
Kevan sedang menemani Naya menanam bunga ditaman. Sesuai janjinya saat mereka di Spanyol dulu, Kevan berjanji akan membuatkan sebuah taman bunga untuk Naya dan inilah hasilnya. Taman milik Naya baru selesai beberapa hari yang lalu dan bibit-bibitan yang dibelikan Kevan khusus untuk Naya juga baru sampai kemarin. Kevan menatap langit yang cerah, Naya masih berduduk sambil melubangi tanah dan memasukkan bibit bunga.
"Naya, sudah ya. Harinya sudah panas, wajahmu juga sudah memerah." ucap Kevan menghampiri Naya.
"Satu lagi ya, habis itu sudah." sahut Naya.
Kevan mengangguk dan berdiri didepan Naya untuk melindungi wanita itu dari panas. Mereka hanya berdua dirumah, Deryl sudah pergi ke rumah sakitnya sejak jam tujuh pagi tadi, bahkan saat Kevan dan Naya masih tidur.
Naya menutupi biji bunga terakhir yang ia tanam dengan tanah, lalu menyeka sedikit keringatnya dan menatap Kevan yang tengah berdiri untuk menaunginya. Kevan mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Naya. Kevan membawa Naya masuk kedalam rumah mereka dan mendudukkan Naya di kursi bar dapur mereka. Menyeka keringat Naya yang bercucuran karena ia berjongkok dibawah terik matahari.
"Merasa lebih baik?" Tanya Kevan membelai lembut pipi tembam Naya.
"Eung. Dimana Deryl? Apa dia masih tidur?"
"Dia ada di rumah sakit, sayang. Dia pergi pagi-pagi sekali tadi. Mau menemuinya?"
Kevan menuangkan secangkir jus mangga untuk Naya yang dia ambil dari kulkas dan memberikannya pada wanita itu. Naya langsung meminum habis jus yang diberikan oleh Kevan hingga Kevan terkekeh pelan.
Naya menggeleng pelan, "Tidak, aku hanya bertanya saja soalnya aku belum melihat dia sedari pagi. Peluk aku."
Kevan tersenyum dan langsung menghampiri Naya. Memeluknya istrinya itu dengan lembut. "Ada apa? Biasanya kamu tidak mau aku memelukmu."
"Aku suka bau keringatmu." Ucap Naya mengendus-endus bahu Kevan yang terekspos karena dia hanya menggunakan kaos tanpa lengan yang cukup lebar dibagian lengannya.
Kevan terkekeh dan mengusap pelan punggung Naya, menciumi puncak kepala wanita hamil itu berkali-kali. Biasanya Naya mencak-mencak jika Kevan mendekatinya.
"Apalagi yang kamu suka?" Tanya Kevan masih dengan posisi memeluk Naya.
"Bau keringatmu, baju yang habis kamu pakai, masakan buatanmu dan tidur bersamamu." Sahut Naya sembari menyamankan posisinya dipelukan Kevan.
"Bagaimana dengan Deryl? Apa yang kamu suka darinya?"
"Aku suka dicium bibir Deryl, ditemani Deryl mandi, disuapinya, dan aku suka ketika dia tidur memelukku."
"Adil sekali."
"Aku sayang kalian."
"Manisnya istriku. Tapi sayang, aku belum mandi. Kamu mengajakku berkebun pagi tadi."
"Tidak apa-apa. Aku suka bau badanmu."
"Benarkah? Terus apa yang tidak kamu suka?"
"Semua yang berbau strawberry."
"Strawberry? Bukannya itu kesukaanmu?"
"Aku ingin muntah ketika mencium atau mendengar kata strawberry."
__ADS_1
"Jadi aku harus menggantinya dengan apa?"
"Cokelat. Aku sedang suka vanilla."
"Hah?!"
Kevan segera melepas pelukannya dengan Naya, takut-takut jika Naya mengidam aneh-aneh lagi. Kevan masih malas untuk pergi kemana-mana, ia hanya ingin berada dan beristirahat dirumah dulu selama beberapa hari, bahkan pria itu mengambil cuti selama seminggu. Dan poin pentingnya juga, dia sedang malas disusahkan oleh Naya :)
"Kevan."
"Iya sayang?"
"Tiba-tiba aku ingin—"
"Sayang maaf sepertinya aku harus mandi dulu."
"Ingin tidur bersamamu, tapi—"
"Ayo ayo, aku tidak usah mandi saja. Aku masih harum kok,"
"Tapi bohong."
"Apa?"
Naya tertawa melihat wajah kecewa Kevan yang terlihat sangat memelas. Lucu sekali, seperti ikan buntal yang terkena jaring.
"Iyakah? Apa *Bab*ies rindu dengan Ayah?"
"Tidak, *Babies tidak rindu Ayah. Babies* cuma ingin disapa oleh Ayah."
Kevan sedikit menundukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan perut buncit Naya. "Halo, *Bab*ies. Apa kabar? Kalian baik?"
"Ahaha.. mereka menendang." ucap Naya.
"Benarkah? Apa *Babies mau bermain dengan Ayah dan Daddy? Tapi Babies* harus cepat keluar ya, jangan mau berlama-lama diperut Mama! Nanti kita bermain bersama-sama,"
Naya tertawa mendengar ucapan Kevan, begitupun dengan Kevan. Dia merasa bahagia dan tidak sabar untuk segera melihat sang jagoan terlahir.
**
Deryl pulang kerumah tepat jam delapan malam, dia langsung memasuki kamarnya untuk mandi. Tadi saat dijalan menuju pulang, Deryl sudah mampir kesebuah caffe untuk makan jadi dia bisa langsung beristirahat setelah mandi. Seharian berada di rumah sakit karena harus mengurus laporan milik pasiennya yang menumpuk, menyita banyak waktu Deryl untuk istirahat.
Selesai mandi, Deryl langsung pergi ke arah walk in closet kamarnya untuk mencari baju yang pas untuk dipakai tidur. Deryl hanya memakai kaos polos tipis berwarna putih dengan boxer favorite-nya yang berwarna biru malam. Deryl berjalan keluar sambil melihat jam dinding yang sudah menunjuk kearah sembilan. Baru Deryl akan pergi ke ranjangnya untuk berbaring, pintu kamarnya telah dibuka.
"Naya? Ada apa, sayang?" tanya Deryl lembut dan menghampiri Naya yang masih berdiri dipintu kamarnya sambil memeluk bantal guling berwarna pink.
"Aku mau tidur denganmu.." jawab Naya, wanita itu langsung pergi ke ranjang milik Deryl dan berbaring disana. Deryl menutup pintu kamarnya lalu menghampiri istrinya yang sudah berbaring.
"Kamu tiba-tiba sekali, ada apa hm? Sesuatu terjadi?"
__ADS_1
Naya menggeleng pelan. Dia mulai merayap kedada Deryl meminta pria itu agar memeluknya. "Aku rindu kamu. Seharian tidak bertemu."
"Maaf ya, aku sibuk sekali hari ini. Bahkan tidak sempat berpamitan denganmu."
"Iya. Kamu jahat."
"Maafkan aku, hm?"
"Tidak dimaafkan sebelum kamu membuat aku tertidur dengan cara menemani Babies."
"Babies? Bagaimana caranya, Naya-ku?"
"*Bab*ies ingin Daddy mengusapnya!"
Ah ... Deryl tersenyum mendengarnya. Jadi, Daddy itu adalah dia. Dan Ayah itu si Kevan.
"Baiklah, akan Daddy usap sampai Babies dan Mama tertidur,"
Deryl membenarkan posisi tubuh Naya dipelukannya agar wanita itu merasa nyaman dan relaks, ah lebih tepatnya agar tidak sakit pinggang dan kram perut.
"Bagaimana kabar *Bab*ies hari ini? Apa mereka nakal?"
"Tidak. Babies pintar seperti perintah Daddy."
"Anak baik. Jadi bagaimana kabar istri cantikku hari ini?" tanya Deryl lagi sambil mengusap-usap perut Naya lembut disertai senyumannya. Padahal dia sendiri sudah lelah dan mengantuk.
"Aku baik. Hari ini aku banyak melakukan hal yang kusukai."
"Oh ya? Apa itu?"
"Hari ini aku menanam banyak bibit bunga ditemani Kevan, lalu pergi ke mall untuk mengganti semua peralatanku yang strawberry."
"Oh? Kamu menggantinya dengan apa? Bukannya kamu suka strawberry?"
"Aku menggantinya dengan cokelat. Dan aku benci strawberry, aku ingin muntah ketika menciumnya."
"Baiklah kalau begitu. Makan apa hari ini?"
"Ah.. Kevan memasak untukku."
"Lagi? Apa yang dia masak?"
"Capcay! Enak sekali, aku suka."
"Yasudah kalau begitu. Sekarang tidurlah, ini sudah malam sekali, tidak cocok untukmu."
Naya mengangguk dan mulai memejamkan matanya dipelukan Deryl. Enak sekali rasanya Naya bisa mencium bau ketiak Deryl yang menjadi favorite-nya juga akhir-akhir ini.
* TO BE CONTINUE *
__ADS_1