
Naya sedang duduk bersantai dirumah ayahnya sambil meminum secangkir teh hangat dan ditemani sepiring kue bermacam-macam yang tadi ia beli saat diperjalanan kerumah ayahnya.
"Kamu kenapa bisa sesantai ini meninggalkan dua pengrusuh itu di satu rumah?" tanya Ronald sambil menatap anaknya heran. Setaunya, Kevan dan Deryl adalah dua pria yang tidak bisa berdamai. Mereka selalu bersaing, untuk hal tidak penting sekalipun.
"Mereka pasti akur, kok. Tenang saja."
Ronald hanya mengangguk mempercayai ucapan anaknya. Tidak apa-apa juga sih kalau dua manusia itu ditinggalkan dalam satu rumah, sejauh ini selama Ronald mengamatinya mereka hanya sering adu mulut, belum sampai tahap berbunuh-bunuhan. Jadi masih bisa dikatakan aman. "Ayah belum ada bertemu Deryl lagi setelah pernikahan kalian, dan ketika ayah mengunjungi rumahmu juga dia tidak ada. Kalian baik-baik saja?"
"Baik, ayah. Hanya saja waktu itu dia sedang ada sedikit masalah. Nanti aku akan meminta Deryl untuk menemui ayah."
**
Saat ini Deryl dan Kevan masih duduk disofa persis seperti semalam. Pertanyaan Deryl pun sudah dijawab oleh Kevan tapi menjawab salah, karena itu dia harus mengambil minuman dikulkas dan pergi memborong cemilan. Kata Deryl, jawaban yang benar adalah 'tidak ada yang kotor, karena wc rumah mereka selalu bersih dan sabunnya juga bersih karena masih dibungkus.'
"Hei, mayat. Aku sedang bosan. Juga hari ini aku libur bekerja." ucap Kevan masih berbaring dengan sebungkus dicemilan diatas dadanya.
"Aku juga bosan, sialnya hari ini aku juga libur ke rumah sakit. Apa yang harus kulakukan..."
"Bagaimana kalau main game lagi?" tanya Kevan.
"Ah aku bosan. Kamu kalah terus, masa aku harus berjuang sendirian." jawab Deryl. Pria itu memiringkan badannya kekanan-kiri karena merasa bosan. Ditinggal berdua seperti ini memangkas habis isi otak Deryl untuk melakukan hal yang menyenangkan.
"Aku tau apa yang seru kita lakukan!" ucap Kevan.
"Apa itu?"
"Ada saja. Intinya kamu dan aku harus mandi dulu, aku lapar."
"Makanannya biar beli saja. Delivery, aku lagi malas berurusan dengan dapur."
Kevan mengangguk, dia mengambil ponselnya lalu memesan beberapa makanan delivery. Oh jangan lupa, kali ini Deryl yang membayar. Setelah itu, mereka pergi kekamar masing-masing. Setelah satu jam kemudian, mereka kembali ke sofa yang akhir-akhir ini menjadi tempat perkumpulannya.
"Mamang delivery lama banget ya, aku sudah lapar." ucap Kevan.
"Coba kamu cek lagi, siapa tau dia salah alamat."
"Sudah benar, kok. Aku mana mungkin salah menuliskan alamat."
"Tapi kenapa lama sekali ya? Rasanya tadi aku membutuhkan waktu satu jam untuk mandi. Dan juga makanan itu dipesan sebelum mandi."
"Apa aku telpon saja ya mamangnya?" tanya Kevan.
Deryl mengangguk, menyetujui ucapan Kevan.
__ADS_1
"Coba aku tanya baik-baik ke mamangnya." ucap Kevan. Dia mengambil ponselnya yang ada diatas meja, tadi dia memang sudah sempat meminta nomor telepon mamang delivery-nya. Jadi dia hanya perlu menelpon dan menanyakan dimana orang itu sekarang karena dia dan Deryl sudah hampir pingsan kehabisan tenaga.
"Halo mang! Kamu niat antar makanan tidak sih?! Aku sudah kelaparan!" ucap Kevan begitu telpon tersambung.
'Maaf, Pak! Saya niat kok, tunggu saja sebentar lagi!' sahut dari seberang sana.
"Cepat! Aku dan temanku sudah hampir kehabisan tenaga, jangan salahkan aku kalau tidak bisa membukakan pintu nanti!"
'Iya, Pak! Saya dijalan! Sudah ya, jangan ganggu saya!'
Kevan langsung memutuskan panggilannya dan menaruh ponselnya diatas meja. Dia langsung menyenderkan tubuhnya ke sofa.
"Kata mamangnya apa?" tanya Deryl.
"Katanya lagi dijalan. Tunggu sebentar lagi."
"Kenapa kalau lagi lapar begini jadi bodoh ya?"
Kevan diam, tidak menyahuti ucapan Deryl. Ia sedang menyimpan sedikit tenaga agar bisa membukakan delivery pintu nanti. Jadi, goleran disofa adalah jalan terbaik untuk menjalani hari-hari membosankan.
Hampir dua jam setengah menunggu, Deryl dan Kevan juga hampir tertidur menunggu, si mamang delivery akhirnya sampai. Sekarang orang itu lagi ketok-ketok pintu rumah didepan.
"Woi, makanan nih. Niat beli apa tidak?" teriaknya dari luar. Memang tidak ada akhlaknya si mamang delivery.
"Bapak alay! Mana uang saya?"
"Ada barang ada uang."
Dengan wajah bersungut-sungut, akhirnya si mamang itu menyerahkan tiga bungkusan ke Kevan. "Ini, nasi goreng tidak pakai nasi kan?"
"Iya."
"Singkat banget jawabnya, seperti chat gebetan saya." curhat si mamang.
Kevan bodoamat, setelah dia mengambil tiga bungkusan itu dia langsung mengusir si mamang supaya cepat-cepat pergi dari rumahnya. Bakal dia kasih bintang satu si mamang itu.
"Akhirnyaaaaa!" ucap Deryl.
"Gila ya, harusnya jam delapan kita sudah makan tapi karena mamang gila kita jadi makan jam sebelas siang."
"Mau gila rasanya." Sahut Deryl langsung ngambil pesanan punya dia. Bahkan dia yang notabene-nya seorang dokter langsung buka bungkusannya tidak pakai cuci tangan langsung makan. Ini yang disebut derita suami ditinggal istri.
"Jorok banget tidak cuci tangan, katanya dokter." sindir Kevan. Padahal dia juga sama.
__ADS_1
"Diam! Aku lapar, kamu sadar diri saja. Kamu juga tidak cuci tangan, tadi juga habis mengupil."
"Ah iya, benar juga. Pantas saja rasanya sedikit lebih asin."
"Jorok."
"Bung, kita sama-sama jorok karena kelaparan sudahlah.. maklumi saja hal itu."
Deryl tidak menyahuti lagi, dia sedang asik makan. Begitu juga dengan Kevan. Kedua pria itu bisa berdamai dalam urusan perut.
"Ah kenyang~" ucap Kevan.
"Aku jadi merindukan Naya.." ucap Deryl ketika selesai mencuci tangannya.
"Iya. Aku juga merindukannya. Kita menjadi seperti tidak terurus begini,"
"Kita? Kamu saja. Aku masih bisa mengurus diriku sendiri, buktinya aku masih tampan dan keren." ucap Deryl.
Kevan mendengus, memang tidak ada baiknya si Deryl ini kalau perutnya sudah kenyang. Mulutnya suka mengeluarkan sambal, pedas.
"Ah entahlah! Aku muak denganmu."
"Ngomong-ngomong sebelum rumah ini dulu bekas bangunan rumah sakit angker disini." ucap Deryl memulai cerita.
"Ah yang benar. Masa kamu membangun rumah dibekas yang begitu sih. Sangat tidak kaya."
"Dengarkan dulu, bodoh. Jadi aku secara tidak sadar tiba-tiba membeli tanah disini. Aku juga tidak tau kapan aku membayarnya, tapi surat-suratnya sudah ada bersamaku."
"Maksudmu kamu seperti bukan dirimu begitu?"
"Ya semacam itu, dulu katanya rumah sakit ini ada seorang pasien sakit jiwa yang membunuh semua orang di rumah sakit sampai akhirnya dia membunuh dirinya sendiri dengan pisau daging."
"Itu pasti sebuah konspirasi! Jangan-jangan dia tukang daging yang jual daging waktu lebaran, karena daging mahal dia jadi gila dan membunuh semua orang!"
"Ah sudahlah. Cerita horrorku jadi hancur karenamu. Ah malas, aku mau tidur sampai bosan."
"Deryl! Kalau bercerita jangan setengah-setengah! Cepat selesaikan aku penasaran Deryl...."
Deryl sudah memejamkan matanya, bosan dengan kelakuan bodoh Kevan.
** **to be continue .
mohon maaf nih ya, ide saya buntu. Maaf ya kalau garing soalnya tadi kelamaan digoreng**.
__ADS_1