
"Hentikan Kirana! "
Artara langsung masuk ke dalam ruangan Esa, terlihat jelas, Kirana sedang mencekiknya sangat keras.
Kirana seketika melepaskan cekikan itu, namun Esa sudah tak sadarkan diri, terlihat sudah sangat kaku, sedikit membiru.
"Kamu sudah gila! " jelas Artara emosi, menghadap Kirana.
Sampai akhirnya, Kirana menghilang, tanpa jejak.
Artara panik tak karuan, ia rasa sudah terlambat, ia langsung keluar, menacari suster ataupun dokter.
"Dokter, tolong dokter, temen saya! "
Beruntung, karena setelah Artara keluar, ada Dokter yang lewat.
"Baiklah! " jelas dokter terlihat serius.
Artara berjalan mengikuti dokter di belakang nya masuk, Dokter itu langsung mengecek keadaan Esa yang semakin mengkhawatirkan.
"Gimana dok? " tanya Artara bingung.
__ADS_1
"Tenang, semoga saja bisa terselamatkan! "
Suster langsung berdatangan, turut membantu.
15 menit kemudian.
Artara hanya mondar mandir berjalan entah kemana, ia takut terjadi apa apa dengannya. Ibu Esa sudah menangis tak henti hentinya di luar, menunggu dokter keluar dari dalam ruangan.
Sampai akhirnya, dokter keluar, wajahnya terlihat sedikit membawa kabar baik, dan saat Ibu Esa mendekat, Artara pun ikut mendekat, untuk mencari tau keadaan Esa.
"Bagaimana dokter dengan anak saya? apakah baik baik saja! "
"Tenang saja, anak ibu baik baik saja, hanya saja dia belum kembali normal! " jelas dokter.
Artara sedikit gemetar dengan pertanyaan itu, ia hanya sedikit takut, jika perlakuan Kirana bisa sampai terbongkar.
"Kami dan pihak rumah sakit, sangat meminta maaf, karena kami tidak menemukan apapun, kami juga bingung, dengan kejadian ini! " jelas dokter
"Baik dokter, terimakasih! " pinta ibu Esa berterima kasih.
Dokter membalas senyum, langsung berjalan pergi, untuk segera mengecek pasien yang lain.
__ADS_1
Ibu Esa langsung bergegas masuk, melihat putra nya yang masih belum tersadar, Artara hanya bisa prihatin, melihat ibunya yang sangat sayang dengan anaknya itu, meskipun disisi lain, dia adalah anak yang sangat menyebalkan, kini ia sadar, sejahat apapun orang itu, pasti ada orang yang takut akan kepergian nya.
"Ah Artara! " panggil ibu Esa.
"Iya Tante! " jawab Artara
"Tante udah bingung, harus berbuat apa lagi untuk kamu, selama ini, selalu aja ada moment tepat, di saat Esa benar-benar membutuhkan mu, terimakasih ya! "
"Sama sama tante! " senyum Artara.
"Tante denger denger, Esa sangat membenci kamu, bahkan saat dia sadar pun, tak sedikit pun di mau berucap terima kasih, maafkan anak saya ya"
"Tak perlu minta maaf tante, saya hanya bisa membantu, sebisa mungkin. selama saya bisa di beri kesempatan, dan untuk masalah Esa yang tak tau terimakasih, Dak papa tante, itu juga sudah hak dia, Toh saya juga tidak merasa di rugikan! "
Ibu Esa tersenyum melihat Artara yang terlihat tulu, perlahan mendekat dan langsung memeluknya. Entah kenapa, pelukan itu terasa sangat hangat, rasanya seperti pelukan seorang ibu yang tak bertemu dengan anaknya bertahun tahun.
"Aku janji sama kamu Artara, kamu akan saya anggap seperti anak saya sendiri! apapun resiko nya, karena kamu, adalah juru penyelamat anak saya! " jelas Ibu Esa masih dalam pelukan nya.
"Iya Tante, terimakasih! "
Esa yang perlahan mulai sadarkan diri, melihat di samping nya, ada ibu yang sedang memeluk seseorang,
__ADS_1
"Mamah? " panggil Esa
Seketika, ibu langsung melepas pelukan itu, menghadap sumber suara itu