My story indigo

My story indigo
Duel


__ADS_3

Artara sudah pasrah, melihat Anto dan Bagas yang sudah berdiri di posisi. Mereka benar benar akan berkelahi, tatapan mereka benar-benar menakutkan. seakan akan hendak saling bunuh.


"Siapa pun tolong Anto" batin Artara, berdoa.


Bagas dan Anto berdekatan, tangannya sama sama menggenggam.


"Ayo lawan duluan!" perintah Bagas meremehkan.


"BRUK." Satu Hantaman keras mengenai wajah Bagas.


Anto sama sekali tak main main, ia langsung menghajarnya, sedangkan Bagas masih terlihat tersenyum. meskipun terasa sakit.


" Kurang Ajar!!!" Teriak Bagas sambil melayangkan tangannya membalas pukulan Anto.


Artara tak sanggup melihatnya, karena ia tak tega dan berfikir Anto akan segera terluka.


Namun saat Artara kembali membuka mata, Bagas terlihat kaku, tak sedikit pun memukul Anto, dan saat ia melihat disekelilingnya. Ada hantu wanita misterius itu lagi, ia sedikit lega. nampaknya wanita itu mengendalikan Bagas agar tidak bisa melukai Anto.


"Apa apaan ini, kenapa gak bisa gerak?" Bagas bingung


Ini kesempatan emas, Anto tak ingin menyia nyiakan kesempatan ini, ia langsung memukul habis habis Bagas tanpa ampun.


"Brak bruk brak bruk....." dengan hantam Anto yang keras, ia yakin. Bagas kesakitan luar biasa, Anto sempat dibuat bingung, kenapa ia sama sekali tak melawan, sedangkan ia pukuli sampai berteriak kesakitan.

__ADS_1


Artara, Gilang, Sandi tersenyum lebar. Akhirnya pembalasan mereka terbayarkan. Lain dengan teman teman Bagas. Tegar dan yang lainnya, justru kocar kacir ngeri melihatnya, sampai akhirnya mereka kabur, karena takut akan di perlakukan hal sama.


"Ampun Anto ampun, gua ngaku menyerah sekarang!" ujar Bagas meminta ampun, sambil berusaha sekuat tenaga mengendalikan tubuh nya yang seperti patung


"Lu janji gak akan ganggu kita lagi?" Tanya Anto berhenti memukul Bagas


"Yah aku janji!" balas Bagas.


"Okeh!"


Seketika, tubuh Bagas yang terasa sangat kaku seperti patung, tiba-tiba normal kembali seperti semula, sempat ingin melawan. Tapi sudah kehilangan tenaga.


Artara hanya bisa memperhatikan hantu wanita itu, sedang tersenyum manis melihat nya, setelah menghilangkan mantra di tubuh Bagas.


"Woy liatin apa si? "tanya Anto tepat di depan Artara


"Hah enggak, nggak liat apa apa?" jawab Artara setelah tersadar.


"Kebiasaan lu!" Tegur Gilang


"Eh Luh hebat juga yah, yah sayang gua gak ikutan mukul mukul tadi!" ucap Sandi mengganti topik pembicaraan


"Ah biasa aja, dia ternyata gak segagah yang dibicarakan, buktinya sama gua aja takut gak berani melawan!" ujar Anto menyombongkan diri

__ADS_1


Artara hanya mengiyakan, sambil mencari sesosok wanita yang telah membantu temannya itu. Namun lagi lagi sudah tidak ada lagi, padahal ia ingin segera mengucapkan beribu ribu terimakasih kepada-nya.


********.


"Woy kalian kenapa ninggalin gua??" Bantah Bagas berlari mendekati mereka di dalam mobil pribadinya


"Sorry bos kita semua takut. Gak berani menolong bos!" jelas tegar dengan tatapan wajahnya yang tak enakan.


"Plak." Bagas langsung menamparnya. Ia benar benar kesal dan emosi


"Mana yang lain? kenapa cuman ada lu di mobil?" Tanya Bagas dengan nada yang keras


"Ya mereka semua udah pulang lah bos, mereka mana berani kaya gua disini. gara gara si Anto itu!" jelas Tegar ketakutan.


"kurang ajar!" teriak lagi Bagas emosi


"Maaf bos maafkan saya!" ujar maaf tegar lagi, karena masih takut.


"Sebenarnya kita mau lawan lagi mereka pas di jalan, tapi karena mereka udah pergi. Gagal rencana gua!"


"Udahlah bos, kita kan udah janji, kalo bos kalah jangan ganggu mereka lagi, lagipula dia itu kuat bos!" saran Tegar


"Gak peduli, lihat aja besok. gua pastikan semua akan menyesal semua!"

__ADS_1


__ADS_2