
Seminggu telah berlalu, kini Deryl, Kevan dan Naya sudah berada di belahan bumi lainnya. Ini adalah perjalanan kedua honeymoon Deryl, Kevan dan Naya. Dan mereka memilih kota Valencia untuk menjadi tempat persinggahan mereka. Hari pertama mereka habiskan dengan berkeliling di kota damai itu sembari menikmati musim dingin. Hari kedua mereka pergi kesebuah bangunan tua populer yang bernama 'Bursa Sutra' yang merupakan sebuah bangunan dengan gaya gothic yang luar biasa menawan.
Hari ketiga dan keempat mereka habiskan disebuah resort pinggir pantai yang bernama 'Playa de la Malvarrosa' sebuah pantai berair biru dengan pasir putih yang membuat siapapun jatuh cinta ketika melihatnya, dan ini adalah hari kelima Naya, Deryl dan Kevan berada di Valencia karena besok mereka sudah harus kembali ke Indonesia untuk menjalani rutinitas masing-masing.
"Hari ini aku ingin pergi ke Jardines de Turia. Apa ada yang mau menemani?" tanya Naya sembari berpose-pose didepan cermin besar dengan dress panjang yang melekat cantik ditubuhnya.
"Kamu pergi dengan Kevan saja ya? Aku merasa kurang fit hari ini." ucap Deryl pelan dengan suara seraknya.
Memang sejak kemarin Deryl mengeluh sakit kepala dan pandangannya yang terasa berkunang-kunang. Suhu tubuhnya juga tidak stabil. Deryl malah menolak ketika Naya mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi pria itu, pun dengan obat yang tidak mau ia minum.
"Kamu masih merasa kurang nyaman? Baiklah, aku di hotel saja dan merawatmu." ucap Naya sembari menghampiri Deryl yang sedang berbaring menggelung didalam selimut.
"Tidak, tidak! Kamu pergi saja. Jangan khawatirkan aku, aku ini seorang dokter. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Apa kamu serius?"
"Tentu saja!"
Deryl memberikan senyum terbaiknya agar Naya percaya dan tetap pergi ke tempat tujuannya bersama Kevan, karena sungguh badannya benar-benar terasa kurang nyaman. Mungkin ia akan menghabiskan waktu seharian untuk tidur, setelah meminum obat tentunya.
"Baiklah kalau begitu. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku dan Kevan, kamu mengerti?"
"Mengerti, Madam."
"Bagus, anak pintar. Kalau begitu aku pergi ya? Jangan lupa habiskan buburmu." ucap Naya sembari mengecup pelan kening hangat suaminya itu.
"Jaga dirimu." ucap Kevan lalu ia menyusul Naya yang sudah keluar duluan.
**
"Kamu suka bunga tulip?" tanya Kevan ketika ia melihat Naya memandangi bunga itu dengan tatapan berbinar.
"Ya! I love it!" jawab Naya antusias.
"Aku akan membuatkanmu sebuah taman juga nanti, if you want to."
"I want it, Kevan! I want want want really really want!" Naya berlari dan memeluk Kevan dengan erat.
__ADS_1
"Iya, nanti kita buat setelah pulang ya."
Naya mengangguk berkali-kali didalam pelukan Kevan, ia yakin jika meminta semua jenis bunga yang ada di dunia, uang Kevan tak akan habis untuk menuruti kemauannya sebut saja ia sedikit matre wkwk.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Kevan setelah melepas pelukannya dengan Naya.
"Mau ke Jardi Botanic. Ingin melihat macam-macam tanaman disana. Mau kan?"
"Iya sayang, tapi kita makan dulu, oke? Setelah itu baru kita pergi ke Jardi Botanic."
"Ay, ay, Captain!"
Naya dan Kevan berjalan santai meninggalkan taman itu dan berjalan menuju sebuah restaurant bergaya klasik di pinggiran kota Valencia.
"Besok kita sudah harus pulang ke Indonesia, sayang sekali meninggalkan tempat sebagus ini." ucap Naya sedih.
"Jangan sedih, kita bisa kembali kesini lagi nanti kan?"
"Aku tau, tapi pasti akan sulit kembali kesini lagi. Belum lagi jadwal operasi Deryl yang penuh, jadwal perjalanan bisnis mu. Huh, aku benar-benar sedih sekarang!"
Kevan terkekeh dan mencubit pelan pipi Naya gemas. "Aku janji, nanti kita akan kembali kesini lagi. Bersama Kevan dan Deryl junior tentunya."
"Baiklah. Kita akan kesini lagi bersama Kevan dan Deryl junior."
"Dan sekarang, aku dan Deryl harus berusaha keras dulu agar mendapat junior-junior itu." ucap Kevan sembari mengerlingkan matanya nakal kearah Naya. Sontak saja Naya langsung memukul bahu suaminya itu karena merasa malu.
"Kamu tersenyum, manis sekali, Naya." puji Kevan.
"Sudah, hentikan! Kamu tidak lihat pipiku yang merah ini?!"
"Hahaha. Lucunya, istriku."
Naya tersenyum, seketika ia kembali mengingat bahwa Deryl sendirian di hotel. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Deryl.
"Aku akan menelepon Deryl dulu, aku khawatir." ucap Naya.
"Iya, hubungi saja."
__ADS_1
Naya menempelkan ponselnya pada telinganya, telepon itu berdering, tetapi Deryl tak kunjung menjawabnya hingga Naya dibuat semakin khawatir.
"Dia tidak menjawab teleponnya." ucap Naya.
"Mungkin dia tidur sayang? Tadi kan kamu menyuruhnya makan dan minum obat."
"Oh benar juga! Deryl kan kalau tidur seperti orang mati."
"Bukannya dia mayat?"
"Heh! Kulitnya memang seperti mayat."
"Haha."
Setelah menyelesaikan makan siang, Naya dan Kevan langsung pergi ke Jardi Botanic dan setelah itu kembali ke hotel karena Naya merasa tidak nyaman meninggalkan Deryl sendirian di hotel.
**
Naya bergegas masuk kekamar begitu mereka tiba di hotel. Ia khawatir pada Deryl yang tidak menjawab teleponnya karena itulah ia bergegas menghampiri suaminya yang sedamg sakit itu. Dan apa yang ia dapati memang persis seperti yang dikatakan oleh Kevan. Pria berkulit pucat seperti mayat itu memang sedang tertidur dengan pulas.
Naya menengok kearah nakas dimana ia meletakkan bubur dan obat tadi pagi, bubur dan obat itu telah dimakan oleh Deryl makanya pria itu bisa tertidur mati seperti ini.
"Deryl, sayang." panggil Naya sembari mengguncang pelan bahu suaminya itu.
Deryl masih belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya. Hingga Naya mau tidak mau harus mencubit dan memanggilnya persis didepan telinga.
"Kamu mengejutkanku, Naya." ucap Deryl serak ketika ia sudah terbangun.
"Kamu tidak bangun-bangun ketika aku panggil, aku hanya khawatir."
"Tenanglah, aku masih hidup."
"Mana aku tau, susah membedakan kamu hidup atau mati karena kulitmu yang seperti mayat ini."
Deryl mengerucutkan bibirnya, "Kamu mengejekku, Naya."
"Hehehe. Kalau begitu, aku akan pergi mandi dulu setelah itu mengepack barangmu. Besok kita sudah kembali."
__ADS_1
Deryl hanya mengangguk sebagai jawaban, Naya tersenyum dan mengecup pelan bibir hangat Deryl sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.
** to be continue