
Artara terdiam, di pelukan Erna yang sangat erat, rasa itu benar benar hangat. ia tak bisa berkata apa apa, tubuhnya terasa sangat kaku karena gerogi di perjalanan. Jantung nya tak henti hentinya berhenti berdebar debar. Bagaimana mana mungkin, ia bisa membonceng wanita sekelas Erna, siswi dengan sejuta pujian dan idaman setiap orang.
"Kamu kok malah diem si? " tanya Erna, langsung melepas pelukan itu, karena merasa ada yang kurang beres.
"Enggak, emang kenapa? " tanya Artara sambil menyetir motor.
"Kamu gak suka ya boncengan sama aku? "
"Kata siapa? enggak lah, justru aku seneng, bisa nganterin kamu pulang ke rumah! " jelas Artara.
Erna kembali tersenyum, dan langsung memeluk Artara kembali.
********
Tanpa Artara sadari, saking senangnya di peluk Erna di perjalanan. Ia sampai lupa, jika itu hanya sementara, karena sudah sampai di rumah Erna.
Erna seketika melepas pelukan itu, perlahan bergegas berdiri dari motornya.
"Makasih ya! udah nganterin aku ke rumah! "
"Iya sama sama, besok aku jemput mau? " tanya Artara
"Beneran? " tahta Erna seolah tak percaya dengan perkataan Artara.
__ADS_1
"Iyah, kan sekalian lewat rumah kamu!"
"Ya udah, besok kamu gak usah bawa helem yah, aku bawa helem sendiri kalo gitu! " jelas Erna.
"Okeh"
Artara bergegas pergi, sedangkan Erna melambaikan tangan kanannya.Setelah Artara menjauh, ia pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah, terlihat ibunya sedang menonton televisi.
"Aku pulang! " sapa Erna setelah masuk rumah.
"Loh kok tumben pulangnya cepet? " tanya ibu sambil menonton TV, menyetrika pakaian.
"Tadi di anterin temen ma! " jelas Erna, terlihat sumringah
"Yah, bisa jadi! " jelas Erna.
"Udah move on dari Esa nih? "
"Ah mamah ah, gitu. aku kan udah bilang, jangan bahas Esa lagi! " jelas Erna, membuat nya jenuh kembali.
Erna memilih, langsung pergi ke kamarnya.
"Eh mamah belum selesai ngomong! cerita dong ke mama! "
__ADS_1
******
Artara tak henti hentinya tersenyum di perjalan pulang, ia baru tersadar, jika ini adalah rasa nya jatuh cinta dengan seorang wanita. Rasa itu benar-benar indah, seperti ada benih bunga yang tertanam di hatinya, sampai akhirnya bermekaran sangat wangi.
Namun saat ia melirik spion, ia baru tersadar, jika ada Kirana di belakang motornya, sedang memboncengnya.
"Loh, kamu ngapain ngikutin aku? " tabya Artara bingung.
"Loh, kok kamu nanya saya? bukannya kamu yang ajak saya ikut sama kamu? " tanya Kirana ikutan bingung.
Antara kembali teringat dengan perjanjian nya di sekolah, jika ia membutuhkan bantuan Kirana di rumahnya.
"Ouh iya, maaf! " mohon Artara
"Gak mau, pokoknya beliin aku jajanan! " alasan Kirana, agar di berikan sesuatu.
"Kamu gak tau ya? kalo aku lagi gak ada banyak uang? " jelas Artara.
Kirana terdiam, ia tau betul jika Artara sedang hemat, karena ia selalu mengamati saat di sekolah.
"Tenang aja , nanti di rumah akan aku buatin makanan buat kamu! " jelas Artara, berusaha agar Kirana tak marah, ataupun menolak permohonan nya, karena ia sedang sangat membutuhkan Kirana.
Beberapa menit, akhirnya sampai di rumah, Artara langsung meletakan motor nya di garasi, sedangkan Kirana bengong tiada henti, menatap sekeliling rumah Artara. Nampaknya Kirana senang, karena sudah mengetahui keberadaan rumah Artara
__ADS_1