
Setelah perjalanan panjang bersama Artara, Ia bisa bernafas lega, kerena bisa beristirahat. Tubuh yang terasa ingin tumbang itu, ia jatuhkan di atas tempat tidur, menarik nafas dalam dalam, menatap atap kamarnya. Ia mulai menghayal, Itu benar benar membuatnya geli dan tak sesekali tersenyum sendiri, dan sosok yang terngiang di dalam pikiran nya itu adalah Artara.
Pria dengan sosok yang pendiam, namun memiliki sifat yang mengayomi, entahlah, jika dekat dengannya, perasan nyaman selalu saja muncul, Erna selalu merasa ada 2 orang karakter berbeda pada tubuh Artara, hanya saja ia tak bisa menebak apa itu. Matanya yang menurut nya tajam, rambutnya yang sedikit pirang berwarna merah karena matahari, membuatnya ingin sekali mengelusnya.
"Astaga! apa aku sudah gila? "
Erna menepuk pipinya supaya sadar, dan tak menghayal Artara lagi, belum juga jadian. Artara saja belum tentu menyukainya.
Tubuhnya yang lemas itu, Erna paksakan berdiri, berjalan mendekati lemari untuk mengambil pakaian tidurnya. Ia tak mungkin tidur memakai seragam, terlebih seragam itu harus dipakai untuk besok.
"Erna..."
Baru selesai mengganti pakaian tidurnya, ia seperti mendengar suara orang memanggilnya, namun terdengar sangat lirih .
"Mama? " panggil Erna, ia mengira itu adalah ibunya, dan saat ia menengok kebelakang, pintu yang tadinya tertutup tiba tiba sudah terbuka.
Namun suara itu tak ada respon apa apa, Erna langsung berjalan keluar, menengok kanan dan kiri, ternyata tak ada siapapun.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menutup kembali pintu itu, namun kali ini, ia menguncinya, meletakan kunci itu tepat di di meja dekat kasurnya.
Lampu langsung dimatikan, Erna pun langsung mapan di tempat tidur, membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
__ADS_1
"DOR DOR DORRRRR...... "
Baru saja ia memejamkan matanya, ia mendengar suara keras dari pintu. Yang benar saja, pintu itu sudah terbuka lebar lebar, Erna yakin, pintu itu sudah ia kunci erat erat, tapi kenapa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya, untuk kembali mengecek siapa pelakunya.
lampu kembali ia nyalakan, perlahan berjalan keluar dari pintu, mencari cari orang di sekitarnya, namun lagi lagi kosong.
"Ini benar benar aneh, aneh sekali! "
Erna memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.
"JAUHI ARTARA!!!! ATAU KU ANTAR KAU KE NERAKA!! "
*******
"Deg"
Erna terbangun, ternyata itu hanyalah sebuah mimpi.
"Kamu gak papa Er? " tanya Artara.
__ADS_1
"Yah, gua gak papa, santai, cuman mimpi kok! "
Erna sampai tak sadar, ia ketiduran di dalam mobil, ia pikir sudah sampai, ternyata hanya mimpi.
"Maaf gua gak bangunin kamu, soalnya kamu keliatan kecapean, kasian kalo aku bangunin! "
"Emang lagi dimana si? " bentar lagi, tadi berhenti sebentar di sekolah! " jelas Artara..
"Ngapain lewat sekolah? " tanya Erna bingung.
"Gak Papa, jalannya macet, jadi nerobos aja! " jelas Artara.
Erna hanya menganguk, padahal Artara hanya ingin mengantarkan Kirana kembali ke sekolah, padahal sebenarnya ia bisa pulang sendiri Artara lebih memilih mengantarkan nya saja.
********
"Aku duluan ya Ar, makasih udah mau jalan jalan! "
"Iya sama sama! " senyum Artara
Erna terlebih sampai di tujuan, langsung keluar dari dalam mobil. berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan kanannya sembari tersenyum menghadap Artara di dalam mobil.
__ADS_1
Artara pun membalas senyuman itu, sambil melambaikan tangannya juga di dalam mobil