
"Ini, nasi gorengnya sudah jadi! "
Nenek tersenyum menatap Antara, duduk di sampingnya. Berharap cucunya akan suka dengan masakannya, karena sudah cukup lama tidak memasak nasi goreng, berharap rasanya sama seperti sebelumnya.
"Terimakasih nenek! " jawab Artara tak sabaran ingin langsung memakannya.
"Aya udah, langsung di makan, keburu dingin loh!"
Artara langsung memakan nya, namun di beberapa suapan.
"Artara? " panggil ibunya.
Baru beberapa suapan, ternyata ibu nya sudah masuk ke dalam rumah, menatapnya sambil berdiri, wajahnya sudah di pastikan, tajam dan marah.
"Mama? " jawab Artara.
"Pulang ke rumah sekarang!" perintah ibunya.
"Sayang, biarlah, cucuku disini, kalo boleh menginap disini beberapa hari! " ujar nenek.
"Mama, ini anak aku ma, jangan ikut campur, aku yang melahirkan dia, bukan mama! "
"Memang kamu yang melahirkan artara, tapi mama lebih mengerti anak kamu di timbang kamu!" jawab nenek.
Ibu artara diam, tak mampu menjawab. memilih duduk di samping anaknya artara.
"Mama memang selalu memanjakan Artara!" sindir ibu.
"Mama juga selalu memanjakan kaka!" balas artara sambil mengunyah nasi goreng.
Ibu kembali di buat diam, nenek sedikit tersenyum mendengar nya.
"Mah, aku mau dong nasi goreng nya, masa cucu nya aja!" ibu tiba tiba-tiba luluh dan tersenyum. Tak terlihat marah kembali.
Nenek tertawa, mendengarnya. langsung berdiri.
"Ya udah ayok bantu mama!" jawab nenek.
Ibu Artara tertawa dan langsung masuk ke dapur bersama nenek. Artara juga tertawa melihat kehangatan keluarga nya itu.
"Artara!"
Baru saja di tinggal nenek dan ibunya ke dapur. tiba-tiba tiba ada yang memanggilnya di belakang.
"Ada apa, lo mau?" tanya artara
"Mau dong!" jawab nya
"minta tuh sama nenek aku!" jawab artara.
Guntur, sahabat hantu nya. Ia adalah sosok hantu laki laki berusia 23 tahun lebih tua darinya. Rambutnya berwarna hitam, dengan wajahnya yang pucat, berbibir merah.
"Tumben kesini?" tanya guntur.
__ADS_1
"Biasa lah, lagi ada masalah sama mama aku!" jawab artara masih memakan nasi goreng.
"Haduh, gua aja. Yang tiap kali denger curhatan kamu, udah blenger aku. Apa perlu aku ganggu sampai ketakutan biar percaya sama ke gituan!"
"Tak perlu guntur, kasian mama aku, nanti bisa gila lagi, hahaha!" jawab Artara
"Biarin, sekalian. Kan kamu nya yang gak repot di marahin mulu!" jawab Guntur.
"Sudah sudah, candra mana?" tanya Artara
"Candra di belakang, biasa suka duduk di pinggir pohon besar!"
Candra teman hantunya yang lain nya, ia juga masih berteman dengan dengan Guntur. Umurnya terlihat 19 tahun,terpaut lebih tua sedikit dari Artara. tubuhnya kaku, pucat, dan sering mengeluarkan lidah nya. Karna mati bunuh diri di pohon itu.
Tepat nasi goreng sudah habis, ia langsung pergi ke belakang rumah, menemui Candra bersama Guntur.
"Masih ngelamun nih?" tanya Artara di balik tubuh Candra.
candra bengong, dan saat melirik ke belakang, ada Artara.
"kenapa kesini, bosen liat kamu!" jawab Candra.
"yeee, pas gk ada di cariin, pas ada di usir!" ceplos Guntur.
"hahaha" tawa Artara
Artara terduduk di samping candra, menatapnya. Sedikit sedih melihat nya, mengingat curhatan nya yang selalu ingin di hidup kan kembali, karna ia menyesal bunuh diri. Karna masalah keluarga.
"Yah, begitulah. Dari dulu memang, gak pernah selesai!" jawab Artara.
"Lu harusnya bersyukur, masih punya ibu, Seenggaknya ibu kamu, menginginkan yang terbaik buat kamu!" nasihat Candra.
"Ough ya?! bentar lagi, umur kamu kaya aku kan?! sekarang kamu 18 kan ?" tanya Candra.
"Yah, jadi dewasa tidak menyenangkan!" jawab Artara.
"Kata siapa, aku semasa hidup dulu, di umur 19,adalah masa penuh dengan cinta!" Guntur ikut berbincang.
"Tak satu pun ada cewek yang mau ama gua!" bantah Artara.
"Gimana mau dapet cewek?! Lu nya aja introvert?!'' bantah Guntur.
"Sayang!" panggil ibunya.
Saat asyik berbincang dengan teman hantunya, tiba tiba ibunya menemui, sedikit berekspresi aneh.
"eh mama!" jawab Artara.
"Kau ngapain di sini, di belakang rumah. dibawah pohon ngomong sendirian pula?"
"Hah, gak papa ma, bosan aja!"
"Ya udah ayo masuk rumah, bentar lagi gelap, udah mau malem!"
__ADS_1
Karna Artara sudah menghabiskan nasi gorengnya. Sekarang giliran ibu yang memakannya sambil mendapatkan sebuah omelan.
"Mah, kenapa yah, padahal sering sekali aku buat nasi goreng yang resepnya kaya mama. Tpi rasanya itu gak bisa seenak ini, pas banget!" Ujar ibu sambil mengunyah nasi goreng.
"Ya, kan nenek masaknya pakai cinta. Gak kaya mama, asal jadi?!" Artara tiba-tiba mengoceh
Ibu langsung melotot seramnya menatap anaknya sendiri. Sedangkan Artara terdiam ketakutan.
"Kalian itu, anak sama ibu. Udah kaya tikus dan kucing!" Nenek tertawa melihat mereka.
"Masalah Artara, udah. Gak usah dibahas lagi. Mama udah cape dengarnya!"
"Tentang kasus di sekolah?" Tanya nenek
"Kok Mama tau?" Tanya ibu Artara
"Yah, tentu cucu ku yang cerita!" Jawab nenek
"Mah, aku udah gak tau lagi harus berbuat apa. Belasan kali aku datengin psikolog mahal buat Artara agar bisa bersikap normal. Seperti anak-anak yang lain. Belajar, sekolah, jadi siswa berprestasi. Bukan kaya begini. Tiap bulan dapet kasus. Tiap hari bertingkah aneh. Ngomong sendiri Mama cape tau gak!"
Artara terdiam, seolah tak mau ikut campur, ia berusaha tenang dan mendengarkan omelan ibunya
"Sudahlah, setidaknya. Dia itu anak kamu. Dia lahirnya dari rahim kamu kan?!"
Ibu Artara terdiam, dan melanjutkan makanan nya.
30 menit kemudian.....
Berhubung besok adalah hari minggu, Artara memutuskan untuk menginap di rumah nenek. Beruntung ibunya sedikit luluh hari itu. Ia diizinkan menginap, walau hanya satu hari saja.
Selesai makan, ibunya tiba-tiba saja berdiri. menghadap nya.
"Baik, ibu pulang dulu yah, tapi itu ingat. Malam besok. Kamu harus pulang sama mamah!" ujar ibu serius, menatap mata Artara
"Baik mah!" Jawab singkat Artara
"Mah, aku titip anak aku ya mah?" tanya ibu ke nenek
"Iya, tenang saja!" jawab nenek santai sambil meminum secangkir teh hangat
Ibu berjalan keluar rumah, masuk ke dalam mobil.
Artara hanya mengintip dari jendela, melihat ibunya pergi.
Ia akhirnya bisa bernafas lega, karna ibunya benar benar mengizinkan nya. Untuk menginap di rumah neneknya.
"Kenapa, kok liatnya dari jendela?" Ujar nenek tiba-tiba.
"Hah?! Gak ko nek. Cuman mau rapiin korden. Kayanya kotor deh!" Jawab Artara.
Neneknya tersenyum, perlahan memegang kedua pundaknya. Menatapnya serius "dengar ya cucuku, mau segalak dan secerewet apapun ibu kamu,dia itu sayang sama kamu!" Jelas nenek.
Artara meneteskan air matanya. Dan langsung memeluk neneknya erat erat.
__ADS_1