
Pagi ini Deryl dan Kevan disibukkan dengan Naya yang jatuh sakit. Wanita itu sedang demam sekarang, dan juga morning sickness nya yang tergolong parah untuk awal semester kehamilan membuat tubuhnya semakin lemah.
"Kamu mau sesuatu?" tanya Kevan sembari menggenggam tangan Naya yang terasa hangat, sesekali pria itu mengecupnya sayang.
"Tidak. Temani aku saja, tidak usah kerja." pinta Naya menatap Kevan dengan wajah yang dibuatnya semelas mungkin.
"Tapi aku ada rapat penting pagi ini, sayang. Bagaimana sementara Deryl yang menemanimu dulu lalu setelah rapatnya selesai aku langsung kembali dan menemanimu?"
Naya tampak masih terdiam, menimang-nimang kembali ucapan Kevan.
"Bagaimana, Naya?"
"Baiklah. Tapi kamu harus janji, begitu selesai harus langsung pulang. Aku ingin ditemani kalian."
"Iya, sayang. Kalau begitu aku pergi sekarang ya agar bisa kembali dengan cepat."
"Eum. Hati-hati dijalan."
Kevan mengangguk dan mencium pipi Naya setelah itu ia langsung keluar dari kamar istrinya dengan sedikit tergesa sembari memasang jas biru favorite-nya.
"Naya, waktunya sarapan." ucap Deryl. Pria itu datang dengan membawa nampan berisi satu mangkok bubur dan segelas air putih serta obat-obatan ringan untuk Naya konsumsi.
"Itu apa?" tanya Naya sembari menunjuk makanan yang dibawa oleh Deryl.
"Bubur."
Mendengar kata 'bubur' sontak Naya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari menggeleng. "Aku tidak mau bubur, Deryl!" ucapnya sembari memalingkan wajah.
"Jadi kamu makan apa?"
"Apa saja, pokoknya aku tidak mau makan bubur! Itu mengerikan!"
"Baiklah, kalau sup bagaimana?"
"Itu lebih baik."
"Aku akan memasak sup, kamu tunggu disini saja. Tidak usah ikut." sahut Deryl begitu melihat gelagat Naya yang bersiap untuk menempelinya saat memasak.
Naya mengerucutkan bibirnya. "Kamu menyebalkan!"
"Aku mendengarmu."
"Iki mindingirmi." tiru Naya dengan ekspresi dan nada yang menyebalkan.
Satu jam kemudian, Deryl masuk lagi kekamar dengan semangkuk sup ditangannya. Naya berbaring disana, menonton kartun Tom and Jerry.
"Sup sudah masak, ayo makan." ucap Deryl meletakkan mangkok sup itu di nakas meja sebelah ranjang Naya.
"Suapi aku." pintanya.
"Kamu manja, Naya."
"Ya karena aku sedang sakit, apa salahnya bermanja-manja dengan suamiku. Kamu suamiku kan?"
Deryl memasang wajah datarnya. "Tentu saja. Memang suami siapa lagi aku ini selain suamimu."
"Siapa tau kamu adalah suami tetangga yang berpura-pura menjadi suamiku."
__ADS_1
"Itu konyol, Naya."
"Cepat suapi aku, Aaaaa."
"Kamu seperti anak kecil."
"Aku tidak peduli, yang jelas aku ingin bermanja-manja."
Deryl menyendokkan sup dan menyuapkannya lagi kedalam mulut Naya. Wanita itu terlihat sangat asik menonton kartun kucing dan tikus kesukaannya itu sampai tidak sadar bahwa makanannya sudah habis dan sekarang waktunya ia untuk meminum obat dan istirahat.
"Waktunya minum obat, Naya."
Deryl sudah bersiap memberikan obat berbentuk pil itu kepada Naya beserta segelas air putih, namun Naya malah menggeleng. "Aku minum obatnya nanti saja, bersama Kevan."
"Tapi Kevan masih lama, Naya. Kamu minum saja dulu obatnya dan tidur, nanti aku menyuruh Kevan untuk menemanimu tidur begitu ia datang."
"Aku tidak mau. Aku mau minum obat bersama Kevan dan tidur dengan kalian."
Deryl harus mengalah, Naya sudah tidak mau menurutinya karena ingin menunggu Kevan pulang lalu meminum obatnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mencuci piring dulu didapur."
"Iya Deryl,"
**
Kevan melangkah tergesa memasuki rumahnya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah Deryl yang sedang mencuci piring.
"Bagaimana keadaan Naya?" tanyanya sembari mengambil sebotol air es dari dalam kulkas.
"Dia sudah makan, tapi belum meminum obatnya." sahut Deryl melepas sarung tangan cucinya.
"Dia menunggu kamu."
"Tapi aku lapar sekali. Aku tidak sempat makan karena terburu-buru pulang huhu. Apakah ada makanan yang tersisa dirumah ini.." tanyanya penuh drama.
"Berhenti bertingkah menjijikan dan makan apa yang ada dimeja sana." ucap Deryl galak.
Kevan menuruti ucapan Deryl dan berjalan menuju meja makan. Disana sudah tertata beberapa piring yang terisi oleh lauk dan juga nasi. Lalu Kevan menatap masakan itu dan Deryl secara bergantian.
"Apa lagi?" tanya Deryl.
"Siapa yang memasak ini?" tanya Kevan penasaran.
"Memangnya siapa lagi yang tersisa dirumah ini setelah kamu pergi ke kantor?"
"Kamu dan Naya."
"Bodoh. Maksudku yang masih bisa bergerak dan sehat."
"Tentu saja kamu tapi aku sedikit tidak percaya dengan masakan ini."
Deryl memutar bola matanya jengah, sudah baik diberi makan malah melunjak, itulah Kevan.
"Kamu mau makan apa tidak? Kalau tidak biar aku saja yang menghabiskan semuanya! Kamu tidak perlu repot!"
"Aku kan hanya bertanya, mana tau kalau kamu memasukkan racun kedalamnya karena iri denganku."
__ADS_1
"Aku memasukkan racun tikus didalamnya, kamu puas?! Lagipula aku samasekali tidak iri denganmu. Sungguh membuang-buang waktu."
"Hehehe. Tolong ambilkan aku piring, Deryl Ananta yang tampan."
"Ambil sendiri, kakimu masih sehat!"
"Aw kakiku sakit sekali, tolong aku tidak bisa berjalan. Tolong ambilkan piring."
Deryl berjalan mendekat kearah Kevan dan tanpa ragu pria berwajah datar serta berkulit pucat seperti mayat itu langsung menginjak kaki Kevan. Tentu saja Kevan langsung menjerit.
"Berdiri dan ambil sendiri, jangan manja! Kamu kira aku ini pembantumu?!"
"Kejam sekali, pantas saja Naya tidak betah dengannya."
"Kalau denganmu aku memang harus kejam!"
"Pilih kasih."
**
"Tadi kenapa berteriak?" tanya Naya.
Saat ini Kevan dan Deryl sudah ada disebelah wanita itu, Naya juga sudah meminum obatnya dengan Kevan tadi. Sekarang tinggal menunggu wanita itu tertidur saja.
"Deryl menginjak kakiku, Naya." adu Kevan.
"Benarkah? Kenapa kamu melakukannya Deryl?" tanya Naya menatap wajah datar Deryl.
"Dia bilang tidak bisa mengambil piring kakinya sakit, jadi ku injak saja biar semakin sakit."
"Astaga, kalian kekanak-kanakan sekali. Itu hanya masalah sepele."
"Dia terlalu manja, Naya." ucap Deryl menyalahkan Kevan.
"Aku kan hanya minta tolong karena kebetulan dia baru selesai mencuci piring, otomatis dia berada didekat piring kan?"
"Sudahlah, kalian berdua itu sama saja!"
"Aku tidak mau sama dengan dia, aku lebih baik darinya." ucap Deryl tidak terima.
"Lagipula siapa juga yang mau disamakan dengan orang tanpa ekspresi sepertimu!" ejek Kevan.
"Kamu anak manja!" balas Deryl tidak mau kalah.
"Kamu pemarahan! Suka mengomel seperti perempuan, dasar mayat!"
"Naya, dia mengataiku mayat lagi." adu Deryl.
"Sudahlah, hentikan. Aku kan meminta kalian menemaniku tidur bukan untuk bertengkar!"
"Maaf, Naya."
"Sekarang peluk aku, kalian harus bernyanyi untukku sampai aku tertidur."
"Yes, Queen."
Siang itu mereka tidur bersama dikamar Naya setelah Kevan dan Deryl menyelesaikan lagunya. Mereka berpelukan bersama dan sedang pergi kealam mimpi.
__ADS_1
—to be continue