
Pagi-pagi sekali, Deryl dan Kevan sudah berada di mall atas perintah Naya. Karena dua pria itu belum ingin kembali bekerja maka dari itu Naya memanfaatkan mereka untuk mengambil semua kebutuhan rumah tangga di mall Naya.
Deryl dan Kevan berjalan beringinan, pergi menuju outlet dan outlet lainnya.
"Habis ini apalagi?" tanya Kevan kepada Deryl yang terlihat masih diam.
"Apa ya? Sayur sudah, buah-buahan juga sudah." jawab Deryl sambil mengingat-ingat kembali apa saja yang disuruh oleh Naya.
"Aku tidak yakin ini benar, tapi sepertinya iya. Bukannya Naya juga menyuruh kita untuk membelikannya err... pakaian dalam?" ucap Kevan pelan.
Deryl sontak menutup mulutnya terkejut. Benar, itu salah satu permintaan Naya. Tapi kan dia dan Kevan seorang pria? Memangnya pria bisa memilihkan pakaian dalam untuk wanita dan juga.. ini memalukan.
"Kamu benar. Pakaian dalam.. tapi bagaimana? Aku tidak bisa melakukan ini, ini diluar batas kemampuanku!" ucap Deryl dramatis.
"Bukan hanya itu, Deryl. Dia juga meminta kita untuk mengambilkan benda yang bersayap.." ucap Kevan lagi menatap wajah Deryl.
"Apa itu yang bersayap?"
"Kamu tidak tau?"
Deryl menggeleng pelan dengan wajah polosnya. Kevan menghembuskan napasnya pelan, lalu dia mendekati telinga Deryl dan membisikinya. "Pembalut wanita."
"A-apa?!"
**
Hampir dua jam Deryl dan Kevan masih berada di mall, masih mempertimbangkan keputusan apa yang akan mereka ambil untuk permintaan Naya.
"Sebenarnya aku takut Naya marah." ucap Deryl.
"Iya aku juga. Tapi kita tidak bisa mengorbankan wajah kita demi hal seperti itu."
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Mau tidak mau, suka tidak suka harus kita lakukan.."
Deryl mengangguk. "Aku mau memangkas habis urat maluku dulu."
"Ini benar-benar sungguh memalukan bagi seorang CEO Ard Company."
"Dan ini sungguh memalukan bagi seorang kepala dokter rumah sakit."
"Ayo kita berjuang."
Akhirnya Deryl dan Kevan melangkahkan kakinya menuju sebuah outlet yang menjual khusus pakaian dalam. Deryl benar-benar memangkas habis urat malunya saat mereka menjadi sorotan ketika masuk kedalam outlet itu. Pun dengan Kevan yang terus meringis.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya seorang pelayan menghampiri Deryl dan Kevan.
"A-anu ... aku ingin mengambil set pakaian dalam untuk istriku." ucap Deryl.
"Mengambil?" ulang pelayan itu merasa bingung.
"Iya, mengambil. Kami hanya mengambil disini, dia pemilik baru mall ini." ucap Kevan sembari menunjuk Deryl yang menampilkan wajah datar khasnya.
"A-Ah, pak Deryl Ananta .. baiklah. Ikuti saya."
Deryl dan Kevan mengikuti pelayan tadi menuju sebuah rak khusus yang berisi pakaian dalam, bedanya rak yang ini lebih sepi tidak seperti yang didepan sana, dipenuhi oleh ibu-ibu. Jadi, Kevan dan Deryl bisa bebas untuk memilih.
"Silahkan dipilih, setelah itu berikan pada kasir kami untuk dibungkus." ucap pelayan itu ramah, lalu ia meninggalkan Deryl dan Kevan berdua disitu.
"Kita ambil yang mana?" tanya Kevan sambil melihat-lihat sekelilingnya.
"Ambil sembarang saja, yang penting kita harus cepat pergi dari sini."
"Berapa banyak yang Naya butuhkan kira-kira?"
"Aku tidak tau berapa, tapi ambil saja yang banyak. Lagipula ini gratis."
"Tapi, Deryl."
"Disini tertera ukurannya, kita akan ambil ukuran berapa?"
"OH MY GOD! Aku tidak sanggup begini.. Kenapa Naya menyuruh kita melakukan hal sesulit ini?! Aku ingin menangis."
**
Sementara Deryl dan Kevan pergi berbelanja. Naya, Vania dan Matteo sedang asik menonton drama dirumah. Drama Korea terbaru yang berkisah tentang kisah cinta seorang tentara Korea Utara dan gadis kaya asal Korea Selatan. Mereka terlalu terlarut dalam tontonan itu sehingga tidak sadar bahwa jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dan kedua babu baru Naya belum kembali berbelanja.
"Harusnya pria itu tidak mengorbankan dirinya, bodoh sekali." komentar Matteo ketika melihat adegan dimana sang tentara terkena tembakan demi melindungi kekasihnya.
"Hei, dia itu pria sejati, tau?!" jawab Naya.
"Iya pria sejati, tapi kan tidak begitu juga. Masa dia merelakan hidupnya begitu saja."
"Kamu tidak mengerti, jadi diam dan tonton saja."
Matteo menutup rapat mulutnya. Para wanita memang susah dimengerti.
"Omong-omong, kenapa kak Kevan dan Deryl belum kembali ya?" celetuk Vania.
"Benar juga. Hampir empat jam mereka pergi, padahal biasanya kalau aku belanja tidak pernah selama itu." sahut Naya.
__ADS_1
"Mungkin mereka lupa, atau menemukan sesuatu yang membuat mereka lupa diri."
Naya tidak ambil pusing, bahkan wanita itu kembali melanjutkan kegiatan menonton drama-nya. Sementara Matteo terus saja menebarkan pesonanya kepada Vania. Beberapa menit kemudian akhirnya terdengar suara pintu terbuka. Mereka tidak perlu menyambut, sudah pasti itu Deryl dan Kevan.
"Oh kalian sudah kembali." ucap Vania. Gadis itu segera menghampiri Deryl dan Kevan yang membawa banyak papper bag ditangannya. "Kenapa belanja sebanyak ini?"
"Tidak tau. Kami tidak sadar, periksa saja sendiri. Aku mau kekamar, kepalaku sakit." ucap Deryl, pria itu langsung pergi kekamarnya setelah meletakkan barang belanjaannya.
Naya menghampiri Kevan dan Vania yang sedang membongkar-bongkar isi papper bag. Naya melihat ada lima papper bag yang berisi pakaian dalam. "Astaga. Jadi ini yang membuat kalian lama?" tanya Naya.
"Itu salah satunya, itu adalah masalah besar bagi kami!" jawab Kevan.
"Lalu apalagi masalah lainnya?"
"Ini."
Kevan menyerahkan dua kantong plastik besar kepada Naya yang berisikan benda bersayap yang dia dan Deryl beli dengan penuh rasa malu. Bahkan mereka harus memakai masker ketika memilih benda bersayap itu supaya tidak ada yang menatap mereka dengan aneh.
"Kenapa membeli sebanyak ini?" tanya Naya setelah mengobrak-abrik isi kantong plastik itu.
"Hehehe .. soalnya kami bingung mau pilih yang mana. Kata pelayan disana, itu semua merek bagus. Aku dan Deryl bingung mencari mana yang paling kamu sukai, akhirnya kita mengambil masing-masing dua."
"Astagaa.. tidak begini juga. Kan aku sudah mengirimmu pesan tentang mereknya, Kevan."
"Benarkah? Aku tidak ada memeriksa ponselku, Naya. Maaf."
"Iyasudah tidak apa-apa. Sana, ganti bajumu dulu. Kamu berkeringat banyak sekali."
"Aku berkeringat karena menahan malu."
"Yasudah, apapun alasannya."
Kevan mengangguk dan segera berlari kekamarnya sambil membuka jaketnya. Naya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat hasil belanjaan dari kedua suaminya itu. "Mereka memilih sayuran dan buahan dengan teliti."
"Ternyata mereka bisa diandalkan ya, kak Naya. Walaupun kadang seperti tom and jerry, tapi mereka lumayan juga kalau dimanfaatkan."
"Iya, Vania. Begitulah, walaupun mereka sering bertengkar tapi mereka juga dapat diandalkan. Akhir-akhir ini pun mereka jadi sedikit lebih akur dibanding biasanya."
"Kalau begitu kita harus memasak untuk memberikan penghargaan kepada peliharaan baru kita, kak Naya. Untuk tom and jerry dirumah ini."
Naya tertawa pelan. "Iya, ayo kita memasak untuk mereka."
* To be continue *
Author dah kehabisan ide . Mohon maaf kalo gaje begini estege .. sedih saya tuch.
__ADS_1