu menatap Erna terlalu lama, karena senyuman itu seperti mematikan hatinya.
"Enggak, siapa bilang aku cemburu! buat apa aku cemburu sama kamu! "
"Kan kamu pacar aku! " jelas Erna tak main main, Erna tak main main untuk masalah ini.
"Glek"
Artara menelan ludah, melotot menatap Erna, Jantung nya berdetak sangat kencang, ia ingin sekali berteriak, jika ia ingin menembaknya untuk jadi pacarnya.
Meja tiba-tiba bergetar, sampai piring dan sendok bergetar dan berbunyi.
"Loh loh kok mejanya getar si? " tanya Gialng dan yang lain
Dan saat Erna melihat di bawah meja, ternyata kaki Artara lah yang begetar sendiri, Erna sampai tertawa melihatnya, karena ia mengira jika Artara pasih gerogi.
"Hahaha kamu kenapa si? gerogi ya? " tanya Erna tertawa
__ADS_1
"Ngapain aku gerogi! " bantah Artara.
Erna hanya bisa tersenyum, sambil memakan sotonya, sampai bel tanda masuk berbunyi