
Sudah dua hari semenjak Deryl menghilang. Sekarang keadaan dirumah Naya dan Kevan sangat kacau. Kevan bahkan terpaksa harus menyewa babysitter untuk kedua bayinya.
"Semoga Deryl baik-baik saja." Ucap Kevan.
Kevan sedang menemani Naya tidur, sudah dua hari juga Naya tidak bisa tidur karena khawatir dan terus memikirkan Deryl. Matteo pun masih berusaha untuk mencari keberadaan Deryl.
"Kembali, Deryl. Please .. kami merindukanmu." Gumam Kevan dengan setitik air matanya.
Kevan tidak lagi munafik bahwa dia juga menyayangi Deryl seperti saudaranya. Merasa sepi jika tidak ada Deryl yang mengganggunya, atau beradu mulut dengannya. Deryl sudah menjadi bagian dari keluarganya. Keluarga mereka, bersama Naya dan Kiano Kenzio.
Siang itu Matteo datang bersama Vania. Dia langsung menghampiri Kevan dan Naya tentang maksud kedatangannya yang tanpa menghubungi terlebih dahulu.
"Vania sekarang bekerja sebagai waitress di caffe depan rumah sakit Deryl."
"Jadi?"
"Vania yang akan menceritakannya."
"Jadi beberapa hari yang lalu, caffe-ku kedatangan seorang wanita bule .. bosku pikir dia tidak bisa bahasa Indonesia karena itu bosku memanggilku, ternyata wanita itu bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Namanya Helena."
"Helena?" Ulang Kevan.
Gadis yang bernama Vania itu mengangguk sekali dan kembali melanjutkan ceritanya. "Siang itu, saat aku akan mengantar pesanan miliknya, aku mendengar dia sedang menelpon seseorang dan menyebut nama Deryl. Aku tau itu pasti rencana yang buruk, karena wanita itu mengatakan kalau dia memiliki kartu as Deryl dan akan membuat Deryl menyesal karena tidak membantunya." Jelas Vania.
"Kartu as? Dan dia meminta bantuan apa pada Deryl?" Tanya Naya penasaran.
"Aku tidak tau pasti, tapi dari yang aku dengar .. wanita itu menyebut-nyebut nama Kevan. Aku ingin memberitau Deryl saat itu, tapi selalu saja tidak beruntung karena ketika aku ingin menemuinya, dia sudah pulang atau tidak masuk. Selalu begitu. Dan ketika aku pergi dengannya kemarin, aku malah lupa untuk memberitaunya dan sekarang dia menghilang."
"Kevan, kamu mengenal wanita bernama Helena itu?" Tanya Naya menatap Kevan yang masih terdiam setelah mendengar cerita Vania.
"Dia mantan kekasihku, Naya."
"Bisa jadi .. dia yang merencanakan ini kan?" Tebak Matteo.
"Aku tidak yakin dia merencanakan ini sendirian, pasti ada seseorang dibaliknya. Helena tidak seberani itu, aku tau."
**
Sementara itu ..
Deryl baru saja membuka matanya. Kepalanya terasa sangat sakit, dia sadar bahwa tubuhnya diikat sekarang ini dan dia terbaring dilantai .. dengan mulut yang disumpal.
"Oh kamu sudah sadar? Selamat datang di neraka, Deryl Carl Ananta .. putra dari Jashid Ananta." Ucap orang itu membelakangi Deryl.
__ADS_1
"Kamu lapar? Mau makan? Ah tapi hanya ada kecoa dan tikus disini. Yang mana yang akan kamu makan?"
Orang itu berbalik dan berdiri. Deryl bisa melihat orang itu adalah seorang pria yang tinggi dengan topeng yang menutupi wajahnya. Dia melepas sumpalan mulut Deryl.
"Siapa kamu?! Kenapa kamu membawaku kesini hah?! Apa maumu?!!" Teriak Deryl marah.
"Kenapa kamu begitu banyak omong, Deryl? Bukankah kamu pria yang irit bicara?"
"Lepaskan aku, bajengan!"
"Melepaskanmu? Setelah semua yang kulalui lalu aku harus melepasmu begitu saja? Tidak semudah itu."
Braaak!
Orang itu menarik tubuh Deryl dan melemparkannya ke dinding. Deryl meringis merasakan sakit ditubuhnya.
"Kamu tau sebanyak apa aku ingin melihat mayatmu yang penuh luka dan kesakitan?"
Deryl hanya diam, hanya mampu merasakan.
"Sebanyak ini!"
Bug! Ctas!
Orang itu menyiksa Deryl dengan menghantam wajah dan perut Deryl serta mencambuknya secara bersamaan.
"Just say what you want, bastard!" Teriak Deryl dengan sisa-sisa tenaganya.
"I want you die!"
Orang itu kembali memukuli Deryl dengan membabi buta. Mencambuk punggung Deryl sampai baju kaos yang digunakan pria itu terkoyak dan kulit punggungnya ikut terluka.
"Siapa kamu?!"
"Aku? Aku orang yang dekat denganmu."
"Apa maumu?!"
"Mauku, membunuhmu seperti aku membunuh ayah dan ibumu. Aku merasa puas."
"Kamu pengecut! Kamu bersembunyi dibalik topeng menjijikan itu! Jika kamu berani, tunjukkan wajah aslimu!"
"Apa untungnya aku menunjukkan wajahku padamu?"
__ADS_1
Bug!
Wajah Deryl kini sudah dipenuhi lebam, luka dan darah yang mengalir. Sudah sangat jauh dari kata tampan. Bahkan kini tubuhnya sudah sangat lemah karena bekas cambukan yang terasa membakar tubuhnya dengan pedih.
"Kamu akan tau akibatnya jika berurusan denganku!" ancam Deryl.
"Haruskah aku takut atau tertawa mendengar ancaman tidak bermutu yang keluar dari mulut sampahmu itu?"
Ctas! Ctas!
Orang itu terus mencambuk Deryl hingga punggung Deryl dipenuhi luka dan darah sampai akhirnya Deryl tidak sanggup lagi dan pingsan.
**
"Naya, aku tidak tau apakah ini momen yang pas atau tidak tapi Deryl kemarin mengatakan sesuatu padaku." ucap Matteo berbicara kepada Naya yang sedang berdiri sendirian di taman.
"Apa yang dia katakan?" tanya Naya pelan.
"Katanya hatinya sedang hancur, dia bertengkar denganmu, dia tidak membantumu, dia tidak berguna dan dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah diperlakukan dengan layak karena dia miskin dan yatim."
Naya meneteskan air matanya mendengar penuturan Matteo. Sekarang dia benar-benar menyesal karena sudah mengucapkan kalimat jahat itu kepada Deryl.
"Kemarin dia mabuk, dia terlihat sangat frustasi. Dia benar-benar terluka, bukan secara fisik tapi secara mental. Raganya memang hidup, tapi jiwanya seperti mati." lanjut Matteo.
"Ya. Aku membentaknya dengan kasar, aku mengatainya tidak membantuku samasekali .."
"Padahal dia selalu menyiapkan sarapan sebelum pergi ke rumah sakit." ucap Matteo.
Naya tidak menjawab apa-apa, dia hanya bisa menangis merindukan Deryl yang sekarang entah bagaimana kabarnya, bagaimana keadaannya, sudah makankah pria itu, dan apa yang dilakukannya sekarang. Naya sangat menyesal.
"Ini semua karenaku."
"Tidak, bukan salahmu. Ini sudah menjadi takdir Deryl. Ini sudah diatur, jika saja aku tidak meninggalkannya mungkin sekarang dia ada dirumah, sedang berbaring di sofa barunya."
Naya tidak bisa berkata apa-apa lagi, Matteo benar. Jika saja Naya tidak menolak Deryl waktu itu, dan mengiyakan mau pria itu, pasti sekarang Deryl masih ada disini, berbaring santai di sofa kesayangannya itu.
"Aku akan mencoba meminta bantuan anak buah untuk melacak Deryl, sampai aku menemukan tanda-tanda keberadaan Deryl, jangan hubungi polisi." ucap Matteo.
"Kenapa?"
"Ini bukan sekedar rencana biasa Naya, Deryl bisa saja berada dalam bahaya jika kita salah mengambil tindakan, aku harap kamu mengerti, ini demi keselamatan Deryl. Aku akan berusaha keras untuk melacak dan menemukannya."
Naya mengangguk. "Aku bergantung padamu, kumohon lakukan yang terbaik untuk Deryl.."
__ADS_1
"Aku pasti akan melakukan yang terbaik tanpa kamu minta, Naya. Dia sahabatku, dia orang yang baik dan memiliki banyak jasa. Aku akan menemukannya."
* TO BE CONTINUE *