
Kenzio mengucek matanya ketika baru saja bangun dari tidur. Sekarang sudah sore, Kenzio bisa melihat di jam yang tergantung dikamarnya menunjuk ke angka 4. Kenzio bergegas turun dari kasurnya dan keluar dari kamar dengan berlari.
Hap! Deryl menangkap Kenzio dan menggendong anak lelaki itu.
"Daddy?"
"Ada apa, Jagoan? Kenapa berlari seperti itu?" tanya Deryl pelan sambil mengusak pelan rambut anaknya.
"Daddy sudah pulang?"
Deryl mengangguk pelan. "Daddy baru selesai mandi, Zio sudah mandi?"
Kenzio menggeleng pelan. Dia memeluk erat leher sang daddy. "Zio langsung mencali Daddy begitu bangun."
"Benarkah?"
"Hu'um. Telnyata Daddy tidak bohong pada Zio! Daddy benal-benal pulang cepat!"
"Tentu saja, Daddy tidak bohong kepada Zio." Deryl mencium pipi gembil Kenzio, membuat anak itu terkekeh geli. "Lebih baik Zio mandi dulu, setelah itu Daddy akan menemani Zio bermain."
"Zio ingin mandi ditemani Daddy."
"Baiklah, kita kekamar Daddy ya. Zio mandi disana dan nanti Daddy akan mengambilkan baju Zio dikamar. Okey?"
"Okey, Doctol!"
Deryl dan Kenzio segera pergi kekamar Deryl, sementara Kenzio sedang mandi, Deryl segera berpakaian dan pergi kekamar anaknya untuk mengambil baju Kenzio. Kiano masih tertidur disana dengan dot kosong yang masih menempel dimulutnya, Deryl terkekeh pelan lalu mengambil dot itu dan meletakkannya diatas meja. Setelah itu dia segera kembali kekamarnya.
"Zio? Sudah selesai mandi?" tanya Deryl sedikit berteriak.
"Sudah, Daddy!" sahut Kenzio.
Deryl menghampiri Kenzio dengan membawa handuk kecil bergambar Thomas dan segera membungkus bocah itu sebelum dia kedinginan.
"Pakaikan baju untuk Zio!" pinta Kenzio dengan manja.
"Zio kan sudah besar, bisa memakai baju sendiri, benar?"
Kenzio mengangguk pelan. "Tapi Zio ingin Daddy yang memasangkannya." jawab anak itu dengan lucu.
"Baiklah. Daddy memang tidak bisa menolak permintaan pangeran tampan ini."
Sebelum memakaikan baju, Deryl sudah memberikan minyak telon dan memakaikan pupur bayi keseluruh tubuh Kenzio dan kemudian memasangkan bajunya.
"Apa Zio tampan?" tanya anak lelaki itu sambil berdiri didepan kaca besar milik Deryl.
"Tentu saja! Anak Daddy yang paling tampan!"
"Yeay! Zio sayang Daddy!"
"Yasudah, ayo kita pergi sekarang, sebelum terlalu sore dan tamannya menjadi sepi."
Kenzio langsung berlari kegendongan sang daddy dan mereka langsung pergi ke taman bermain sesuai janji Deryl pada Kenzio.
__ADS_1
**
"Naya, bisa buatkan kopi untukku?" tanya Kevan. Pria itu baru saja kembali dari kantornya, dan sekarang dia berada didapur menghampiri Naya.
"Sore-sore begini mau minum kopi?" tanya Naya pelan. Wanita itu sibuk dengan kegiatan memotong-motong bawang untuk memasak.
"Iya, sayang. Aku butuh penyegaran."
"Baiklah, kalau begitu kamu mandi dulu, nanti aku buatkan kopinya."
Kevan mengangguk patuh. "Eh? Dimana Kiano? Dia tidak terlihat, pergi bermain dengan Zio kah?"
"Kiano masih tidur, Zio dan Deryl pergi ke taman bermain."
"Oh begitu, baiklah. Aku mandi dulu,"
Naya mengangguk, lalu tangannya mulai mengambil gelas kaca dan memasukkan bubuk kopi hitam serta gula untuk Kevan.
**
"Zio mau main apa?" tanya Deryl ketika mereka sudah berada di taman bermain.
Anak itu masih berada digendongan sang daddy, dan masih terdiam menatap sekelilingnya.
"Ada banyak anak-anak disana, mau bermain dengan mereka?" tanya Deryl lagi. Kenzio mengangguk pelan lalu Deryl menurunkan Kenzio dari gendongannya dan anak itu segera berlari untuk ikut bermain dengan anak-anak lainnya.
Sementara Kenzio sudah bermain, Deryl melihat-lihat sekeliling, mencari tempat duduk untuk menunggu Kenzio selesai bermain. Dan Deryl menemukannya, menemukan tempat duduk tapi sayangnya.. disana banyak sekali ibu-ibu yang juga sedang menunggui anaknya. Deryl tidak mungkin menunggui Kenzio didalam mobil karena letak parkiran yang lumayan jauh, maka mau tidak mau Deryl harus ikut duduk bersama ibu-ibu itu.
"Oh iya.. silahkan,"
Deryl mengangguk dan tersenyum lalu duduk di kursi ujung. "Terimakasih."
"Menunggui adiknya ya?" tanya salah satu ibu-ibu Deryl.
"Ah.. itu anak saya yang bermain hehe."
"Benarkah? Masih muda seperti ini sudah memiliki anak?"
"Yang mana anaknya?"
"Itu yang memakai kaos biru langit."
Sontak ibu-ibu itu langsung mengikuti arah tunjuk jari Deryl yang sedang menunjuk Kenzio tengah bermain sambil tertawa-tawa riang.
"Anaknya saja cakep seperti itu, apalagi ayahnya." celetuk ibu-ibu itu membuat Deryl terkekeh pelan.
"Mas ini tinggal disekitar sini juga?"
"Ah, saya tinggal di komplek Moon-Orchid,"
"Wah... keluarga orang kaya ya?"
"Sudah bekerja? Kerja dimana?"
__ADS_1
"Bekerja di rumah sakit, saya dokter spesialis."
Mendengar jawaban dari Deryl, ibu-ibu itu semakin semangat menanyai Deryl dengan berbagai pertanyaan yang terkadang membuat Deryl tertawa. Mereka pikir kapan lagi bisa melihat hot daddy seperti Deryl.
**
Kevan baru saja menyelesaikan mandinya, dia langsung pergi kedapur untuk meminum kopinya. Kopinya ada diatas meja tetapi tidak ada Naya disana.
"Naya." panggil Kevan.
Tidak ada sahutan, tapi Kevan mendengar suara Naya dari teras. Suara tawa Naya dan suara seorang pria, tidak jadi menyeruput kopinya, Kevan berjalan menghampiri Naya. Sesampainya diteras, Kevan dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat. Naya tengah memeluk seorang pria! O Em Ji.
Tanpa peringatan apa-apa, Kevan langsung menarik tangan Naya agar melepaskan pelukannya dengan pria itu. Naya terkejut melihat Kevan yang menatapnya dingin.
"Kevan."
"Siapa dia?" tanya Kevan datar.
"Kevan, dia adalah ad—"
"Halo, aku selingkuhan Naya." ucap pria itu sembari tersenyum lebar.
"Apa?!" kaget Naya dan Kevan bersamaan.
"Ehm. Kevan, kenalkan, namaku Jef. Aku dan Naya adalah sepasang kekasih," ucap pria itu sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kevan.
"Jef, aku akan memukulmu nanti!" ucap Naya marah.
"Naya, kamu benar-benar berselingkuh?" tanya Kevan dengan bodohnya. Naya menepuk dahinya pelan.
"Iya, aku dan Naya sudah berpacaran sejak kami kecil."
"Bukannya dia berpacaran dengan Deryl dulu?!"
"Aku pacarnya sebelum Deryl."
"Jef!" tegur Naya. Naya menghembuskan nafasnya pelan. "Kevan, ini Najif alias Jef, dia adalah adik sepupuku. Anak pamanku," ucap Naya menjelaskan.
"Aish, kenapa kamu beritau dia duluan? Apa kamu tidak melihat wajahnya yang seperti gorilla sekarat? Ah kamu merusak rencanaku, Naya.." ucap Jef berpura-pura kecewa.
"Diam kamu!"
Sementara itu Kevan masih ternganga tidak mengerti dengan kejadian barusan. "Hei, bocah kurang ajar. Kenapa aku tidak pernah melihatmu? Pasti kamu mengaku-ngaku sebagai sepupunya Naya!" tuding Kevan.
"Aku? Tidak! Dibilang aku ini kekasihnya Naya!"
"Kamu tidak pernah melihatnya karena dia selama ini kuliah di luar negeri bahkan dia tidak datang saat pernikahan kita."
Tanpa permisi Jef langsung masuk kedalam rumah mewah itu dan meninggalkan Kevan yang masih berteriak marah kepadanya dan Naya yang berusaha menenangkan Kevan.
"Aku meninggalkan kopi kesayanganku gara-gara bocah itu!"
—to be continue
__ADS_1