
Kevan berada dikantornya hari ini. Karena ada urusan yang penting perihal kerjasama bisnis, mau tidak mau Kevan harus datang ke kantornya dan meninggalkan Naya serta kedua bayinya yang lucu di rumah sakit.
"Pak Kevan, ini berkas milik Sca Group." ucap Mina, sekretaris Kevan.
"Terimakasih. Uhm, apa jadwal saya hari ini?"
"Rapat bersama pimpinan utama Sca Group jam sebelas siang di Golden Restaurant."
"Sisanya?"
"Kosong, pak. Oh iya, ini juga berkas yang diajukan oleh pak Ardinata tadi pagi. Mohon ditandatangani."
Kevan langsung melabuhkan tandatangannya di kertas itu dan menyuruh sekretarisnya menyiapkan keperluan untuk pertemuannya nanti. Sekarang Kevan ingin beristirahat dulu sebentar karena tadi malam ia dan Deryl begadang mengurus Kenzio dan Kiano karena Naya harus banyak istirahat agar cepat pulih.
Kevan menuju sofa ruangannya, melepas jas dan melonggarkan dasinya. Masih ada waktu satu jam sebelum pertemuan, masih sempat untuk beristirahat.
"Halo, Kevan." suara seorang wanita masuk kependengaran Kevan ketika pria itu akan memejamkan matanya. Kevan segera bangun dan menoleh kearah pintu ruangannya yang sudah dibuka oleh seorang wanita cantik berpakaian seksi.
"Kamu?"
Wanita itu melangkahkan kakinya masuk menghampiri Kevan yang menatapnya dengan terkejut. "Senang melihatku lagi, Dear?"
"Apa yang kamu lakukan disini, Helena?!"
Wanita itu, mantan kekasih Kevan .. tertawa setelah melihat ketegangan diwajah Kevan. "Aku? Aku rindu kamu sayang." Ucapnya sambil membelai wajah Kevan.
Kevan segera menepis tangan itu dari wajahnya dan menjauh dari Helena. "Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, Helena. Lebih baik kamu pergi sekarang!"
"Kita baru saja bertemu, kenapa kamu terburu-buru sekali sih? Apakah terburu-buru memang ciri khas keluarga Ardinata hm?"
Kevan mengepalkan tangannya, berusaha tetap tenang menghadapi mantan kekasihnya yang dengan santainya sekarang duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.
"Pergi, Helena. Jangan buat aku marah."
"Memangnya ada apa Kevan? Kenapa kamu mengusirku terus? Apa kamu tidak rindu denganku? Dengan anak kita?"
"Jangan berbicara tentang omong kosong, cepat pergi atau kupanggilkan satpam untuk mengusirmu?!" Ucap Kevan meninggikan suaranya, tetapi samasekali tidak membuat nyali wanita didepannya itu ciut sedikitpun.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Kevan mengambil ponselnya dan segera menghubungi pihak keamanan untuk menyeret wanita gila ini dari hadapannya. Belum sempat Kevan melakukannya, wanita itu sudah menerjangnya hingga Kevan terbaring dibawah wanita itu.
"Aku tidak suka kamu mengabaikan aku, sayang." ucapnya.
"Menyingkir dariku!"
"Kita bisa bersenang-senang, Kevan.. jangan terlalu kaku. Apa kamu benar-benar menginginkannya hm? Kita masih bisa melakukannya seperti dulu."
Kevan langsung bangun dan membiarkan wanita itu terjatuh ke lantai. "Apa maumu?!" tanya Kevan tajam. Ia mencengkram dagu Helena kuat, membuat wanita itu meringis karenanya.
"Kembali padaku."
"Tidak akan pernah. Istriku jauh lebih baik darimu, dan kabar baiknya aku sudah mempunyai dua anak sekarang! Jadi, lebih baik kamu buang jauh-jauh pikiranmu untuk bersamaku kembali, karena sekuat apapun kamu mencoba, aku tidak akan pernah goyah dan kembali padamu!"
Setelah mengucapkan hal itu, Kevan langsung mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya, meninggalkan Helena yang masih terduduk di lantai.
"Lihat saja, akan kubuat kamu menyesal!"
**
"Kamu harus makan, Deryl!"
"Aku belum lapar, sayang."
"Aku bisa makan sendiri, Deryl. Makan lah makananmu, nanti kamu sakit." ucap Naya ketika Deryl terus menyuapinya makan.
"Aku bisa makan setelahmu, Naya."
Naya mengecurutkan bibirnya kesal. Deryl samasekali belum menyentuh makanannya, dan menurut berita yang disampaikan ayahnya, Deryl belum makan sejak kemarin saat pria itu pamit pulang untuk membersihkan rumah.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Naya pelan. Dia memang mengamati ekspresi wajah Deryl yang terlihat sendu.
"Aku tidak apa-apa, Naya. Aku hanya terlalu bahagia." jawabnya sambil tersenyum.
Naya meringis melihat senyuman Deryl yang terpaksa itu. "Kamu yakin?"
"Iya aku—"
"Naya, ibu data— Astaga! Makanan apa yang kamu berikan kepada menantuku?!"
Ibu Kevan langsung mendorong tangan Deryl yang sedang memegang mangkok itu hingga mangkoknya terjatuh dan makanannya berhamburan di lantai.
"Apa yang ibu lakukan?!" tanya Naya kesal.
"Makanan itu tidak layak untukmu, Naya!"
Naya sudah akan mengeluarkan protesnya lagi, tapi Deryl menatapnya dan mengangguk, akhirnya Naya hanya terdiam. Deryl mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan tumpahan makanan itu di lantai.
"Ibu membawakan kamu sayur-sayuran, agar kamu cepat pulih."
"Aku sudah kenyang ibu." jawab Naya malas. Ia lebih tertarik dengan makanan yang diberikan Deryl tadi daripada masakan ibu mertuanya, walaupun ia memang masih lapar.
Naya menatap Deryl yang sedang berjongkok membersihkan lantai dengan tissue. Hidung pria itu memerah, tanda bahwa dia menangis. Naya tidak buta untuk tidak menyadari keadaan hati Deryl yang mungkin saja terluka.
"Yasudah kalau begitu, ibu juga membawakan buah-buahan untukmu. Ibu kupaskan ya?"
"Naya, aku ke ruanganku sebentar ya. Ada yang harus kuperiksa disana." ucap Deryl tanpa menatap wajah Naya. Bahkan Naya bisa mendengar suaranya bergetar.
"Tapi kamu kan mau menemani—"
"Sudah, pergi sana. Ada aku yang menemani Naya disini."
Deryl tidak mengucapkan apa-apa lagi, langsung keluar dari ruang rawat Naya dan pergi ke ruangannya. Hati Naya hancur rasanya melihat Deryl seperti itu.
**
Kevan memasuki ruang VVIP restaurant bersama sang sekretaris. Setelah kejadian diruangannya tadi, Kevan meminta Mina untuk mempercepat jadwalnya karena mood-nya sedang hancur.
Kevan sudah tiba di ruangan khusus itu dan melihat seorang pria muda dengan seorang wanita disebelahnya.
"Selamat siang Pak Kevan."
"Siang, Pak Matteo."
__ADS_1
"Silahkan duduk." ucap pria itu ramah.
"Maaf untuk memajukan jadwalnya secara tiba-tiba, Pak Matteo."
Pria itu tertawa pelan. "Santai saja, kebetulan jadwalku juga sedang kosong."
"Ah baiklah kalau begitu. Ini berkasnya, sudah kutandatangani."
Matteo menerima berkas itu dan langsung menyerahkannya kepada wanita yang duduk disebelahnya.
"Silahkan makan, mungkin kita bisa mengobrol dengan santai seperti teman." ucapnya.
Kevan mengangguk dan segera menyantap makanan yang sudah terhidang di meja. "Mari makan." ucap Kevan.
"Ya, ya terimakasih, tapi aku masih kenyang."
"Pak Matteo asli Indonesia?" tanya Kevan mencoba memulai obrolan.
"Aku blaster Belanda-Indonesia. Ini kali pertamaku kesini."
"Benarkah? Tapi bahasa Indonesia anda fasih."
"Iya, temanku asal Indonesia yang mengajarkannya. Dulu kami berteman lewat aplikasi online. Dan kemarin dia juga sempat menemuiku di Netherland."
"Oh ya? Apa anda kesini untuk bertemu dengannya juga?"
"Iya, tapi aku tidak tau dimana rumahnya. Dan aku tidak memiliki kontaknya yang baru."
"Boleh ku tau namanya?"
"Deryl Ananta."
Kevan hampir saja menyemburkan makanan didalam mulutnya karena terkejut. "Anda mengenal Deryl?" tanya Kevan.
"Iya, dia temanku. Pak Kevan kenal?"
"Ya, Deryl juga temanku. Ah maksudku yah teman.."
"Wah kebetulan sekali. Boleh aku tau alamatnya?"
"Ah dia tinggal bersamaku. Sekarang sedang berada di rumah sakit kemungkinan."
Matteo mengangguk-angguk. "Dia masih bekerja sebagai dokter kan?"
Kevan mengangguk. "Setelah ini mungkin aku akan langsung ke rumah sakit. Disana juga ada Deryl, apa Pak Matteo mau ikut?"
"Bolehkah?"
"Tentu saja. Karena Pak Matteo baru disini, mungkin akan tersesat jika tidak tau jalan."
"Iya benar, kalau begitu nanti aku menumpang dengan Pak Kevan ya? Aku bisa meminta Deryl untuk mengantarku pulang nanti."
Kevan mengangguk, dia melanjutkan makan siangnya karena dia memang lapar. Jadi untuk apa malu kan, daripada mati kelaparan. Setelah menghabiskan makanannya dan menunggu Matteo membayar, lalu mereka langsung pergi ke rumah sakit.
"Itu Deryl." tunjuk Kevan ketika melihat Deryl duduk di kursi panjang didepan ruang rawat Naya. Kevan dan Matteo segera menghampiri Deryl.
"Hey, man." ucap Matteo langsung menghambur peluk kepada Deryl. Deryl yang terkejut lantas langsung mendorong Matteo hingga pria itu jatuh ke lantai.
"What wrong, dude? Sakit pantatku.." ucap Matteo sambil mengusap pantatnya.
"Mayat memanggil setan! Tentu saja aku ada disini. Sekarang aku tinggal di Indonesia, yey!"
Deryl hanya menatap Matteo datar ketika pria itu terlihat ceria menyampaikan beritanya. "T-Tunggu, bagaimana kalian bisa datang bersama?" tanya Deryl menatap Matteo dan Kevan bergantian.
"Oh, dia rekan bisnisku sekarang." jawab Kevan. "Ah, Naya tidur?"
"Tidak, ada ibumu didalam."
Kevan pamit lalu dia masuk kedalam ruangan Naya dan meninggalkan Deryl bersama Matteo.
"Wajahmu kusut begitu. Need a coffe or something?" tanya Matteo pelan.
"Ya. Aku butuh kopi, senang kamu ada disini."
"Ayo aku temani. Aku tidak bawa mobil, tadi aku menumpang dengannya."
"Kamu memang selalu menyusahkan."
Deryl dan Matteo berjalan beriringan menuju parkiran. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Matteo lagi.
"Tidak. Aku tidak akan pernah baik-baik saja."
"Ada apa?"
"Aku akan menceritakannya nanti, omong-omong kamu bisa membawa mobil kan?"
"Tentu saja! Memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Matteo Karlafa."
"Apa kamu bisa membantuku mencari nama perusahaan Daddy-ku dulu?"
Matteo dan Deryl masuk kedalam mobil, Matteo bahkan sudah menjalankan mobil Deryl dengan kecepatan sedang. "Apa kamu ingat nama perusahaannya?"
"Aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya Jash Corporation. Aku tidak ahli dibidang perbisnisan dan hack, kupikir kamu bisa membantuku."
"Aku akan meminta bantuan anak buahku nanti. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu ingin mencari tau nama perusahaan ayahmu?"
"Aku juga tidak tau. Aku merasa janggal dengan kematian orangtuaku dan hilangnya perusahaan Daddy."
"Maksudmu?"
"Ini seperti sudah direncanakan, Teo!"
"Maksudmu kecelakaan yang dialami om Jash dan tante Sarah itu tidak murni kecelakaan?"
"Sepertinya begitu. Ayah Naya juga menceritakan kalau dulu Daddy-ku mempunyai banyak musuh yang ingin merebut perusahaannya."
"Baiklah, aku akan membantumu sebisaku."
**
Kevan sedang menggendong Kenzio yang sudah selesai menyusu. Sekarang bayi itu tengah tertidur digendongan Kevan.
"Jangan buang-buang tenagamu untuk menggendong bayi itu, Kevan." tegur sang ibu.
__ADS_1
"Bayi ini punya nama ibu! Namanya Kenzio jika ibu tidak tau!"
"Samasekali tidak penting untukku mengetahui namanya apa tidak."
"Kenapa ibu sangat membenci Deryl?! Memangnya apa yang dilakukannya sampai-sampai ibu membencinya seperti ini?"
"Dia itu pembawa sial, Kevan! Sama seperti kedua orangtuanya!"
"Apa? Ibu tau tentang orangtua Deryl?" tanya Naya.
"Hah? T-Tidak. Aku tidak tau orangtua pria itu." ucap ibu Kevan sedikit gugup.
"Ibu, sikap ibu kepada Deryl itu sangat keterlaluan! Ibu berbicara sangat kasar padanya padahal dia tidak memiliki salah apa-apa padamu!"
Kevan sudah muak dengan kedua orangtuanya yang sangat membenci Deryl seperti Deryl adalah seorang penjahat.
"Ibu mempunyai alasan tersendiri untuk membencinya, dan kamu tidak perlu tau. Yang jelas, pria itu benar-benar membawa sial untuk kita!"
"Bu!"
Naya membenci dirinya yang hanya bisa diam dan tidak bisa membela Deryl. Naya membenci ketidakberdayaan dirinya, merelakan Deryl dihina-hina oleh mertuanya sendiri.
"Selamanya Deryl akan tetap bersamaku dan Naya. Karena kami adalah keluarga."
Ibu Kevan hanya tersenyum remeh mendengar ucapan mutlak Kevan yang samasekali tidak berarti untuknya. "Mungkin saja tidak selamanya."
"Apa maksud ibu?"
Sang ibu hanya menyeringai lalu keluar dan pergi .. entah kemana.
**
"Bagaimana menurutmu?" tanya Deryl. Saat ini mereka berada di sebuah caffe, karena tadi Deryl meminta Matteo untuk menemaninya minum kopi.
"Kebanyakan dari informasi itu dirahasiakan, aku curiga pelakunya pasti memiliki dendam pada orangtuamu."
"Itu sudah pasti bodoh, kamu ini kadang berbicara omong kosong. Kepalamu ini ada isinya apa tidak sih?" tanya Deryl kesal.
"Santai, santai. Jangan marah, aku hanya bercanda. Kamu tegang sekali, kan aku jadi takut."
"Terkadang aku menyesal memiliki teman sebodoh dirimu, Teo. Sedih rasanya."
"Kamu jangan begitu, aku jadi sedih juga. Bagaimana kalau kamu kuhibur?"
"Apalagi kali ini?"
Matteo terkekeh. "Tenang, tidak ada unsur kebodohan dalamnya. Aku akan bermain tebak-tebakan saja."
Deryl hanya menatap Matteo datar.
"Baiklah. Apa bahasa inggrisnya mengatakan?"
"Say."
"Kalau ini disebut apa?" Matteo menaik-naikan jarinya.
"Jari."
"Bukan bodoh. Maksudku, 1 2 3 4 itu disebut apa?"
"Oh, angka."
"Manchester United, kalau disingkat menjadi?"
"MU."
"Coba gabungkan pelan-pelan."
Matteo menyilangkan kedua tangannya didada sambil menahan tawa menunggu reaksi Deryl.
"Say Angka MU. Sayangkamu, bajengan!"
"Hahahaha! Aku sayang kamu juga Deryl! Hari ini kita berpacaran ya!"
"Menjauh dariku, kamu menjijikan!" Deryl mendorong Matteo agar menjauh darinya.
"Hahaha!"
Deryl tersenyum. Matteo memang sahabat terbaiknya, sedikitnya perasaan terluka Deryl mulai ia lupakan. "Itu memang menghibur, terimakasih."
"Iya, sama-sama sayang."
"Kamu mau kupukul ya?"
"Tidak boleh ada kekerasan dalam hubungan ini. Cukup kamu yang keras, kamu jangan."
Deryl sepertinya harus mengoreksi kembali kata-katanya yang menyebutkan bahwa Matteo membuatnya terhibur, karena demi apapun, pria itu bukan menghibur tetapi dia gila. Otaknya sudah hilang, terbang saat diperjalanan.
"Aku masih waras jika kamu khawatir." ucap Matteo.
"Mana aku tau jika kamu mempunyai niat terselebung. Biasanya orang sepertimu licik."
"Licin sekali mulutmu seperti belut."
"Terimakasih, mulutku licin karena setiap hari di pel."
"Ah aku mau mencoba permainan denganmu."
"Permainan apa? Kamu ini seperti anak kecil saja, padahal sudah bau tanah."
"Permainan apa saja, asalkan jangan petak umpet."
"He? Memangnya kenapa?"
"Karena mustahil menemukan pria sepertimu."
"Bajeeeeeeengan!"
"Ahaha! Pipimu memerah!"
Tolong ingatkan Deryl bahwa mereka sedang berada ditempat umum, jika tidak .. sudah habis Matteo itu :)
* **TO BE CONTINUE *
__ADS_1
DRAMA SEDIKIT TIDAK APA-APA YA, KONFLIKNYA TIDAK BERAT KOK. YANG BERAT ITU, RINDU. AHAHAHA**