My Two Husband

My Two Husband
Perang Dunia III #1


__ADS_3

Deryl menghembuskan nafasnya lelah. Sudah hampir seminggu ini dia tidak bisa masuk kerja karena Naya yang terus memonopolinya. Kalau menempelnya biasa saja sih, Deryl tidak masalah. Tapi Naya menempelnya sangat ekstrem! Deryl tidak boleh lepas dari pandangan dan sentuhannya barang sedetikpun. Kemana Deryl, disitu Naya mengikutinya. Bahkan saat Deryl mandi pun Naya ikut bersamanya.


"Ya, sayang.. aku memasak dulu ya?" tanya Deryl meminta ijin kepada Naya.


Naya menggeleng. "Tidak, tidak boleh!"


"Tapi aku lapar. Tidak ada makanan dan kamu tidak membolehkanku memasak.."


"Kalau begitu delivery saja! Oh tidak, tidak. Kamu harus merasakan masakan luar biasa Kevan!"


Deryl mengernyit pelan. "Kevan bisa memasak? Sejak kapan?"


"Tidak lama sih, baru-baru ini saja dia selalu masak untukku."


"Dan kamu memakan masakannya?!"


"Iya, malahan aku menghabiskannya."


"Astaga! Kenapa kamu memakannya? Masakan Kevan itu beracun!"


Kevan yang sedang berada di sampingnya pun memanyunkan bibirnya. Masakannya tidak seburuk itu sampai Deryl mengatainya beracun. "Bilang saja kamu iri karena Naya suka dengan masakanku."


"Huh, untuk apa aku iri denganmu. Nyatanya masakanku lebih baik."


"Oh ya? Aku rasa masakanmu biasa saja! Malahan kamu sering menambahkan banyak garam didalamnya! Keasinan, kata orang kalau masakan itu asin berarti dia mau menikah lagi. Sekarang jujur padaku dan Naya, siapa selingkuhanmu?!" tuduh Kevan.


"Matamu! Aku samasekali tidak ada pikiran untuk selingkuh! Aku ini tidak playboy, tau?!"


"Oh kamu memang bukan playboy, tapi kamu itu tidak laku. Iya kan? Buktinya dari kecil sampai besar, wanita yang dekat denganmu hanya Naya!"


Naya sudah merasa bodoamat dengan adu mulut kedua suaminya ini. Percuma saja dilerai, toh dalam beberapa menit kedepan keduanya akan mengulang hal yang sama lagi. Sungguh kesia-siaan yang benar sia-sia.


"Itu bukan tidak laku, bodoh. Itu tandanya aku setia pada satu wanita!"


"Oh aku tidak tanya!" sahut Kevan ketus.


Bugh!


Satu bantal sofa tepat mengenai wajah Kevan. Pelakunya sedang tertawa sekarang melihat wajah Kevan menjadi kusut setelah terkena lemparan itu.


"Kamu benar-benar, Deryl!"


Tanpa pikir panjang tanpa hitungan 1 2 3, Kevan langsung berdiri membawa bantal sofa yang tadi lemparkan oleh Deryl. Pria itu langsung menghampiri Deryl dan memukulnya dengan bantal sofa secara membabi-buta. Tidak perduli Deryl yang mengaduh, Kevan terus memukulinya.


"Kamu menyerangku seperti perempuan!" ucap Deryl mengejek Kevan.


"Kimi minyiringki sipirti pirimpiin." ejek Kevan balik.


"Lihat saja nanti, kamu akan dapat balasannya!"

__ADS_1


"Oh aku tidak takut."


Deryl dan Kevan benar-benar seperti Tom and Jerry. Dimana ada kesempatan, disitu mereka adu mulut.


"Harusnya kamu baik-baik denganku, aku ini senior!" ucap Deryl.


"Senior apanya. Aku yang senior!"


"Tentu saja aku lebih senior, aku lebih berpengalaman menghadapi Naya!"


"Kamu banyak omong sekali sih, sakit kepalaku mendengarnya."


"Sebenarnya kalian berdua memang banyak omong." ucap Naya. Wanita itu kini tidak lagi bersandar dan memeluk Deryl, ia sudah duduk sendiri dan memeluk bantalan sofa empuk yang dijadikan senjata peperangan oleh dua manusia tadi. Sayang kalau bantalan cantik itu hancur sia-sia karena kebodohan dua suaminya itu.


"Habisnya Deryl yang memulai duluan." ucap Kevan melempar bantal kearah Deryl.


"Enak saja. Kapan juga aku memulainya."


"Kamu yang memancing emosiku duluan."


"Melihat wajahmu saja aku sudah emosi,"


Kevan menatap Deryl tajam, sedangkan yang ditatap malah mengambil toples cemilan yang ada dimeja. Ingat kan kalau Deryl belum makan selama seharian penuh karena Naya yang seperti lintah, menempel terus.


"Itu cemilanku omong-omong." ucap Kevan mulai memancing keributan lagi.


"Oh aku tidak peduli. Yang jelas toplesnya milikku, otomatis isinya juga menjadi milikku."


"Oh pantas saja rasa cemilannya tidak enak, ternyata toplesnya murahan. Yang bagus itu Tupperware, bisa dibawa saat perang! Tidak akan rusak kena peluru Belanda."


"Tapi itu kan merek kesukaan ibu-ibu."


"Kamu pikir milikmu tidak?"


"Bukannya tadi kalian bertengkar? Kenapa malah membahas toples?" tanya Naya.


"Hanya sedikit sharing ke Deryl merek toples yang bagus. Barangkali dia ingin bepergian jauh." jawab Kevan.


"Memangnya aku akan bepergian kemana?" tanya Deryl.


"Ke luar angkasa? Yang jelas jauh dari hidupku. Bosan aku melihat wajahnya yang datar itu,"


"Kamu pikir aku betah melihat wajahmu yang sangat menyebalkan ini? Ingin sekali rasanya membuat wajahmu itu menjadi bakwan dan dicampur dengan udang!"


"Psikopat. Ternyata kamu sangat berbahaya, kamu mempunyai jiwa pembunuh."


"Kamu terlalu banyak menonton sinetron makanya otakmu tidak sealur dengan pikiranmu." cibir Deryl.


"Deryl, jaga mulutmu ya! Jangan sampai membuatku marah! Darimana kamu tau aku menonton sinetron?!"

__ADS_1


Deryl memasang wajah cengo-nya. Menatap Kevan dengan bingung, jadi Kevan benar-benar sering menonton sinetron ya? Padahal ia hanya asal bicara saja. "Aku hanya asal." jawab Deryl speechless.


"Kamu pasti memata-mataiku kan? Mengaku kamu!"


"Jadi kamu sering menonton sinetron?" tanya Naya terkejut.


Kevan meringis dan dengan malu-malu mengangguk. "Tidak sering, kalau sedang bosan saja. I-itu juga tidak sengaja kok. Hanya tertonton begitu saja .. yah seperti itu.."


"Astaga.."


"Tapi aku bisa merekomendasikan sinetron yang bagus."


"Apa itu?" tanya Naya.


"Yah .. yang sering kutonton berulang-ulang di yt itu, cintaku bersemi dikebun teh, jodohku ojek online, preman fallin love, dan yang terakhir adalah favoritku, cinta pak lurah palsu."


Naya dan Deryl ternganga mendengar ucapan Kevan barusan. Astaga.. Kevan sangat memalukan untuk ukuran seorang CEO yang gemar menonton sinetron.


"Kamu memalukan." ejek Deryl.


"Apa yang salah dengan menonton sinetron? Toh aku tidak mencontohnya untuk kehidupan nyata."


"Tapi kamu terlalu lebay, tidakkah kamu sadar?"


"Kamu mengatai dirimu sendiri ya? Bukannya yang lebay itu kamu?"


"Aku? Lebay? Hahaha jangan berbicara omong kosong, Kevan."


"Aku tidak bicara omong kosong, aku berbicara tentang kenyataan."


"Jangan sok tau."


"Memang seperti itu kan kenyataannya? Kamu itu adalah pria terlebay pernah yang hidup di Indonesia."


Deryl tidak menanggapi lagi ucapan Kevan, pria itu tetap menyemil dan mengambil remote televisi. Daripada mendengarkan omong kosong Kevan alangkah baiknya jika mendengarkan televisi saja. Lebih bermanfaat soalnya.


"Daripada menonton berita lebih baik kamu mengikuti jejakku menonton sinetron, aku jamin kamu akan ketagihan!"


"Tidak akan pernah!"


"Ah kamu memang begitu. Nanti kalau sudah sekali menonton, awas saja kalau ketagihan. Kuludahi wajahmu."


"Memangnya kamu siapa berani meludahiku? Ludahmu itu berbahaya, mengandung bakteri, virus, penyakit, rabies."


"Kamu kira aku binatang?!"


"Bukan aku yang mengatakannya, tapi kamu sendiri yang menyamakannya."


"Deryl! Mati kamu kali ini!"

__ADS_1


Kevan langsung menyerang Deryl dan membuat Naya berteriak. Rumah mewah itu menjadi gaduh hanya ketiga ketiga penghuninya yang tidak waras.


— to be continue


__ADS_2