My Two Husband

My Two Husband
Merajuk


__ADS_3

Tepat jam sembilan malam, Deryl kembali ke villa tempatnya menginap. Tak ada senyum yang terpatri diwajah tampan itu semenjak ia datang.


"Deryl? Kamu sudah pulang? Dari mana saja?" Tanya Naya beruntun begitu melihat Deryl masuk dengan pakaian acak-acakannya.


Deryl tidak menyahuti pertanyaan yang dilontarkan oleh Naya, barang satupun. Pria itu langsung melenggang pergi masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Naya yang menatapnya dengan sedih.


"Deryl marah padaku." Gumamnya.


**


Deryl langsung membersihkan tubuhnya ketika ia sudah berada dikamarnya. Sebenarnya ia tidak tega untuk mengabaikan Naya, tetapi ia sudah benar-benar kesal. Dan Naya juga tidak menolak Kevan. Itu melukai perasaan Deryl, bukannya Deryl egois karena tidak berusaha mengerti kondisi rumah tangga mereka yang 'aneh' ini. Tapi astaga.. Ayolah.


Deryl keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggantung dipinggangnya. Membiarkan dada bidang dan sixpack itu terekspos, disertai dengan rambut yang basah. Benar-benar menarik perhatian.



Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terdengar seperti diketuk. Deryl sudah tahu siapa orang itu, makanya ia hanya diam tanpa berniat menjawab atau mempersilahkan masuk.


"Deryl, apa kamu sudah makan?" tanya Naya sembari berjalan masuk pelan kedalam kamar Deryl.


"Ya." jawab Deryl singkat dan dingin.


Astaga, Naya tidak pernah mengetahui sebelumnya jika Deryl marah akan seseram ini.


"Tadi kamu pergi kemana?" tanya Naya lagi, ia sedang berusaha membuka obrolan dengan suami sekaligus cinta pertamanya ini.


"Mencari hiburan."


"Kamu—"


"Aku lelah, Naya. Kalau tidak ada yang penting, silahkan keluar. Aku ingin tidur."


Usai mengatakan kalimat itu, Deryl langsung membanting dirinya ke ranjang super empuk itu dan mengabaikan bahwa Naya masih berdiri didekat pintu kamarnya. Pria itu kini malah menarik selimut dan menyalakan lampu tidur bahkan pria itu kini memunggungi Naya. Naya menghela napas pelan, mungkin Deryl sedang merajuk padanya. Memang menggemaskan tetapi juga mengerikan pada saat yang bersamaan. Naya tidak biasa terus didiamkan oleh Deryl, maka dari itu ia memutuskan untuk membujuk Deryl hingga pria itu luluh dan mau memaafkannya.


"Deryl, kamu merajuk padaku, kan?" tanya Naya sembari merangkak menaiki ranjang Deryl.


Deryl berusaha memejamkan matanya, mengabaikan Naya yang sekarang sudah membuatnya telentang dan menduduki perut milik pria itu. Deryl hanya bisa mengumpat kecil dalam hati, kalau begini caranya bagaimana ia bertahan?


"Deryl Ananta-ku yang manis yang tampan, ayo katakan padaku bahwa kamu sedang merajuk!"


Tidak ada sahutan apa-apa dari Deryl, membuat Naya semakin semangat untuk membujuk suami manisnya yang tengah merajuk ini.

__ADS_1


"Katakan bahwa kamu sedang merajuk seperti anak-anak, Deryl."


"Aku tidak!" jawab Deryl nyaring, menunjukkan kegugupannya bahwa ia mungkin saja akan kalah dari Naya.


"Lalu kenapa kamu mengabaikan aku? Katakan katakan!"


Tolong, gerakan yang dibuat Naya diatas tubuh Deryl itu benar-benar membuat Deryl merinding merasakannya.


"Cepat katakan Deryl!"


"Cukup, Naya. Hentikan."


"Kenapa?"


"Pergilah kekamarmu dan tidur. Aku benar-benar lelah."


Perlahan, Deryl bisa merasakan beban diatas tubuhnya mulai menghilang. Bagus, sepertinya Naya juga sudah lelah membujuknya, Deryl mengulas senyum tipis dibalik selimutnya. 'Kamu tidak akan menang, Naya.' ucapnya dalam hati. Deryl benar-benar tidak mendengar suara Naya lagi, ia pikir Naya benar-benar pergi kekamarnya dan tidur bersama Kevan.


Tepat jam 12 malam, Deryl sudah tertidur pulas. Tapi masih dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, perlahan bahunya digoyang oleh seseorang. Deryl mengabaikannya. Lalu, makin lama goyangan dilengan Deryl juga tidak berhenti sampai akhirnya Deryl dengan terpaksa membuka selimutnya dan menegur pelaku itu yang mungkin saja Naya.


"Sudah kubilang henti—AAAAAAAAAA HANTU!"


Setelah berteriak dengan nyaring Deryl berlari keluar dari kamarnya dan langsung masuk ke sembarang kamar. Sialnya, ia malah memasuki kamar Kevan. Dengan terpaksa dan juga sedikit ketakutan, Deryl mengabaikan jika Kevan adalah rivalnya. Dengan segera pria pucat itu berbaring disamping ranjangnya Kevan yang kosong dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lagi. Tidak tahu saja dia bahwa ada dua orang yang menyeringai melihatnya.


**


"Oh iya, Deryl. Semalam kamu tidur di kamarku, tumben sekali." ucap Kevan sembari melirik kearah Deryl yang terlihat sedikit melamun.


"Deryl?" panggil Naya pelan.


"Ah? Anu. Tadi malam dikamarku banyak nyamuk, ya nyamuk." jawab Deryl memberi alasan, tidak mungkin kan kalau ia bilang semalam dikamarnya ada hantu dan ia takut? Itu akan mempermalukannya.


"Oh aku kira kamu sedang takut," sahut Kevan sembari meminum kopinya dan hal itu sukses membuat Deryl terkejut hingga ia terbatuk.


"Tidak! Memangnya sejak kapan aku menjadi penakut?!"


"Aku hanya menebak-nebak saja Deryl, tidak perlu meninggikan suara seperti itu."


Naya hanya terkekeh pelan mendengar percakapan kedua suaminya itu. Tidak tahu Deryl bahwa yang menakutinya tadi malam adalah Naya dan itu rencana Kevan. Naya didandani semenakutkan mungkin oleh Kevan hingga mereka berhasil membuat Deryl terbangun dan berteriak nyaring di tengah malam.


"Ini sarapan kalian, makan dengan benar!"

__ADS_1


"Siap, sayang." jawab Kevan tersenyum manis.


Sedang Deryl memilih langsung menyantap makanannya tanpa mengucapkan apa-apa pada Naya.


**


"Deryl aku ingin bicara denganmu." ucap Naya begitu ia tiba dan menghampiri Deryl yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi.


"Kamu sedang melakukannya jika kamu lupa." jawab Deryl datar, matanya masih terus menatap televisi dan menghiraukan Naya yang duduk disebelahnya.


"Maafkan aku, Deryl. Aku tahu aku salah, tapi jangan menghukumku seperti ini.."


"...."


"Kamu tidak pernah mendiamiku seperti ini meskipun kesalahanku besar! Aku tidak suka kamu acuhkan seperti ini hikss.. maafkan aku hiks.. Deryl..."


"...."


"Aku tidak mau kamu mendiamiku lagi hikss... maafkan aku maafkan aku hiks."


Baiklah. Deryl menyerah, akhirnya ia raih tubuh Naya dan ia bawa kepelukannya. Mengecup puncak kepalanya dengan sayang.


"Aku tidak marah padamu, maafkan aku hm?"


Deryl menghapus air mata yang mengalir dipipi Naya. Merasa bersalah karena membuat mata indah itu mengeluarkan air mata dan itu karenanya.


"Jangan menangis."


Naya mengangguk pelan dan tertawa diikuti oleh Deryl.


"Ayo kita pergi jalan-jalan, ajak Kevan juga."


"Ayo. Aku ingin pergi ke sebuah toko roti yang terkenal disini!" jawab Naya antusias.


"Baiklah, cepat bersiap-siap dan gunakan mantel dinginmu. Diluar sedang salju."


"Baiklah! Tunggu aku dan Kevan ya!"


"Ya, jangan berlama-lama atau kita tidak bisa pergi."


"Iya, sayang!"

__ADS_1


Deryl tersenyum kecil mendengar jawaban Naya. Sungguh, ia tidak bisa mendiami wanita cantik itu lebih lama lagi.


** To be continue


__ADS_2