
"Esa? " panggil ibunya, langsung menghampiri.
"Siapa itu ma? " tanya esa
"Ini Artara, dia yang udah nolongin kamu! " jelas Ibu tersenyum menghadap
Artara ikut tersenyum menghadap Esa, namun raut wajahnya seperti tak ada senyuman sedikit pun, Artara tak bisa tersenyum lama. Karena lagi lagi, Esa tak suka dengan kehadiran nya.
"Mah, aku mau cerita sama mama! " jelas Esa .
"Apa sayang? cerita sama mama! "
"Aku lihat hantu! " jelas Esa
Ibu tiba tiba terbengong, mendengar pengakuan anaknya itu.
"Hantu? " tanya lagi ibu
Artara sudah menduga semua itu, Esa pasti akan segera membahas masalah ini, terlebih kejadian sebelumnya, pasti sangat lah nyata.
"Yah, Hantu. Sosok itu berambut pendek, mengenakan seragam sekolah jaman dahulu, tubuhnya kurus, paras nya sangat menakutkan. Matanya merah, wajahnya penuh dengan belatung, aromanya pun sangat busuk! " jelas Esa
Ibu terdiam bingung, ia tak tau harus menjawab apa, karena yang ia tau, jika hantu itu tak ada. mana mungkin karena masalah hantu, ia bisa sampai cedera, seperti itu.
__ADS_1
"Okeh, Mama ngerti, kalo kamu mengira ini adalah ulah Hantu, mama akan cari orang pintar untuk kamu! " jelas ibu berbohong, ia hanya tak ingin berdebat dengan anaknya saat keadaan seperti itu.
"Mama percaya kan sama aku? ''
" Iyah mama sangat percaya sama kamu! " jelas ibu langsung mengelus elus rambut Esa.
******
Artara memilih untuk segera pulang ke rumah, sebenarnya ia ingin mengabarkan ibunya, jika ia ada di rumah sakit, namun hpnya ketinggalan di rumah.
"Kemana saja kamu? "
Baru saja selangkah masuk ke dalam rumah, ibu sudah menghadang di dalam rumah, menatap nya serius dan marah
"Kamu gak lihat jam? udah jam 1 pagi baru pulang? pikirin masa depan kamu! kamu pikir kamu bakalan sukses kalo keluar malam malam jam begini! besok sekolah lah! "
"Aku ke rumah sakit, jenguk temen aku mah? " jelas lagi Artara.
"Iyah Mama tau! tapi kamu harus lihat waktu, jangan seenaknya sendiri! "
"Udah lah mah, aku capek. mau tidur! "
"Sebagai hukuman, Mama gak akan ngasih uang jajan selama satu minggu! " jelas ibu.
__ADS_1
"Loh kok main gitu aja sih mah! gak bisa gitu dong! " protes Artara.
Kali ini ibu diam, langsung berjalan pergi meninggalkan Artara, ibu yakin, keputusan ini sudah sangat tepat, biar Artara bisa merasakan hukumannya sendiri.
Artara tak bisa beralasan lagi, karena ibunya sudah masuk ke dalam kamar, dengan tarikan nafas yang sangat berat, Artara kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Mampus aku! "
Artara melirik melihat meja belajar, ada celengan bermotif babi berwarna pink, ia langsung berjalan menghampiri nya, mengintip, apakah ada yang di dalamnya.
"Alhamdulillah! "
Artara tersenyum, karena masih ada beberapa uang lembar kertas di dalamnya.
Ia berfikir untuk segera memecahnya, namun karena sudah sangat lelah dan mengantuk, ia menaruh nha kembali, langsung bergegas mapan di tempat tidur, namun ia teringat Hpnya
Saat ia melihat, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab, dan ada pesan singkat di whatsap.
Artara penasaran, ia langsung membuka dan membaca.
"Ada hal yang perlu kita bahas! "
Artara berfikir bingung, karena Erna yang hanya setengah setengah dalam mengirim pesan.
__ADS_1
"Ah sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal yang tidak perlu! "