
"Maaf, kali ini aku tidak bisa membela ayah."
Kevan saat ini berada di kantor polisi untuk mengunjungi ayah-nya setelah kejadian yang menimpa Deryl beberapa waktu lalu, Kevan baru membuka hatinya untuk mengunjungi sang ayah yang sedang berada di sel tahanan.
"Kamu rela melakukan hal ini kepada ayahmu sendiri, Kevan? Demi membela manusia itu?"
"Dia memiliki nama, kalau ayah lupa."
"Kamu rela melihat ayahmu sendiri berada di penjara hanya karena manusia yang membuatmu kesusahan itu? Sungguh, gunakanlah otak-mu sesekali!"
"Dan ketika ayah melakukan hal buruk yang seperti ini, apakah ayah menggunakan otak ayah? Termasuk untuk membunuh orangtua Deryl, apakah ayah menggunakan otak ayah?"
Kevan menatap ayah-nya dengan tajam. Ia sangat menyayangkan kedok sang ayah yang selama ini disembunyikan harus terbongkar, dan yang lebih menyakitkan, kebenaran itu diketahui sendiri oleh Kevan.
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk tidak sopan ketika berbicara dengan orangtua, Kevan Ardinata!"
"Dan kamu yang membuatku kehilangan rasa sopanku kepada seorang penjahat sepertimu!"
Kevan langsung pergi dari tahanan itu, meninggalkan ayah-nya yang terus meneriakkan namanya penuh amarah.
**
Kevan kembali ke rumahnya jam sembilan malam, di ruang tengah ada Deryl dan Naya serta Vania yang masih duduk mengobrol.
"Jangan mau dengannya!" ucap Deryl memperingati Vania yang sedang tertawa.
"Kevan, kamu baru pulang? Mau kusiapkan air hangat?" tanya Naya ketika dia melihat Kevan berdiri di belakang mereka dengan tersenyum sambil menenteng tas kerjanya.
"Iya, tolong siapkan ya. Aku lelah." jawab Kevan. Pria itu ikut mendudukkan dirinya di sofa. "Jadi, ada apa ini?"
"Aku sedang mencoba menyadarkan Vania dari pengaruh hipnotis Matteo!" jawab Deryl.
"Well, memangnya kenapa pria itu?"
"Kamu tidak tau, Kevan! Pokoknya dia tidak boleh dengan Vania! Aku melarang keras, dan aku akan segera mengeluarkan petisi menolak Matteo dengan Vania!"
Kevan dan Vania tertawa mendengar ucapan sebal dari Deryl. "Kamu tidak bisa mengatur hidup Vania seperti itu, Deryl." ucap Kevan.
"Tidak, pokoknya tidak!"
"Memangnya kenapa Deryl? Kan kak Teo tampan." ucap Vania.
__ADS_1
Deryl baru saja akan mengeluarkan protesannya tapi Kevan sudah menyumpal mulut pria itu dengan gorengan tempe yang ada dimeja. Mau tidak mau Deryl harus mengunyah dan menelannya dengan ekspresi wajah yang akan membunuh Kevan. Kevan dan Vania tertawa melihatnya.
"Kevan, air mandimu sudah siap." ucap Naya.
"Oke, baiklah semuanya .. Kevan yang tampan ini mau mandi dulu ya." ucap Kevan segera meninggalkan ruang tengah dan pergi kekamarnya.
"Wah, dokter Deryl memakan gorengan." Naya tertawa melihat Deryl yang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ini semua karena Kevan! Aku sudah menghindari makanan gorengan selama bertahun-tahun karena takut akan ketagihan, tapi dia dengan santainya menyumpal mulutku dengan gorengan! Kalau begini kan aku mau lagi!"
Tanpa pikir panjang, Deryl langsung mencomot lagi gorengan yang ada di piring. Mengundang tawa dari Naya dan Vania.
"Dokter Deryl, ingat ya .. gorengan itu tidak sehat." ucap Vania.
"Diam! Aku tidak perduli, ini semua karena kalian! Jika saja kalian tidak membuat gorengan, ini semua tidak akan terjadi padaku."
"Yasudah kalau begitu, habiskan saja semuanya. Nanti aku akan membuatkannya lagi ahaha. Kalau begitu, aku kekamar duluan ya, Deryl, kak Naya." pamit Vania segera pergi kekamarnya.
"Apa ini pertama kalinya kamu memakan gorengan hm?" Naya mengambil selembar tissue dan mengelap sedikit minyak dibibir Deryl yang sedang asik memakan gorengan.
"Ini pertama kalinya. Aku tidak tau kalau rasanya akan seenak ini."
"Fine, ini yang terakhir. Habis itu, temani aku tidur ya."
"Iya, sebelum itu jangan lupa cuci tangan dan kaki, sikat gigimu juga. Kamu banyak memakan gorengan malam ini."
"Siap, Madam."
Setelah selesai, Deryl langsung mengikuti ucapan Naya. Kemudian mereka pergi kekamar Deryl. Oh, jangan khawatirkan baby K, karena mereka masing-masing memiliki babysitter.
"Punggungmu masih sakit kan?" tanya Naya ketika melihat Deryl sudah merebahkan dirinya duluan diranjang dengan posisi tengkurap.
"Tidak kok, kalau berbaring telentang rasanya tidak enak. Makanya aku tidur seperti ini terus,"
"Deryl ..."
"Hm?"
"Apa yang akan kamu lakukan terhadap ayah Kevan?" tanya Naya pelan.
Deryl terdiam sejenak. "Aku masih belum tau, Naya. Di satu sisi aku marah padanya karena dia merencanakan pembunuhan orangtuaku, tapi di satu sisi aku merasa tidak enak hati dengan Kevan jika aku mengambil jalur hukum yang berat untuk ayah-nya."
__ADS_1
"Aku memgerti perasaanmu, Deryl. Tapi dia juga membahayakanmu. I mean, dia hampir mencekalaimu dan paling buruk dia juga bisa membunuhmu."
"Aku belum memutuskan apa yang terbaik, Naya. Aku hanya sedang terpikir, lebih baik jika masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan. Aku akan membahasnya dengan Kevan besok pagi."
**
"Apa maksudmu, Deryl? Kamu akan membebaskan ayahku?" kaget Kevan, jelas meninggikan suaranya.
"Aku yakin masalah ini bisa diselesaikan dengan tenang! Tanpa harus melewati jalur hukum, Kevan! Lagipula dia itu ayahmu."
"Sebenarnya apa yang ada di otakmu itu? Apa kamu bisa berpikir dengan baik, Deryl? Apa otakmu berfungsi?"
"Kevan, dengarkan aku dulu—"
"Kamu jelas ingin membebaskan seorang penjahat, aku mendengarnya Deryl! Lupakan saja rencana klasikmu itu dan ikuti saja prosedur yang berlaku!"
"Apa kamu tidak memiliki rasa kasihan kepada ayahmu sendiri, Kevan?! Dia itu ayahmu! Ayah kandungmu!"
"Kamu tidak perlu memikirkannya! Pikirkan saja kedua orangtuamu yang nyawanya sudah dihabisi oleh ayahku! Termasuk kamu yang akan dicelakainya! Tidak perlu memusingkan apakah aku kasihan padanya atahu tidak, tidak perlu membicarakan apakah aku peduli padanya atau tidak, karena jika kamu tau, Deryl .. tidak pernah merasa menyesal telah membunuh orangtuamu! Dia bahkan tidak peduli dengan tindakan yang dia lakukan, orang seperti itu kah yang ingin kamu bela? Orang seperti itu kah yang mau kamu lindungi citranya? Pikirkan baik-baik ketika orangtuamu merasa sedih diatas sana karena tidak bisa mendampingimu lagi!"
Kevan segera menyambar jasnya yang tersamping di kursi makan dan pergi dari sana tanpa menghabiskan makanannya setelah perdebatan panjang yang dia dan Deryl lakukan.
"Seharusnya aku yang bertanya padanya, apakah otaknya masih berfungsi atau tidak!" gerutu Deryl.
"Ada apa lagi ini? Kenapa pagi-pagi seperti ini kalian sudah bertengkar?" tanya Naya yang baru saja datang bersama Kiano.
"Kevan yang memulainya duluan, entah dimana otak manusia itu."
"Memangnya ada apa? Kenapa dengan Kevan? Kenapa kamu terlihat kesal sekali dengannya?"
"Dia tidak mengijinkanku untuk membebaskan ayahnya! Aku pikir masalah seperti ini tidak perlu dibawa ke jalur hukum, masalah ini bisa saja diselesaikan secara kekeluargaan! Apa dia tidak merasa kasihan karena ayahnya dipenjara?"
"Tapi Kevan benar, ayahnya jelas bersalah, Deryl. Dan kesalahannya bukanlah hal yang sepele. Dia sudah melakukan pembunuhan berencana, menculik dan melakukan penganiayaan kepadamu."
"Karena itulah aku hanya ingin menyelesaikan masalah ini secara pribadi, agar tidak ada dendam lagi, Naya."
"Tapi aku tidak setuju dengan rencanamu, maafkan aku."
* *TO BE CONTINUE
GUYS KALIAN SEMUA JAGA KESEHATAN YA, MAKAN SAYUR YANG BANYAK, SENANTIASA PAKE MASKER KALAU PERGI KE LUAR RUMAH, MANDI SETELAH PERGI DR LUAR . BUMI KITA SEDANG SAKIT, KITA HARUS KUAT! JANGAN MEMBANDEL JUGA, KITA #DIRUMAHAJA SAMPAI KEADAAN AMAN. JANGAN KARENA DIBERI LIBUR KALIAN PERGI KEMANA2 DENGAN BEBAS. LIBUR DIBERIKAN AGAR KITA TIDAK TERSERANG VIRUS DAN BISA MENGAMANKAN DIRI DIRUMAH. SEMOGA KITA SELALU DILINDUNGI ALLAH DAN DIJAUHKAN DARI SEGALA MACAM PENYAKIT, DAN JANGAN NGEYEL YA. TERIMAKASIH🌹**
__ADS_1