
Naya tersenyum cukup lebar hari ini. Tangannya yang sibuk memotong buah-buahan untuk dijadikan santapan awal sebelum akhirnya mereka memakan makanan berat. "Kupas dengan perlahan, Kevan." Ucap Naya.
Kevan mengikutinya, memotong buah pisang itu lebih pelan dan berhati-hati. "Ya, seperti itu. Anak pintar." Puji Naya.
"Potong lebih kecil lagi, Deryl. Akan susah memakannya jika sebesar itu nanti."
Deryl mengangguk. Memotong buah apel itu menjadi lebih kecil dan Naya tersenyum lebar. Dua suaminya sedang menjadi anak baik pagi ini. Naya jadi lebih muda menghadapi keduanya.
"Sudah selesai?" Tanya Naya, dan diangguki oleh dua pria dewasa itu bak anak TK.
"Cuci tangan dulu sana, aku akan menghidangkannya."
Lalu bagai anak TK yang berebut tempat duduk paling depan, Deryl dan Kevan saling melirik pada wastafel. Berlomba siapa yang lebih dulu selesai yang diartikan untuk bisa mendapatkan Naya.
Ternyata tidak bisa bertahan lama.
"Hei siapa yang kemarin berjanji kalau mulai pagi ini harus lebih tenang?"
Mereka terdiam. Akhirnya Naya meletakan masing-masing semangkuk kecil penuh buah-buahan dihadapan mereka. Tak ada yang protes dan mulai memakannya dengan menatap Naya tentu saja.
Di bawah sana, tangan Kevan mengelus jari-jari kaki Naya dengan sangat sensual, sedangkan tangan Deryl mulai bermain di pahanya. Naya bahkan tidak tenang menikmati sarapannya karena dua pria itu.
"Uhm, cepat selesaikan sarapan kalian."
Naya lebih mendekatkan kopi untuk Kevan, sebelum itu ia sudah memperingati untuk tidak ada lagi tragedi tumpah-menumpahi minuman.
Begitupun dengan susu Deryl, ia menerima dengan ucapan terima kasih pada Naya yang sudah membuatkannya susu setiap pagi.
Sampai jam menunjukkan pukul delapan, itu tandanya Deryl harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat. Wajahnya merengut tak senang. Itu artinya ia akan meninggalkan Naya dengan predator seperti Kevan Ardinata.
Deryl membuang nafas, Naya sudah memegang tas kerjanya, seolah-olah sedang mengusirnya agar cepat pergi.
Itu hanya pikiranmu saja.
Kevan masih disana, menatap dua manusia berbeda ukuran itu berjalan menuju pintu utama. Hari ini Kevan tidak masuk bekerja.
"Berhati-hatilah, ingat."
Seperti biasa, Naya selalu mengecup pipi suaminya jika mereka akan berangkat kerja. Sudah menjadi kebiasaannya. Lalu tangan itu merengkuh pinggang Naya. Menyesap harum Naya dalam. "Aku berangkat." Ucapnya sebelum kecupan basah terasa di kening Naya.
Naya tersenyum mulai melambai-lambai antusias sampai akhirnya mobil Deryl keluar gerbang pekarangan mereka. Ia menutup pintunya kembali dan menyusul Kevan yang masih duduk disana. Dengan koran dan kopi dihadapannya.
"Tidak memakan apelmu, Kevan?"
__ADS_1
Kevan benci bahasan ini. Ia tak menyukai buah berdaging renyah itu. "Aku sudah pernah bilang kan, aku tidak mau dan tidak memakan buah apel."
"Tapi kamu menghabiskan pisangnya."
"Ya karena aku menyukai pisang."
Naya melipat kedua tangannya didepan dada setelah merampas koran yang ada ditangan Kevan. "Kamu harus makan apelnya."
"Tidak."
"Kevan Ardinata."
"Naya Amanda."
Naya memicing. "Kamu semakin nakal saja."
"Beri aku apapun selain apel, ayolah. Aku sungguh tidak menyukainya."
"Baik, jangan pernah menyentuhku kalau begitu." Kevan tahu yang dikatakan Naya itu mutlak. Maka ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Pasrah dan Naya tersenyum kecil. Tangannya menggeser kembali piring yang masih penuh dengan potongan buah apel.
Astaga, Kevan benci sekali dengan apel, apalagi jika Deryl yang mengupasnya.
"Kamu semakin kejam saja."
"Kamu menggombal." Ucap Kevan sambil memutar matanya malas.
Naya melingkarkan tangannya pada leher Kevan dari belakang, wajahnya berusaha menatap Kevan dari samping. "Habiskan, ya." Bisik Naya pelan. Menciptakan jutaan yang berhasil menyengat tubuh Kevan. Bahkan ia merinding sampai bulu kulit tangannya berdiri tegak.
Berlebihan memang.
"Maka ucapan anda adalah perintah bagi saya."
Kini Naya tertawa keras. Menatap bagaimana Kevan menelan buah apel dengan sedikit paksaan. Kevan harus menyukai buah apel.
Cup.
Bibir Naya mengecup rahang Kevan, memasukkan kepalanya pada ceruk leher Kevan, sengaja bernafas keras agar nafas Naya terasa pada kulit leher Kevan.
"Jangan menggodaku."
"Kamu memang akan selalu tergoda kan?"
"Kamu tahu jawabannya." Kevan menarik tubuh Naya dengan mudah lalu menggeser piring yang masih ada setengah potongan buah apel disana. Tergantikan dengan tubuh Naya, dengan baju tidur hijau dengan motif keroppi. Menggemaskan.
__ADS_1
Kalau ini buahnya sih, Kevan tidak mungkin berpikir dua kali untuk memakannya.
"Apa kamu akan menjadikanku santapan?"
Kevan tersenyum. Memandangi wajah Naya yang kini lebih tinggi diatasnya. Meraih tengkuknya, mengecup bibir tebal itu akhirnya.
"Tapi kamu ada kelas pukul sepuluh nanti. Orang-orang akan aneh melihat caramu berjalan. Tidak apa, lain kali saja."
Naya dengan cepat melompat ke pangkuan Kevan. Mengecupi wajahnya dengan ciuman kecil. Terasa geli. "Jika kamu memang ingin, aku tidak masalah. Masih ada waktu dua jam lagi, jadi-"
"Masih ada hari lain, sayang. Apa kamu menginginkannya?" Mata Kevan memicing curiga.
Naya memajukan bibirnya spontan. "Uhm, sedikit."
Kevan tertawa, menangkup wajah Naya dengan hati-hati. Mengecup kedua kelopak matanya pelan lalu turun perlahan menuju hidung dan juga kedua pipinya. Kanan dan kiri. Mengecupnya. Memperlakukan Naya dengan amat sangat lembut.
Lalu berhenti didepan bibir tebalnya, sedikit menekan dengan jari jempolnya yang besar sebelum tergantikan oleh bibir tipis Kevan. Menyesap penuh penghayatan.
Naya menutup matanya, mengalungkan tangannya pada leher Kevan, menerima ciuman yang semakin intim.
Lidah mereka mulai beradu.
Membelit satu sama lain.
Terlepas tanpa memberi jarak. Mengambil oksigen sebanyak mungkin.
Saling tersenyum kecil. Jari jempol kanan Kevan mengusap bibir Naya yang sedikit membengkak itu. Sementara tangannya mulai mengusap-usap tubuh Naya dari balik baju tidurnya.
"Hmmpphh."
"Berhenti, Nay! Aku akan menerkam-mu, sungguh."
Naya tersenyum. Bibirnya sedikit terbuka. "Kevan Ardinata." Dengan suara merdu bercampur polos.
"Persetan dengan tingkahmu pagi ini. Baik, kita lakukan dikamar." Menggendong Naya yang kini sudah menjatuhkan kepalanya pada ceruk leher Kevan. Memainkan kulit leher Kevan dengan bibirnya.
Kevan sudah tidak tahan.
Dan tak terkendalikan kalau begini.
Maka jangan salahkan Kevan jika setelah ini Naya tidak bisa berjalan dengan baik.
***
__ADS_1
To Be Continue ..