My Two Husband

My Two Husband
Prolog


__ADS_3

"Nay, dimana jas biru ku?" Teriak Kevan sembari merapikan tatanan rambutnya yang masih basah.


"Dilemari, Kevan." Jawab Naya yang masih sibuk berkutat dengan kegiatan memasaknya, membuat sarapan.


"Sudah kucari! Tapi tetap tidak ada, Nay! Aku tidak mau ya pakai jas yang lain, aku hanya mau jas biru!" Kevan datang ke dapur dan menghampiri Naya dengan wajah frustasinya karena tidak menemukan jas biru kesayangannya itu dimanapun.


Lalu Deryl keluar dari kamarnya dan terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja dan jas putih. Deryl Ananta, si dokter muda yang sukses. "Pagi, Rainbow." Sapanya sembari mengecup pipi Naya lembut.


Naya tersenyum. "Pagi, Deryl. Duduklah, sarapan akan siap sebentar lagi."


Deryl menurut dan duduk dimeja makan sembari menunggu Naya menyiapkan sarapan.


"Kamu mengabaikan aku, Nay!" Protes Kevan.


Naya mematikan kompornya dan menatap Kevan garang. "Jika aku menemukannya, aku berjanji akan menciummu, Kevan!" Ancaman yang menguntungkan bagi seorang Kevan Ardinata, CEO Ard Company.


"Dengan senang hati, sayang." Lalu ia duduk dihadapan Deryl yang memasang wajah datarnya.


Dua orang yang berbeda profesi namun tak pernah mau akur, apalagi jika menyangkut Naya Amanda. Mereka akan berlomba sekeras mungkin untuk mendapatkan perhatian Naya.


Naya datang dengan jas biru ditangannya. "Lihat, aku menemukannya! Dilemari pula! Cari itu memakai mata bukan mulut, Kevan!"


"Oh maafkan aku, sayang. Maka cium aku kemari,"

__ADS_1


Naya mendekat dan memeluk Kevan cukup erat sebelum menyatukan bibir keduanya. Membuat Deryl hanya bisa memutar bola matanya jengah.


"Kamu sengaja kan?" Ucap Naya dan mengacak kembali rambut Kevan yang sudah rapi. Kevan hanya membalasnya dengan kekehan.


Deryl mendengus dan menatap tidak suka pemandangan didepannya. "Aku lapar, Naya."


Naya dengan cekatan segera mengambilkan sarapan, mengambilkan nasi goreng buatannya lalu meletakan dua piring nasi goreng itu meja. Ia juga meletakkan segelas kopi untuk Kevan dan segelas susu untuk Deryl.


Naya mendudukkan dirinya ditengah-tengah Kevan dan Deryl. Ia menatap kedua pria yang yang bestatus sebagai suaminya itu memakan nasi goreng buatannya dengan lahap. "Pelan-pelan, Deryl." Ucap Naya mengusap ujung bibir Deryl yang terdapat minyak.


Deryl tersenyum, "Nasi goreng buatanmu enak, Naya." Naya tersenyum manis mendengarnya.


Sementara itu Kevan hanya diam dan menatap Deryl tanpa minat sebentar. Lalu ia dengan sengaja meminum kopinya dengan asalan sampai tumpah dan mengenai dagunya. Tentu saja hal itu mengundang kehebohan Naya yang langsung bangkit dan mengambil tissue. "Kamu selalu menumpahkan kopimu setiap pagi, aku akan memukulmu, Kevan!" Ucap Naya marah namun tangannya tetap mengusap dagu Kevan dengan lembut menggunakan tissue.


Deryl melirik Kevan dengan tajam. "Kamu sengaja kan? Kamu senang membuat Naya kerepotan."


"Apa kalian akan terus bertengkar?"


Kedua pria dewasa itu terdiam. "Segeralah berangkat." Ucap Naya lagi.


Kevan dan Deryl berdiri secara bersamaan. Naya ikut berdiri dan memegang tas kerja keduanya. Memberikannya secara bergantian lalu tersenyum. "Kerja yang rajin ya,"


Berjalan menuju pintu utama, Kevan mengecup bibir Naya. Naya mengecup pipi Kevan. "Hati-hati dijalan, Kevan."

__ADS_1


"Tunggu aku pulang, dan kubuat lemas kamu nanti malam." Naya hanya bergeleng-geleng mendengarnya.


Naya beralih menatap Deryl ketika Kevan sudah masuk kedalam mobilnya dan pergi.


Naya menangkup kedua pipi Deryl. Wajah Deryl masih merengut. "Aku mencintaimu." Ucapnya nyaris berbisik.


"Aku lebih mencintaimu."


Deryl meraih tengkuk Naya. Melumat bibir Naya dengan lembut dan pelan. Naya membalasnya, sesapan semakin cepat dan tangan Deryl sudah mulai meraba-raba tubuh Naya.


Kemudian ciuman terlepas, napas mereka beradu. Tangan Deryl mengusap bibir plum Naya yang memerah. "Manis." Ucapnya.


Naya terkekeh. "Berangkatlah." Ucapnya sembari mengecup pipi Deryl seperti yang ia lakukan pada Kevan.


"Telpon aku kalau kamu bosan."


"Tentu saja. Aku akan menelponmu."


"Jangan telpon Kevan."


Naya tertawa. "Pergilah, hati-hati ya." Ia mengecup gemas pipi Deryl sekali lagi. Sebelum tubuh kekar Deryl yang semakin menjauh, pria itu berbalik sebentar dan tersenyum lalu masuk kedalam mobil dan melaju dengan mobilnya yang berwarna silver itu.


Naya menghela napas pelan. "Dosa apa yang telah kulakukan sampai aku memiliki dua suami." Ucapnya sembari berjalan masuk kedalam rumah dan bersiap kuliah.

__ADS_1


**


Hai kak, mohon dukungannya yaaa☺️🙏🏻


__ADS_2