My Two Husband

My Two Husband
Kembali Normal


__ADS_3

Hari ini Kevan dan Naya mengadakan piknik serta pesta barbeque di halaman belakang rumahnya. Mereka mengundang Matteo dan Vania. Keadaan Deryl juga sudah cukup membaik, tapi pria itu belum boleh banyak bergerak karena luka dipunggungnya, walaupun lukanya sudah mengering tapi jika Deryl banyak bergerak, lukanya akan berdarah kembali, dan untuk masalah kemarin, Deryl dan Kevan sudah berbaikan dan membicarakannya secara kekeluargaan. Karena itulah, Deryl hanya duduk dikursi menjaga baby K yang sedang tidur.


"Hey, dude. Apa kabarmu?" tanya Matteo duduk disebelah Deryl.


"Seperti yang kamu lihat, aku masih bernafas." sahut Deryl.


"Oh aku pikir kamu mau mati. Habisnya wajahmu jelek sekali."


"Kurang ajar. Biar wajahku jelek begini, aku sudah memiliki istri ya."


"Aku juga memiliki istri. Deryl, omong-omong apakah wanita cantik nan bersinar yang berdiri disebelah Naya itu single?" tanya Matteo sambil memperhatikan Vania yang membantu Naya mengipasi daging.


"Dia single, tapi tidak akan kuijinkan kamu mendekatinya!"


"Heh? Memangnya kenapa? Apa yang salah dariku?"


"Banyak!"


"Apa? Apa? Coba sebutkan, aku ingin mendengarnya. Setauku, aku ini tampan, kaya, menyenangkan, idaman semua wanita, dan yang terpenting diantara semua aspek, aku adalah pria sejati yang setia."


"Aku muntah mendengarnya. Sana, jauh-jauh. Jangan dekati Vania-ku dia gadis baik-baik."


Matteo mencebik kesal kearah Deryl. "Kamu tidak asik, kan bisa jadi keluarga."


"Keluarga, matamu. Aku tidak mau mempunyai keluarga yang seperti dirimu."


"Iki tidik mi mimpinyi kiliirgi ying sipirti dirimi." olok Matteo. Pria itu berdiri dan meninggalkan Deryl sendirian, dia menghampiri Vania lagi.


"Dia tergila-gila dengan sepupuku." gumam Deryl memperhatikan Matteo yany terus melancarkan aksi modusnya kepada Vania. Sedangkan Vania hanya merespon Matteo seadanya, karena Deryl tau bahwa Vania gadis yang kaku dengan pria.


"Deryl," panggil Naya, wanita itu sudah duduk disebelah Deryl dan tersenyum.


"Ada apa, Naya?"


"Kamu baik-baik saja? Apa punggungmu sakit? Mau kuantar kekamar?" tanya Naya beruntun.


Deryl tersenyum. "I'm okey. Aku baik-baik saja, Naya." jawab Deryl.


"Kalau kamu merasa tidak enak atau sakit, segera panggil aku ya."


"Pasti, Naya."


Deryl tersenyum dan mengusap puncak kepala Naya lalu menyuruh wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya dan dia akan menjaga baby K masih anteng tidur di baby box.


**


"Astaga .. daging yang gosong ini, siapa yang memanggangnya?" tanya Deryl menatap ngeri pada sepotong daging yang gosong, yang menurutnya samasekali tidak layak.

__ADS_1


"Aku." sahut Matteo bangga. Pria itu tersenyum lima jari sambil menatap Vania yang duduk di sebelah Deryl.


"Apa ini bisa dimakan? Dan juga kenapa aku yang mendapatkan bagian ini?"


"Spesial. Untuk calon sepupu iparku." jawab Matteo.


Naya, Kevan dan Vania tertawa mendengarnya sedangkan Deryl menatap Matteo tajam. "Gigimu. Berikan aku daging yang lain, aku masih ingin melihat matahari besok." Deryl menyorong piringnya agar Naya segera mengganti daging gosong itu dengan daging yang lebih baik.


"Apakah itu sebuah penghinaan?"


"Itu pujian." jawab Deryl dan Kevan bersamaan.


"Baiklah, aku akan berusaha mengambil hati calon sepupu iparku ini nanti."


Mereka melewati pesta barbeque itu dengan gembira ditambah dengan kelakuan konyol Matteo yang terus menyebarkan modusnya kepada Vania yang tidak tau menahu. Sedangkan Deryl sudah kembali kekamarnya karena tidak tahan untuk duduk lama, punggungnya masih terasa dipukuli oleh satpam katanya. Sedangkan Kevan membereskan sisa-sisa acara makan-makan itu dan Naya mengurusi baby K.


"Em .. Vania, apa kamu mau pulang?" tanya Matteo mendudukkan diri disebelah Vania yang sedang bermain ponsel.


"Sepertinya aku tidak pulang, kak Teo. Aku harus membantu kak Naya mengurus Deryl. Takut dia kerepotan, karena harus mengurus baby K." jawab Vania.


"Oh begitu. Aku kira kamu akan pulang, aku berniat mengajakmu pulang bersama hehe."


"Sepertinya tidak hari ini, lain kali ya."


"Deryl akan mengamuk jika melihat Matteo menebar pesona seperti itu kepada Vania." ucap Kevan.


"Baik apanya? Pria baik itu tidak akan terus terang kalau dia mendownload film dewasa, mengatakannya secara lantang malahan, padahal disitu ada kamu."


"Kata Deryl, dia itu kesepian makanya bertingkah seperti itu untuk menghibur dirinya sendiri."


"Menghibur diri sendiri sih boleh, tapi kalau begitu namanya mempermalukan diri sendiri."


Naya hanya tertawa mendengarnya.


"Yasudah, kamu masuk sana .. bantu Deryl mengoleskan salap. Sisanya ini nanti aku yang akan membereskannya."


"Baiklah, kalau begitu aku masuk ya."


Kevan mengangguk, lalu pria itu menghampiri Matteo dan Vania untuk meminta bantuan membereskan sisa acara mereka tadi, kebetulan Matteo belum pulang karena masih sibuk menebar modus dan pesona.


**


Naya memasuki kamar Deryl dengan pelan, setelah dia mengantar baby K dengan babysitter tadi, Naya langsung pergi untuk melihat kondisi Deryl. Pemandangan pertama yang dilihat Naya setelah membuka pintu kamar Deryl adalah pria itu yang tertidur dengan posisi tengkurap tanpa baju atasan. Luka panjang bekas cambukan yang dipunggungnya pun masih terlihat sangat jelas.


"Deryl.."


"Hm?" sahut Deryl dengan gumaman singkat tanpa mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Punggungmu sakit? Atau ada bagian lain yang sakit?" tanya Naya mengusap pelan kepala Deryl.


"Perutku sakit, Naya." jawab Deryl pelan. Dia masih mempertahankan posisi tengkurapnya, karena Deryl belum bisa berbaring secara telentang.


"Kenapa? Apa kamu terlambat makan?"


"Tidak, maksudku ini.."


Deryl memiringkan badannya hingga Naya bisa melihat jelas luka jahitan diperut Deryl, sedikit berdarah.


"Deryl? Kamu memiliki luka lain?! Kenapa kamu tidak memberitauku?"


"Aku tidak mau kamu semakin khawatir, Naya. Aku baik-baik saja, aku ini pria yang kuat, tau?"


"Tetap saja .. kamu terluka, Deryl. Sebentar, aku akan mengoleskan salap agar cepat kering."


"Salapnya ada di atas meja."


Naya segera mengambil salap yang masih terisi penuh itu di atas meja dan membantu Deryl menyamankan posisinya.


"Aku akan mengolesnya sekarang, kalau sakit, bilang ya."


"Iya, Naya."


Naya mulai menuangkan sedikit demi sedikit salap itu ke tangannya dan mengoleskannya ke luka Deryl. Deryl meringis kecil ketika jari Naya yang berisi salap itu mengusap lukanya. Setelah luka diperutnya selesai diberi salap, Naya membantu Deryl untuk kembali bertengkurap lalu kembali mengoleskan salap itu ke luka punggung Deryl.


"Lukamu berdarah sedikit, mungkin karena kamu tadi bergerak banyak." ucap Naya.


"Iya, tidak apa-apa. Berikan saja salapnya disana."


"Deryl ... ini pasti sakit sekali kan?"


"Tidak, Naya. Ini hanya luka kecil, aku masih belum mati kok jadi aku baik-baik saja."


"Yang begini luka kecil? Lalu luka besar seperti apa?"


"Kamu mau tau luka besar?"


Naya mengangguk pelan dan menatap Deryl.


"Luka besarku adalah melihatmu pergi meninggalkanku, melihatmu membenciku, dan melihatmu mengabaikanku. Itu perlahan membunuhku, Naya.."


"Deryl ... hiks."


Naya menangis dan menubruk Deryl yang sedang duduk hingga punggung Deryl membentur dinding ranjangnya.


"Aku mencintaimu, Naya Amanda."

__ADS_1


* TO BE CONTINUE *


__ADS_2