My Two Husband

My Two Husband
Damai yang Sementara


__ADS_3

"Sayur masakanmu enak, Naya." Puji Deryl begitu ia selesai memasukkan satu sendok makanan kedalam mulutnya.


"Iya. Masakanmu enak sekali. Tidak biasanya seperti ini, tapi bukan berarti yang biasanya tidak enak. Hanya saja, yang ini enaknya berkali-kali lipat!"


Naya tersenyum simpul. "Ada apa dengan kalian? Tumben. Terlihat kompak."


"Hanya memuji masakanmu, Naya." sahut Deryl.


"Memangnya ada yang salah ya?" tanya Kevan.


Naya menggeleng pelan. Memang tidak ada yang salah, hanya saja.. Naya terlalu terkejut mendapati momen langka seperti ini. Jarang sekali kedua pria yang berstatus sebagai suaminya itu kompak dalam pembicaraan yang sama. Bukannya ini sebuah momen yang langka? Kapan lagi Naya bisa mendapati kedua suaminya menjadi kompak seperti ini.


"Sudah, cepat selesaikan makan kalian. Setelah itu, bantu aku mencuci piring."


"Siap, Madam."


Makan malam itu terasa hangat bagi Naya, karena Kevan dan Deryl yang melupakan sejenak kebiasaan mereka untuk beradu mulut seperti biasanya. Makan malam itu terasa sangat spesial baginya, bersama dengan kedua pria tercintanya.


**


"Taruh dengan benar, Deryl!" Ucap Kevan sembari menyodorkan satu persatu piring yang sudah dibilas bersih oleh Naya.


"Kamu pikir aku akan sengaja menaruhnya sembarangan supaya jatuh dan menambah pekerjaan Naya?" Sahut Deryl malas. Kevan terlalu berlebihan jika menganggap Deryl tidak bisa melakukan pekerjaan dapur. Malah, pria itu lebih hebat dari Kevan. Ia bisa memasak dengan lezat seperti Naya. Tidak seperti Kevan yang hanya bisa berkomentar dan memuji masakan. Ia terlalu takut untuk berurusan dengan kompor serta teman-temannya.


"Santai saja. Lagipula kan aku hanya mengingatkan, apa salahnya?"


"Sudah, sudah. Kalian tidak bertengkar seperti ini tadi." Lerai Naya tetap fokus membilas piring-piring yang sudah ia sabuni. Ini adalah hal langka lainnya yang baru didapati Naya.


Jika biasanya kedua suaminya itu akan langsung pergi setelah makan, maka berbeda kali ini. Kedua suaminya itu turut membantu dalam hal mencuci piring walaupun sedikit adu mulut bisa terdengar, seperti Kevan yang sedikit usil dan Deryl yang terlalu malas menanggapi.


"Maaf, Naya." ucap Deryl.


"Tidak apa-apa. Ayo susun lagi,"


Deryl mengangguk dan Naya tersenyum. Sementara itu Kevan hanya bisa mengecurutkan bibirnya karena merasa tidak dianggap.


"Kenapa wajahmu seperti bebek kehilangan anaknya?" Tanya Deryl sembari tertawa remeh melihat ekspresi wajah Kevan yang menurutnya aneh.


"Diam kamu! Kamu sengaja kan, biar kamu dibela oleh Naya!"


"Apa?" Tanya Deryl bingung.


"Tadi itu. Tidak usah pura-pura lupa!"


"Kevan..."


"Maaf, Naya."


"Kekanak-kanakan." sindir Deryl.


"Ini, berikan pada Deryl."

__ADS_1


Kevan kembali melanjutkan tugasnya tanpa protes lagi. Tangannya dengan cekatan menerima uluran piring bersih dari Naya dan ia berikan kepada Deryl. Kegiatan mencuci piring itu berlangsung dengan tenang hingga selesai.


"Baiklah, sudah selesai. Apa jadwal malam ini?" tanya Naya menatap Kevan dan Deryl yang hanya berdiri bersebelahan.


"Tidur bersama." Jawab Kevan.


"Dikamar siapa? Kamarku, kamar Kevan atau Deryl?"


"Kamar Deryl! Ranjangnya lebih luas dan empuk!" sahut Kevan bersemangat.


"Tidak mau! Nanti kamu menghambur kamarku seperti beberapa waktu yang lalu!" tolak Deryl mentah-mentah atas usulan Kevan.


"Kamu kira aku anak kecil yang suka menghambur kamar ketika mau tidur?! Melukai harga diriku saja!"


Padahal Deryl membicarakan fakta. Kevan itu kalau tidur seperti gorila. Dia tidak bisa membiarkan sprei nya tetap terpasang, ada-ada saja kelakuannya ketika tidur.


"Jadi, kamar siapa?" tanya Naya sekali lagi.


"Aku ingin kamar Deryl." ucap Kevan kekeuh.


"Aku bilang tidak ya tidak. Apa kamu tidak mengerti? Apa kamu terlalu bodoh untuk paham?" sahut Deryl galak.


"Oh? Sayangnya aku tidak mengerti omong kosongmu." jawab Kevan cuek.


Naya memijit pelipisnya yang pusing karena pertengkaran dua pria ini yang mempermasalahkan ranjang tempat tidur. Tidak habis pikir, ada-ada saja hal yang menjadi masalah.


"Begini saja, bagaimana kalau kita suit. Yang menang, berarti kamarnya kita pakai untuk tidur." usul Naya dan diangguki setuju oleh Kevan namun tidak dengan Deryl.


"Bagaimana aku bisa kalah? Aku hebat dalam hal ini." Gumam Deryl.


"Aku ingin kalaaaaah..." pinta Deryl memelas.


Naya, Kevan dan Deryl melakukan suit berkali-kali untuk mendapati pemenang, namun mereka masih sama. Belum ada yang menang dan kalah. Deryl bermain dengan bagus hingga Kevan kesal dibuatnya.


"Kamu harusnya mengalah saja Deryl!" seru Kevan yang sudah terlanjur kesal.


"Aku tidak mau!"


"Jangan mulai. Ayo kita coba sekali lagi." Ucap Naya.


"Benar sekali lagi?"


"Kalau tidak ada yang menang bagaimana?"


"Yasudah, tidur dikamarku saja." ucap Naya.


"Baiklah, ayo kita coba sekali lagi."


Mereka memulai sekali lagi permainan suit-suitan itu hingga akhirnya Deryl-lah yang menang. Bahkan Deryl saat ini sedang mengutuk tangannya sendiri karena bisa-bisanya berlaku bodoh dengan merelakan kamarnya yang akan dimasuki gorila seperti Kevan. Kalau menampung Naya saja sih, Deryl tidak masalah. Dengan senang hati malah. Masalahnya, Deryl malas menampung Kevan si musuh bebuyutannya itu.


"Ayo cepat. Aku sudah tidak sabar ingin tidur!" ucap Kevan semangat. Bahkan pria itu sudah naik ke lantai dua duluan dan masuk kedalam kamar Deryl, meninggalkan Deryl dan Naya yang masih berdiri di lantai bawah.

__ADS_1


"Nanti aku bantu merapikannya jika Kevan berulah. Oke?"


"Terimakasih, Naya."


"Ayo, kita harus tidur. Besok kamu harus bekerja."


Naya dan Deryl langsung berjalan naik ke lantai atas dan memasuki kamar milik Deryl. Aroma maskulin dan mint sangat tercium dikamar Deryl ketika Naya masuk. Sangat jantan pikirnya. Tetapi, lagi-lagi Kevan berulah. Deryl harus merelakan kamarnya yang bersih dan rapi.


Di ranjang besar milik Deryl, Kevan sudah mengatur tempat tidur mereka. Ia menyuruh Naya tidur dipinggir dan ia ditengah. Artinya, Deryl tidak bisa memeluk Naya dan hanya Kevan yang bisa memeluk Naya. Bukankah sangat tidak adil?


"Apa yang kamu lakukan?! Ini tidak adil!" Seru Deryl sembari menghambur lagi batasan-batasan yang sudah dibuat oleh Kevan.


"Tidak adil apanya?! Ini sudah benar!"


"Your eyes! Kamu curang!"


"Hei! Kamu sudah bercinta dengan Naya tadi pagi, dan malam ini giliranku untuk memeluknya!"


"Tidak bisa begitu! Kamu harus adil dengan menempatkan Naya ditengah-tengah!"


Naya pusing sekali melihat kedua pria itu yang hanya sibuk bertengkar. Sebentar lagi, akan Naya tegur dengan lembut.


"Diam kalian!"


Sangat lembut kan?


"Biar tidak berisik dan kalian tidak bertengkar, aku yang akan memutuskan disebelah mana aku tidur, paham?"


"Paham, Madam." Jawab Deryl dan Kevan bersamaan.


"Deryl tidur disebelah kanan, dan Kevan tidur disebelah kiri. Aku ditengah tidak—"


"Tapi—"


"—ada protes. Paham?"


Kevan langsung membungkam mulutnya ketika Naya menyebutkan tidak ada protes. Daripada nanti ia disuruh Naya tidur di sofa, lebih baik terima saja. Nanti saat tengah malam ia bisa merubah aturan Naya.


"Naya, cepat sini berbaring!" ucap Deryl.


Kevan tidak mau kalah, ia langsung melompat ke tempat tidur dan mengambil posisinya. Bersiap-siap menunggu Naya.


"Aku yang memeluk Naya!" —Deryl.


"Aku yang akan memeluknya sepanjang malam!" —Kevan.


Naya ingin mengamuk saja rasanya. Tolong berikan Naya kesabaran yang lebih lagi. Naya benar-benar ingin mencincang dua pria yang tidak pernah akur itu.


****To Be Continue


follow me on social media :

__ADS_1


instagram : @sulistiyawti_


twitter : @ehiyasulis**


__ADS_2