
Deryl dari tadi terus menatap Kevan dengan kesal. Karena pria itu yang terus mengganggunya dengan menagih kelanjutan cerita Deryl. Salah siapa yang memotong cerita dengan opini diluar nalar seperti Kevan?
"Ayolah, aku janji akan membelikan apapun yang kamu mau. Tapi kamu harus menuntaskan cerita tentang rumah ini, aku tidak mau mati penasaran dan bergabung dengan arwah yang ada disini."
"Kamu terlalu lebay. Makanya, dengarkan dulu ceritaku lalu membuat opini. Dasar menyebalkan!" gerutu Deryl sambil membuka bungkus cemilan.
"Iya, iya. Aku tidak akan memotong ceritamu lagi. Sekarang cepat ceritakan padaku atau kulaporkan pada Naya kalau kamu mencoba selingkuh darinya!" ancam Kevan.
Deryl mendecih pelan. "Konyol."
"Cepaaaaaat!"
"Bagian mana yang mau kamu dengar?"
"Semuanya. Aku tidak suka mendengar cerita setengah-setengah. Ceritakan sampai tuntas."
"Baiklah. Sekarang duduk, diam dan dengarkan."
Kevan mengangguk semangat mendengarkan Deryl yang sudah memulai ceritanya.
"Jadi begini, dulu sebelum dibangun rumah ini. Tanah ini dulunya bekas rumah sakit terbengkalai. Rumah sakit itu dulu ramai sekali, sampai akhirnya ada seorang pasien sakit jiwa datang. Semuanya berubah, pasien sakit jiwa itu ternyata seorang psikopat. Dia membunuh semua orang yang ada dirumah sakit, termasuk pasien dan dokternya. Setelah semua orang mati, lalu dia mulai menguliti dirinya sendiri dengan pisau daging setelah itu dia menebas lehernya sendiri."
Kevan terlihat pucat setelah mendengar cerita Deryl. Bahkan dia mulai merasa merinding sendiri setelah mendengar cerita seram itu.
"Tidak sampai disana, polisi yang ditugaskan untuk memeriksa rumah sakit itu dikabarkan meninggal dengan keadaan tubuh yang dikuliti. Semenjak saat itu orang-orang mulai percaya kalau arwah gadis gila itu masih gentayangan. Bahkan beberapa dukun sampai ikut turun tangan, dan berakhir dengan mereka yang jatuh sakit mendadak bahkan meninggal."
Deryl membuka sekaleng soda yang ada dimeja sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Masih mau mendengar?" tanyanya pada Kevan yang terlihat sedikit berbeda. Ya dengan wajah pucatnya tentu saja.
"Ya, masih. Lanjutkan.."
"Lalu kasus itu ditutup begitu saja oleh pihak kepolisian, dan lima tahun setelahnya rumah sakit itu dirobohkan karena kerap terdengar suara wanita tertawa keras, bahkan ada juga beberapa orang yang melihat penampakan gadis pengkulit itu. Membawa pisau daging dan kulit manusia."
"Dan rumah ini?"
"Puing-puing sisa rumah sakit itu dibakar habis oleh orang, dan jadilah tanah kosong yang kemudian kubangun rumah ini."
"Kamu serius? Benar-benar dirumah ini?" tanya Kevan ketakutan. Bahkan sekarang pria itu pindah duduk mendekat pada Deryl sambil memeluk bantal guling.
"Iya rumah ini. Makanya kamu tidak boleh bertindak tidak senonoh sembarangan, nanti gadis itu marah."
"Aish... bagaimana ini? Aku jadi takut."
__ADS_1
"Dasar penakut. Katanya kamu laki-laki."
"Iya aku memang laki-laki, tapi jika mendengar hal begitu bukankah sangat mengerikan? Aku lebih takut pada preman karena terlihat wujudnya, sedangkan 'itu' ? Dia tidak terlihat! Tapi bisa menguliti, Deryl! Pikirkan betapa seramnya hal ini!"
"Benar juga."
"Iya kan? Mana tau dia sekarang sedang mendengarkan pembicaraan kita sambil memegang pisau dagingnya. Bodoh, bodoh. Aku menyesal memintamu untuk menceritakannya."
"Aduh aku juga menyesal menceritakannya! Sekarang bagaimana ini?! KITA HANYA BERDUA DIRUMAH! Astaga.. penyesalan memang selalu datang terakhir!"
"Deryl, kurasa kita perlu—"
Praaaang!
Suara gelas pecah seperti dibanting terdengar dari arah dapur dan diiringi suara tawa yang kecil. Deryl dan Kevan saling tatap sebelum akhirnya mereka lari terbirit-birit keluar dari rumah. Dan bodohnya mereka samasekali tidak membawa kunci mobil.
"Kita harus menyusul Naya!" ucap Kevan.
"Iya, aku akan memesan taksi!"
Deryl meraba kantong celananya serta bajunya. Tapi tidak menemukan ponselnya disana. "Ponselku tertinggal dirumah! Sial, bagaimana ini?! Aku tidak mungkin kembali dan mengambilnya! Bisa-bisa aku dikulitinya!"
"Ponselku juga ada diatas meja! Kita cari taksi biasa saja! Berdiri dipinggir jalan."
"Kita akan meminta bantuan ayah mertua untuk mencarikan dukun, ustad, atau orang pintar. Pokoknya yang bisa mengusir arwah itu!"
"Yasudah, kita cari taksi sekarang!"
**
"Jadi, kapan kamu akan pulang?" tanya Ronald pada sang putri yang masih asik bergoleran sambil menonton kartun Tom and Jerry.
"Nanti saja, aku mau menenangkan pikiran dulu. Kalau bertemu dengan dua konyol itu pasti kepalaku sakit lagi." jawab Naya.
"Dua konyol itu suamimu omong-omong jika kamu lupa."
"Oh aku ingat kok."
Baru saja Ronald akan menghirup tehnya sambil mencelup kue kering yang ada di toples. Lalu dia mendengar suara gedoran pintu yang akan merobohkan rumahnya. Ronald harus segera keluar sebelum pintu rumahnya rusak karena pelaku gedoran itu.
Cklek.
__ADS_1
"Deryl? Kevan?"
Ronald menatap kedua menantunya itu dengan pandangan aneh. Pasalnya, keadaan mereka sungguh berbeda. Biasanya Ronald akan menemukan Deryl dan Kevan dalam keadaan rapi. Tapi sekarang ia malah menemukan kedua menantunya itu dalam keadaan acak-acakan.
"Kenapa kalian?" tanyanya heran.
"Ayah, boleh aku minta air es dulu? Aku haus." ucap Deryl ngos-ngosan.
"Kalian seperti gembel begini, masuklah."
Deryl dan Kevan segera masuk kedalam rumah ayah mertuanya itu. Naya terkejut mendapati kedua suaminya berada di rumah ayahnya dengan penampilan yang acak. Deryl yang hanya menggunakan kaos dan celana jeans pendek serta kulitnya yang memerah. Pun dengan Kevan yang hanya memakai kaos kutang dan celana kain selutut.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Naya bingung.
"Kamu jangan pulang dulu. Kamu disini saja sampai keadaan kembali aman." ucap Kevan.
"Memangnya ada apa dirumah kalian?" tanya Ronald menimpali.
"Dirumah kami ada hantu, ayah." jawab Deryl setelah menghabiskan sebotol air mineral yang diberikan Ronald padanya.
"Hantu?" ucap Naya dan Ronald kompak.
"Iya. Hantu gadis pengkulit yang membawa pisau daging itu. Tadi saat Deryl sedang menceritakan sejarah rumah itu, tiba-tiba saja dari arah dapur terdengar suara gelas pecah yang seperti dibanting. Tidak lama setelah itu, muncul suara gadis tertawa yang pelan, aku dan Deryl langsung kabur kesini."
"Bagaimana bisa ada hantu?" tanya Ronald heran. Dia kan pernah menginap dirumah itu, dan tidak ada terjadi hal-hal yang aneh menurutnya.
"Iya, dulu sebelum rumah itu dibangun ada bekas rumah sakit yang dirobohkan."
"Dan kamu mau bilang hantu itu ada?"
"Hantu itu memang ada, ayah mertua! Tadi dia menampakkan diri dengan memecahkan gelas dan suara tawa!" ucap Kevan.
"Itu hanya halusinasi kalian karena kalian sedang menceritakan cerita hantu dan kalian menjadi parno!"
"Tidak ayah, kami samasekali tidak sedang berhalusinasi, kami mengatakan yang—"
Praaaaang! Hahaha~
Dari arah dapur terdengar hal yang sama. Kevan dan Deryl saling berpandangan sebelumnya akhirnya mereka lari duluan dari rumah itu, diikuti oleh Ronald dan Naya dibelakang mereka.
** **to be continue .
__ADS_1
ini bukan cerita horror. Tapi genrenya nyambung saja kwkwk**