
notes : sedikit tidak percaya diri dengan part ini. Mohon kritik dan bantuannya ya😞 hanya konflik kecil-kecilan.
...
Dua minggu telah berlalu semenjak kabar bahagia itu tersiar. Kini rumah Naya dan para suaminya tengah ramai karena kedatangan orang tua Kevan dan ayah Naya.
Naya dan Kevan menjadi pusat perhatian dirumah itu, mereka sedang dimanja-manja karena kabar bahagia atas kehamilan Naya itu. Mereka sedang dijadikan raja dan ratu, tanpa ada yang tau jika ada satu hati lagi yang hancur.
Deryl memilih lembur di rumah sakitnya daripada ia harus pulang dan melihat tatapan kebencian yang diberikan oleh orangtua Kevan kepadanya. Tak perlu Deryl jelaskan ketika semuanya terpapar sangat transparan. Untuk menghindari kesedihan, kehancuran serta sakit hatinya, Deryl memutuskan untuk bekerja gila selama seminggu ini. Selama itu pula dirumahnya masih ada orangtua Kevan. Mengabaikan kesehatannya, tidak menjaga pola makan dan tidurnya, Deryl benar-benar seperti zombie. Sangat jauh dari kata tampan.
"Dokter Deryl, sebaiknya anda pulang dan beristirahat." ucap perawat yang mengantar laporan kesehatan pasien yang beberapa hari lalu di operasi oleh Deryl.
"Aku masih memiliki banyak pekerjaan."
"Dokter pemilik rumah sakit ini, kenapa harus memforsir diri berlebihan?"
"Aku sedang kacau. Tinggalkan aku sendirian."
Perawat itu tidak ingin membuat atasannya semakin merasa kacau karena dirinya. Maka dari itu ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan Deryl sesuai perintahnya. Ini pertama kalinya bagi perawat itu melihat sang pemilik rumah sakit terbesar ini seperti zombie, kacau, berantakan dan tidak terurus. Pria itu juga sengaja mengnon-aktifkan ponselnya.
"Aku memiliki jadwal operasi jam tujuh malam. Sekarang baru jam tiga sore, apa aku tidur saja dulu?" tanya Deryl pada dirinya sendiri.
Deryl berjalan pelan, keluar dari ruangannya menuju taman rumah sakit untuk mencari udara segar sekaligus menjernihkan pikirannya yang keruh. Deryl membenci situasi seperti ini, sangat benci. Situasi dimana ia merasa sendirian di bumi padahal ada bermiliaran manusia didalamnya. Situasi seperti sedang berada ditempat ramai namun tetap kesepian. Deryl menatap langit yang sedang cerah dan berwarna biru, matanya tiba-tiba saja jadi berkaca-kaca.
"I miss you Mom, Dad." ucapnya sembari membiarkan satu air mata lolos dan mengalir dipipinya yang semakin tirus.
**
Naya dan Kevan sedang duduk menonton televisi saat ini, tentu saja ditemani dengan kedua orangtua Kevan yang sedang memperlakukan mereka seperti majikan.
"Naya, kamu harus banyak makan sayur supaya kamu dan bayimu sehat." ucap Ibu Kevan.
"Dan kamu, Kevan. Jangan terlalu sibuk dikantor, jaga istrimu dengan baik." timpal ayah Kevan.
Kevan sebenarnya muak mendengar ucapan-ucapan yang sama selama seminggu penuh ini. Bahkan ia merasa kedua orangtua sudah menginvasi rumah tangga Kevan, Naya dan Deryl terlalu jauh. Kevan merasa sudah tidak memiliki privasi lagi. Ia jenuh dengan tingkah orangtua nya ini. Bahkan selama seminggu ini Deryl tidak ada pulang kerumah mereka setelah kalimat tajam yang dilontarkan oleh ibu Kevan saat itu.
__ADS_1
[ *Flashback ]
Deryl, Kevan dan Naya sedang menikmati waktu bersantai dihari minggu dengan piknik dihalaman rumah mereka. Tentu saja itu permintaan Naya setelah ia resmi dinyatakan hamil.
Hari itu mereka sangat bahagia, mereka tertawa dan bercanda bersama. Bahkan Kevan dan Deryl terlihat membaur dengan baik hingga akhirnya bell rumah mereka berbunyi. Deryl segera berlari untuk membuka pintu disusul oleh Kevan dan Naya yang berjalan pelan dibelakangnya.
Sesampainya Deryl didepan pintu, ia terkejut mendapati orangtua Kevan berdiri disana. Dengan kaku, ia menyuruh kedua orang itu masuk, namun bukannya masuk dan bersikap baik. Orangtua Kevan malah memaki Deryl.
"Kamu lagi, kamu lagi. Bisakah kamu pergi dari kehidupan anak dan menantuku?!"
"Maaf, tante." sahut Deryl tertunduk.
"Kamu membuat menantuku berada disituasi yang sulit! Kamu itu beban! Kamu menyusahkan Naya!"
Deryl hanya diam dan menunduk mendengar kalimat jahat yang dilontarkan padanya itu.
"Kamu benar-benar tidak berguna. Pengganggu seperti benalu! Seharusnya Kevan hidup bahagia bersama Naya tanpa adanya dirimu! Kamu itu memalukan!"
"...."
Hancur. Ya, hati Deryl hancur mendengar kalimat jahanam yang keluar mulus dari mulut wanita paruh baya yang berdiri didepannya ini.
"Bu, kamu keterlaluan! Deryl tidak seburuk itu!" ucap Kevan yang baru saja tiba bersama Naya.
"Iya, tidak seburuk itu tapi lebih buruk dari itu!"
"Hentikan! Kenapa Ibu sangat jahat?"
Deryl tersenyum tipis dan kembali menyuruh kedua orangtua Kevan masuk. Setelah mereka masuk, tidak lama kemudian Deryl pergi kekamarnya untuk mengambil tas serta jas putih kesayangannya. Naya pias, ia tau Deryl sakit hati. Ia juga tau, tidak ada pekerjaan di rumah sakit pada hari minggu. Pria itu mengalah demi orangtua Kevan.
"Naya, mendadak aku dapat panggilan dari rumah sakit. Aku pergi dulu, ya?" ucap Deryl dengan suara yang nyaris bergetar pria itu sengaja mengalihkan tatapannya agar air matanya tidak jatuh.
"Kamu membohongiku, Deryl."
"Tidak, sayangku tidak. Aku benar-benar akan bekerja, jaga dirimu dengan baik ya. Makan yang teratur."
__ADS_1
"Kamu mengatakan hal itu seolah kamu tidak akan pulang lagi, Deryl."
[ Flashback off* ]
Padahal ingin sekali Kevan mengantar Naya untuk menemui Deryl tapi mereka malah terjebak disini. Naya pun seminggu ditinggal Deryl tetap berusaha baik-baik saja walaupun setiap malam wanita itu menangis karena merindukan Deryl bahkan tidak jarang Kevan mendapati Naya dengan tatapan kosongnya.
"Aku dan Naya ingin tidur siang." Ucap Kevan, tanpa mendengar jawaban orangtuanya. Pria itu langsung menarik Naya menjauh dari sana.
"Ayo kita temui Deryl." ucap Kevan.
Naya terkejut dan menatap Kevan penuh harap. "Iya, sore ini. Aku akan membawamu menemui Deryl."
**
Sudah hampir empat jam Deryl duduk sendirian di bangku taman ini sembari menatap foto masa kecilnya yang selalu tersemat didalam dompetnya. Foto keluarga. Satu-satunya kenangan yang masih Deryl miliki hingga sekarang.
"Apa Mommy dan Daddy sudah bahagia di surga?" tanyanya mengusap foto itu.
"Aku rindu kalian." ucapnya lagi.
Deryl tidak lagi menahan tangisnya, kini pria itu secara terang-terangan menunjukan kalau ia sedang menangis. Membiarkan pipinya basah karena air mata tanpa berniat mengusapnya. Membiarkan rasa sesak yang selama ini pendam, menguar. Memberitahu kepada seluruh semesta bahwa manusia yang terkenal dingin dan datar ini masih memiliki hati.
Greep.
Tubuh Deryl direngkuh lembut oleh seseorang yang sangat ia kenali.
"Sstt.. pria tangguh tidak boleh menangis."
"Naya..."
Kevan terdiam menyaksikan kejadian itu, satu hal yang ia tau dari Deryl. Pria itu menjadi dingin untuk melindungi dirinya agar tidak terluka, namun sekarang ia juga tau bahwa Deryl yang lebih tersakiti daripada dirinya.
Dan juga fakta yang baru diketahui oleh Kevan adalah Deryl yang kehilangan orangtua karena kecelakaan saat usianya enam tahun. Dimana seharusnya anak-anak belajar, tetapi Deryl malah bekerja untuk hidupnya dan tetap menyampatkan waktu untuk bermain dengan Naya. Tetapi pria itu menang kini, ia sudah sukses. Hanya saja, hatinya masih tetap lemah.
** to be continue
__ADS_1