My Two Husband

My Two Husband
Lengah


__ADS_3

Hari ini Naya dirumah bersama Kevan, dan Deryl pergi tadi pagi. Sekarang pria itu ada di rumah sakit untuk mengurus pasien-nya dan Kevan memilih meng-handle perusahaannya dari rumah. Dia masih khawatir kalau harus meninggalkan Naya sendirian dirumah.


Dan Kevan sekarang sedang membantu Naya memakaikan baju untuk kedua bayinya yang habis dimandikan itu. "Rambut Kenzio lebat ya, sedangkan rambut Kiano sedikit." ucap Kevan, pria itu memasangkan baju untuk Kenzio.


"Iya. Rambut Kenzio lebih lebat."


"Kenzio sudah tampan seperti Ayah." ucap Kevan ketika selesai memasangkan baju untuk Kenzio. Pria itu tertawa dan mencium pipi Kenzio.


"Daddy-mu sedang kerja kalau kamu mencarinya." ucap Kevan lagi ketika melihat wajah Kenzio yang bersiap untuk menangis. "Hari ini hanya ada Ayah dan Mama dirumah."


"Mobilnya Deryl ada digarasi, katanya bannya bocor." ucap Naya memberitau Kevan. "Tadi pagi dia naik taksi karena tidak menemukan kunci mobilmu. Nanti dia minta tolong untuk dijemput."


"Jam berapa dia pulang?"


"Jam tiga sore."


"Baiklah, nanti aku akan menjemputnya. Padahal kunci mobilku ada di meja samping televisi."


"Dia terburu-buru tadi."


"Yasudah kalau begitu," Kevan membantu Naya memasukkan Kenzio dan Kiano kedalam baby box. Lalu Kevan mendorong baby box itu kedapur karena ia akan menemani Naya memasak.


"Naya, yang waktu itu di ucapkan ibuku .. aku mohon kamu jangan tersinggung." ucap Kevan menyesal atas sikap ibunya saat mereka berada di rumah sakit beberapa minggu yang lalu.


"Aku tidak tersinggung Kevan, hanya saja aku takut kalau Deryl mendengarnya. Kamu tau kan kalau Deryl itu sedikit sensitif?"


"Iya aku tau, Deryl pasti akan merasa sangat terluka kalau mendengarnya."


"Untung saja Deryl tidak mendengarnya, jadi lupakan saja. Dan bersikaplah seperti biasa."


"Naya, kamu dan Deryl kan sudah berteman sejak kecil .. kalau aku boleh tau siapa nama ayah dan ibunya Deryl?"


Naya menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Kevan dengan tatapan mengingat-ingat. "Aku tidak yakin tapi sepertinya namanya Jashid Ananta dan Sarah."


"Jashid?" tanya Kevan terkejut.


Naya mengangguk pelan. "Dulu ayahnya Deryl mempunyai perusahaan bernama Jash Corporation. Tetapi perusahaan itu direbut oleh musuh om Jash dan juga keluarga om Jash enggan mengakui Deryl keluarga mereka, karena itulah Deryl terpaksa bekerja keras untuk sekolahnya."


Kevan masih terdiam, namanya sangat tidak asing. Kevan pernah mendengarnya. "Dan orangtua Deryl meninggal karena apa?"


"Dari yang kudengar sih, katanya kecelakaan."


Kevan semakin merasa ada yang aneh, mungkin dia harus kembali mengingatnya nanti.


"Kevan, tolong bantu ambilkan lada di atas itu. Aku tidak sampai."


**


Deryl sedang memeriksa beberapa hasil laporan milik pasiennya. Dia sedang berada diruangannya, ditemani secangkir teh hangat, Deryl mulai memeriksa lembaran demi lembaran itu.


"Helena Tiffany." ucap Deryl membaca nama laporan pasiennya.


Deryl membaca nama itu berulang-ulang kali, merasa tidak asing dengan nama itu, tetapi dia tidak ingat siapa. Deryl seperti pernah mendengar namanya. Benar-benar tidak asing, gadis itu adalah pasien Deryl yang beberapa bulan ini dirawat di rumah sakitnya karena mengidap penyakit jantung.


Deryl yang sedang asik mengecek laporannya dikejutkan dengan pintu ruangannya yang tiba-tiba dibuka tanpa ketukan atau sekedar salam.


"Kenapa tiba-tiba anda masuk ke dalam ruangan saya tanpa permisi, nona Helena?" tanya Deryl datar.


"Maaf atas ketidaksopanan saya, Dokter Deryl. Tapi saya ingin membicarakan hal yang penting dengan kamu."


"Saya sedang sibuk saat ini, mungkin kita bisa bicara lain waktu, nona Helena."

__ADS_1


"Ini mengenai Kevan!" ucapnya langsung dan membuat Deryl terkejut.


"Dari mana anda mengenal Kevan?" tanya Deryl.


"Boleh saya duduk?"


"S-Silahkan."


Gadis itu duduk dikursi hadapan Deryl. Wajahnya pucat, menatap Deryl dengan sendu. "Kevan adalah mantan kekasihku."


"A-Apa?"


"Dulu sebelum dia menikahi kekasihmu, dia adalah kekasihku. Kami sudah berpacaran cukup lama, bahkan sudah bertunangan."


"..."


"Harusnya kami sudah menikah dan memiliki anak sekarang. Tapi karena si tua bangka itu, Kevan memutuskanku padahal saat itu aku ingin memberitaunya sesuatu."


"Si tua bangka?"


"Ayahnya Kevan, Pak Panji Ardinata .. dia itu licik dan jahat. Dia tau saat itu aku hamil anak Kevan, tapi dia tetap menggugurkannya!"


Deryl ternganga mendengar pernyataan gadis didepannya ini. Bukankah ini sebuah rahasia besar?


"Kenapa kamu menceritakan ranah pribadimu kepada saya? Dan juga, apakah saya terlihat perduli?" tanya Deryl.


"Karena kamu adalah orang yang tepat! Atau mungkin bisa membantu saya?"


"Membantu apa?"


Helena mendekat kearah Deryl dan tepat berbisik ditelinga pria itu, "Merebut kembali cintaku."


"Apa anda sangat tidak laku sampai-sampai ingin merebut kembali mantan kekasih anda yang sudah menikah?" tanya Deryl datar, menatap Helena dengan tatapan intimidasi tetapi gadis itu bahkan tidak menunjukkan ketakutannya karena berbicara banyak pada Deryl.


"Saya rasa anda tidak terkena sakit jantung, nona Helena."


"Apa?"


"Saya rasa anda terkena penyakit jiwa!"


Deryl langsung membereskan semua berkas-berkasnya dan mengambil tas serta ponselnya bersiap untuk pulang.


"Orangtuamu tidak murni kecelakaan, tapi itu sudah direncanakan." ucap Helena.


Deryl menghentikan langkah kakinya. Dia berbalik menghadap Helena yang sekarang tersenyum sarkas kepadanya.


"No sense."


Setelah mengucapkan itu, Deryl langsung keluar dari ruangannya karena Kevan mengabari kalau dia sudah berada di parkiran.


"Kita lihat nanti, apakah ini akan menjadi omong kosong atau berita kematian untukmu, Dokter Deryl." ucap Helena.


**


"Sudah lama menunggu?" tanya Deryl ketika dia masuk kedalam mobil Kevan.


"Tidak, aku juga baru sampai kok." jawab Kevan, pria itu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.


"Naya dirumah dengan siapa?"


"Tadi ayah mertua kerumah, dia sedang datang berkunjung."

__ADS_1


Deryl diam sebentar, sedikit ragu untuk bertanya kepada Kevan tentang Helena.


"Ada apa, Deryl? Kamu terlihat gelisah? Naya baik-baik saja."


"Bukan, bukan itu. Ada yang ingin kutanyakan denganmu."


"Apa?"


"Apa Helena Tiffany itu mantan kekasihmu?"


Kevan langsung mengerem mobilnya mendadak hingga kepala Deryl terantuk dashboard, Kevan menatap Deryl dengan terkejut. "Bagaimana kamu?"


"Tenang tenang, aku tidak mengorek informasimu. Tapi gadis itu pasienku, dia yang menceritakannya padaku."


"Pasienmu? Helena? Kenapa bisa?"


"Dia pengidap jantung koroner."


"Apa saja yang dia katakan padamu, Deryl?!" Tanya Kevan tanpa sadar meninggikan suaranya.


"Ada apa, Kevan? Kenapa kamu terlihat marah?" Tanya Deryl bingung.


Kevan mengusap wajahnya kasar. "Kumohon berhati-hatilah. Wanita itu tidak sebaik yang kamu pikirkan."


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah. Lebih baik kita pulang, Naya sudah menunggu."


Kevan langsung menjalankan mobilnya kembali tanpa menghiraukan tatapan kebingungan dari Deryl atas perubahan emosi Kevan.


**


Deryl baru saja keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dia melihat Naya dan Kevan sudah rapi bersama si kembar.


"Kalian mau kemana?" Tanya Deryl.


"Ah kami mau kerumah orangtuaku." Jawab Kevan.


"Oh, kalau begitu hati-hati. Aku titip pizza dan burger ya."


Naya mengernyit heran. "Pizza dan burger? Bukannya kamu tidak suka junk food?"


"Tiba-tiba ingin saja."


"Baiklah, nanti akan kubelikan ketika diperjalanan kembali."


"Ya."


Deryl menghampiri Naya dan mencium kening wanita itu lembut. "Jaga dirimu baik-baik ya, aku mencintaimu."


"Iya, Deryl. Aku hanya pergi sebentar kok, tunggu dirumah ya. Aku juga mencintaimu."


Naya dan Kevan langsung pergi. Deryl kedapur untuk mengambil sekaleng soda sambil menunggu pizza dan burgernya nanti. Pria itu duduk di meja makan, masih dengan handuk kecil dilehernya.


PRAAAANG!


Deryl terkejut. Suara pecahan kaca dari ruang tengah.


"Naya? Kevan? Apa yang kalian pecahkan?"


Tidak ada sahutan dari sana, Deryl menenggak soda-nya sampai habis lalu pergi ke ruang tengah untuk mengecek. Ternyata vas bunga kesayangan Naya yang pecah. Tapi kenapa bisa? Tidak mungkin angin sekuat itu mendorong vas bunga yang berisi sampai jatuh dan pecah.

__ADS_1


"Hai, Deryl!"


* TO BE CONTINUE *


__ADS_2