
Sedikit menyesal ia mengatakan nya, karena setiap ada masalah ia selalu tutup rapat-rapat memendamnya sendiri.Namun sudahlah, ia sudah melakukannya, berharap mereka akan segera membantunya.
Namun setelah Artara menjelaskan apa yang ingin mereka tau, tiba-tiba mereka justru diam dan hening seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Woy, kok malah pada diem si,ini gak ada rencana buat nolongin gua gitu?!" Ujar Artara sedikit bingung dan kecewa
Tetapi beberapa menit kemudian Sandi tiba-tiba tersenyum. seolah olah ia menemukan sebuah ide yang cemerlang.
"kenapa kamu senyum senyum?" tanya Artara
"Gua ada ide, gimana kalo kita keroyokan bareng bareng lawan geng mereka di belakang sekolah?" jelas sandi
"Wah setuju itu mah,dah lama pengin banget gue remuk remuk mulut nya yang sepedas Lombok setan!" jelas Gilang ikut ikutan
"Yah sepakat kita lawan mereka!" sambung Anto mengiyakan
Artara kembali dibuat bingung dengan 3 teman nya itu,karena yang ia pikir,dia pasti akan bodo amat dengan masalahnya itu.
"Tunggu, kalian beneran mau lawan mereka? mereka ada 5 loh, sedangkan kita cuman 4,dan kalo dipikir pikir,mereka itu lebih jago lah!" justru Artara yang berubah pesimis.
"Terus kita mau ngapain? lapor ke guru? atau ke orang tua biar gak dilawan. Kita laki men.Ini juga kesempatan kita buat buktiin,kita tuh lebih kuat dari mereka!" jelas gilang
__ADS_1
Artara terdiam, mungkin ada benarnya.Sebelumnya mereka selalu ditindas,tak pernah berani melawan.Tapi jika dipikir pikir, ia tak sekuat saat dirasuki oleh Guntur saat melawan Bagas, ia sama sekali tak yakin dengan keputusan ini, dan yang paling ia takutkan adalah, dirasuki kuntilanak yang ada di Kalungnya, Artara tau persis dia seperti apa, jika ada orang yang berani melukainya, Kuntilanaknya tak segan segan untuk membunuh.
"Tunggu tunggu, kayanya cara kedua lebih ampuh deh, soalnya gak beresiko!" mohon Artara karena tak berani melawan
"Ya elah, masa kaya anak kecil,main lapor lapor guru segala, Katanya mau minta tolong sama kita!" bantah sandi
"kring....."
Bel masuk tiba-tiba berbunyi,suara gerombolan kegaduhan sepatu terdengar, semua murid masuk ke dalam kelas, tanpa kecuali Anto, Sandi, Gilang pun bubar dan duduk di bangkunya masing masing.
Perlahan semua siswa kelas pun masuk, tanpa kecuali Bagas.
Sedangkan Bagas sedikit tersenyum melihatnya, ia benar-benar tak sabar menunggu pulang sekolah untuk segera menghabisinya.
Namun bukan malah duduk di bangkunya, ia justru duduk tepat di atas meja Artara, sembari menatap nya.
"Kelihatannya ada yang takut nih lihatin gua?" senyum Bagas
Seisi kelas diam menatap mereka berdua. Tanpa terkecuali Gilang yang sepertinya hendak berkata, namun saat hendak ia lakukan
"Bagas kamu sedang ngapain, duduk di kursi kamu sekarang!" jelas guru
__ADS_1
Bagas sedikit terkejut, karena ternyata Bu guru sudah masuk ke dalam kelas, tumben.Tak seperti biasanya.
"Baik Bu"
Bagas berjalan duduk di bangkunya, namun masih menatap Artara di depannya, Tatapan itu tajam, sedikit tersenyum menyeramkan untuk di lihat
Artara bisa bernafas lega, ia pikir akan terjadi hal yang buruk, beruntung Bu guru masuk lebih cepat.
"Baiklah anak-anak seperti biasa, keluarkan PR kalian sekarang, tukarkan buku kalian di sebelah, karena ibu akan segera cepat-cepat koreksi!"
"Baik Bu!"
Namun saat ia menukar bukunya dengan sebelah, ternyata kosong. Karena temannya bangku nya tak berangkat.
"Artara, karena sebelah kamu ijin tidak berangkat, tukarkan sama Bagas! "
"DEG"
"Baik bu! "
Ingin rasanya berteriak kesal, namun ia hanya bisa pasrah dan berharap, Bagas bisa mengoreksi dengan jujur dan pecus
__ADS_1