
Seorang anak laki-laki berlari-lari riang di koridor rumah sakit sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Dia terus tersenyum kepada orang-orang yang menyapanya karena memang dia sudah dikenal dilingkungan rumah sakit ini. Bocah berambut coklat itu adalah Kenzio Ananta dengan sang ibu, Naya Amanda yang sedang berkunjung kerumah sakit mengantar makan siang untuk Deryl.
"Daddy!" Panggil Kenzio nyaring ketika sudah didepan pintu ruangan milik ayahnya.
Sedang Deryl yang berada didalam ruangannya, tengah menganalisis laporan pasiennya tidak bisa menyembunyikan tawanya ketika mendengar suara cempreng sang anak. Maka dengan cepat, sebelum bocah itu merajuk, Deryl keluar dari ruangannya dan menyambutnya.
"Hello, boy!" Ucap Deryl menggendong Kenzio. Kenzio tertawa kecil lalu mencium pipi sang ayah. "Ada apa kalian kemari?" tanya Deryl sembari membawa masuk Naya dan Kenzio kedalam ruangannya.
"Zio lindu Daddy! Daddy bekelja telus, Zio tidak punya teman belmain." ucap Kenzio memanyunkan bibirnya, dia sedang duduk dipangkuan Deryl. Tidak mau duduk sendiri di sofa.
"Zio rindu Daddy? Kan ada Abang Kiano dirumah yang menemani Zio bermain." jawab Deryl.
"Abang juga seling ikut ayah bekelja, Zio tidak punya teman."
"Uh, kasihannya anak Daddy." Deryl menciumi pipi Kenzio yang tengah merengut. Sementara Naya hanya bisa tersenyum melihat keduanya.
"Oh, aku dan Zio membawakanmu makan siang." ucap Naya, dia memberikan satu paperbag kepada Deryl.
"Terimakasih, sayang."
"Mama, Zio disini saja dengan Daddy boleh? Zio tidak mau pulang." ucap Kenzio memeluk Deryl erat.
"Zio kan harus istirahat, Zio baru saja sembuh." jawab Naya.
"Dan juga Zio harus tidur siang, nanti sore Daddy sudah pulang."
"Benal? Daddy tidak bohong?"
"Daddy tidak bohong, Zio. Nanti kalau Zio sudah bangun tidur, Daddy sudah ada dirumah."
"Yey! Okey Daddy!"
Kenzio menciumi pipi Deryl bertubi-tubi membuat Deryl dan Naya tertawa melihat betapa Kenzio menyayangi Deryl.
"Yasudah, Zio kembali sekarang ya. Rumah sakit ini tidak bagus untuk Zio, nanti Zio sakit lagi. Dan tunggu Daddy nanti sore ya."
"Siap, Doctol."
Kenzio memeluk Deryl sekali lagi, lalu dia menggandeng tangan Naya dan mereka pergi dari sana.
**
Saat ini, Kevan tengah mengadakan rapat di kantornya. Dia dengan seksama mendengarkan masukan-masukan dari karyawannya yang sedang berpresentasi mengenai produk terbaru yang akan mereka rilis dalam beberapa bulan kedepan karena perusahaan Kevan adalah perusahaan multinasional yang bergerak dibeberapa bidang, tentunya juga adalah penyokong ekonomi di kota itu. Disebelahnya ada Matteo dan sekretarisnya yang juga fokus memperhatikan, juga sesekali melirik Kevan.
__ADS_1
Kevan tidak bisa berdiri dengan leluasa seperti biasanya dia melakukan presentasi saat rapat, karena sekarang ada sang anak yang tengah tertidur memeluknya. Matteo jadi merasa kasihan melihat Kevan tapi dia juga ingin tertawa, dan dia lebih memilih diam.
Kevan terus memperhatikan presentasi dari karyawannya dengan seksama sambil mencatat-catat hal yang penting untuk dia pikirkan lagi nanti. Begitu tubuh sang anak mulai menggeliat, Kevan segera mengusapnya lagi hingga sang anak tenang dan dia menyelesaikan rapatnya.
"Oke, rapat hari ini cukup sampai disini. Bawakan aku laporan produk dan penjualan, serta rancangan terbaru dari setiap divisi. Kalian boleh istirahat."
Setelah kalimat itu keluar dari mulut Kevan, akhirnya semua karyawan bisa bubar dengan nafas lega.
"Hei, sejak kapan ada peraturan membawa anak kedalam ruang meeting?" tanya Matteo.
"Sejak hari ini anakku ikut rapat." Kevan menghela nafas sejenak. "Ngomong-ngomong kapan kamu akan memiliki anak juga?" tanya Kevan.
Matteo tersenyum tipis. "Aku belum mendapat istri, bodoh." jawab Matteo tenang.
"Bukannya kamu sudah menikah?"
"Dia seorang model, dia takut body-nya hancur karena hamil. Well, wanita seperti itu tidak pantas disebut istri bukan?"
"Maaf, aku tidak tau."
"Tidak apa-apa, santai saja. Kan kita sudah seperti saudara apalagi kalau aku dan Vania menikah nanti."
Kevan memicing menatap Matteo. "Sejak kapan kita seperti saudara? Dan juga kenapa kamu masih berharap dengan Vania?"
"Kenapa? Aku juga bertanya kenapa.. setiap berdekatan dengan Vania jantungku berdebar-debar, rasanya tak menentu, hati bergetar-getar.."
"Tapi itu kenyataan, hatiku mendadak jadi mode getar kalau berdekatan dengan Vania."
"Dasar lebay. Sudah, kembali kekantormu sana. Aku mau pulang." Kevan berdiri dengan pelan-pelan dan menggendong Kiano lalu berjalan keluar dari ruang rapat.
"Titip salam untuk jodohku, ya!" teriak Matteo.
**
Kevan kembali kerumah lebih dulu, dia segera mengantar Kiano kekamarnya dengan Kenzio. Disana, Kenzio juga sudah tidur dengan sebotol dot yang masih menempel dimulutnya. Kevan tertawa pelan lalu mengambil dot itu dan meletakkannya diatas meja agar tidak tumpah ke bantal Kenzio. Lalu setelah itu dia keluar dari kamar dua anak-anak itu.
"Oh? Kamu sudah kembali?" tanya Naya begitu melihat Kevan melepas jasnya diruang tengah.
"Iya. Aku tidak terlalu sibuk hari ini, sisanya masih bisa dikerjakan besok." jawab Kevan.
"Apa Kiano nakal?"
"Tidak. Dia pintar, bahkan tidur sepanjang rapatku."
__ADS_1
"Kamu membawanya rapat?"
"Dia tidak mau ditinggal dengan Alessia. Jadi aku membawanya keruang rapat, tapi dia juga tidur jadi tidak mengganggu samasekali."
"Syukurlah, aku takut dia mengganggu rapatmu."
"Kiano anak pintar, Naya."
Naya mengangguk. "I know. Kamu sudah makan siang?"
"Belum. Aku belum sempat mengambil makan tadi di kantor, Kiano juga belum makan."
"Yasudah, biar saja dia tidur dulu. Nanti setelah dia bangun, kuberi makan. Kamu mau makan apa?"
"Kamu memasak apa hari ini?"
"Ada tumis brokoli."
"Yasudah itu saja. Tolong hangatkan dulu ya, aku ingin mandi sebentar. Gerah sekali."
"Iya, Kevan."
Kevan mengecup kening Naya lalu tersenyum setelah itu dia kembali kekamarnya untuk mandi. Naya segera pergi kedapur untuk menghangatkan sayur seperti permintaan Kevan. Sekarang masih jam dua siang, Deryl kembali dari rumah sakit jam empat sore, dan dua bocah K itu juga sedang tidur. Naya pikir dia bisa beristirahat setelah ini.
"Sudah selesai?" bisik Kevan seduktif tepat ditelinga Naya.
"Ah.. Sudah, tunggu dimeja makan ya."
"Okey."
Kevan duduk menunggu dimeja makan, dia langsung pergi kedapur begitu selesai mandi, dan dia tidak memakai baju hanya celana pendek selutut yang dia pakai. Pun dengan rambut yang masih basah dan belum dia keringkan. Masih sangat berantakan, tetapi entah kenapa hal itu membuat Kevan semakin terlihat tampan dimata Naya. Naya meletakkan sayur dan nasi dimeja sambil menatap Kevan. Pun ketika Kevan makan hingga selesai, Naya masih terus menatapnya.
"Kamu menatapku terus, ada apa?" tanya Kevan.
"Hm.. tidak ada apa-apa. Hanya... kamu menarik sekali untuk dipandang."
"Benarkah.. apa kamu tidak memiliki niat yang lain? Aku bisa melihat dan merasakannya, Naya." Ucap Kevan sembari mengedipkan sebelah matanya pada Naya.
"Ish, dasar mesum."
"Hahaha."
* To be continue *
__ADS_1
**Jangan protes kenapa mereka sudah gede, karna sudah waktunya wkwkwk.
Visual Kiano dan Kenzio ada di grup ya, yang mau lihat silahkan join di gc saya, dan juga disana sering hambur2 poin 😁**