
Deryl, Kevan, Naya dan Ronald kembali ke rumah milik Deryl. Mereka berjalan beriringan ketika memasuki rumah itu. Deryl yang berjalan dibarisan depan, sementara yang lain berjalan pelan dibelakang.
Setelah tragedi gelas pecah dirumah ayah Naya, mereka berempat kabur dan kembali kerumah Deryl karena mengira hantu itu akan ada dirumah ayah Naya.
"Deryl, aku mencium hawa-hawa negatif." ucap Kevan yang bersembunyi dibelakang tubuh ayah mertuanya. Tidak berani berjalan didepan seperti Deryl yang tengah memimpin mereka masuk kedalam rumah.
"Kenapa ayah tiba-tiba mencium bau bangkai?" tanya Ronald yang merasa sedikit merinding. Pria paruh baya itu lantas mengusap-usap lengannya merasa takut.
Sementara itu Kevan yang berada dibelakang tubuh Ronald mulai terkikik pelan. "Itu kentutku, ayah mertua."
Ronald lantas memukul bahu Kevan pelan. Ia sudah merinding dan menyangka ada hantu disekitarnya ternyata itu adalah ulah Kevan yang kentut. Deryl yang mendengar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kevan memang konyol. Ayah mertua-nya sendiri dikentuti, benar-benar menantu yang kacau.
"Kentutmu bau busuk, busuk sekali!"
"Hehehe maaf ayah mertua, tadi aku makan gulai jengkol.. rasanya enak sekali tapi karena ada hantu aku cepat-cepat kabur dan pencernaanku belum siap memproses jengkol-jengkol itu."
"Dasar, untung aku masih ingat kalau kamu ini menantuku. Kalau tidak, sudah kuberikan kamu pada hantu penunggu rumah ini!" Ucap Ronald menggerutu.
"Hehe aku kan sudah minta maaf, lagipula ayah mana mungkin berani menyerahkanku pada hantu itu. Ayah sendiri saja takut, sampai ikut kembali kesini."
"Oalah, menantu kurang ajar."
"Aku akan mengecek ke dapur, kalian tunggu disini atau ikut?" tanya Deryl menginterupsi perkelahian Kevan dan ayah mertuanya.
Sontak ketiga manusia itu saling lempar pandang satu sama lain sebelum akhirnya menggeleng. "Baiklah, kalian tunggu disini. Jika aku tidak kembali dalam beberapa menit, segera susul aku. Atau jika kalian mendengar suaraku, selamatkan aku."
"Oke baiklah. Kalau kami berani akan kami selamatkan."
"Kalian ini.. tidak sayang aku rupanya."
"Sudah sana cepat periksaa!"
Deryl mengangguk, lalu dengan mengumpulkan sedikit nyalinya, dia berjalan kearah dapur, berat memang melangkahkan kakinya tapi Deryl harus bersikap gentle sebagai seorang lelaki sejati yang tampan dan berani. Disana dia bisa melihat pecahan gelas yang ada dilantai, persis seperti yang dia dan Kevan dengar tadi sebelum kabur. Baru saja Deryl berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca itu.
"AAARRGH!"
Teriakan dari luar terdengar, Deryl segera berdiri dan berlari ke ruang utama setelah mendengar teriakan nyaring itu. Dia berlari tergesa-gesa dan mendapati Ronald sedang memeluk Naya, sedangkan Kevan dibiarkan menjadi pel di lantai.
"Kenapa Kevan?" tanya Deryl.
"D-Dia kesirupan." jawab ayah Naya.
"Kesurupan, ayah!" koreksi Naya.
"Kesurupan? Kesurupan apa? Memangnya ada yang mau merasuki orang seperti dia?" heran Deryl sambil bergabung dengan Naya dan Ronald yang menonton Kevan menjadi buaya di lantai.
"Apa penunggu rumah ini marah karena dia tadi kentut sembarangan? Mana kentutnya busuk sekali pula! Bisa jadi penunggu rumah ini marah." Ucap ayah Ronald mengutarakan opininya tentang kasus Kevan yang baru saja terjadi ini.
"Bisa jadi. Padahal aku sudah memperingatkan dia agar tidak sembarangan. Memang dasar Kevan, susah sekali diberitau."
"Jadi sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Naya takut.
"Aaarrrrr... sate kambing!" ucap Kevan.
"Orang kesurupan mana ada request sate kambing!"
__ADS_1
"Aaarg! Kopi cappucino! Pizza! Burger king! Carbonara! Kepiting saus!"
"Heh! Kamu ini kesurupan atau mau merampok makanan?" tanya Deryl.
"Arrggh... lapar.. lapar.. aku mau daging.. manusia!"
"Tadi katanya sate, pizza, carbonara, kepiting dan burger king. Sekarang mau daging manusia lagi. Tidak boleh serakah! Itu sudah banyak!"
"Kesurupan saja dia menyusahkan."
"Aku lapar ... belum makan selama 3000 tahun! Makannn makannnnn..."
Deryl kembali menghampiri Ronald dan Naya, "Kita apakan dia?" tanya Deryl.
"Ayah punya rencana!"
"Apa itu, ayah?"
"Begini....."
**
Akhirnya Deryl dan Ronald menyelesaikan kegiatannya, yaitu mengikat Kevan di pohon mangga belakang rumah. Kevan masih terlihat bodoh dengan berteriak-teriak.
"Siang-siang memangnya bisa kesurupan?" tanya Deryl.
"Tidak tau. Sepertinya sih hanya malam, kebanyakan yang ayah temui begitu."
"Biasanya hantu takut cahaya matahari."
"Sepertinya hantu sekarang sudah ikut imunisasi makanya kebal matahari." timpal Ronald.
"Ku jurig, sia hayang naon?" tanya Deryl sambil memaksa wajah Kevan untuk melihat ke wajahnya.
"Aargg kopi.."
"Kopi apa?"
"Mocca late."
"Mana ada. Setau ayah, orang kesurupan itu pasti minta kopi hitam, bukan kopi mocca."
"Tanya lagi tanya lagi."
"Kalau makanannya?"
"Nasi padang."
"Waah ayah sudah menduganya. Ini pasti akal-akalan Kevan."
Ronald berjalan mendekati Kevan, lalu tanpa pikir panjang..
Bugh.
Bogeman pelan Ronald mendarat di pipi Kevan. "Hei, sadar. Kalau tidak sadar, kutelanjangi kamu!"
__ADS_1
"Ararrrrrr..."
"Oh kamu mau dipukul lagi? Dibagian mana?"
Deryl bersiap mengepalkan tangannya, sudah menatap Kevan dengan tatapan siap mengeksekusi. "Tonjokanku enak loh, lebih enak dari biasa yang kamu makan sehabis dari acara tetangga."
"Stoooop!" teriak Kevan panik.
"Nah kan, ketahuan dia berbohong." ucap Deryl.
"Lepaskan ikatanku, please."
"Tidak mau."
"Nayaaaaa..." panggil Kevan dengan manja. Berharap wanita itu mau menolongnya.
"Loh, kamu tau namaku?"
"Ini aku, Naya. Kevan Ardinata, suamimu yang paling tampan dan yang paling mencintaimu."
"Deryl, kamu punya plastik?" tanya Ronald.
"Oh ada, ini dikantong kolorku. Untuk apa, ayah?"
"Ayah mau muntah mendengar ucapan Kevan barusan."
Deryl merogoh kantong kolornya lalu mengeluarkan sekantong plastik berwarna biru dari sana dan langsung memberikannya pada Ronald. Ronald langsung mengambilnya dan memasangkan plastik itu dikepala Kevan, sehingga pria itu persis seperti korban penculikan sekarang.
"Lepaskan ikatannya dipohon lalu kita bawa masuk, kita serahkan dia ke arwah gadis pengkulit itu. Kulit crispy mahal sekarang."
"Hei, lepaskan. Apa-apaan ini. Plastiknya bau ikan asin! Lepaskan dari kepalaku! Ini mengotori rambutku yang halus dan indah ini! Lepaskan!" Kevan berusaha memberontak.
"Diam, Kevan! Jangan banyak bergerak atau kupukul pantatmu!" ancam Deryl.
"Naya, tolong aku, Naya. Istriku..."
"Maaf, Kevan. Ikuti saja, dan jangan banyak protes ya. Kan aku cinta kamu."
"Cinta tapi tidak begini, Naya. Ini namanya kasus penganiayaan. Aku akan melaporkan Deryl setelah ini!"
"Penganiayaan kepalamu! Siapa suruh mencari masalah dengan pura-pura kesurupan."
"Aku tidak pura-pura! Aku benar-benar kesurupan tadi!"
"Mana ada! Kamu hanya mengada-ada, mana ada kesurupan di siang hari, itu konyol."
"Hei, hantu itu tidak pilih-pilih waktu kalau mau merasuki orang."
"Masalahnya, memangnya hantu itu mau merasukimu? Jangankan merasukimu, mendekatpun sepertinya mereka tidak mau."
"Kamu jahat, Deryl!"
"Mau kita apakan dia?" tanya Naya.
"Kita telanjangi dia, AHAHAHA."
__ADS_1
* **TO BE CONTINUE
MAAF YA BARU UP DAN CERITANYA HANCUR BEGINI. AUTHOR LAGI SAKIT MOHON MAAF YA KALAU UP NYA LAMA** :(