My Two Husband

My Two Husband
Forgive Us


__ADS_3

Naya menghampiri Deryl yang masih berada dikamarnya sejak diberi kejutan tadi. Deryl belum ada keluar dan meninggalkan kamarnya. Bahkan pintu kamarnya masih tertutup dengan rapat. Lama Naya memandangi pintu berwarna coklat muda itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuknya dengan pelan.


"Masuk, tidak dikunci." sahut Deryl dari dalam sana.


Naya membuka pelan pintu kamar Deryl. Deryl terlihat sedang memakai kacamatanya dan fokus membaca sebuah buku yang tebal.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Naya pelan. Masih berdiri didekat pintu.


Deryl meletakkan buku dan melepas kacamatanya. "Tidak, Naya. Kemarilah."


Naya berjalan pelan menghampiri Deryl yang sedang duduk dikursi kerjanya. Lalu duduk dipangkuan Deryl. "Kenapa menemuiku?" tanya Deryl membantu Naya menyamankan posisi duduk diatas pangkuannya.


"Aku merasa bersalah. Maafkan kami, Deryl."


"Untuk yang tadi? Aku sudah melupakannya, Naya."


"Kamu bilang .. itu menyakitimu."


Deryl mengecup pelan pipi Naya dan tersenyum tipis. "Aku memang merasa sakit jika mengingat kejadian itu, tapi .. kalian sangat baik memberiku kejutan walaupun kutolak."


"Apa kamu merasa sedih?"


Deryl menggeleng pelan. "Tidak begitu banyak kesedihan di hidupku yang bahagia saat ini, Naya."


Naya diam mendengarkan Deryl yang tengah membelai-belai rambutnya. "Apalagi yang tidak kumiliki saat ini? Aku sudah memiliki gelar, pekerjaan, lapangan pekerjaan, memiliki rumah, mobil, istri dan anak. Aku samasekali tidak kekurangan."


"Deryl.."


"Aku hanya kekurangan kasih sayang, Naya. Aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayang orangtuaku. Tidak seperti dirimu atau Kevan. Kalian istimewa. Aku iri .."


Naya bisa melihat dengan jelas mata Deryl yang mulai memerah dan berkaca-kaca ketika mengucapkan kalimat itu. Maka, disentuhnya lembut wajah tampan Deryl. Mengecup pelan kening pria itu, menenangkan dan memberinya cinta.


"Aku akan memberikanmu banyak kasih sayang, Deryl. Sehingga kamu tidak merasa kurang dan iri." ucap Naya.


"Terimakasih, Naya. Kamu paling mengerti diriku."


Deryl menyatukan bibirnya dan bibir Naya. Memagut lembut bibir kenyal milik Naya yang sudah lama tidak Deryl rasakan. Manis, satu kata yang dapat menjelaskan apa yang tengah Deryl rasakan lalu dilepaskannya pelan. Menarik lembut tangan Naya menuju tempat tidurnya. Mendudukkan Naya disana lalu membuka lacinya dan mengambil sebuah kotak bludru berwarna biru gelap.


"Naya.."


"Hm?"


Deryl mengambil tangan Naya, memasangkan sebuah cincin manis dengan berlian berwarna merah disana, lalu mengecupnya.


"Ini cantik sekali, Deryl.." puji Naya menatap cincin yang baru saja disematkan oleh Deryl dijari manisnya.


"Sebenarnya cincin ini sudah lama ada didalam laciku. Aku membelinya ketika ulang tahun pernikahan kita yang pertama."


"Itu lama sekali, Deryl. Bahkan sebelum baby K lahir."


"Ya, sayang. Aku selalu lupa ingin memberikannya padamu, dan hari ini .. saat aku ingat dan kebetulan kamu dikamarku maka langsung saja kupakaikan daripada aku lupa lagi dan benda ini menjadi penghuni laciku."

__ADS_1


"Hahaha. Ada-ada saja, tapi terimakasih Deryl."


"Iya, Naya."


Perlahan, Deryl merebahkan tubuh Naya. Mulai mendekatkan wajahnya, hingga bibir keduanya saling menyatu.


"Let me.." ucap Deryl meminta ijin Naya untuk lebih.


"Yes, hubby."


"I love you."


"You know I love you too."


**


Sementara itu, sekarang Kevan dan Matteo sedang berada di caffe tempat Vania bekerja. Mereka berdua langsung pergi mendatangi Vania untuk meminta penjelasan juga alasan tadi kenapa gadis itu langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.


"Jadi kalian sudah tau?" tanya Vania setelah tiba mengambilkan minuman untuk Kevan dan Matteo. Gadis itu duduk dikursi depan Kevan dan Matteo.


"Yah. Reaksinya sungguh diluar dugaan." jawab Kevan.


"Tapi, Vania. Sebenarnya ada apa? Aku tidak terlalu mengerti dengan ucapan Deryl tadi." ucap Matteo dengan wajah bingungnya.


"Dulu, setiap tahun.. Deryl selalu mendapatkan kejutan ulang tahun dari kedua orangtuanya. Tapi, ketika umurnya 6 tahun dan orangtuanya mengalami kecelakaan lalu meninggal. Sejak saat itu, Deryl tidak pernah lagi merayakan ulang tahunnya. Dia bilang, itu membuka luka lamanya karena dia akan teringat dengan orangtuanya." jelas Vania.


"Yah.. mau bagaimana lagi, sudah kita berikan kejutan tadi."


"Padahal aku sudah peringatkan kalian, jika reaksinya akan diluar dugaan. Tapi kalian tidak percaya dan mengatakan reaksi itu urusan belakangan."


Matteo mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan yang menopang kepalanya. Vania terkekeh melihat wajah frustasi dua pria itu.


"Tapi kalian sudah minta maaf kan pada Deryl?" tanya Vania.


"Sudah sih, Deryl bilang tidak apa-apa. Tapi tetap saja kami merasa tidak enak. Astaga bagaimana ini.."


"Hei, santai saja. Deryl bukan orang yang pendendam. Dia pasti akan mudah melupakannya, percayalah."


"Baiklah.."


**


Saat ini, Naya tengah berbaring diatas dada bidang Deryl setelah melakukan kegiatan yang sudah lama sekali mereka lupakan. Deryl mengusap lembut rambut Naya.


"Ketika seperti ini, aku jadi teringat saat-saat kita masih berpacaran." ucap Naya memainkan bagian selimut yang menutupi keduanya.


"Tidak jauh berbeda kan. Bedanya sekarang kita serumah, dulu tidak."


"Ya. Itu salah satunya, dulu juga kamu jarang mempunyai waktu untuk berkencan dan kembali kerumah saat sudah larut malam. Sekarang walaupun kamu lembur, setidaknya aku bisa bertemu dan melihatmu dengan bebas."


"Apa kamu bahagia menikah denganku, Naya?"

__ADS_1


"Tentu saja, Deryl. Aku tidak memiliki alasan yang bagus mengapa aku tidak bahagia."


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya kalau kamu merasa bahagia denganku."


"Aku selalu bahagia, Deryl."


"Kita sudah bersama sejak kecil, apa kamu tidak bosan melihat wajahku terus?"


"Wajahmu membuatku candu, Deryl. Tidak pernah bosan untuk melihatnya."


"Heol."


"Ada apa?"


"Kamu habis makan apa?" tanya Deryl.


"Memangnya kenapa?" tanya Naya balik.


"Kamu jadi pintar menggombal. Seingatku, aku tidak pernah mengajarkannya. Dimana kamu belajar, hm?"


"Aku tidak menggombal, Deryl. Aku berbicara tentang fakta!"


"Oh ya? Darimana aku bisa tau itu fakta hm?"


Deryl bangun dan menindih tubuh Naya, menatap dalam mata Naya hingga wanita itu merasa salah tingkah karena ditatap begitu intens oleh Deryl.


"Karna itulah yang selama ini aku rasakan, dan aku tidak menggombal. Aku memang menyukai wajahmu, wajahmu itu tipeku sekali."


"Oh ya? Dibanding oppa Korea yang sering kamu nonton, lebih tampan siapa?"


"Kamu mau aku menjawab jujur?"


"Hm."


Naya terdiam sebentar seolah-olah sedang berpikir, membuat Deryl tertawa pelan. "Cepat, lebih tampan siapa?"


"Sebenarnya oppa-oppa ku lebih tampan, tapi karna aku tidak bisa memilikinya maka kamu yang lebih tampan!"


"Jawaban macam apa itu?"


"Apa jawabanku bisa diterima?"


"Aku pikir-pikir dulu."


"Ih, jahat."


Deryl memonyongkan bibirnya. "Cium aku."


"Tidak mau."


"Kalau begitu, aku yang menciummu. Mwaaah."

__ADS_1


"Hahaha! Sana menyingkir."


* TO BE CONTINUE *


__ADS_2